
Chester telah mengusir Eild dan Liana demi kenyamanan Mary karena dia tidak mau kondisi Mary semakin parah saat ini. Apalagi Mary terlihat sangat syok dengan kejadian tadi.
Chester kembali rasa bersalah karena mengungkapkan fakta tentamg Eild di hadapan Mary, tapi memang saat itu Chester tidak berpikir jernih dan emosinya sedang berada di puncaknya.
Apalagi kepergian Jennixia membuatnya makin merasa kesal. Hingga awalnya dia begitu benci melihat wajah orangtua kandungnya dan Liana.
Tapi setelah kejadian Eild ketahuan selingkuh bersama Liana. Chester kembali merasa iba dan rasa bersalah kepada Mary. Dan hingga saat ini Mary belum mengatakan sepatah kata pun.
Chester meninggalkan Mary di kamar yang telah disediakan khusus untuknya dan memberi beberapa pengawal dan pelayan untuk berjaga. Chester memberi Mary ruang untuk menenangkan dirinya.
“Tolong jaga Mama, aku keluar sedikit. Jika terjadi sesuatu cepat beritahu padaku,” ucap Chester pada beberapa pengawal dan pelayan yang dia tugaskan khusus untuk menjaga Mary.
“Baik Tuan,” sahut mereka kompak.
Chester keluar dari mansionnya dan menuju ke arah mobilnya. Dia memilih untuk menyetir sendiri walaupun dia tidak benar-benar sendiri karena pengawalnya senantiasa mengikutinya biarpun dari jarak yang jauh.
Chester menuju ke rumah Jennixia, dia tiba diperkarangan rumah Jennixia pada jam 8 malam. Chester mengetuk pintu rumah Jennixia berapa kali tapi tidak ada sahutan.
Tok..tok..tok..
“Jen, Jennixia sayang,” panggil Chester dengan suara yang kuat.
Hatinya merasa kecewa, entah sudah berapa kali dia mengetuk pintu tapi hingga saat ini dia tidak ada yang membuka pintu dan menyahutnya.
Chester menatap pintu itu dengan rasa sedih. Akhirnya dia mundur dan berjalan menuju ke arah mobilnya. Baru saja hendak membuka pintu mobilnya tiba-tiba pintu rumah terbuka.
“Ceklek...”
Chester menghentikan gerakannya, lalu menatap ke arah sosok wanita yang berlari keluar dari pintu itu.
“Jen,” lirih Chester.
....
Setelah membuka pintu rumah, Jennixia berlari keluar terburu-buru menuju ke arah Chester, matanya berkaca-kaca.
Dia juga sempat berpikir Chester tidak akan menyusulinya karena akan sibuk mengurus kedua orangtuanya dan Liana.
Tapi setelah mendengar ketukan pintu dan suara Chester, Jennixia bergegas hendak keluar untuk menemui Chester tapi Jessi sempat melarangnya.
Jennixia sanggup berlutut dan mencium kaki Jessi, demi bisa bertemu dengan Chester. Perlakuan Jennixia berhasil meluluhkan hati Jessi, walaupun hatinya masih merasa sakit dengan penghinaan Mary.
Jennixia menghamburkan pelukannya ke tubuh Chester, air matanya sudah membasahi wajahnya yang cantik.
__ADS_1
Chester menyambut pelukan Jennixia dengan begitu erat, dia mengusap-usap punggung Jennixia.
“Maaf,” lirih Jennixia.
Chester menggelengkan kepalanya.
“Shhttt jangan minta maaf, semua ini salahku,” ucap Chester.
Tidak mau berlama-lama berdiri di luar Chester membawa Jennixia masuk ke dalam mobilnya.
“Di sini tidak apa-apa kan?” tanya Chester sambil mengusap air mata Jennixia.
“Ehmm ya,” sahut Jennixia yang masih saja terlihat menangis.
“Jangan menangis lagi atau kita masuk ke dalam rumah saja?” ucap Chester kemudian.
“Tidak, jangan. Aku takut Ibu memarahimu lagi,” jawab Jennixia.
“Aku rela dimarah Jen daripada harus berpisah denganmu begini,” ujar Chester lagi.
Akhirnya Jennixia membawa Chester masuk ke dalam rumah mereka, awalnya dia ragu karena Jessi masih saja kesal karena Chester tidak membelanya.
