
“Bagaimana bisa rekaman cctv dalam toko tidak ada?” tanya Sean pada anak buah yang meneleponnya.
“Pihak mall juga belum bisa memastikan, kata mereka kemungkinan cctv itu rusak Tuan,” jawab anak buah itu dari seberang sana.
“Ya sudah, lanjutkan pekerjaan kalian,” ucap Sean lalu mematikan ponselnya.
Sean semakin curiga terhadap Arviy karena tadi adalah saran dari Arviy untuk mengecek rekaman cctv.
“Apa mungkin dia yang lakukan,” ucap Arviy lirih sambil mengepalkan kedua tangannya.
....
Setelah sampai di rumah Jennixia mempercepatkan langkahnya ingin memasuki kamarnya tapi langkah terhenti apabila mendengar ucapan Mary.
“Ches, percayalah mama tidak melakukan hal jahat. Lagian ini semua salah Jenni, dia meninggalkanku di kamar wc sendiri,” ucap Mary yang coba melemparkan kesalahannya pada Jennixia.
Jessi mengerutkan dahinya, karena memang dia tidak mengerti ada masalah apa.
“Maksud Bu Mary apa?” tanya Jessi.
“Ibu sebaiknya Ibu istirehat saja ya,” bujuk Chester.
“Tapi Bu Mary tadi bilang Jenni meninggalkannya apa itu benar?” tanya Jessi pada Chester lalu melihat ke arah Jennixia berwajah yang berwajah datar.
“Ini Cuma sedikit salah faham, biar aku yang selesaikan ya Bu,” sahut Chester merasa sedikit takut jikalau Jessi sudah masuk campur.
“Oh baiklah, tapi sebelum itu Ibu ada permintaan,” ucap Jessi.
“Ibu mau kembali saja ke rumah Ibu, rumahmu ini terlalu besar dan luas, Ibu tidak terbiasa jadi besok hantarkan Ibu kembali ke rumah bisa ya nak,” lanjut Jessi kemudian.
“Tap....” ucap Chester terpotong kala Mary langsung mengangkat bicara.
“Besok biar saya yang hantar Ibu bersama sopir ya Bu,” ucap Mary yang terlihat senang karena tidak perlu susah-susah mengusir Jessi.
“Ibu....” panggil Jennixia yang terlihat sedih.
“Kamu harus di sini Jen bersama suamimu,” sahut Jessi yang tahu Jennixia sedang memikirkan apa.
“Baiklah, kalau begitu Ibu pamit ke kamar dulu ya, Jenni kamu tolong hargai mertua kamu dengar itu!” lanjut Jessi lagi.
Jessi meninggalkan mereka di ruang tengah mansion Chester. Tanpa Jessi sadar Mary telah tersenyum kemenangan.
Jennixia menghela nafas panjang, baru saja dia hendak pergi tapi Chester telah menghentikan langkahnya.
“Jen tunggu,” ucap Chester yang terdengar datar.
__ADS_1
Jennixia membalikkan badannya menghadap ke arah Chester dengan tatapan malas.
“Kenapa?” tanya Jennixia dingin.
Chester menjadi salah tingkah apabila Jennixia bersuara dingin.
“Ka-kamu istirehat ya,” ujar Chester akhirnya mematikan rasa penasaran tentang ucapan Mary tadi.
‘Ck kenapa Chester malah membiarkan wanita itu pergi, seharusnya dia memarahinya,’ ucap Mary dalam hatinya.
“Ches, mam.....” ucapannya terpotong apabila Nera datang mendekati Chester lalu membisikkan sesuatu.
Tanpa pamit kepada Mary, Chester langsung saja berjalan menuju ke ruang kerjanya dan disusuli oleh Nera.
Sebelum Nera menyusuli Chester, dia sempat bertatapan dengan Mary, wajah Nera terlihat datar tapi bibirnya melengkung tersenyum miring.
Mary tiba-tiba merinding melihat senyuman Nera. Sepertinya Nera sudah mendapatkan sisi buruk Mary.
Setelah sampai di ruang kerjanya, Chester langsung membuka laptopnya dan melihat email yang dikirim oleh pihak IT perusahaannya.
Chester dengan serius memperhatikan rekaman cctv itu dan matanya membulat sempurna setelah melihat Mary membayar beberapa pria, dia menjadi curiga semua perkataan Eild adalah benar.
