Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 36 Jennixia kesal


__ADS_3

Sebelum Anderson pamit keluar dia ingin meminta sesuatu lagi kepada Arviy.


"Maaf Tuan, bisakah anda melepaskan putri saya."


Arviy menaikkan satu alisnya.


"Kalau kau berhasil membujuk Jennixia barulah aku akan melepaskan putrimu."


Anderson kembali mengangguk lalu pamit keluar dari ruang kantor Arviy. Dia semakin khawatir dengan keadaa putrinya.


Arviy tersenyum miring menatap kepergian Anderson.


"Lex apakah kau ingin bermain dengan boneka lucu?" tawar Arviy.


Alex tahu ke mana arah percakapan Arviy, langsung saja dia menolak. Walaupun dia seorang mafia brengse* tapi dia tidak akan sembarang bermain-main wanita apalagi setelah dia menikahi Renata.


Jika dia merasa ingin memuaskan hasratnya sudah tentu dia akan membuat istrinya kerja rodi pada tengah-tengah malam hingga dia merasa puas.


"Kenapa harus menggunakan pria itu jika kau telah dapat kesempatan mendekatinya?" tanya Alex merasa bingung dengan pemikiran Arviy.


"Aku hanya ingin Jennixia tidak bisa melarikan diri dariku, aku akan menggunakan Ayah tirinya untuk terus-terus mengancam dirinya." Sahut Arviy sambil menatap layar ponselnya yang menggambarkan wajah Jennixia.


Arviy tidak sadar perubahan wajah murka Alex setelah mendengar ucapannya.


"Oklah aku mau pergi dulu." Alex langsung saja keluar dari ruang itu dengan mengepalkan kedua tangannya.


"Sia**n itu, aku pastikan rencanamu gagal." Gumamnya dalam hati.


Arviy memasuki kamarnya yang ada di dalam ruang kantornya lalu menatap seorang wanita yang sedang tidur di atas ranjang.


Arviy mendekatinya lalu menarik sedikit tubuh wanita itu.


"Hei bangunlah, aku ingin mengulang permainan semalam." Bisik Arviy ke telinga wanita itu.


Wanita itu bangun mengeliat lalu tersenyum melihat Arviy, dia segera mendorong Arviy agar bisa baring terlentang di atas ranjang itu.


Wanita itu mengambil posisi di atas tubuh Arviy lalu membuka ikat pinggang dan restleting celana Arviy, dia mengeluarkan senjata kehidupan Arviy.


Dengan rakusnya dia menghi**pnya hingga mengembang dan mengeras. Arviy terlihat sangat menikmatinya.


"Hei, tadi Anderson datang mencarimu dan memintamu dipulangkan, kalau aku bagi pilihan pergi dan tinggal, kau pilih yang mana?" tanya Arviy di sela-sela desa**nnya.


"Tinggal bersamamu Tuan." Jawab wanita itu.


Arviy tersenyum dia tidak perlu menghantar wanita ini pulang biarpun nanti dia telah memiliki Jennixia, dia tetap menyimpan wanita ini sebagai tempat pemuas hasratnya.

__ADS_1


....


Pagi ini, Jennixia sudah dulu duduk di meja makan untuk sarapan. Dia tidak menunggu para penghuni yang lain untuk bersarapan dengannya.


Sehingga Chester buru-buru menuju ke ruang makan dan bernafas lega.


"Mujur saja dia belum pergi."


Chester menuju ke arah meja makan dan duduk di kursi khas untuk dirinya. Jennixia mengabaikannya dan bersikap cuek saja. Chester mengingat kejadian semalam yang tidak ada solusinya.


Flashback On.


Setelah sampai dikamar mereka, Mei pamit keluar. Jennixia yang terlihat cuek itu tidak memperdulikan kedatangan Chester, dia masih lanjut menyisir rambutnya.


"Jen, kita perlu bicara." Ucap Chester yang telah berdiri di sebelah kiri Jennixia.


Jennixia tidak menjawab dia masih terus menyisir rambutnya dalam keadaan kesal karena banyak rambutnya yang tercabut gara-gara Mary menariknya dengan kuat.


Chester memegang pundak Jennixia dan ditepis kasar oleh Jennixia.


"Jen, ayolah kita harus bincangkan hal ini."


Chester menarik paksa Jennixia untuk berhadapan dengannya. Tapi apa yang dia dapat adalah gigitan dari Jennixia.


"Aaaakkkhh." pekik Chester yang kesakitan tangannya digigit.


Jennixia bangum dari tempat duduknya lalu berpindah ke atas ranjang. Dia merebahkan tubuhnya lalu menarik selimut untuk menutupi dirinya.


"Ck, Jen..." Chester duduk dipinggiran ranjang.


