Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 10 Kebahagian Jennixia


__ADS_3

Ada mata-mata mengatakan bahwa Chester mempunyai kekasih dan berada di dalam mansionnya. Mereka mendapat informasi ini dari sebuah klub ternama yang sering menjadi tempat nongkrongan para orang-orang besar termasuk para mafia.


Chester dan Arviy adalah salah satu pengunjung VIP di klub tersebut yang disebut sebagai Night and Day Club. Arviy juga sudah beberapa kali bertemu dengan Chester tetapi hanya dari jauh saja.


Chester juga membeli wanita itu dari klub ini lalu menjadikannya kekasihnya. Arviy yang mendengar berita bagus itu langsung tersenyum dengan penuh licik.


"Cari tahu tentang wanita itu." Ucap Arviy.


Arviy kini merasa semesta berpihak padanya karena dia mendapat satu titik yang bisa menghancurkan Chester.


....


Jennixia bangun dengan keadaan matanya terdapat lingkaran hitam. Mei seketika melotot melihat wajah berantakan Jennixia.


"Nona, apa nona baik-baik saja? Perlukah kita tunda perjalanan untuk menjenguk Ibu Nona?" tanya Mei sambil merapikan selimut Jennixia yang terjatuh dari atas ranjangnya.


"Jangan Jenni baik-baik saja. Humm Mei..." Jawab Jennixia.


Jennixia ingin mengatakan pada Mei apa yang terjadi dengan dirinya semalam dan dia ingin bertanya adakah hal ini wajar saja tapi Jennixia merasa malu karena mungkin Mei akan menertawakan dirinya yang terlalu polos.


"Ya?" Mei menatap Jennixia dengan tatapan penasaran.


Jennixia menggelengkan kepalanya, dia memilih untuk lebih baik diam dan pendam saja. Jennixia berlari seperti anak kecil ke dalam kamar mandinya lalu menutup pintu dengan kuat.


Bughh


Mei yang kaget mendengarnya pun mengusap-usap dadanya.


"Ada apa dengan Nona?" gumamnya dalam hati.


Jennixia menatap dirinya di cermin dalam kamar mandi, bibirnya mengukirkan senyuman, entah berapa ribu kali ia tersenyum mengingat kejadian malam tadi.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Jennixia keluar lalu menuju ke walkin closet miliknya, dia tidak sadar ada sepasang mata yang memerhatikan pergerakannya sambil tersenyum.

__ADS_1


Sesudah selesai berpakaian Jennixia keluar dengan bersenandung karena dia merasa hatinya sangat bahagia apalagi sebentar dia akan bertemu dengan Ibunya setelah hampir sebulan tidak bertemu.


"Aaaakh." Jennixia menjerit kaget karena melihat Chester telah duduk di sofa dalam kamarnya.


"Ih Om mengagetkan aja." Ucap Jennixia yang keceplosan memanggil Chester dengan om lagi.


Chester bangun dari duduk cantik kini dia berjalan mendekati Jennixia dengan wajah seringgai yang menakutkan.


Jennixia terus saja mundur karena Chester semakin lama semakin dekat. Pikirannya sudah menerawang ke kejadian semalam. Sehingga Jennixia merasa punggungnya telah mentok di dinding kamar, Jennixia mulai salah tingkah.


Chester yang masih saja terus melangkah hingga posisinya berada betul-betul di hadapan Jennixia. Chester mengukung Jennixia menggunakan kedua tangannya agar Jennixia tidak bisa kabur.


Rambut yang masih sedikit basah, bibir munggil yang tampak berwarna merah muda biarpun tanpa polesan lipstik. Pipi yang terlihat putih gebu membuat hormon testosteron meningkat.


Seperti kejadian semalam, Chester langsung saja menyambar bibir Jennixia dengan rakusnya. Hal yang membuat Jennixia tidak bisa tidur akhirnya terjadi lagi pagi ini.


Tidak merasa kaku seperti semalam, Jennixia yang telah hanyut semakin lincah berbagi salivanya bersama Chester. Sehingga ketukan pintu membuat mereka kaget lalu berhenti dari kegiatan yang mereka lakukan.


Chester sempat mengumpat karena dia masih merasa gantung apalagi sebentar malam dia akan berangkat ke Itali untuk membereskan pekerjaan yang tertunda dan kemungkinan memakan waktu sekitar 2 minggu dan selama itu dia tidak bisa melihat Jennixia.