Chester coba mengatur nafasnya tapi dia kembali dibuat kaget setelah melihat seorang pria menarik Jennixia ke belakang toko dan sialnya di sana tidak ada rekamannya.
Masih terus memperhatikan, beberapa pria yang dibayar Mary memasuki toko pakaian tersebut tapi setelah berbincang dengan seorang wanita beberapa pria itu keluar dan wanita itu pergi ke belakang toko.
“Pihak IT masih mencari tahu Tuan,” jawab Nera.
Setelah mendengar jawaban Nera Chester kembali menatap ke layar laptopnya yang masih memutarkan rekaman cctv itu.
Kali ini 8 orang pria berjas hitam memasuki toko itu dan 6 orang yang lainnya mengitari setiap penjuru ruang toko pakaian itu. Selang beberapa menit mereka keluar dari toko itu.
Chester menghentikan rekaman itu tepat di wajah seorang pria berjas hitam.
‘Ini pria yang memerhatikanku tadi,’ batin Chester.
“Ner, siapakan pesawat. Hari ini Mama harus kembali ke NY dan setelah dia sampai ke sana, kamu matikan saja paspor keluar masuk ke Negara ini.
“Baik Tuan,” sahut Nera dan langsung pamit keluar.
Chester mengingat ucapan Jennixia dari 3 hari yang lalu, mungkin selama ini Jennixia sudah memberi kode padanya tapi dia saja yang tidak peka.
Chester terpikir untuk melihat cctv rumah selama lebih kurang semingguan kebelakangan ini.
Sekali lagi dia harus menelan kenyataan yang pahit, melihat istrinya dijadikan seperti pembantu membuat Chester tidak habis-habis menghela nafas panjang.
__ADS_1
“Mama belum berubah, kenapa Mama tega?” ucap Chester lirih.
Sejujurnya dia sangat berharap Mary berubah. Awalnya dia kira setelah kejadian Eild ketahuan selingkuh pasti Mary akan berubah tapi kenyataannya tidak semudah yang dipikirkannya.
Chester teringat Jennixia.
“Pasti selama ini dia cukup menderita,” ucap Chester lirih.
Rasa bersalah terhadap Jennixia membuncah di dadanya. Chester keluar dari ruang kerjanya dan menuju ke kamar mereka.
Tanpa mengetuk pintu, Chester langsung saja menerobos masuk ke kamar mereka. Dia mencari sosok istri kecilnya.
Saat matanya tepat memandang istrinya yang sedang terlelap dibalik selimut yang menutupi setengah tubuhnya. Rasa sedih kembali menyeruak ke seluruh tubuhnya.
Chester mendekati Jennixia lalu duduk di pinggir ranjang berdekatan tepat dengan Jennixia.
“Maaf, hehh entah sudah berapa kali aku mengecewakanmu Jen. Aku memang suami tidak berguna kenapa aku tidak pernah peka dengan keadaanmu,” ucap Chester lirih.
Chester mengusap kepala Jennixia lalu mencium kepalanya. Rasa bersalah begitu besar terhadap istrinya ini.
Jennixia merasa terusik dengan perlakuan Chester yang berulang kali menc*um kepalanya.
“Uugghhh” Jennixia mengeliat lalu membuka kelopak matanya
Chester menatapnya dengan tatapan sendu. Lalu menarik tangan Jennixia. Dikecupnya berulang-ulang sambil menyebut perkataan maaf.
Jennixia sedikit bingung dengan perlakuan Chester.
“Ches kenapa?” tanya Jennixia.
“Maaf Sayang, aku salah aku tau aku salah,” sahut Chester.
“Salah apa?” tanya Jennixia yang terlihat semakin bingung.
“Maaf, maafkan aku,” hanya itu perkataan yang keluar dari mulut Chester.
Jennixia coba menebak-nebak apa maksud Chester.
‘Apa mungkin Chester sudah tahu tentang Mama,’ batin Jennixia.
Wajah Chester terlihat merah padam, karena tidak mendengar Jennixia memaafkannya.
“Chester aku tidak tahu apa maksudmu, aku hanya bisa memaafkanmu jika begini,” ucap Jennixia sambil mengusap rahang Chester perlahan.
“Aku sudah mengetahui tentang perlakuan Mama kepadamu, maafkan aku tidak peka,” ucap Chester sendu.
__ADS_1
Bersambung...