"Jen, apa yang kamu lakukan tadi benar salah tapi aku tidak ingin memarahmu karena pasti ada sebab kau melakukan hal itu." Ujar Chester dengan lembut.


Jennixia mendengar ucapan Chester makin kesal dan air matanya kembali berkaca-kaca.


"Kau harus beritahu aku, apa alasannya barulah aku tau. Jen, walaubagaimana pun kau harus menghormati mereka karena mereka mertuamu," lanjut Chester lagi.


Kali ini Jennixia sudah tidak menahan dengan ucapan Chester yang sangat kentara memojokkannya. Jennixia membuka selimutnya lalu mengambil posisi duduk.


"Kau menilaiku seperti itu, OK." Sahut Jennixia yang berakhir dengan penekanan.


Jennixia turun dari ranjangnya lalu memasuki walkin closet untuk mengambil beberapa pakaian dan dimasukkannya ke dalam tasnya.


Chester tidak berganjak karena dia jiga masih bingung dengan ucapan Jennixia. Mata Chester membulat apabila melihat Jennixia keluar dari walkin closet membawa dua tas besar dikedua tangannya.


Chester langsung saja berlari menuju ke arah Jennixia. Wajahnya mulai panik.

__ADS_1


"Jen, kamu mau ke mana dengan tas-tas ini."


"Jangan halangi jalanku, minggir." Ketus Jennixia tapi Chester tidak mengerakkan sedikit pun posisinya.


"Jen, ayo bincang baik-baik." Bujuk Chester coba mengambil kedua tas itu dari tangan Jennixia.


"Bincang apa hah?! Kau menuduhku tanpa bukti dan hanya mendengarkan ucapan mereka, apa lagi yang mau dibincang hah?" Jennixia mulai hilang kesabarannya.


"Baiklah aku mendengarkanmu, tapi tolong jangan pergi." Chester masih saja terus membujuk Jennixia.


Tapi hati Jennixia sudah terlanjur kesal dengan sikap Chester yang mudah percaya dengan kata orang lain sebelum dia sendiri mencari buktinya.


"Ahh kesal!" Teriak Jennixia lalu menghempaskan tasnya ke atas lantai.


"Ayo kita bincang di sofa saja." Ujar Chester lagi dengan suara yang lembut dan menarik tangan Jennixia.


Jennixia melepas paksa tangannya lalu berjalan keluar dari kamar mereka tapi sebelum itu dia sempat mengancam Chester.


"Jangan ikuti aku, kalau kau masih ikuti aku, aku ceraikan dan tinggalkan kau!" Ketus Jennixia sebelum meninggalkan Chester yang berdiri mematung di depan pintu.


Jennixia menuju ke kamar Mei dan lebih memilih tidur di kamar Mei, semalaman Jennixia tidak keluar dari kamar Mei sehingga Mei harus membawa makanan masuk ke dalam kamarnya dan memaksa Jennixia makan dengan berbagai cara.


Chester tidak bisa melakukan banyak karena takut Jennixia meninggalkannya apalagi menceraikannya, dia tidak bisa membayangkan hal itu terjadi.


Flashback End.


"Jen, aku hantar ke kampus ya ehm naik motor bagaimana?" Chester masih coba berinteraksi dengan Jennixia yang dalam mode kesal plus ngambek.


"Aku sudah bisa menaiki mobil dan pak Edward yang akan menghantarku jadi jangan buang waktumu untuk menghantarku." Ucapan Jennixia begitu menusuk hati Chester.


Chester baru saja mau melanjutkan acara membujuknya tapi kedua orangtuanya dan Liana telah datang ke ruang makan dan duduk di tempat mereka.


Seperti biasa mereka bertiga menatap Jennixia dengan tatapan sinis dan tidak suka dengan kehadirannya.


Mary sengaja mengungkit perbicaraan mereka kemarin untuk memanasi hati Jennixia.


"Ches, apa kamu sudah pikirkan tanggal pernikahanmu dengan Liana, menurut mama acara pertunangannya tidak usah saja takut kamu diembat setan lagi." Ucap Mary dengan nada menyindir.


Mata Jennixia membulat dia menoleh ke arah Chester dengan wajah tanda tanya tapi tidak mendapat jawaban dari Chester.


Merasa makin kesal karena Chester lebih memilih Liana, akhirnya Jennixia bangun dari tempatnya lalu meninggalkan mereka yang berada di ruang makan itu.


Chester menatap tajam ke arah Liana yang sudah terlihat malu-malu karena perbahasan Mary.


"Lihat wanita itu sama sekali tidak menghargaimu pergi begitu saja, ceraikan saja lagian tidak cocok." Ujar Eild

__ADS_1


"Cukup! Jangan membahasnya lagi." Chester pun menyusuli Jennixia dengan tergesa-gesa.


Bersambung...


__ADS_2