Mei masuk ke dalam kamar Jennixia setelah mendapat izin dari Jennixia, tetapi dia merasa ada hawa yang menyeramkan keluar dari tatapan Chester kepadanya.


"Maaf Tuan, saya hanya ingin memeriksa Nona, kemungkinan dia mengalami sedikit kesulitan mengeringkan rambutnya." Ujar Mei sambil tertunduk.


"Ehm, nanti Nera yang akan mengajarmu etika, sekarang cepatlah kita akan berangkat setelah sarapan pagi." Ucapnya dengan datar. "Jen, aku tunggu di bawah ya." Lanjut Chester tapi kali ini terdengar lebih lembut.


Jennixia mengangguk lalu tersenyum, dia melihat punggung Chester keluar barulah dia menghela nafas lega.


"Nona baik-baik saja?" tanya Mei karena mendengar helaan nafas yang panjang dari Jennixia.


"Ya Mei, cepatlah Mei bantu Jenni keringkan rambut jangan buat Chester menunggu lama." Kali ini Jennixia menyebut Chester dengan namanya dia depan Mei.


Jennixia yang terlihat sangat cantik hari ini membuat jantung Chester terus berdebar, ingin sekali dia membatalkan perjalanan ke Italinya. Chester mendengus karena harus berjauhan dengan Jennixia.

__ADS_1


Pertama kalinya Jennixia dan Chester berada dalam satu mobil yanh sama dan di kenderai oleh Edward.


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit, Jennixia kelihatan sumringgah. Banyak yang ingin dia ceritakan kepada Ibunya tentang hidupnya yang berubah 360 derajat.


Tapi tidak seperti yang dia bayangkan, Ibunya masih berada dalam ruang isolasi untuk pengangkatan kankernya. Jennixia merasa sedih, wajah yang tadinya ceria berubah. Air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Bukankah Ibu sepatutnya operasi 3 minggu yang lalu? Tapi kenapa sampai saat ini Ibu masih di ruang isolasi dan baru mau di operasi?" tanya Jennixia kepada Chester yang berdiri di sebelahnya.


Chester menatap Jennixia yang sudah menangis, dia segera menarik Jennixia ke dalam pelukannya.


"Ayahmu tidak membayar biaya rumah sakit dan aku juga baru mengetahuinya semalam." Terang Chester sambil memeluk Jennixia dengan erat. "Tadi pagi Luis telah melunaskan biaya rumah sakitnya tanpa pengetahuan Ayahmu, dan besok baru Ibumu bisa operasi." Lanjutnya lagi.


Air mata Jennixia terus saja bercucuran, bagaimana kalau Chester tidak mengetahui hal Ibunya, bagaimana kalau mereka terlambat? Jennixia pasti akan mencari Ayah tirinya itu dan membunuhnya begitulah dalam pikiran Jennixia sekarang.


"Jangan menangis nanti matamu menjadi sembab, kan kita mau melihat kampusmu hari ini." Ujar Chester sambil mengusap air mata Jennixia.


"Ehm, bisakah setiap pulang kampus Jenni menjenguk Ibu?"


Chester sempat terdiam sebelum memberikan jawabannya, dia memikirkan keselamatan Jennixia apalagi dia yang akan berada jauh darinya.


"Sayang..." Panggil Jennixia dengan mata yang menunjukkan rayuan.


"Ehm baiklah tapi selama aku tidak ada di sini hanya boleh akhir pekan saja ok?" tawar Chester dengan ide yang tiba-tiba terlintas.


"Kira-kira berapa lama sa...yang di Itali." Jennixia masih saja gugup menyebut Chester dengan kata sayang.


Chester yang merasa gemas dengan Jennixia akhirnya mencubit kedua pipinya.


"Sekitar 2minggu istriku." Jawabnya dengan wajah bahagia.


Jennixia menahan sakit di pipinya sambil menganggukkan kepalanya. Dia juga merasa bahagia karena Chester menyebut dirinya sebagai istriku. Wah serasa dunia milik mereka berdua dan yang lain hanya ngontrak aja hehe.


Tanpa mereka sadar gerak gerik mereka di pantau oleh seorang wanita berumur yang sedang menyamarkan diri sebagai tukang bersih rumah sakit.

__ADS_1


Wanita itu memotret mereka secara diam-diam dan di kirimnya kepada Arviy. Karena memang Arviy yang menyewanya dengan bayaran yang tinggi.


Bersambung...


__ADS_2