
🌟🌟🌟
"Baik Mah, maaf tidak bisa menjaga mereka dengan baik" Reno menunduk.
"Tidak apa-apa nak Reno, mulai sekarang Papa juga akan menjaga Kinan dan Mala kamu tidak usah takut, sekarang kamu makan dulu kami sudah siap makan" ucap Ridwan.
Anto yang saat ini sudah selesai mendonorkan darahnya kembali keruangan Kinan.
Kinan dapat melihat muka Anto sangat pucat.
"Abang disini juga ya, kok abang pucat begitu?" tanya Kinan.
"Sayang.... Anto sudah mendonorkan darah untuk Mala makannya Anto terlihat pucat" jawab Reno.
"Bang Anto terimakasih ya, sudah mau membantu kami, aku tidak akan bisa membalas semua jasamu kepada kami" ucap Kinan.
"Tidak apa-apa dek abang sudah menganggap mu adek dari dulu jadi jangan pernah sungkan kepadaku" jawab Anto.
"Kinan sekarang bukan cuma kamu anggap adek tapi memang dia adek kamu sebenarnya" Ridwan menimpali ucapan Anto.
"Maksudnya bagaimana pah, aku nggak ngerti?" tanya Anto penasaran.
"Kamu pernah ingat kan Papa bilang kalau Papa pernah berbuat salah kepada seorang wanita, dan Kinan adalah hasil dari kesalahan itu, tapi walau berawal kesalahan papa tidak pernah menyesal mengetahui bahwa Kinan anak papa" Ridwan menjelaskan kepada Anto.
Anto langsung mendekati Kinan, "Dek ternyata kamu adek aku, tidak salah selama ini aku merasa ingin melindungimu" ucap Anto berbinar.
🌟🌟🌟
Dikediaman Stevan dan Mira.
Mira sedang berada dikamar mandi menelfon seseorang.
"Mengapa kalian tidak pernah becus bekerja, apa yang kalian sudah fatal dan salah sasaran" bentak Mira kepada orang suruhannya.
Mira langsung mematikan panggilannya dan membanting HP itu kelantai hingga pecah berserakan dilantai kepingan HP itu.
Untung Stevan tidak ada didalam ruangan itu sehingga tidak mendengar ucapan Mira, setelah emosinya mulai reda dia mengambil kepingan hp itu dan membuangnya ketong sampah.
"Sayang.... Sayang.... " apa kamu didalam?" tanya Stevan menggedor pintu.
"Iya sebentar lagi aku keluar" jawab Mira dari dalam.
Beberapa menit kemudian Mira keluar dari kamar mandi dengan muka yang sudah dinetralkan.
"Sayang ada apa kok manggil-manggil?"
"Aku menunggu mu lama sekali baru keluar aku takut kamu kenapa-kenapa" ucap Stevan membelai rambut Mira.
Dret... Dret...
__ADS_1
HP Stevan bergetar tanda ada notifikasi chat masuk.
"Pak ada yang mau saya kasih tau sama bapak? apa bisa bertemu sekarang?" begitulah isi pesan singkat itu.
Stevan pergi kebalkon dan menelfon Nana.
"Hallo Nana ada apa?"
"Apa bapak bersama istri bapak sekarang?"
"Tidak, saya lagi dibalkon ada apa ya Nana?"
"Saya akan mengirim sebuah rekaman kepada bapak, tapi tolong jangan sampai nona Mira mengetahuinya" ucap Nana.
Dret..Dret...
Ada sebuah rekaman masuk Stevan mendengarkan pake erphone agar Mira tidak dapat mendengarnya.
Stevan begitu terkejut, dia begitu mengenali suara itu, suara Mira sedang menyuruh orang untuk mencelakai Kinan.
Stevan mengepalkan tangannya dan langsung menuju kamar mereka.
"Apa yang kamu lakukan kepada Kinan? kenapa kamu setega itu mencelakainya?"
"Aku.... aku hanya..... aku membenci dia" bentak Mira.
"Aku tidak habis pikir terhadapmu, aku kecewa untuk kesekian kalinya dengan ulahmu Mira" Stevan langsung meninggalkan Mira didalam kamar, Stevan menjalankan mobilnya kearah rumah sakit dengan kecepatan maksimal.
Kecelakaan pun terjadi Stevan menabrak mobil yang sedang parkir, mungkin karena pikirannya kalang kabut sehingga tidak terlalu memperhatikan mobil yang sedang parkir.
