Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 74 Chester berubah


__ADS_3

Kini mereka telah berada di depan ruangan IGD. Chester terlihat mondar mandir tidak tenang karena kondisi Mary sempat kritis tadi.


“Ches, duduklah kau harus tenang, aku yakin semuanya baik-baik saja,” ucap Jennixia menarik tangan Chester lembut.


Chester menatap Jennixia dengan tatapan sendu bercampur khawatir. Dia menarik Jennixia ke dalam pelukkannya karena dia butuh penyemangat.


Jennixia membalas pelukan Chester dan mengusap perlahan punggung Chester. Walaupun dia juga merasa khawatir tapi dia tidak boleh terlihat panik karena Chester sudah terlalu panik dan dia harus mendukung Chester.


“Aku takut Mama kenapa-napa,” ucap Chester lirih dengan suara seraknya.


Air mata yang coba ditahan Chester dari tadi akhirnya tumpah dan membasahi pundak Jennixia. Tapi tidak ada isakan yang terdengar.


“Semua akan baik-baik saja,” sahut Jennixia.


Di depan ruangan IGD mereka berpelukan tanpa memperdulikan orang-orang di sekitar mereka yang menatap mereka dengan tatapan iba.


Tiba-tiba pintu ruang IGD dibuka dan seorang dokter keluar.


“Keluarga pasien?” tanya dokter itu.


Chester melepaskan pelukkannya lalu menggenggam tangan Jennixia.


“Saya anaknya Dok, bagaimana keadaan Mama saya?” sahut Chester.


Dokter melihat Chester dengan tatapan iba.


“Bisa ikut saya karena ada hal yang ingin saya jelaskan,” jawab Dokter itu lalu berjalan menuju ke ruangannya yang tidak jauh.


Chester dan Jennixia menyusuli Dokter tersebut hingga sampai ke dalam ruangan Dokter itu.


Dokter itu mempersilakan Chester dan Jennixia duduk. Lalu menjelaskan keadaan Mary.


“Begini mungkin pasien akan mengalami kelumpuhan pada tubuh bagian bawah atau kita panggil Paragelpia,” ucap Dokter itu.


“Hal ini disebabkan terjadinya gangguan pada otak atau saraf tulang belakang yang mengendalikan otot panggul dan tungkai akibat dari benturan kecelakaan tadi,” lanjut Dokter itu lagi.


Chester terdiam dan syok setelah mendengar penjelasan dari Dokter itu. Dia tidak tahu harus mengatakan apa tentang penjelasan itu.


“Apakah itu bisa sembuh Dok?” tanya Jennixia pada Dokter itu.


Jelas raut khawatir tercetak diwajah Jennixia tanpa sadar air matanya turun membasahi pipi mulusnya itu. Walaupun selama ini Mary tidak pernah menerimanya sebagai menantunya tapi Jennixia sedikit pun tidak menaruh dendam.


Dokter tersenyum tipis.


“Paraplegia umumnya tidak bisa disembuhkan. Namun, pada sebagian kecil kasus, pengobatan dapat meningkatkan kemampuan pasien paraplegia dalam menggerakkan anggota gerak bagian bawahnya. Pengobatan juga dapat meredakan gejala dan keluhan yang dialami pasien, Pengobatan paraplegia akan disesuaikan dengan penyebabnya dan letak saraf mana yang terkena,” jelas Dokter itu lagi.


Chester menghela nafas panjang begitu pun dengan Jennixia.


“Lakukan yang terbaik Dok,” ucap Chester dengan suara seraknya.

__ADS_1


Setelah selesai berbincang-bincang dengan Dokter akhirnya Chester dan Jennixia keluar dan menuju ke ruang rawat inap Mary.


Karena sewaktu berada di dalam ruangan dokter tadi Mary telah dipindahkan ke ruang inap vip yang telah Chester pesankan.


Kaki Chester terasa berat untuk melangkah penjelasan dokter tadi terus terngiang-ngiang di telinganya. Dia mengingat bagaimana Mary memohon padanya tadi sebelum dia menyuruh para pengawalnya menyeret paksa Mary untuk pulang ke NY.


Flashback on...


Sesampai di bandara, Mary mencari cara agar terlepas dari para pengawal. Mary melihat sebuah supermarket yang berada tidak jauh dari tempat dia duduk.


Mary berdiri lalu berjalan menuju ke arah supermarket itu tapi langkahnya dihentikan oleh dua orang pengawal pria Chester.


“Maaf Ibu tidak boleh ke mana-mana karena setengah jam dari sekarang kita akan check in tiket,” ucap salah satu pengawal itu.


“Sebentar saja aku ingin membeli cemilan dan makanan untuk di dalam pesawat nanti,” jawab Mary kesal.


“Biar kami saja yang belikan Ibu,” ucap pengawal itu lagi.


“Ck, aku maunya pilih sendiri kalau kamu yang pergi, bisa-bisa yang kamu beli aku buang sebelum memasuki pesawat,”ucap Mary ketus karena merasa kesal dengan pengawal yang terlalu mengawal ketatnya.


Para pengawal saling berpandangan dan menganggukkan kepala mereka.


“Baiklah kami dua orang akan temani Ibu,” ucap pengawal itu sambil menunjuk temannya.


Setelah memasuki supermarket, Mary membawa mereka mengitar supermarket itu hingga terdengar suara mendengus kesal barulah Mary menyuruh mereka membantunya untuk memilih beberapa cemilan.


