Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 100 Akhir yang bahagia


__ADS_3

“Maafkan ayah yang dulh tidak pernah mengakuimu dan menganggapmu ada. Ayah juga minta maaf karena banyak melakukan kesalahan pada Jenni menjualmu, membuatmu menderita dan menerima uang untuk menjebakmu, semuanya salah ayah. Maka ayah mohon padamu Jenni, maafkan ayah,” ucap Anderson lalu dia ingin bersujud di kaki Jennixua tetapi dengan cepat Chester menahan tubuhnya untuk tidak melakukannya.


“Chester, biarkan aku bersujud di kaki Jennixia sebagai tanda permintaan maafku,” ucap Amderson lagi pada Chester.


Chester menggelengkan kepalanya lalu memandangi Jennixia yang telah berderai air mata dengan bibir yang gementar hendak tersenyum bahagia.


“Jangan lakukan Ayah, seharusnya aku yang bersujud di kakimu,” ujar Jennixia.


“Tidak jangan Jenni, kau tidak layak untuk bersujud di kaki ayah, kau tidak bersalah,” jawab Anderson lalu mendekati Jennixia.


Jennixia menghamburkan pelukan kepada sang ayah tiri, ayah yang telah hadir mengantikan posisi ayah kandungnya.


‘Tuhan jikalau ini hanya mimpi, Engkau panjangkanlah mimpi ini,” ucap Jennixia dalam hati.


Anderson mengucapkan terima kasih di dalam hati karena diberikan peluang untuk menjadi ayah yang sekali lagi. Dia mengusap kepala Jennixia dengan penuh kasih.


“Ayah akan menyayangimu seperti ayah menyayangi Vivian dan ibumu, kau adalah putri sulungku,” ucap Anderson lirih.


Air mata Anderson akhirnya luruh, dia melihat ada Vivian yang berdiri di belakang sambil mengusap kedua matanya.


“Kemarilah kau juga tetap putriku,” ucap Anderson memanggil Vivian.


Vivian mendekati Jennixia dan Anderson lalu memeluk mereka, dia juga ikut menangis semuanya karena Jennixia ayahnya berubah.


.


.


.


.


.


Setelah drama keluarga berakhir, acara ulangtahun Jennixia pun diteruskan. Jennixia duduk pada kursi sofa yang telah disiapkan untuknya, dia ditemani Vivian karena Jennixia ingin Vivian terus berada bersamanya.


Chester hanya memperhatikan Jennixia yang terlihat begitu bahagia. Dia mulai sadar kenapa Jennixia saat marah bisa saja hilang kawalan itu karena dia sendiri mempunyai beban.


Namun baru hari ini dia melihat wajah Jennixia berbeda dari hari-hari sebelumnya, tidak ada lagi gurat kecemasan dan beban pada wajahnya.


Alex sadar Chester terus saja memandangi Jennixia yang berada di atas kursi sofa yang menjadi pusat perhatian semua orang.


“Untuk hari ini saja kau harus berada di bawah sini dan biarkan saja dia bersama adiknya. Sebentar malam tetap kau yang ada di sampingnya,” ejek Alex pada Chester.


“Jangan sok tahu,” jawab Chester dingin, padahal memang dia sedikit kesal karena Jennixia tidak ingin duduk bersamanya tetapi dia harus ikuti saja daripada mood Jennixia berubah.


“Ck, heh aku ada ide. Sebentar aku ingin bertemu Jennixia,” ucap Alex lalu berdiri.


“Hei, mau bilang apa padanya?” Chester menarik tangan Alex dan melepasnya secara kasar ketika Alex memasang wajah datar melihat ke arah tangannya yang ditarik.


“Aku ingin mengajaknya berkumpul di rumah Ibu ku,” jawab Alex lalu meninggalkan Chester yang terdiam.


‘Hehh, aku akan buat kau uring-uringan setelah ini,’ batin Alex sambil bibirnya tersenyum miring.


Alex mendekati kedua adiknya yang berada di atas panggung mewah.


“Hai,” ucap Alex menyapa keduanya.

__ADS_1


“Kak,” jawab Jennixia dan Vivian kompak.


“Kamu berdua terlihat lucu dari bawah sana, hmm bagaimana kalau besok malam kita berkumpul di rumah ibu daj tidur semalaman di sana,” ujar Alex.


“Ide yang bagus, aku setuju Kak,” jawab Jennixia dengan antusias.


“Kalau begitu kakak ganti semua kasur dan tempat tidurnya biar kita bisa luangkan waktu bersama bercerita sambil rebahan,” ucap Alex lagi.


“Aku juga, aku juga akan membeli sofa yang layak untuk digunakan,” jawab Jennixia.


Vivian mulai tersenyum kikuk karena dia tidak punya apa-apa dan hal itu menarik perhatian Alex dan Jennixia.


“Vi sebentar selesai acaranya kamu ketemu Kakak, ada sesuatu Kakak ingin sampaikan padamu,” ucap Alex.


“Eh aku juga ingin berikan sesuatu pada Vivian, nanti setelah menemui Kakak kamu menemui aku ya atau kamu temui aku dulu karena Chester pasti melarang aku untuk tidur sampai lewat malam,” ucap Jennixia juga.


“Baiklah setelah kamu menemui Jennixia kamu temui Kakak,” sahut Alex sambil mengusap puncak kepala Vivian.


“Baiklah,” jawab Vivian sambil menganggukkan kepalanya.


Setelah acara makan selesai, kini Chester naik ke panggung kecil nan mewah itu. Dia menberi satu lagi kejutan yang merupakan hadiah untuk dirinya.