Bram dan Tiara melihat kejadian itu langsung turun dan melihat Stevanlah yang mengalami kecelakaan itu.
Mereka langsung membawa ke rumah sakit terdekat. kini Stevan sudah diamankan dirumah sakit, dan sudah mendapatkan pertolongan pertama oleh dokter.
Mira berlari dikoridor rumah sakit dan menemui Bram dan Tiara yang menunggunya diruang tunggu.
"Dimana suami saya?"
"Suami kamu ada didalam kamu bisa melihatnya sekarang, dan kami mau permisi karna kami masih ada urusan penting" ucap Tiara.
Mira langsung masuk kedalam dan melihat Stevan yang diperban kepalanya.
"Sayang kamu tidak apa-apakan?" tanya Mira dengan linangan airmata dipipinya.
Stevan hanya diam saja dia terlalu kecewa terhadap perbuatan Mira diluar batasnya.
"Sayang kamu kok diam?"
"Apa kamu masih menerima kekuranganku, sekarang bagian kaki ku sudah lumpuh dan tidak bisa berjalan lagi, aku harap kita pertimbangkan kembali pernikahan kita ini" ucap Stevan.
__ADS_1
"Apa maksud kamu sayang, aku akan menjaga mu dan merawat mu, apapun keadaan mu aku tetap menerima mu" Mira menangis memeluk Stevan.
"Kamu tidak akan bisa merawatku karena mungkin sebentar lagi pihak polisi dan orang suruhan Reno dan pak Ridwan akan menemukan bukti, kamu bakal disidang, kali ini aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi" ucap Stevan.
"Sayang aku mohon jangan kasih tau mereka aku janji akan berubah dan biarkan aku merawatmu" ucap Mira.
"Bukan aku yang memberi tahu mereka tapi mereka yang sudah tahu duluan" ucap Stevan pasrah.
🌟🌟🌟
Dikantor polisi.
Orang suruhan Mira sudah ditanggap, Anto dan Reno juga kesana untuk menindaklanjuti masalah ini.
Reno tercengang saat melihat laki-laki itu, dia adalah laki-laki bersama Kinan waktu itu di apartemen Kinan.
Tangan Reno terkepal dia mengingat laki-laki bajing*n ini menghancurkan hidupnya. dengan tidak sabar Reno langsung bertanya padanya.
"Siapa yang menyuruhmu melakukan ini kepada istriku dan anakku" Reno sudah mencengkram kerah baju laki-laki itu.
"Sabar dulu Reno, ini bisa diselesaikan tanpa kekerasan" anto memberi saran kepada Reno. Reno segera menurunkan tangannya dari laki-laki itu.
"Siapa menyuruhmu?" tanya Reno dengan nada yang rendah.
"Mira" jawab laki-laki itu singkat.
"Apa dahulu Mira juga menyuruhmu menjebak istriku diapertemen?".
"Iya" jawabnya lagi singkat. ingin rasanya Reno memukul muka laki-laki itu tapi ditahannya karena mengingat dia lagi dikantor polisi.
"Pak segera tanggap Mira dan bawa kepengadilan" jawab Reno marah, dia tidak mengingat lagi kalau Mira adalah kakak iparnya, yang ia tahu Mira adalah ular yang berbisa.
"Baik pak kami akan mengurusnya" jawab polisi itu dan membawa laki-laki itu ke sel untuk diperiksa lanjut nantinya.
Reno dan Anto kembali pulang kerumah sakit dimana Mala dan Kinan dirawat.
"Apa yang akan kamu lakukan kepada kakak ipar mu itu, tapi aku rasa papa pun tidak akan memaafkan Mira, karena ini sudah keterlaluan" ucap Anto sambil berjalan dikoridor rumah sakit.
"Mungkin aku juga sama kayak Papa aku tidak bisa semudah itu memaafkan Mira" jawab Reno lagi.
Tanpa terasa mereka sudah sampai didepan ruangan Mala dirawat. mereka berdua langsung masuk tanpa mengetok.
Reno dan Anto dapat melihat kalau Mala sampai saat ini belum pulih juga.
"Bagaimana hasil penyelidikan?" tanya Ridwan.
"Kita akan membawa masalah ini kejalur hukum siapa pun yang melakukan ini" ucap Ridwan lagi.
"Ini perbuatan Mira lagi" jawab Reno lesu.
__ADS_1
...🌟🌟🌟...
...Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Iya...