Sedang asyik para pengawal itu memilih beberapa cemilan keripik, Mary mundur perlahan hingga merasa cukup jauh barulah Mary berlari keluar dari supermarket itu.


Suara teriakan memanggil namanya membuat Mary kaget. Mary masih saja berlari hingga ke jalan umum. Awalnya Mary hendak berhenti berlari tapi setelah melihat ke belakang ada pengawal yang berlari menuju ke arahnya.


Mary terpaksa melintasi jalan itu tanpa menunggu rambu lalulintas berubah merah. Tanpa melihat ke kiri Mary langsung saja melintas.


Malangnya sewaktu hendak melintas jalan Mary dilanggar oleh motor yang datang dari arah kiri dengan kecepatan tinggi.


Mary terpental jauh dan hampir saja sebuah menabraknya jika tidak cepat menginjak rem mobil.


Kejadian itu disaksikan oleh para pengawal Chester dan beberapa pengendara yang ada di jalan itu.


Setelah Mary terbaring di jalan umum itu, ramai yang mengerumuninya sehingga seorang pengawal Chester mengendongnya dan berlari membawanya masuk ke dalam salah satu mobil pengendara di situ untuk membawa Mary ke rumah sakit terdekat..


Darah berkeluaran dari hidung dan mulut Mary membuat pengawal itu cemas dan khawatir akan amukan majikannya.


Pengawal yang lain langsung saja menahan taksi untuk mengikuti mobil yang dinaiki salah satu teman mereka. Tidak lupa juga mereka mengabarkan kejadian ini kepada majikan mereka.


Flashback end...


Chester menatap Mary yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Rasa bersalah menyeruak dalam dirinya.


“Sebenarnya tadi Mama ingin bertemu denganmu tapi aku melarangnya. Aku menyuruhnya pergi dan menyuruh pengawalku untuk menyeret paksa dirinya,” ucap Chester pada Jennixia yang berada di sampingnya.

__ADS_1


“Hmm semuanya akan baik-baik saja,” sahut Jennixia.


Jennixia sendiri tidak tahu hendak berkata apa. Padahal baru tadi pagi dia berjalan-jalan bersama Mary dan Mary ingin menjebaknya tapi sekarang Mary telah terbaring di rumah sakit dengan kondisi berbeda.


“Aku telah berdosa karena aku telah membuat Mama seperti ini,” ucap Chester lagi.


“Kalau aku tidak gegabah dalam membuat keputusan pasti semua ini tidak akan terjadi pasti Mama masih berada di mansion,” lanjut Chester lagi.


Jennixia mengerutkan dahinya.


“Maksudmu apa Ches?” tanya Jennixia yang mendengar ucapan Chester.


Chester menoleh menatap Jennixia dengan tatapan datar. Tidak ada senyuman mau pun rasa kasih kepada Jennixia yang ada Cuma netra mata yang terlihat sedih dan marah.


“Kau menyalahkanku?” tanya Jennixia lagi karena merasa aneh dengan tatapan Chester.


“Kalau aku tidak memeriksa cctv itu Mama pasti masih baik-baik saja,” sahut Chester.


Deg!


Jantung Jennixia seperti ditusuk-tusuk jarum yang tajam. Kenapa Chester bisa menyalahkan dirinya. Tidak kenapa Chester bisa memikirkan seperti ini semua berpunca dari dirinya.


Hati Jennixia yang tadinya sedih kini terasa perih. Chester tiba-tiba berubah drastis setelah melihat keadaan Mary, tatapan matanya yang biasanya terlihat penuh cinta kini terlihat datar dan kesal.


“Berarti ini semua salahku, menurutmu?” tanya Jennixia dengan suara serak menahan air matanya.


Chester mengalihkan tatapannya. Dia kembali melihat wajah Mary yang terlihat pucat. Pikirannya sungguh berantakan. Entah kenapa dia bisa melontarkan ucapan itu tadi.


“Keterlaluan!” ucap Jennixia kemudian. Lalu meninggalkan Chester sendiri di dalam ruangan itu.


Setelah keluar dari ruang rawat inap Mary barulah Jennixia menumpahkan air matanya. Tidak menyangka Chester bisa berkata seperti itu.


Nera dan Mei yang ada di sana saling berpandangan. Mei mendekati Jennixia dan mendekap tubuhnya yang terduduk di depan pintu ruangan itu.


“Nona jangan duduk di sini mari kita duduk di kursi saja,” ucap Mei perlahan lalu membantu Jennixia untuk berdiri dan duduk di kursi tunggu di lorong itu.


Nera dan Mei sudah membujuk Jennixia dengan berbagai bujukan tapi Jennixia tidak mengindahkannya. Setelah puas menangis tadi, Jennixia hanya tertunduk menatap kosong ke arah jari manisnya yang terpasang cincin nikah.


‘Mungkin bukan di sini takdirku untuk bahagia,’ batin Jennixia.


Chester keluar dari ruang inap Mary. Tatapan tertuju ke arah Jennixia tapi dia tidak mendekati mau pun membujuk Jennixia.


Chester hanya melewatkan Jennixia yang masih duduk menundukkan wajah itu. Beberapa pengawal mengikuti Chester termasuk Nera.


Hanya Mei dan beberapa pengawal yang berjaga di depan ruangan itu bersama Jennixia.


Mei menatap aneh ke arah punggung sang majikan yang telah berlalu pergi.


‘Ada apa ini, firasatku tidak enak,’ ucap Mei dalam hati.

__ADS_1


***Bersambung...


Komen dan like masih gratis lohh😆😆 selamat membaca yaa readersss***


__ADS_2