Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 59 Rencana Arviy lagi


__ADS_3

Arviy coba mencari informasi tentang musuh Chester. Dia membuat janji dengan salah satu temannya yang merupakan pemilik klub yang ternama.


Dia tahu temannya itu pasti banyak kenalan di dunia gelap, apalagi dulu saja dia bisa mengenal Alex lewat temannya itu.


Arviy menuju ke tempat di mana mereka telah sepakat untuk bertemu. Setelah duduk di dalam sebuah Resto bernuansa klasik dengan alunan musik yang merdu.


Selang beberapa menit, seorang pria berwajah tegas memasuki resto itu. Dia melihat ke sekitar untuk mencari sosok yang telah membuat janji temu dengannya.


“Hei, di sini,” panggil Arviy dari meja di bagian pojok.


Pria itu menuju ke meja itu dan duduk berhadapan dengan Arviy yang terlihat menyeringgai menatap wajahnya.


“Apa kabar Sean? Kau terlihat serius, kenapa?” tanya Arviy.


“Biasalah urusan pekerjaan, hum ada perlu apa tumben kau mengajakku bertemu?” sahut Sean.


Sean merupakan pemilik klub ternama dan merupakan klub di mana Jennixia hampir dijual oleh Anderson.


“Hum kau seperti tahu, aku mau mencari informasi tentang orang yang sama kayak kemarin,” ujar Arviy tersenyum miring.


“Chester? Kenapa?” tanya Sean.


“Aku mau cari tahu lagi tentang musuhnya lagi,” jawab Arviy.

__ADS_1


“Alex bagaimana?” tanya Sean lagi.


“Ck, berandal itu tidak bisa diharapkan,” jawab Arviy dengan kesal.


“Ok, baiklah aku mengerti hum besok aku akan kirim beberapa musuhnya,” seru Sean. “Oh ya, aku juga sebenarnya sakit hati dengannya karena dia merampas calon pekerjaku, mungkin kali ini aku akan campur tangan,” lanjut Sean lagi.


Sean memberitahu rencananya kepada Arviy tapi kali ini mereka akan menggunakan musuh terbesar Chester dan kelemahan Chester.


....


Liana dan Eild tidak tahu hendak ke mana, mereka duduk di taman kota yang sepi. Sepanjang perjalanan Liana terus mengoceh dan menyalahkan Eild, tapi Eild sedikit pun tidak menjawab.


Eild sedang berpikir bagaimana caranya untuk membujuk Mary, agar dirinya dipercayai lagi. Kali ini dia pikir akan meninggalkan Liana seperti wanita-wanita yang pernah dia tinggalkan dulu.


Malam makin larut, Liana telah lelah berbicara dan akhirnya memilih tidur melelapkan matanya di sebuah kursi panjang karena Eild tidak mau mendekatinya.


“Kamu berjaga saja, aku tidur dulu,” pesan Liana pada Eild.


“Ehm,” sahut Eild dengan bergumam.


Eild melihat ke arah jam tangannya, sudah lebih dari 20 menit Liana terlelap, kini jam menunjukkan jam 12:40 malam.


Eild dengan langkah yang perlahan, meninggalkan Liana sendiri yang berbaring dikursi taman kota itu.

__ADS_1


“Maaf Lia, aku tidak bisa hidup begini,” ucapnya perlahan sebelum meninggalkan taman itu.


Eild menuju kembali ke mansion Chester dengan berjalan kaki karena jalanan sudah terlihat sepi. Cukup melelahkan tapi dia tidak akan menyerah.


Sehingga tepat jam 2 pagi, Eild sampai di depan mansion Chester, dia meminta pengawal yang berjaga untuk membuka pintu pagar


Awalnya para pengawal enggan membuka pintu pagarnya tapi setelah ancaman demi ancaman Eild katakan dan ponsel Chester mau pun Nera tidak aktif, mereka terpaksa membuka pintu pagar untuk Eild.


Eild merasa senang, akhirnya dia bisa tidur dengan nyaman di dalam mansion Chester. Pengawal pintu membukakan pintu utama kepada Eild karena tipu muslihat kembali digunakannya.


Eild ingin memasuki kamar yang di tempati Mary tapi dia urungkan niatnya dan berjalan menuju ke kamar sebelah tempat di mana Liana pernah menginap dan Eild tidur dikamar itu.


Besok pagi dia akan membujuk Mary dan merayu Chester untuk memaafkan dirinya.


....


Chester terbangun jam 5 pagi, dia menatap wajah Jennixia yang terlihat semakin cantik dan bersih.


Chester mengambil foto Jennixia yang masih terlelap dan menjadikan sebagai wallpaper ponselnya. Dia juga sempat melihat beberapa panggilan dari pengawalnya.


Chester mengabaikannya untuk sementara karena sebentar lagi dia akan kembali ke mansion. Chester tidak ingin melepaskan momen bersama Jennixia karena dia masih takut jikalau Jessi mengubah pikirannya secara tiba-tiba.


“Aku mencintaimu,” bisik Chester tepat di telinga Jennixia.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2