
Jennixia turun melewati tangga bersama Mei yang bergandeng dengannya. Dengan berhati-hati Mei memperhatikan langkah Jennixia karena Jennixia suka sekali menuruni tangga dengan berlari seperti anak kecil.
Chester menyambut Jennixia ditangga yang paling bawah dengan wajah tersenyum.
"Kenapa tidak gunakan lift." tanya Chester setelah Jennixia berada di hadapannya.
"Aku tidak pemalas untuk berolahraga sepertimu." Sindir Jennixia.
Awal pagi lagi Jennixia mengajak Chester berperang hanya karena Chester memberi obat tidur kemarin.
"Masih kesal?" tanya Chester.
Jennixia mengabaikan Chester, baru saja hendak melewati Chester, tapi sudah terlebih dahulu menarik pinggangnya agar tidak bisa lepas darinya.
"Ih apaan sih, lepas tidak!" Ketus Jennixia sambil mencoba untuk melepaskan diri dari Chester.
Chester menaikkan tangannya lalu menggerakkan seperti mengusir. Para pengawal dan pelayan yang berada di sekitar mereka pun bergegas menghilangkan diri dari tempat itu.
"Kau mau apa?" tanya Jennixia karena dia melihat sudah tidak ada orang lagi berada di sekitar mereka.
Chester tidak menjawab dia malah, menci** bibir Jennixia dengan lembut. Dipaksanya lid**nya masuk ke dalam mulut Jennixia yang pada awalnya Jennixia katup dengan rapat.
Setelah lolos, Chester meresap semua rasa yang ada didalam mulut Jennixia dan gerakan lid**nya berhasil menghayutkan Jennixia.
Jennixia mengalungkan tangannya dileher Chester, dia mengikuti gerak ritme yang dibuat oleh Chester. Jatuh sudah pertahanannya tadi yang dia sudah bina bersusah payah.
10 menit berlalu, Chester melepaskan perlahan tautan bibir mereka, lalu menatap wajah Jennixia dengan penuh cinta.
Jennixia menjadi salah tingkah karena ditatap oleh Chester, wajahnya yang putih kini terlihat merah karena merasa malu.
Chester menyatukan dahi mereka.
"Maafkan aku soal obat tidur kemarin. Hari ini aku ingin menebus semua kesalahanku, kamu maukan ikut denganku?"
Jennixia tersenyum lalu mengangguk kecil.
"Eh, tapi kita tidak menaiki mobilkan?" tanya Jennixia tiba-tiba.
Chester tertawa kecil.
"Emang kenapa kalau naik mobil?"
"Mungkin saja kali ini kau tidak memberiku obat tapi membuatku menghirup bius agar aku pingsan dan tidak sadar diri." Jawabnya polos.
Chester tertawa geli, segitunya Jennixia berpikir buruk tentangnya tapi dia tidak menyalahkan Jennixia karena memang kemarin itu adalah kesalahannya.
__ADS_1
Yah, wanita tidak akan pernah salah walaupun itu adalah hal yanh terbaik pria lakukan. Tapi kalau dimata wanita salah berarti itu tetap salah dan dalam segala hal wanitalah yang sering benar.
Jennixia memiliki sifat wanita sering benar tapi Chester tidak pernah mempermasalahkannya.
"Ayo." Chester mengandeng tangan Jennixia lalu dia membawa Jennixia lewat pintu samping untuk menuju ke halaman belakang mansion.
Jennixia tidak banyak bicara dia hanya mengikuti langkah Chester, sehingga sampai di halaman belakang.
Mata Jennixia membulat sempurna dan melongo setelah melihat sebuah helikopter sudah terparkir di halaman itu.
Baru kali ini Jennixia melihatnya depan mata dan Chester mengatakan mereka akan menaikinya. Selama dia hidup dia hanya melihatnya di dalam tv atau aplikasi YT.
Pertama kalinya bagi Jennixia membuat matanya tidak bisa berkelip dia takut ini hanyalah mimpi, Jennixia mencubit lengan Chester hingga Chester memekik kesakitan.
"Akhh, kenapa sayang?" tanya Chester yang kaget karena merasa sakit dicubit tiba-tiba oleh Jennixia.
"Eh, aku kira tanganku tadi." Celetuk Jennixia tanpa rasa bersalah.
"Perasaan sudah dua kali deh." Batin Chester.
"Ayo." Ajak Chester yang tidak ingin berlama-lama takut nanti bukan hanya cubitan yang dia terima.
Jennixia kini berada di kursi penumpang helikopter itu, mulutnya tidak berhenti mengatakan "Wow". Dia tidak ingin bersifat santai berpura-pura seperti pernah menaikinya sebelum ini.
