Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 13 Kemunculan Arviy


__ADS_3

Arviy memasuki kelas yang sama dengan Jennixia, baru saja hendak duduk di sebelah Jennixia tapi ada gadis lain telah mendekatinya.


"Ck, menganggu aja." Gerutunya.


Arviy berjalan perlahan dan mengambil posisi duduk di depan Jennixia dan Mei, dia coba mendengar perbicaraan mereka tapi tidak kedengaran hanya bunyi suara bisik-bisik yang tidak jelas saja.


"Apa gadis ini merupakan sahabatnya?" gumam Arviy dalam hati.


Sehingga kelas di mulai Arviy coba mencari celah untuk berbicara dengan Jennixia. Semua yang diterangkan oleh dosen di depan diacuhkannya.


Sehingga dosen berkata.


"Ok sekarang buatlah kelompok yang terdiri dari 3 orang setiap kelompak."


Arviy langsung menoleh ke belakang lalu mengambil kesempatan ini untuk mendekati Jennixia.


Jennixia yang terlihat bersemangat bersama Mei pun tersenyum-senyum.


"Hai, saya Arviy. Ehm bisa saya masuk ke kelompok kalian?" Arviy memasang raut wajah memohon.


Jennixia hendak mengiakan tapi di tolak oleh Mei.


"Maaf, tapi kami cari yang perempuan aja."


Arviy merasa kesal karena Mei menolaknya, kini dia menatap ke arah Jennixia harap gadis itu mengizinkannya.


Jennixia menatap Arviy lalu menoleh ke arah Mei yang menggelengkan kepalanya, dia jadi bingung. Jennixia menarik Mei lalu berbisik.


"Terima aja dia, biar nanti dia yang presentasi kan?" bisik Jennixia.


"Tapi dia lelaki Jen."


"Nggak apa-apa cuma saat kelas IT aja ok."


Akhirnya Mei menyetujuinya dan membiarkan Arviy bergabung bersama mereka.


"Oh ya, nama kalian?" tanya Arviy yang coba terlihat ramah.


"Saya Mei dan dia Jennixia, selamat berkenalan Arviy." Ucap Mei mewakili Jennixia.


Jennixia hanya tersenyum polos lalu kembali menghadap ke arah dosen yang sedang menerangkan apa yang harus mereka kerjakan dalam kelompok mereka.


Arviy yang sudah berpindah tempat dan duduk di sebelah Mei pun merasa senang. Dia menatap wajah Jennixia yang tampak cantik biarpun dari samping.


Pipinya yang mulus dan putih, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang tipis membuat Arviy terpana, geraian rambut yang berada di pundak Jennixia menambahkan lagi kecantikannya.

__ADS_1


Mei yang sadar akan tatapan Arviy terhadap Jennixia langsung saja dia menghadang tatapan Arviy menggunakan dirinya.


Arviy kembali sadar apabila Mei yang tadinya bersandar di kursi kini maju menutup pemandangan yang menurutnya indah.


"Ck, menganggu aja." Gerutunya lalu dia kembali fokus ke depan.


Bibir Mei tersenyum sungging.


"Hehh kau kira kau bisa dekatin Nona? Kau langkah dulu mayatku." Gumam Mei dalam hati.


Kini sudah masuk jam istirehat. Mei dan Jennixia bersiap-siap untuk keluar makan.


Arviy mencoba mencari kesempatan untuk berbicara dengan Jennixia.


"Kalian makan di kantin?" tanyanya membuat Mei dan Jennixia kompak melihat ke arahnya.


"Kenapa?" bukan menjawab Mei malah bertanya balik, begitulah kebiasaan semua orang.


"Tidak, aku mau mengajak kalian makan di cafe depan kampus. Mau?" tawar Arviy dengan penuh kesabaran.


"Maaf, lain kali aja." Jawab Mei datar.


"Eh tapi Jenni belum beri jawaban loh. Gimana Jen? Lo maukan makan di cafe depan kampus." Arviy masih berusaha.


"Maaf, benar kata Mei. Lain kali aja, lagian kami sudah punya janji." Sahut Jennixia dengan sopan dan lembut.


Arviy mengangguk dan Jennixia dan Mei pamit dari situ. Arviy memperhatikan Jennixia yang semakin menjauh keluar dari kelas mereka.


"Si** aku pastikan kau jadi milikku." Gumamnya.


Arviy merogoh sakunya dan mengambil ponselnya lalu menelepon anak buahnya untuk menjemputnya.


....


