
Setelah sejam, Liana menaiki lantai 2 di mana ruang kerja Chester berada. Liana coba mengetuk pintu tapi tidak ada respon.
Sebelum memasuki ruangan itu Liana melihat ke kiri kanan depan belakangnya untuk memastikan tidak ada orang berada di sekitar tempat itu.
Setelah memastikan aman, barulah Liana membuka pintu ruangan kerja Chester dengan wajah sumringgah.
Setelah berada di dalam Liana mengunci pintunya dan merapikan lagi bajunya, sengaja dia membuka bagian dadanya agar terlihat dua gunung berkembarnya.
Liana mencari sosok Chester dan matanya tertuju ke arah sofa ruang itu. Chester sedang tertidur di sofa ruangan itu.
Liana mendekatinya lalu berjongkok menatap wajah tenang Chester yang sedang tertidur.
"Kau akan menjadi milikku." Bisik Liana lalu mengucup perlahan pipi Chester.
Liana mengambil foto seolah-olah dia sedang berciuman dengan Chester dan membuka sedikit kancing kemeja Chester di bagian atasnya.
Sungguh Liana tidak bisa menahan hasratnya untuk menyentuh bibir Chester, dia menciu* bawah bibir Chester lalu diluma*nya sedikit dan meninggalkan kesal gincu dan tubuh Chester.
Liana tidak melewatkan sedikit pun, dia mengambil foto dari berbagai sudut agar terlihat asli.
Setelah hampir setengah jam, Liana merapikan kembali bajunya dan membiarkan kemeja Chester terbuka dan mengekspos dada bidangnya.
Liana keluar dari ruang kerja Chester dengan wajah sumringgah. Dan yang paling membuatnya merasa menang apabila Jennixia berada di lorong ruang kerja Chester dengan mata melotot.
Liana menatap Jennixia sinis.
"Siapkan diri untuk mengangkat kaki anda karena Chester telah merebut keperawananku tadi." Ucap Liana dengan senyum sunggingnya.
Jennixia berlari ke arah Liana lalu melepaskan amarahnya karena ucapan Liana benar-benar menyakitkannya.
Plakk!
Bughhh!
Satu tamparan hinggap dipipi Liana, masih tidak puas Jennixia mendorong Liana hingga terjatuh di atas lantai.
"Akhh sia*an." Pekik Liana yang menahan kesakitan di bokongnya dan menahan perih dipipinya.
"Kau wanita penggo*a, pergi kau dari sini." Suara Jennixia lantang dan tegas terdengar di dalam mansion itu.
Mary dan Mei berlari naik ke lantai 2 bersamaan. Chester terbangun dari tidurnya lalu keluar dari ruang kerjanya karena kaget mendengar suara Jennixia yang berteriak.
Mary mendekati Liana dan Mei menarik Jennixia ke belakangnya agar tidak menerima amukan Mary. Chester buka pintu dan keluar.
Mata mereka semua melotot melihat Chester yang dalam keadaan berantakan, polesan lipstik didadanya dan dibibirnya.
Membuat mata Jennixia memanas.
"PENIPU!" Teriak Jennixia lagi lalu berlari ke menaiki tangga menuju kamarnya.
__ADS_1
Mei menyusuli Jennixia, dia sempat menatap Chester dengan wajah yang kebingungan.
Chester hendak mengejar Jennixia tapi di hadang oleh Mary.
"Ches, kau menodai Liana?" tanya Mary dengan tatapan tajam.
Liana sedang menangis tersendu-sendu ingin meminta perhatian dari Chester. Pikirnya Chester akan membujuknya tapi harapannya sirna.
"Aku tidak melakukan hal itu!" Jawab Chester dingin lalu melewati saja Mary dan Liana yang berada di situ.
Chester naik ke kamar mereka dan memasukinya. Dia tidak melihat Jennixia di atas ranjang tapi dia mendengar bunyi rusuh di dalam walkin closetnya.
Chester memasuki ruang itu dan dia kaget melihat Jennixia yang mengambil semua baju-bajunya dan memasukkan di dalam koper, Mei sempat menarik keluar pakaiannya tapi tangisan Jennixia makin kencang.
"Nona, setidaknya Nona dengan penjelasan dari Tuan." Bujuk Mei sambil menarik perlahan pakaian yang digenggam Jennixia.
"Penjelasan apa Mei, kau tidak lihat seluruh wajah dan bagian dadanya di penuhi bekas bibir wanita itu hisk hisk." Ucap Jennixia sambil terisak.
Mereka tidak menyadari kehadiran Chester yang berada di pintu ruang itu. Chester merasa bingung dengan ucapan Jennixia dia kembali keluar untuk melihat dirinya di cermin meja rias Jennixia.
