
Pagi ini Jennixia mulai membantu mengemasi barangnya dan barang-barang Mei. Walaupun sudah berkali-kali Chester melarangnya dan serahkan pada pelayan yang datang untuk mengemasinya.
Tapi Jennixia tetap saja tidak bisa hanya melihat dan menunggu, dia membantu pelayan mansionnya itu dengan mulut yang tidak berhenti berceloteh.
Mereka yang berada di ruangan itu sudah maklum dengan sifat Nyonya mereka yang tidak pernah mempermasalahkan status.
Chester hanya menggelengkan kepala, susah untuk melarang Jennixia apalagi ini merupakan salah satu hiburannya.
“Jen, kita ke bawah saja ya,” ucap Chester.
“Bawa sekalian ini?” tanya Jennixia yang menunjukkan tas pakaiannya.
“Itu biar mereka yang bawa, ke marilah aku akan mengendongmu,” sahut Chester.
Dengar perkataan mengendong, Jennixia langsung saja bergegas menuju ke arah Chester dengan wajah sumringgah.
Chester langsung saja mengendong Jennixia ala bride style setelah berada di hadapannya. Jennixia juga segera mengalungkan tangannya di leher Chester.
Jennixia memperhatikan garis muka Chester hingga tangannya mulai bergerak di bagian rahang Chester.
Wajah Chester kelihatan semakin berbinar karena Jennixia.
“Kita ikut mobil yang berbeda dengan Mei.” Ucap Chester.
“Lah kenapa?” tanya Jennixia bingung.
“Aku hanya ingin bersamamu,” jawab Chester kemudian.
Jennixia menganggukkan kepalanya, dia juga baru sadar untuk beberapa hari ini dia seperti melupakan keberadaan Chester karena dia fokus dengan kondisi Mei.
“Baiklah,” sahut Jennixia.
Mobil yang dinaiki Chester dan Jennixia akhirnya melaju keluar dari kawasan rumah sakit itu. Disusuli oleh beberapa mobil yang mengawali perjalanan mereka.
Perjalanan hanya memakan 40 menit hingga sampai di mansion Chester. Sepanjang perjalanan Chester tidak pernah melepaskan Jennixia.
Chester terus mengecup bibir Jennixia sambil merem** gunung berkembarnya. Jennixia sama sekali tidak mempermasalahkannya lagian mobil yang mereka naiki ada pembatas antara sopir dan penumpangnya.
Oleh itu, apa pun yang dilakukan oleh Chester, tidak akan terlihat oleh sopir yang mengenderai mobil mereka.
“Ugghhh...” Jennixia merasa perih apabila Chester mulai mengigit kecil puncak gunungnya.
“Perlahan saja sayang,” ujar Jennixia.
“Ehm maaf,” jawab Chester.
Chester melanjutkan saja aktivitasnya sehingga mobil yang mereka naiki masuk ke dalam kawasan mansion Chester barulah dia melepaskan bibirnya dari gunung berkembar Jennixia.
Chester membantu Jennixia merapikan kembali penampilannya. Wajah yang tadinya sumringgah kini terlihat murung.
Jennixia sadar perubahan air muka Chester, dia mendekati Chester lalu berbisik tepat di telinga Chester.
“Jangan terlalu dipikirkan, malam ini kita berdua saja.”
__ADS_1
Chester menoleh ke arah Jennixia lalu tersenyum, dan mengecup dahi Jennixia.
“Jangan dengerin orang lain lagi,” sahut Chester.
Jennixia mengangguk mantab, dalam pikirannya sudah banyak rencana yang akan dia buat untuk membuat Liana tidak akan betah begitupun dengan mertuanya.
Jennixia digendong oleh Chester untuk memasuki mansion mereka. Baru saja melewati pintu utama mansion sosok Mary dan Liana sudah muncul.
Mary menunjukkan wajah sendu.
“Ches, ternyata kamu lebih memilih wanita ini daripada orangtuamu,” ucap Mary dengan nada sedih.
Chester tidak menghiraukan Mary, dia langsung saja melewatinya tapi Mary cepat menarik Chester.
“Demi wanita ini? Kau lebih mementingkan wanita ini dan mengurung Papamu sendiri?” ucap Mary dengan dada turun naik karena kesal.
“Maaf ma, tapi wanita ini istriku,” sahut Chester dengan wajah datar.
“Tidak! Aku tidak merestui kalian! Gara-gara wanita ini hubungan keluarga kitas sudah pecah belah.” Teriak Mary.
“Akkhhh.” Mary memegang dadanya dan mulai berakting lagi.
“Tante, tante tidak apa-apa?” “Ches, tega sekali kamu,” ujar Liana.
