
"Aku nggak papa kok sayang" ucap Stevan masih serius menyetir.
Mereka semua sudah sampai didepan rumah Stevan, mereka semua masuk kedalam rumah, melihat Kia dan Hendra sedang bercengkrama.
Reno dan Kinan manyalam orang tua Stevan sebelum mereka duduk.
"Silahkan duduk nak, tumben datang kesini ada apa ya?" Kia bertanya.
"Hehe kami kesini mau makan-makan Ma, sekalian perpisahan, besok dek Kinan beserta keluarganya akan pergi ke Jakarta" Mira menjawab pertanyaan Mama mertuanya.
"Yaudah kalian mau makan apa biar Mama siapin".
"Kita masak bareng-bareng aja Mah" ucap Mira menuju dapur diukuti Kinan.
"Kak kita masak apa?" Tanya Kinan.
"Terserah kamu aja dek kakak ngikut aja, oh ya aku buat minuman dulu buat orang didepan" ucap Mira dengan senyum palsunya.
Setelah makan sudah siap mereka semua berkumpul didepan rumah, untuk melakukan perpisahan, Kinan memeluk sang kakak dengan erat.
"Kak besok kami akan pergi jaga diri baik-baik disini ya" ucapnya sedih.
"Kakak pasti jaga diri kok, kalian hati-hati ya" ucap Mira tersenyum miring.
Reno, Kinan dan Mala sudah pulang, kini Stevan dan Mira yang masih diteras, sedangkan Hendra dan Kia sudah masuk kedalam rumah.
"Sayang istirahat dikamar yok" ajak Mira.
Stevan tidak menjawab Mira dia hanya mengangguk dan berjalan menuju kamar mereka.
"Sayang mulai besok aku ikut kamu kekantor ya" ucap Mira dengan suara yang menggodanya.
"Kenapa kalau kamu tinggal disini, bosan ya?" Tanya Stevan.
"Kalau misalnya kita sudah punya anak kamu pasti nggak bosan dirumah" ucap Stevan lagi.
"Mau bagaimana lagi kita sudah berusaha tapi belum dikasih sama yang diatas" jawab Mira pura-pura sedih.
"Dasar bodoh, aku tidak mau punya keturunan darimu aku hanya ingin kehidupan yang senang tidak direpotkan menjaga anak" batin Mira.
Mira sudah jauh-jauh hari mengkonsumsi obat pencegah kehamilan agar jangan sampai hamil itu akan membuatnya kerepotan dan susah menjalankan misinya.
__ADS_1
"Sayang kapan-kapan kita kedokter iya biar kita periksa" ucap Stevan.
Deg....
Mira tidak mau sampai kelakuannya ketahuan oleh suaminya, "aku harus cari alasan" batin Mira pasrah.
"Baiklah sayang aku tidak masalah" ucap Mira menghilangkan kegugupannya.
"Kamu mandi sana, pasti kamu keringatan karena siap masak tadi" Stevan menyuruh Mira.
"bagaimana kalau mandi siap yang satu ini" ucap Mira membuka pakaian stevan.
"Apa kamu tidak capek sayang, kita setiap hari lho melakukannya" ucap Stevan membelai rambut Mira dengan kasih sayang, Iya Stevan sudah mencintai istrinya itu dengan segenap raganya.
Mira hanya menggeleng tandanya dia ingin melakukan itu sore ini, Mira sudah menc*um bibir Stevan dengan sangat rakus, Stevan yang mengerti sifat istrinya membalas c*uman itu hingga keluar sensasi menggairahkan bagi mereka.
Stevan sudah membuka kancing baju depan Mira hingga terlihat 2 gumpalan yang menggugah selera. Stevan membuka pengaitnya dan langsung mengulum gumpalan itu, membuat Mira mend*sah.
Satu tangan Stevan merem*snya satu lagi menopang badannya. "Sayang I love you" Stevan berbisik serak ditelinga Mira.
Setelah puas mengul*m dan m*remasnya Stevan membuka penghalang lembah itu, dia memegangnya dan ternyata sudah bas*h.
Stevan kembali menc*um b*bir Mira yang memerah akibat dirinya.
Stevan yang sudah tidak sabar langsung merebahkan kembali Mira kekasur dan memulai penyatuan.