Chester sendiri melotot melihat penampilannya yang terpantul dari cermin. Dia mengeretakkan giginya lalu memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum bertemu dengan Jennixia.
....
Arviy memasuki ruang kantornya diikuti dengan Anderson yang sedang diseret oleh anak buahnya.
Setelah anak buahnya membiarkan Anderson di atas lantai dalam keadaan pingsan, salah satu anak buahnya menendang kuat perut Anderson sehingga Anderson terbatuk-batuk dan mulai sadar.
"Bangun!" bentak salah satu anak buah Arviy.
Anderson masih coba mengucek matanya untuk mengembalikan kesadaran penuhnya.
Arviy yang duduk bersandar di atas meja kerjanya menatap sinis ke arah Anderson.
"Well, kau punya usaha bagus tapi kau gagal!" Ucap Arviy dengan dingin.
Anderson mulai gementar dan meminta maaf.
"Aku tidak menyangka mereka akan menyerangku."
"Ck, mereka tidak menyerangmu tapi kau sudah membongkar rencana kau sendiri padahal masih ada pengawal yang mengikutimu jadi rencanamu sia-sia mujur saja anak buahku langsung membawa kau masuk ke mobil agar kau tidak di tahan olehnya." Terang Arviy yang merasa kesal.
"Maafkan aku Tuan, bagi aku peluang." Sahut Anderson yang mulai berlutut.
"Untuk sekarang kau jangan keluar tunggu saatnya nanti baru kau keluar" seru Arviy. "Kalian bawa dia ketempat penyekapan," lanjutnya lagi.
Anderson mengikuti mereka tanpa protes. Karena salah satu Arviy sedang memegang Glock ditangannya dan itu yang membuat nyalinya menciut.
....
__ADS_1
Brughhh!
Alex menghentakkan tangannya di atas meja setelah mendengar laporan dari anak buahnya. Arviy hampir berhasil menculik Jennixia dengan menggunakan Anderson.
"Sia*! Kenapa kalian baru memberitahu ku hahh?" bentak Alex. "Apa kalian ingin patuh dengan Arviy brengsek itu? Kalau begitu aku sendiri yang akan membunuh kalian," lanjut Alex lagi.
Alex mengambil pistol kecilnya lalu menarik picunya untuk menembak anak buahnya.
"Maaf Tuan, maaf ta...di ada Arviy...di sana dia mengarahkan kami untuk tidak memegang ponsel..." Ucap salah satu anak buahnya itu.
Alex yang masih dalam keadaan emosi langsung saja menembak ke arah pria itu tapi dia sengaja buat pelurunya meleset ke belakang.
"Aku tidak mau dengar alasan lagi! Ini yang terakhir kali, kalau ada apa-apa harus informasikan ke aku dahulu! Mengerti?!"
Para anak buah Alex kompak mengatakan "baik Tuan" Alex melepaskan mereka dan menyuruh mengawasi pergerakan Arviy.
Dia memijit dahinya yang karena kepalanya tiba-tiba terasa pusing.
"Arviy sia*an itu awas saja kau." Gerutunya.
Alex membuka laptopnya dan mencari dokumen yang berisi foto Jennixia. Alex tersenyum sepertinya kepalanya yang terasa sakit tadi sudah terasa sembuh setelah menatap foto Jennixia yang sedang tertawa.
"Maafkan aku Jen." Lirih Alex.
....
Kembali ke mansion Chester.
Kini Jennixia terlihat berdebat dengan Chester karena perkara yang tanda yang ada di tubuh dan wajahnya tadi.
"Jen, dengarkan aku tadi aku benar-benar tertidur." Bujuk Chester yang kini telah berlutut di hadapan Jennixia.
"Kau penipu dan penipu, aku sudah muak dan biarkan saja aku pergi." Ketus Jennixia yang sama sekali tidak peduli dengan Chester.
"Aku tidak mampu hidup tanpamu Jennixia!" Chester masih saja berlutut meminta kasihan pada istri kecilnya itu.
"Tidak! Aku tetap akan pergi!" Jennixia menenteng semua tasnya lalu keluar dari pintu kamarnya dan menuruni anak tangga
Chester berteriak dari tangga dengan kuat dan lantang.
"JANGAN BIARKAN NONA JENNIXIA KELUAR DARI PINTU UTAMA!"
Jennixia yang mendengarnya pun langsung berdecih dan menghiraukannya, dia masih menuruni anak tangga dengan langkah yang cepat.
Bughh!!
Bunyi jatuh itu membuat para pelayan rumah berlari ke arah tangga.
Bersambung...
__ADS_1