Liana membantu memapah Mary yang sedang diserang penyakit jantungnya. Liana menatap sinis ke arah Jennixia yang terlihat datar dan sama sekali tidak peduli.
“Kalau mama kurang sehat, maka istirehat di kamar saja,” ucap Chester.
Baru saja Liana hendak membawa Mary menuju ke kamar tapi Jennixia bersuara.
“Eiiittss tunggu,” ucap Jennixia.
Jennixia meminta Chester untuk menurunkannya agar dia bisa mendekat ke arah Liana dan Mary. Jennixia mendekati mereka dengan wajah datar.
“Bu Mary sakit ya? Maaf ya Bu, Chester orangnya memang begitu jangan dimasukkan ke hati,” ucap Jennixia terlihat tulus.
“Aku tidak butuh saranmu wanita pengganggu!” Bentak Mary.
“Ah terima kasih, aku tahu Bu Mary memang baik dan pe-ni-pu,” sahut Jennixia dengan sedikit berbisik di akhir katanya.
Mary yang tidak terima langsung saja ingin mendorong Jennixia dan lupa akan kehadiran Chester yang masih berada di tempatnya.
Baru saja hendak mendorong tapi Jennixia sudah mundur berapa langkah ke belakang dan tersenyum miring.
“Bu Mary sudah tidak sakit ya? Atau tadi hanya pura?” tanya Jennixia.
“Sayang kau lihat tadikan?” lanjut Jennixia menoleh ke arah Chester.
Mary menjadi salah tingkah setelah dia sadar Chester berada di tempat itu. Dia menjadi gugup dan langsung mencengkam lengan Liana.
“Mari kita ke kamar Sayang, kamu butuh istirehat,” ucap Chester kembali mendekati istrinya.
Mary memanggil Chester.
__ADS_1
“Ches, mama...” Ucapannya terhenti apabila Chester menatapnya dengan tatapan tajam.
Setelah melihat kepergian Chester dan Jennixia, Mary mengeretakkan giginya.
“Tunggu saja kamu!” Gumamnya dalam hati.
“Tante, tangan Lia sakit.” Liana coba melepaskan tangannya dari genggaman kuat Mary.
Mary melepaskan tangannya lalu menatap Liana.
“Kamu harus pikir cara menggoda Chester,” ujar Mary.
Liana hanya mengangguk, dia tidak berani menjawab karena wajah Mary jelas terlihat sangat marah.
....
Di tempat Arviy,
Arviy membanting semua benda yang ada di atas mejanya, harga dirinya telah dipijak oleh Chester dan hampir saja dia kehilangan nyawanya.
Arviy membuat panggilan ke nomor Alex tapi setelah 5 kali panggilan tetap tidak di jawab. Kekesalan Arviy makin bertambah, dia membanting ponselnya ke lantai dan ponselnya terlihat hancur.
“Semua ni salah Alex, dia tidak mengulur waktuku! Awas saja kau sia**n.” Gerutunya sambil mengacak-acak rambutnya.
Arviy menelepon anak buahnya yang menjaga Anderson untuk melepaskannya, Arviy melancarkan rencana penculikan mereka.
Dia akan menggunakan Jennixia sebagai penukaran dengan beberapa harta Chester, dia yakin Chester akan menyanggupinya.
Karena dari yang dia lihat tadi, Chester memang menuruti semua perkataan Jennixia dan itu berarti Jennixia adalah kelemahan Chester.
Walaupun hatinya merasa sakit karena Jennixia tidak mungkin memberi ruang di dalam hati untuk dirinya tapi dia masih bisa gunakan Jennixia sebagai kelemahan Chester.
Berbagai rencana telah tersusun di dalam pikiran Arviy.
“Kau akan menyesal karna lebih memilih pria itu Jennixia,” gumam Arviy.
....
Chester membaringkan Jennixia di atas ranjang mereka dan mengusap lembut puncak kepala Jennixia.
“Mau tidur?” tanya Chester.
Jennixia mengangguk, karena memang dia merasa lelah, karena beberapa hari tidurnya sungguh tidak bisa nyaman.
Chester menaiki ranjang mereka lalu berbaring di sebelah Jennixia sambil tangannya terus mengusap kepala Jennixia.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Jennixia sudah hanyut dia alam mimpinya. Dengan perlahan Chester menggerakkan tubuhnya karena ada hal yang penting dia harus lakukan.
Sebelum keluar dari kamar, Chester tidak lupa mengecup dahi Jennixia lalu mengucapkan selamat tidur untuknya.
“Mimpi indah Sayang, sebentar aku akan kembali,” bisik Chester.
Bersambung...
__ADS_1