Stevan membuat Mira senyaman mungkin, stevan berirama sangat pelan sampai Mira meminta lebih baru Stevan membuat irama yang kencang.
Sayang.....
Sayang.....
Sayang....
Mira memanggil Stevan dengan sebutan sayang ketika Mira sudah mendapatkan puncaknya, begitu juga dengan Stevan, dia berkali-kali memanggil Mira.
Mira sudah tumbang dikasur begitu juga dengan Stevan, akhirnya mereka berdua ketiduran setelah aktivitas itu.
Jam 6 sore baru mereka bangun, "Sayang bangun udah sore, kamu mandi duluan ya" ucap Reno memegang pipi Mira.
"Iya sayang" suara khas baru bagun, Mira segera duduk dan mengumpulkan bajunya yang berserak dilantai dan bergegas untuk mandi setelah memakai bajunya.
__ADS_1
Sama halnya dengan Stevan, tapi saat Stevan memungut bajunya mata Stevan menemukan sesuatu, yaitu sebuah pil, Stevan mengambilnya lalu menyimpannya kedalam saku.
Didalam kamar mandi Stevan kembali melihat obat itu dan membaca isinya ternyata sebuah pil pencegah kehamilan, "Kenapa dia memakai ini, apa mungkin dia belum yakin hidup bersama ku?" Stevan bertanya-tanya pada dirinya.
Sesampai dikamar Stevan berbicara dengan lembut kepada Mira yang sedang menyisir rambutnya yang sudah mulai kering.
"Sayang ini pil untuk apa, kok ada dikamar kita?"
Deg...
Mira terkejut ternyata Stevan sudah melihat pil itu, "Sayang itu dulu aku makan ketika baru-baru menikah, aku takut kamu tidak serius denganku" Mira kembali berbohong.
"Tapi sekarang nggak dikonsumsi lagikan sayang?" tanya Stevan, Mira hanya menggeleng.
"Kamu jangan mikir kalau aku main-main dalam pernikahan ini, aku ingin kamu menjadi pendamping hidupku selamanya, jadi jangan pernah konsumsi ini lagi ya, besok pulang dari kantor aku akan mengantar mu kedokter untuk memeriksamu" Stevan memeluk Mira supaya Mira jangan tersinggung dengan ucapannya.
🌟🌟🌟
Sore hari ini Stevan pulang bekerja langsung menemui Mira dikamar, "Sayang kamu sudah siap? ayok pergi sekarang" ucap Stevan.
Dengan berat hati Mira mengikuti langkah Stevan menuju mobil, didalam mobil Mira hanya diam saja, dia tidak mau bicara sama sekali kalau bukan Stevan yang memulai percakapan.
"Sayang, kamu kok diam? kamu nggak usah takut ya" tevan menggenggam tangan Mira lagi.
"Aku nggak takut kok sayang, cuman takut aja kalau kita akan kecewa nantinya" ucap Mira berbohong padahal dia takut ketahuan kalau sampe saat ini dia menggunakan pil itu.
Sesampainya mereka dirumah sakit Stevan langsung menemui dokter kandungan, tadi siang Stevan sudah janjian dengan dokter itu.
Ketika mereka masuk dokter cantik itu menyambut mereka dengan tersenyum, "Silahkan duduk" ucapnya.
Mira dan Stevan duduk dikursi yang disediakan.
setelah dokter itu bertanya seputaran tentang Mira dan kendalanya, dokter itu mulai memeriksa Mira sampai dokter itu menyelesaikan pemeriksaannya.
"Silahkan duduk kembali, saya mau menjelaskan beberapa hal" ucap dokter itu.
"Begini bapak ibu, ibu Mira bisa secepatnya hamil kalau tidak mengkonsumsi pil itu lagi karena dari pemeriksaan saya kayaknya ibu Mira mengkonsumsinya sampai hari ini" ucapnya panjang lebar.
Wajah Mira pujat tidak tau kenapa dia takut Stevan akan marah dan kecewa kepadanya terlebih sudah berbohong kepadanya.
Perjalanan mau pulang Stevan hanya diam, jujur Stevan sangat kecewa dengan ucapan dokter tadi, dia ingin marah, tapi masih dikontrolnya dan alhasil dia hanya mendiami Mira.
__ADS_1
...🌟🌟🌟...
...Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Iya...