Jennixia malah menunjukkan sisi polosnya kepada Chester dan membuar Chester menjadi ingin mengemasnya. Pertanyaan demi pertanyaan Jennixia tanya kepada Chester.
Mereka mendarat disebuah kaki bukit yang berdekatan dengan lautan itu pendek kata sebuah pulau. Setelah perjalanan yang memakan 2 jam itu, Jennixia segera keluar dari helikopter untuk meluruskan pinggangnya yang mulai terasa pegal.
"Kita buat apa di sini?" tanya Jennixia dengan wajah masih berbinar karena melihat suasana yang begitu tenang dan damai. Jauh dari perkotaan membuatnya begitu bahagia.
"Aku membangun Villa di sini tidak jauh hanya melewati jembatan itu sedikit kita akan sampai." Jawab Chester.
"Benarkah?" Jennixia jadi begitu antusias, dia segera menarik tangan Chester untuk melewati jembatan kayu yang terlihat sangat kokoh.
Memang benar kata Chester ada Villa setelah melewati jembatan itu.
"Sekarang kita buat apa?"
"Ehm kamu mau apa? mandi pantai atau mandi kolam atau hanya bersantai?" tanya Chester.
"Pantai mau mandi di pantai." Jennixia melompat kegirangan karena sudah lama dia tidak datang ke pantai.
"Eh tapi aku tidak membawa baju ehm, sudahlah bersantai aja." Lanjutnya lagi setelah teringat dia tidak membawa pakaian ganti.
Chester mengusap puncak kepala Jennixia lalu tersenyum.
__ADS_1
"Jangan risau, pakaianmu juga sudah tersedia di sini."
Bibir Jennixia yang tadinya mulai mengerucut karena kecewa kini kembali melengkung, matanya kembali berbinar.
"Benarkah?" tanyanya untuk kepastian.
Chester mengangguk dengan mantabnya.
....
Arviy kira Jennixia akan masuk kuliah hari ini tapi harapannya pupus karena Jennixia dan Mei masih mengambil cuti untuk beberapa hari ke depan lagi sehingga Jennixia benar-benar fit barulah Chester mengizinkan Jennixia untuk kembali ke kuliah.
"Ck, buang waktuku saja." Gerutunya.
Arviy terus menatap ke arah kursi yang sering di duduki Jennixia, dia membayangkan wajah Jennixia tersenyum padanya seperti yang Jennixia sering lakukan.
Arviy kembali kesal karena itu hanyalah bayang-bayang. Arviy mengirim pesan kepada anak buahnya untuk mengetahui jika Jennixia ada keluar dari rumahnya.
Dia mendapatkan balasan.
[Tuan, tadi ada helikopter menuju ke arah selatan, kami sudah menggunakan binokular dan wanita itu berada di dalam helikopter itu bersama Chester.]
Arviy meremas ponselnya, dia berdiri dan keluar dari kelasnya lalu segera menuju ke arah parkiran mobil.
"Sia* ke mana mereka mau pergi? Selatan? Bukankah itu arah ke laut? Ck!" Ucapnya sambil berpikir kemana tujuan Chester membawa Jennixia.
Arviy tidak mengetahui tentang pulau pribadi yang Chester miliki dia hanya tahu Chester memiliki sebuah tanah seluas 20 hektar atas namanya sendiri.
Arviy melajukan mobilnya dan kembali ke perusahaannya. Dia datang ke perusahaan dengan berpakaian santai dan hal itu membuat para karyawannya merasa heran.
Tapi Arviy tidak memperdulikannya, dia yang berwajah cuek dan dingin hanya menatap tajam ke arah karyawannya.
Arviy sampai di ruang kantornya, dia membuat panggilan telepon ke nomor Alex.
"Ya kenapa?" Jawab Alex dari seberang sana.
"Kapan kau siap? Aku merencanakan untuk menculik Jennixia dan menjebak Chester bagaimana?" tanya Arviy kepada Alex.
"Kau yakin? Chester orang yang licik " Sahut Alex lagi mengingatkan Arviy.
"Aku sudah menyusun rencana heh kau hanya perlu datang ke kantorku kita akan membahasnya. Kali ini pasti berhasil." Arviy tersenyum smirk.
"Baiklah tapi hari dan besok aku belum bisa, mungkin lusa bagaimana?"
"Ok aku akan tunggu lusa."
__ADS_1
Arviy mematikan ponselnya setelah selesai berbicara dengan Alex. Dia mulai menyeringgai jahat.
Bersambung...