Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 12 Saling Rindu


__ADS_3

Malam hari tanpa gangguan membuat Jennixia tidur nyaman tapi rasa yang hilang dihatinya tetap saja terus menganggunya.


Jennixia bangun dari ranjangnya dan keluar dari kamarnya. Jennixia menggunakan lift untuk turun ke lantai dasar karena moodnya tidak ingin berjalan menelusuri tangga seperti biasanya.


Jennixia menuju ke kamar belakang di mana kamar para pelayanan di dalam mansion itu berada.


Jennixia berdiri di depan kamar Mei, lalu mengetuknya tanpa bersuara. Sekitar 2 menit barulah Mei membuka pintunya.


"Mei, maaf jika aku menganggumu." Ucap Jennixia dengan wajah sendunya.


"Nona nggak apa-apa sih tapi kenapa Nona berada di sini?" jawab Mei kini mempersilakan Jennixia masuk ke kamarnya.


Jennixia memang sudah terbiasa bermain di kamar Mei, kadang tidur siang juga dia lebih memilih di kamar Mei karena kamarnya yang agak kecil itu membuatnya nyaman.


"Aku memerlukan sesuatu Mei." Jawab Jennixia yang kini telah duduk di ranjang Mei. "Bisakah aku meminjam ponselmu? Ehmm kamu pasti ada nomor Tuan kan?" lanjutnya lagi dengan antusias.


Mei tersenyum mendengar ucapan Jennixia. Terlintas dipikirannya untuk menggoda Jennixia.


"Ayo lagi rindu dengan Tuan ya?"


Wajah Jennixia berubah merah seperti tomat, dia tidak terpikir sampai ke ucapan Mei dan saat ini barulah dia sadar mungkin dia merindukan sosok Chester yang selalu menganggunya, apalagi Chester telah menjadi suaminya.


Mungkin saja hatinya di bawa oleh Chester makanya dia merasa hatinya seperti kosong dan terasa sepi.


"Ih yang benaran sih, ada nggak?" kesal Jennixia karena ledekan Mei.


"Ada Nona, tapi cuma nomor asistennya aja Tuan Luis, ehh kayaknya Tuan belum mendarat inikan baru jam 2 pagi Nona. Perjalanan ke Itali butuh 16 jam Nona, jam 11 pagi baru mendarat kayaknya." Jawab Mei.


Jennixia terdiam, bibir mungil itu kembali mengerucut baru saja dia pikir mau berbicara dengan Chester tapi ternyata Chester aja belum mendarat.


"Ehmm Mei, bisakah aku tidur bersamamu?"


"Hem bagaimana ya bisa atau nggak ya." Jawab Mei masih ingin menggoda Jennixia.


Mei menatap Jennixia yang matanya mulai berkaca-kaca dengan wajah penuh harapan. Tidak tega lagi dia kalau menolak kemauan Nonanya ini.


"Baiklah baiklah, mari kita tidur." Ucap Mei lalu naik ke atas ranjangnya.


Mujur saja ranjangnya sudah di tukar menjadi ranjang yang agak luas, semuanya Nera telah atur demi kenyamanan sang Nona yang suka tiduran di kamar Mei setiap siang.


Jennixia kini tertidur pulas karena Mei menepuk-nepuk punggungnya agar tertidur. Setelah mendengar nafas Jennixia yang sudah beraturan dan kedengaran halus barulah Mei melelapkan matanya.


Benar kata Chester, Mei terlalu memanjakan Jennixia.


...


Di dalam pesawat.

__ADS_1


Chester yang bolak balik melihat ke arah jam yang melingkar ditangannya di buat bingung oleh Luis. Pertanyaan kapan akan sampai sudah lebih 10 kali ditanyakan oleh Chester.


Tumben saja Chester tidak bisa tenanh seperti biasa. Baru kali ini Chester tampak tidak tenang. Luis saja dibuat tidak bisa tidur.


Luis coba memberanikan diri untuk bertanya.


"Tuan, kenapa Tuan kelihatan sangat gelisah? Apa ada yang menganggu pikiran Tuan?


Chester menoleh ke arah Luis tatapan mata Chester sungguh tajam membuat bulu kuduk Luis merinding.


"Aku cuma memikirkan istriku." Jawabnya dengan suara tegas khas dirinya.


Luis langsung saja mengangguk, kini dia sudah dapat alasannya kenapa Chester kelihatan gelisah dan khawatir, rupanya karena istri yang dia tinggalkan di Indonesia.


"Istirehat sedikit Tuan, masih ada lebih kurang 8 jam lagi untuk kita mendarat di Milan." Luis coba memberi saran mungkin saja Chester mau mendengarkannya.


