
Jennixia harus menginap di rumah sakit satu malam agar dokter bisa memperhatikan kondisinya yang baru saja mengalami syok berat itu.
Tapi Jennixia dipuji oleh dokter yang merawatnya karena biasanya seseorang yang mengalami syok berat pasti mengalami trauma atau kepanikan yang berlebihan.
Jennixia malah berani melawan rasa takutnya karena dia yakin Chester tidak akan pernah membiarkannya dalam keadaan bahaya dan tidak akan pernah meninggalkan dirinya.
Chester dengan telaten menjaga pola makan Jennixia agar bisa meminum obat tepat waktu.
"Ehm aku ingin mandi." rengek Jennixia kepada Chester yang sedang memeriksa pekerjaannya lewat tab.
Chester yang duduk di sebelah Jennixia pun mendongak lalu tersenyum.
"Aku akan memanggilkan Mei untuk membantumu." Jawab Chester lalu berdiri tapi kembali ditarik oleh Jennixia.
"Jangan tidak usah, Mei suka usil kalau dia menemaniku mandi." Ucap Jennixia polos.
"Memangnya dia usil apa?" Chester mulai terkekeh.
"Dia katakan gunung berkembarku kecil kayak anak SMP." Jennixia masih polos-polosnya memberitahu Chester.
Chester mulai tersenyum sumringgah, ide jahil mulai bermunculan didalam pikirannya.
"Emang itukan benar, apa yang salah dengan ucapannya." Chester coba memancing Jennixia.
Jennixia mendengus kesal mendengar ucapan Chester.
"Ih, malulah aku sudah berumur 18 tahun tau!" Ketusnya. "Lihat di medsos aja mereka yang seumuranku sudah segede ini." Lanjutnya sambil tangannya memberi contoh sebesar apa gunung berkembar pada umumnya saat berumur 18 tahun.
Chester tertawa geli, dia tidak bisa menahan tawanya karena kepolosan Jennixia.
"Lalu punyamu maunya yang segede itu juga?"
Jennixia mengerucutkan bibirnya lalu menundukkan kepalanya melihat ke arah gunung berkembarnya.
"Mau sih mau tapi bagaimana ya?"
Uhukkk..uhukkk..uhukkk...
Chester terbatuk mendengar pertanyaan Jennixia. Dan ide jahil mulai beraksi.
"Aku tau caranya." Tersenyum sungging.
"Apa-apa?" Jennixia terlihat begitu antusias.
"Segitu penasarannya kamu." Sindir Chester lagi.
"Haruslah supaya kelihatan melehoy gituh sayang." Jelas Jennixia sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Oh. Kalau begitu harusnya ada ne**n biar bisa gede gituh." Chester meniru gaya bicara Jennixia sambil terkekeh.
"Yakin itu aja caranya? atau kamu berotak mesum." Jennixia menyipitkan matanya menatap Chester.
"Ya sayang, masa aku tipu. Otak mesum dengan istri sendiri nggak dosa kok."
__ADS_1
"Ah terserahlah, cepatlah aku mau mandi."
Chester menghantar Jennixia ke kamar mandi lalu sempat menawarkan untuk memandikan Jennixia tapi Jennixia menolak dengan teriakan.
Chester keluar dari kamar mandi sambil tertawa geli melihat kepolosan Jennixia.
Chester menghela nafasnya lalu melihat ke arah juniornya.
"Sabar aja kamu, tunggu dia sedikit mengerti baru kamu bisa bangun." Ucapnya sambil menunjuk juniornya.
Chester menunggu Jennixia sekitar 30 menit baru selesai. Jennixia keluar dengan wajah yang segar.
Chester sedikit menelan salivanya melihat Jennixia dengan rambut tergerai yang masih basah.
Jennixia mendekat ke arah Chester lalu melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Chester.
"Kok melamun?"
Chester menangkap tangan Jennixia lalu tersenyum.
"Mari aku bantu keringkan rambutmu menggunakan handuk."
Jennixia mengangguk, lalu segera naik ke atas ranjangnya dan mengambil posisi membelakangi Chester.
Dengan telaten Chester mengeringkan rambut Jennixia dengan handuk secara perlahan.
"Uhm, aku sudah pikirkan." Ucap Jennixia tiba-tiba.
"Pikirkan apa?" masih fokus ke rambut Jennixia.
Tangan Chester berhenti mengusap rambut Jennixia, dia menelan saliva dengan tengkorokan yang tiba-tiba terasa kering.
"Mau nggak?" tawar Jennixia lagi.
"Kamu serius?"
"Ya serius kok."
Chester langsung menyuruh Jennixia menatapnya. Memang tatapan Jennixia tampak polos tapi Chester juga tidak mau melepaskan peluang keemasan ini.