Mei dan Jennixia berada di dalam mobil menuju ke sebuah cafe yang agaj jauh dari kampus. Jennixia sudah merasa antusias karena jam sudah menunjukkan jam 11:05 pagi.


Baru saja dia hendak menekan nomor Chester, ponselnya sudah berbunyi dulu dan layarnya menunjukkan panggilan masuk dari Chester.


Tanpa menunggu lama Jennixia menjawab panggilan tersebut.


"Helo Jen." Suara khas dari seberang sana langsung menyapa Jenni setelah dia menjawab panggilan tadi.


"Ya?" Jennixia tiba-tiba gugup.


"Kabarmu bagaimana? Sudah makan?" tanya Chester dengan beruntun.

__ADS_1


"Baik aja, ini juga mau makan. Kamu bagaimana?" sahut Jennixia sambil senyum-senyum.


Akhirnya Jennixia makan sambil bertelepon dengan Chester karena Chester yang memaksakan tapi sebenarnya Jennixia juga ingin begitu.


Edward merekam momen di mana Jennixia yang tersenyum-senyum sambil bertelepon bersama Chester, dia akan mengirim video ini kepada Chester nanti supaya Chester juga tau bagaimana Jennixia di sini.


Wajah Jennixia tidak seperti waktu pagi-pagi tadi, dia kembali ceria dan bersemangat setelah kembali ke kelasnya.


Mei senang melihat Jennixia kembali ceria. Tapi yang menganggunya sekarang adalah Arviy, dia sering menatap intens ke arah Jennixia dan itu membuat Mei tidak suka karena Mei bisa membaca dari gerak tubuh Arviy, dia ingin lebih mendekati Jennixia.


Mei sudah seperti pengawal pribadi Jennixia, karena dalam diam Mei berlatih bela diri bersama Nera agar dia bisa melindungi Jennixia. Oleh itu kepekaan Mei juga semakin terasah terhadap sekitarnya.


Jennixia mengumbar senyumannya pada Mei dan Arviy, dia masih saja memilih duduk dekat jendela.


Arviy mencoba mencari topik untuk berbicara dengan Jennixia tetapi dia belum terpikir ide sedikit pun.


....


Di tempat Chester.


Chester yang menerima pesan videi dari Edward kini tersenyum-senyum, rasanya ingin pulang saat ini lalu mengemas Jennixia.


Dia menyimpan kembali ponselnya lalu menenangkan dirinya yang sedang merindukan Jennixia. Sebentar lagi dia akan memasuki ruang rapat, Chester menyempatkan diri membaca sekilas kisi-kisi rapat nanti.


Luis masuk lalu melaporkan sesuatu yanh dikirim oleh Mei. Benar saja Mei mengirim foto Arviy kepada Luis untuk di periksa asal usulnya tapi tanpa memeriksa Luis sudah mengenalnya dulu.


Luis juga bertanya-tanya kenapa ahli waris termuda Pt xxx berada di kampus Jennixia dan satu jurusan bersama Jennixia. Awalnya dia tidak mencurigai apa-apa tapi setelah mengingat bahwa dulu Arviy pernah mengancam mereka karena kalah tender dia buru-buru menuji ke ruang Chester.


Setelah melaporkannya pada Chester. Chester nampak tenang malah dia mengatakan untuk membiarkan saja pria itu kecuali dia berani menyentuh Jennixia berarti dia harus berhadapan dengan dirinya.


Chester tidak mungkin menunjukkan kepanikkannya, dia harus tenang dan memikirkan cara agar Jennixia tidak di dekati oleh pria yang bernama Arviy itu.


Mungkin kalau dia berada di Indonesia, dia pasti akan mengintimidasi para pria yang coba mendekati istrinya tapi sekarang dia malah berada jauh dari istri kecilnya itu.


"Luis katakan pada Edward untuk siaga di tempat dan jangan ke mana-mana sehingga jam pulang." Ucapnya dengan wajah datar.


"Baik Tuan, tapi Mei katakan kalau hari ini Jennixia ingin membeli sesuatu di mall." Jawab Luis sambil memberitahu informasi yang lain.


"Ya, tadi dia sudah minta izin padaku juga, ehm yang penting dia bersama Edward dan Mei, aku tidak akan khawatir." Sahut Chester dengan wajah serius.


"Baiklah Tuan nanti saya sampaikan kepada Mei dan Edward." Luis segera pamit dan keluar dari ruang Chester.


Edward yang merupakan seorang yang jago dalam bela diri itu ditugaskan untuk menjaga dan menghantar Jennixia. Dia juga merupakan anak buah terbaik dan setia terhadap Chester. Jadi Chester tidak terlalu khawatir.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2