"Luis, aku lupa memberitahumu. Jennixia tidak mempunyai ponsel." Wajah Chester kelihatan semakin panik mengingatkan hal itu.


Bagaimana dia bisa berkomunikasi dengan Jennixia kalau dia saja tidak punya ponsel atau segala macam yang bisa membuat mereka berhubung. Chester memaki otaknya karena tidak bisa memikirkan hal itu.


"Jangan khawatir Tuan, besok Mei akan memberinya ponsel baru Tuan, saya sudah atur semuanya termasuk Mei juga akan kuliah bersamanya untuk menemani dan menjaganya." Jawab Luis sambil memberi senyuman manis kepada Chester.


Chester menghela nafas lega, memang asistennya ini bisa dia andalkan dalam semua hal.


"Syukurlah terima kasih Luis." Kini Chester bisa dengan tenanh melelapkan matanya sementara menunggu mereka sampai di tempat tujuan.


"Aku merindukanmu gadis kecil." Gumam Chester dalam hatinya.


...


Arviy yang tampak menyeringgai. Dia kira rencananya akan berjalan lancar setelah mengetahui Chester pergi ke luar Negara untuk urusan perusahaannya dan meninggalkan kekasihnya di belakang.


"Kau salah besar Chester! Seharusnya kau bawa gadis kecilmu itu bersama hahaha! Takdir memang memihak padaku dan kau akan hancur." Ucapnya dengan tawaan jahatnya.


Arviy tinggal menunggu gerakan dari Ayah tiri Jennixia karena, Ayah tirinya sendiri akan menyeret Jennixia untuk bertemu dengan dirinya.


Keesokan harinya Arviy mendengar berita bahwa Ayah tiri Jennixia sudah pergi berlibur di pulau Komodo, dia merasa kesal dan marah.


Arviy membanting ponselnya setelah mendengar laporan anak buah yang memperhatikan gerak geriknya.


"Sia*** orang tua itu dia ingin bermain-main denganku hahh!" Geramnya sambil menggenggam kedua tangannya.


Arviy tidak ingin bertindak ceroboh, dia memilih menunggu Anderson pulang dan akan menghajarnya sehingga puas.


Arviy sendiri akan turun tangan, dia sendiri akan bertemu dengan Jennixia.


Arviy akan mengikuti kuliah di jurusan yang sama dengan Jennixia dan dia akan coba mengambil seluruh perhatian Jennixia padanya.

__ADS_1


.


.


.


.


.


Jennixia telah usai bersiap, kini dia berada di meja bersiap untuk sarapan pagi. Walaupun hari ini hari pertamanya masuk kuliah tetap saja dia kurang bersemangat, pikirannya hanya memikirkan keadaan Chester.


Jennixia dihantar ke kampus oleh Edward dan Mei akan menyusulnya dari belakang.


Setelah sampai di kampus, Jennixia langsung saja menuju ke ruang kelasnya, dia sudah menghafal ruangnya karena kemarin Chester telah membawanya berputar-putar di kawasan kampus dan ruang kelasnya agar memudahkan Jennixia.


Jennixia mengambil tempat duduk di bahagian tengah dan berdekatan dengan jendela. 15 menit sebelum mulai kelas, Jennixia yang masih melamun menghadap ke luar itu dikejutkan dengan suara yang familiar.


"Nona!" Tegurnya.


Jennixa cepat menoleh ke sebelahnya, senyumannya mengembang matanya berbinar setelah mendapati kehadiran teman terbaiknya iaitu Mei.


"Mei..." Ucapnya lalu menarik tangan Mei untuk duduk di sebelahnya.


"Suprise!" Ujar Mei dengan wajah sumringgah.


"Ih, jangan buat aku terharu." Sahut Jennixia sambil mencubit perlahan tangan Mei.


"Ini untuk Nona dari Tuan." Mei memberi tas kain kepada Jennixia.


"Apa ni?" ucapnya sambil merogoh isi tas tersebut.


Mata Jennixia kembali berbinar melihat isi tas itu sebuah kotak ponsel Iph**** yang keluar baru. Jennixia membuatnya lalu matanya berkaca-kaca.


"Segini usahanya untuk membuat aku bahagia." Gumam Jennixia.


"Dalam itu ada nomor Tuan, Tuan Luis, Kak Nera dan saya." Lanjut Mei lagi.


Jennixia mengangguk dia menatap ponsel barunya dengan tatapan bahagia.


"Oh ya, Mei kalau di kampus jangan panggil Nona panggil Jenni aja."


"Tapi..."


"Shhtt ikuti aja." Ucap Jennixia dengan wajah yang begitu bahagia.


Mei menggangguk.

__ADS_1


"Baiklah Jenni."


Bersambung...


__ADS_2