Tapi bagi Chester dia harus berani menunjukkan bahwa dia rela terima apa pun konsekuensinya daripada harus berpisah dengan Jennixia.
“Ibu...” sapa Chester.
Jessi tidak menjawab dia memalingkan wajahnya dan tidak berniat untuk berbicara dengan Chester.
Jennixia menggenggam kuat tangan Chester, dia merasa takut jika Jessi akan mengusir Chester lagi.
....
Arviy tersenyum sungging, dia akan membuat kedekatan dengan Ibu Jennixia, apalagi saat ini dia sudah tahu tentang Jennixia sudah kembali ke rumahnya.
Walaupun Anderson tidak ditemukan untuk membantu rencananya tapi sekurang-kurangnya jarak Chester dan Jennixia kini jauh.
“Teruskan memata-matai mereka, besok aku akan ke sana,” ucap Arviy.
“Kali ini aku yang akan menang Chester!” gumamnya dalam hati dengan penuh percaya diri.
....
Suasana ruang tamu rumah Jessi menjadi tegang, karena ucapan Jessi yang menyindir tanggungjawab Chester.
__ADS_1
Tapi hal itu tidak sedikit pun menjatuhkan mental Chester, dia malah tetap bersikeras untuk membuktikan janji yang pernah dia ucapkan.
“Saya hargai dengan bantuan nak Chester dalam pengobatan kanker yang saya ida, tapi tidak berarti Ibu kandungmu suka-suka memijak harga diri Jennixia,” ucap Jessi.
“Toh, lagian kamukan yang menerima lamaran Jenni bekerja di tempatmu dan akhirnya kamu juga yang jatuh cinta dan ingin memilikinya sepenuhnya dengan membayar pengobatan saya,” lanjut Jessi lagi.
Mereka yang ada di ruang tampak saling berpandangan. Mereka tidak mengerti dengan ucapan terakhir Jessi.
“Bekerja? Apa maksud Ibu?” tanya Jennixia yang terlihat bingung.
“Jenni, Ibu tahu kamu awalnya bekerja di mansion itu karena mau cari uang pengobatan Ibukan,” jawab Jessi.
“Siapa yang katakan pada Ibu?” tanya Jennixia lagi karena bukan begitu kenyataannya.
“Ayahmu jadi siapa lagi? Makanya Ibu Chester menganggapmu rendah di rumah itu,” sahut Jessi kemudian.
Memang benar, Jessi sebenarnya tidak tahu kenyataannya bagaimana, pada hari di mana Anderson menjual Jennixia, Jessi sempat mencari Jennixia karena tidak datang menjenguknya seperti biasa.
Oleh itu, Anderson mereka-reka cerita dan tidak memberitahu Jessi bahwa dia telah menjual Jennixia pada Chester.
“Ibu... tapi kenyataannya bukan seperti itu.” Jennixia berpindah tempat dan mengambil tempat di sebelah Jessi.
“Sudahlah Jen, Ibu tahu kamu masih ingin membela suami kamu ini,” sinis Jessi.
“Tidak, tidak seperti itu Ibu,” kini Chester yang menolak kenyataan ucapan Jessi tadi.
“Ck, jadi seperti apa?” tanya Jessi dengan ketus.
Chester tampak terdiam, dia tidak tahu harus memulakan cerita bagaimana. Dia menatap ke arah Jennixia yang tersenyum getir.
“Ibu, aku tidak pernah bekerja di mansion Chester tapi Ayah, Ayah menju-alku,” ucap Jennixia dengan suara serak menahan tangisnya.
Setiap kali dia mengingat hal itu, hatinya selalu terasa sakit karena dibeli seseorang berarti harga dirinya sudah tidak ada.
Mujur saja Chester cepat bertindak dan mujur saja Chester menjadi pembelinya. Kalau tidak dia sendiri tidak tahu bagaimana nasibnya.
Deg!!
Mata Jessi membulat sempurna, dia menatap Jennixia dan berpaling menatap Chester. Wajah Jennixia terlihat sedih dan wajah Chester terlihat serius.
“Ibu tidak percaya! Pasti ini akal-akalan kalian untuk membohongi Ibu!" ucap Jessi.
"Jenni, kamu jangan berani berbohong, Ibu tidak pernah mengajarmu berbohong,” lanjut Jessi lagi dengan dahi yang mengkerut karena Jennixia sudah mulai menangis.
__ADS_1
Bersambung...