"Kita lakukan sekarang." Ucap Chester dengan penuh semangat.
Jennixia mengangkat baju serta alas penutup gunung berkembarnya. Tiba-tiba dia merasa malu dan wajahnya bersemu merah karena tatapan liar Chester melihat gunung berkembarnya.
Tangan Chester mulai memegang yang sebelah kiri direm**nya perlahan dan lalu dia juga mendekatkan bibirnya pada bagian kanan dihis**nya habis-habisan.
Suasana semakin memanas, Jennixia tiba-tiba merasa ngilu di bagian bawahannya dia coba menahannya sehingga suara des***n itu keluar dari mulutnya.
Chester yang melum** rakus karena sudah begitu lama dia tidak menikmati tubuh wanita. Sejak pertemuan pertama bersama Jennixia dulu Chester berhenti bermain dengan wanita-wanita liar.
Dia ingin menyimpan semua hasratnya untuk Jennixia seorang, walaupun dia tidak tau kapan hasrat biologisnya terpenuhi.
Jennixia bergetar hebat seperti telah melepaskan sesuatu dibawah sana. Nafasnya terdengar ngos-ngosan.
__ADS_1
Begitu juga dengan Chester, dia mengigit gunung Jennixia ketika dia melepaskan air kehidupan.
Chester melepaskan bibirnya dari gunung berkembar Jennixia, dia merasa lelah lalu bersandar pada kursinya.
Chester mengamati wajah lelah Jennixia yang dipenuhi keringat di dahinya. Lalu dia mengambil handuk tadi dan mengelapnya dengan perlahan.
"Istirehatlah atau kamu sudah lapar?" tanya Chester.
Jennixia membaringkan tubuhnya di atas ranjang lalu menutup matanya.
"Mau tidur sedikit aja, rupanya kalau nen** bisa melelahkan juga."
Chester mengusap puncak kepala Jennixia lalu diciumnya kening Jennixia.
"Terima kasih, tidurlah." Ucapnya lirih.
"Kamu jangan ke mana-mana ya." Pesan Jennixia yang matanya sudah tertutup karena kantuk.
"Ia sayang." Jawab Chester.
Jennixia terlelap begitu cepat, Chester membetulkan pakaian Jennixia yang tadinya masih terangkat ke atas.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu apalagi melirik wanita lain." Gumamnya sambil terkekeh karena mengingat kepolosan Jennixia.
"Aku akan mulai candu dengan bibir dan gunung imutmu ini." Lanjutnya lagi sambil bersandar dikursi yang dia duduki.
Chester mengambil kembali tabnya yang tersimpan di atas nakas lalu kembali memeriksa pekerjaannya lewat tab tersebut.
....
Arviy merasa gelisah karena orang yang dia sewa tidak ada satu pun bisa mendekati kamar inap Jennixia. Dia begitu penasaran dengan kondisi Jennixia saat ini.
"Haruskah aku sendiri pergi ke sana? tapi Chester mengenalku aahhh bagaimana ini." Gerutunya. "Jen, aku harap kau baik-baik saja." Lanjutnya lagi.
Arviy menelepon asistennya dan memaksanya agar bisa mendapat informasi mengenai kondisi Jennixia, dia harus tahu.
Salah satu anak buah Alex tiba-tiba datang ke kantornya untuk bertemu dengan Arviy. Soal ini pasti Arviy sudah duga Alex ingin meminta uang untuk perbaikkan markasnya.
"Ada apa?" tanya Arviy ketus kepada suruhan Alex.
"Tuan Alex kata kalau Anda tidak memberi uangnya dia akan membocorkan kelakuan Anda kepada Chester." Jawabnya dengan wajah datar.
"Ck, baiklah aku akan mentransfer uangnya tapi ada syaratnya." Ucap Arviy ingin menggunakan jasa anak buah Alex lagi.
"Katakan pada Alex aku membutuhkan beberapa orang untuk menjadi mata-mataku dan aku akan membayarkan dengan nominal 10miliar, bagaimana?"
"Baiklah, aku akan sampaikan kepada Tuan Alex, permisi."
Anak buah Alex telah pergi kini dia hanya perlu menunggu jawaban dari Alex.
"Sabarlah tidak lama lagi kita akan mendengarkan kondisi Jennixia." Ucapnya sambil mengusap dadanya yang sering berdegup kencang apabila memikirkan tentang Jennixia.
Arviy akan berusaha menyusun rencana agar Jennixia bisa menjadi miliknya, dia masih tidak tahu status Jennixia saat ini makanya dia kelihatan begitu bersemangat untuk meraih cinta dari Jennixia.
__ADS_1
Bersambung...