“Kalian hadiah kali ini adalah menunjukkan rasa cinta saya kepada istri saya dan merupakan penebus kesalahan saya di masa lalu,” ucap Chester pada mikrofon.


Luis membawa amplop putih yang berukuran a4 naik ke atas lalu menyerahkan pada Chester.


“Sayang kemarilah,” panggil Chester kepada Jennixia.


Vivian mengandeng Jennixia menuju ke arah Chester, lalu melepaskab ketika Jennixia berhadapan dengan Chester dan mundur berapa langkah ke belakang.


“Ini untukmu bukalah dan baca,” ucap Chester sambil menyerahkan amplop tersebut.


Jennixia menerima mikrofon lalu membacakan isi sertifikat itu.


“Tanah seluas 20 hektar, di atas nama Jennixia Peter. Merupakan pemilik sahnya,” tangan Jennixia langsung gementar membaca sertifikat pertama itu.


Jennixia memandang Chester dengan tatapan bingung tetapi Chester balas dengan anggukan saja.


“Pulau pribadi yang terletak di Kota C arah selatan, di atas nama Jennixia Peter, merupakan pemilik sahnya. Perusahaan cabang seluruh Kota A di atas nama Jennixia Peter, merupakan pemilik sahnya. Hotel Grand xxx yang terletak di negara Itali, di atas nama Jennixia Peter, merupakan pemilik sahnya,” lanjut Jennixia menyelesaikan dengan membaca semua sertifikat itu.


Jennixia menatap Chester dengan penuh tanda tanya, dia seperti orang kebingungan karena semua yang ditulis di dalam sertifikat tadi adalah miliknya.


“Itulah hadiah yang saya berikan dengan penuh cinta kepada istri saya,” ucap Chester memecahkan suasana.


Prok..prok..prok..


Bunyi tepuk tangan menggema di ruang tengah mansion Chester. Sorak-sorai kebahagian mulai kedengaran.


“Hubby ... , “ Jennixia mengikis jaraknya dengan Chester.


“Ya Sayang, itu semua hadiah dariku untuk Sayang,” jawab Chester yang tahu apa yang ada di dalam pikiran Jennixia.


“Terima kasih,” ucap Jennixia lalu mencium sekilas pipi Chester.


Para tamu yang datang langsung saja bersorak semakin girang.


“Cium!”

__ADS_1


“Cium!”


“Cium!”


Begitulah teriakan mereka yang ada pada acara itu. Chester tanpa urat malu langsung menarik pinggang Jennixia dan tangan kanannya memegang dagu Jennixia.


Cup!!


Sebuah kecupan mendarat pada bibir Jennixia dan keadaan mansion terlihat semakin ramai.


Jennixia terlihat malu-malu karena sorakkan para tamu dan pelayan-pelayan mansion. Dia menatap wajah Chester dengan bibir yang tersenyum.


“Sayang sangat cantik, semoga kita akan selamanya terus bahagia seperti ini,” ucap Chester.


“Pasti selamanya akan seperti ini,” jawab Jennixia.


....


3 bulan kemudian...


Kehidupan Jennixia dan Chester semakin berwarna. Kebahagian terlihat sangat memancar pada wajah keduanya.


Pagi ini Vivian datang ke mansion dengan sopir pribadinya dan asistennya. Vivian terlihat semakin sukses karena semua yang dia terima dari kedua Kakak tirinya.


Walaupun tidak memiliki darah yang sama, Vivian begitu bersyukur dengan semua.


“Selamat pagi, Kak Jenni sudah siap?” ucap Vivian dan kembali bertanya pada kepala art mansion.


“Nona Jenni masih di atas, mungkin sebentar lagi turun, Nona Vivian sarapan dulu sementara menunggu Nona,” jawab kepala art mansion.


“Aku sudah sarapan, baiklah aku akan menunggu Kakak di ruang tengah,” sahut Vivian dengan sopan.


Usia kehamilan Vivian sudah hampir memasuki 5 bulan dan perutnya sudah terlihat semakin membuncit. Hari ini dia telah membuat janji bersama Jennixia untuk memeriksa kehamilan mereka bersama.


“Vivian,” panggil Jennixia.


Perut Jennixia juga tidak kalah buncitnya karena kehamilannya sudah hampir memasuki bulan ke 4.


“Kau tidak bersarapan dulu?” tanya Jennixia lagi.


“Tidak Kak, tadi pagi-pagi lagi aku sudah makan dan sebelum datang ke sini aku juga sudah makan,” jawab Vivian jujur.


“Semakin hari kau semakin gendut kalau banyak makan,” sindir Jennixia yang lupa dengan diri sendiri.


Chester yanh dari tadi berada di samping Jennixia mulai tertawa kecil.


“Hei Nyonya, apakah anda tidak sadar anda juga makin gendut?” balas Vivian.


Jennixia langsung mengerucutkan bibirnya dan menoleh ke arah Chester.


“Aku gendut ya?” tanya Jennixia.


“Tetap masih cantik,” jawab Chester jujur karena pertanyaan tadi merupakan jerat untuk dirinya.


“Eh sudah kalian jangan mesra-mesra, kasihan sama yang jomblo. Ayo Kak kita pergi,” ucap Vivian yang merasa sebagai nyamuk jika Jennixia dan Chester sedang bermesraan.


Kehidupan kedua adik kakak itu terlihat harmoni, hubungan Jennixia bersama Anderson juga terlihat semakin akrab.

__ADS_1


Tidak ada lagi perselisihan seperti dulu, membuat Jennixia merasa hidupnya penuh kebahagian. Semoga semuanya tetap seperti ini begitulah pikiran Jennixia.


TAMAT ....


__ADS_2