
🌟🌟🌟
Malam sudah berganti dengan pagi, Tiara dan Bram sudah duduk manis diruang makan, Riko dan Mala berjalan menuju ruang makan.
Seperti biasa kebiasaan keluarga ini makan dengan diam, hingga makan terahir selesai dan sampai kedalan perut.
"Sayang hari ini jadikan kamu ikut Mama?" Tanya Tiara.
"Jadi mah, Mala sudah ijin sama Riko" Mala langsung beralih melihat riko.
"Iya kan sayang?".
"Iya".
Karena sudah sepakat maka Riko pergi kekantor hanya sendiri, didalam mobil Dia menelfon seseorang.
"Aku mau kalian buat pelajaran buat perempuan ini biar dia tidak berani macam-macam lagi dengan istriku" uncap Riko lalu mengirim poto Jeni.
"Peringatan apa yang cocok untuknya bos?" Tanya orang diseberang telfon.
"Aku mau kamu datangi rumahnya ancam dia akan menghancurkannya jika masih berani macam-macam" ucap Riko marah.
"Baik tuan akan kami laksanakan".
Riko mematikan telfonnya lalu kembali fokus menyetir, Riko tidak tenang kalau ada yang berani mengganggu keluarganya, apalagi kondisi Mala yang sedang mengandung.
Riko sudah sampai dikantor dan memarkirkan Mobilnya ditempat biasa, Riko langsung meleset keruangannya karena pagi ini dia sangat sibuk dengan tugasnya.
Ditempat lain dikediaman Jeni, dia sedang duduk santai dirumahnya yang minimalis itu tepat diruang tengah, tiba-tiba ada 2 orang laki-laki menghampiri rumahnya.
Tok... Tok... Tok....
"Siapa sih ganggu orang santai aja" gerutu Jeni lalu membuka pintu dan melihat siapa yang datang.
"Kalian siapa ngapain datang kerumah ku?" Tanya Jeni penasaran Karena tidak mengenal siapa yang datang.
"Kami suruhan dari bos Riko" jawab salah satu dari laki-laki itu.
"Tujuan kalian datang mau ngapain? cepat katakan jangan bertele-tele" ucap Jeni marah.
"Kami hanya mengingatkan jangan pernah ganggu istri dari bos Riko dimana Pun kalian bertemu. kalau tidak kami akan menghancurkan hidupmu" ucap mereka.
"Jangan pernah macam-macam sama saya" ucap Jeni takut.
"Kalau begitu jauhi nona Mala".
"Saya tidak pernah mendekatinya" jawab Jeni lagi.
__ADS_1
"Saya tidak mau tau, pokoknya mulai hari ini jauhi dia" ucap mereka lalu pergi dari sana.
Jeni langsung membanting pintu dengan kuat, emosinya begitu meledak-ledak tidak terima dengan peringatan yang diberikan oleh Riko.
"Aku harus berbicara pada Riko dia tidak boleh melakukan ini padaku" Batin Jeni lalu bergegas pergi menemui Riko.
Sesampai dikantor Jeni ingin segera masuk tapi ditahan oleh sekruiti.
"Maaf buk Jeni kami tidak mengijinkan buk Jeni masuk kekantor ini atas perintah pak Riko" ucap mereka memegangi Jeni supaya jangan masuk.
"Hanya sebentar pak, saya perlu berbicara kepada Riko" ucap Jeni memohon.
"Tidak bisa buk Jeni sekarang buk Jeni pulang saja, karena percuma pak Riko tidak mau berbicara dengan anda.
Akhirnya Jeni pulang tanpa hasil, Jeni sangat marah terhadap Riko yang memperlakukamnya tidak hormat.
******
Tiara Dan Mala yang sudah selesai dengan misinya langsung pulang kerumah.
"Sayang kita pulang kerumah langsung ya kamu pasti sudah capek 2 hari ini kamu sibuk menemani Mama" ucap Tiara.
"Heheh nggak apa-apa kok mah, lagian Mala juga ikut perawatan sama kayak Mama".
Sesampainya dirumah Tiara dan Mala pergi kekamar masing-masing, untuk beristiarat Karena merasa badan sudah mulai lelah.
*****
Ditempat lain Riko sedang menelfon dengan seseorang.
"Bos saya lihat dia semakin marah kepada bos, dan saya tegaskan untuk berhati-hati, karena yang saya periksa dia adalah mantan dari RSJ di kota ini".
"Saya ingin kalian lakukan yang terbaik jangan sampe dia mencelakai istri saya".
"Selama ini dia memang bekerja untuk anda hanya ingin membalaskan amarahnya, Karena tuan Bram sudah memasukkan ayahnya kepenjara".
Jeni adalah anak manager keuangan yang tempo hari korupsi uang dari perusahaan, Jeni tidak memliki Mama karena sudah lama meninggal dunia, dia hanya memiliki Ayah.
Ayahnya memiliki banyak utang apalagi anaknya Jeni sedang dirawat dirumah sakit sehingga membutuhkan banyak uang.
Hal itu membuat Ayah Jeni melakukan korupsi dan mngakibatkan dirinya sekarang mendekam dipenjara.
Sebulan sudah berlalu Jeni juga sudah keluar dari rumah sakit jiwa, Jeni berencana ingin mendekati Riko supaya bisa membuat Riko menyesali perbuatan ayahnya kepada Ayah Jeni.
Tapi Jeni yang tidak terlalu pandai dalam menjalankan sesuatu hingga membuatnya kalah sebelum berperang.
Riko sudah mengetahui niat busuk Jeni beberapa bulan lalu, tapi Riko masih membiarkan jeni bermain-main dengannya.
__ADS_1
"Bos.... Bos.... " panggilan dari seberang telefon membuat kesadaran Riko kembali.
"Achh iya ada apa?" Tanya Riko.
"Jadi bagaimana rencana kita selanjutnya boss?".
"Awasi saja, kalau dia sampai bermuat aneh segera ambil tindakan, lagian untuk sekarang dia belum melakukan kejahatan untuk keluarga ku jadi percuma kita tidak bisa melaporkannya kepolisi" ucap Riko.
"Baiklah tuan".
Riko duduk dikursi kebesarannya, memegang hpnya, Riko sangat pusing dengan satu wanita itu, membuat dirinya Harus was-was walaupun dia bisa saja membuat perhitungan dengan Jeni dengan mudah.
"Seandainya kamu tau balas dendam itu tiada gunanya kamu tidak akan sesulit ini Jen" batin Riko.
"Aku kasian pada mu tapi kamu tidak memikirkan dirimu" tukasnya lagi.
🌟🌟🌟
Akhirnya Riko pulang kerumah sebelum Jam 5 sore, untuk saat ini dia hanya ingin bersantai dan bermanja dengan istrinya.
Tiba-tiba wajahnya penuh binar mengingat janji Mala malam tadi.
"Pulang aja achh, mana tau dia mau sore ini jadi aku nggak nunggu malam" ucap Riko tidak sabar.
"Tunggu aku pulang cintaku" ucap Riko menyambar tasnya lalu keluar dari ruangannya.
Didepan ruangan Revan, tiba-tiba Revan memanggilnya.
"Pak Riko nanti Jam 4 sore kita ada pertemuan dengan perusaan BB direstoran XX" ucap Revan.
"Kamu tunda besok pagi ya, badan saya kurang fit, pengen istirat" ucap Riko berbohong sambil menujukkan skpresi sedang sakit yang sangat alay.
"Baik pak" jawab Revan, Revan sangat heran dengan barusan dia lihat, karena menuruntnya Riko seperti anak kecil, sok imut.
"Hahahaha" Riko tertawa sendiri didalam lift baru kali ini dia bertingkah aneh didepan Revan biasanya dirinya akan berbicara sangat formal kepada bawahannya.
"Aku tadi lucu nggak iya?" Riko kembali memikirkan bagaimana ekspresinya tadi didepan Revan. Riko mencobanya kembali dan melihat pantulannya didalam lift itu.
"Astaga jellek sekali, kayak perempuan jadinya bukan laki-laki maco" batin Riko merutuki kebodohannya.
Setelah keluar dari lift Riko berjalan ke parkiran tanpa mengeluarkan ekspresi takut ekspresi seperti tadi akan keluar kembali, kan sangat memalukan cukup didepan Revan dia seperti itu.
Didalam mobil Riko baru rileks kembali.
"Untung aku berjalan seperti CEO lainnya sangat elegan kalau tidak pasti karyawan lain juga menertawai ku" batin Riko.
...🌟🌟🌟...
__ADS_1
...jangan lupa tinggalkan jejak...