Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 39 Jennixia pingsan


__ADS_3

"Jen, mulai hari ini setiap kali selesai kuliah kamu langsung saja ke kantorku." Ucap Chester sambil merapikan bagian rambut yang menutupi wajah Jennixia.


"Ehm aku takut menganggumu." Jawab Jennixia yang melingkarkan tangannya di leher Chester.


"Kamu tidak akan mengangguku sayang." Sahut Chester lagi lalu mengucup sekilas hidung mancung Jennixia.


Jennixia merasa senang karena Chester tetap menunjukkan perlakuan hangatnya, walaupun dalam pikiran Jennixia masih memikirkan kata-kata Mary.


Setelah adegan romantis mereka berakhir , Jennixia dihantar ke kampusnua seperti biasa oleh Edward. Walaupun sudah 2 hari Jennixia tidak di temani Mei, Jennixia masih bisa menghadapi harinya dengan baik.


Jennixia sampai dikampus lebih awal 20 menit sebelum kelas mereka dimulai. Arviy sengaja mengambil tempat duduk bersebelahan dengan Jennixia.


Awalnya Jennixia hanya cuek saja dan mengacuhkan kehadiran Arviy. Tapi semakin lama Arviy semakin melontarkan banyak pertanyaannya.


Jennixia menatap malas ke arah Arviy.


"Ar, bisa tidak jangan bawa aku bicara. Aku masih baca buku." Ucap Jennixia dengan dingin.


Arviy tersenyum.


"Ok maaf, lanjutkan saja."


Jennixia mengeluar earphone lalu menggunakannya setelah dosen masuk baruslah di melepaskannya.


"Ok ini adalah kerja kelompok silakan berkumpul bersama kelompok kalian dan mengerjakan beberapa persoalan ini." Ucap dosen yang berada di depan.


Jennixia dengan terpaksa harus berinteraksi dengan Arviy karena memang Arviy merupakan sekelompoknya. Dosen juga memberi waktu sehingga besok dan pekerjaan kelompok mereka harus di selesaikan hari ini karena besok tinggal presentasi.


Jam istirehat, Jennixia terpaksa berduaan dengan Arviy di dalam kelasnya. Arviy semakin mendekatkan dirinya ke arah Jennixia.


"Ehm, Jen aku ingin meminta pendapatmu tapi ini di luar dari materi kita." Ujar Arviy.


"Kalau itu berkaitan hal pribadi mungkin aku tidak bisa." Jawab Jennixia dengan wajah datar.


"Tidak, aku cuma ingin bertanya begini." Ucap Arviy. "Kedua orangtua kekasihku tidak menyetujui aku bersama anak mereka jadi aku pusing hendak melakukan apa, padahal aku sungguh mencintai kekasihku," lanjut Arviy lagi dengan tatapan yang sulit diartikan.


Deg!!


Entah kenapa pertanyaan Arviy sangat serupa dengan apa yang dia rasakan. Membuat Jennixia menjadi kepikiran tentang ucapan-ucapan Mary tadi pagi.


Jennixia melamun menatap ke arah kertas yang ada di depannya. Sehingga dia tidak sadar, Arviy sedang menyeringgai melihat ke arahnya.


"Berarti benar tebakanku." Ucap Arviy dalam hatinya.


Arviy sengaja melambaikan tangannya di depan wajah Jennixia, supaya lamunan Jennixia membuyar.


"Menurut kamu bagaimana Jen?" tanya Arviy yang menelisik raut wajah Jennixia yang berubah sendu.


"Sungguh sulit untuk aku beri pendapatku Ar." Jawab Jennixia sambil tersenyum paksa.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu mau melakukan apa lagi, agar mereka bisa menyukaiku tetap akhirnya yang menang adalah Liana." Ucapnya Jennixia dalam hatinya.


Arviy mengangguk lalu berpura-pura mendramatiskan keadaan.


"Jen, kau terlihat sedih. Apa kau baik-baik saja?"


Jennixia menggelengkan kepalanya tapi mulutnya berkata lain.


"Aku baik-baik saja jangan risau." Jawab Jennixia dengan setengah hati.


Arviy menyentuh puncak kepala Jennixia lalu tersenyum.


"Kau harus tersenyum Jen dan tetap kuat ya."


Entah kenapa Jennixia bagai tersihir oleh ucapan hangat dari Arviy, seketika dia lupa tentang siapa Arviy. Jennixia membiarkan Arviy mengusap puncak kepalanya, rasa perhatian dari Arviy membuatnya berpikir tentang kedua orangtua Chester.


Selesai kelasnya, Jennixia keluar dari kampus bersama Arviy, mereka menuju mobil masing-masing. Senyuman di wajah Jennixia terukir entah apa yang membuat dia bahagia.


Baru saja menegur Edward yang membukakan pintu untuknya, tiba-tiba seorang pria menarik Jennixia dengan mengejut.


Jennixia langsung saja mentap pria di depannya dengan wajah kaget.


"Ayah?"


Anderson memasang wajah sedih sehingga membuat Jennixia kembali luluh.


Jennixia mengernyitkan dahinya lalu menoleh ke arah Edward yang telah menggelengkan kepalanya dan Jennixia langsung saja mengerti.


"Maaf Ayah, tapi aku sedang terburu-buru." Tolak Jennixia perlahan.


"Apa kau tidak mau mendengar kabar tentang ibumu?" tanya Anderson tiba-tiba.


Jennixia menjadi penasaran bercampur khawatir ketika mendengar ucapan Anderson yang berkaitan dengan Ibunya.


Tanpa memperdulikan reaksi Edward, Jennixia langsung berkata.


"Kita bicara di kafe itu."


Jennixia berjalan terus menjauh dari Edward dan dia tidak memperdulikan Edward yang memanggilnya karena dalam pikirannya saat ini semuanya tentang Ibunya.


Anderson menyeringgai, karena memang mudah sekali untuk menjebak Jennixia untuk ikut dengannya. Dia mengikuti langkah Jennixia yang telah berjalan menyeberang jalan umum itu.


Mau tidak mau Edward terpaksa membuntuti Jennixia dan Anderson. Karena dia khawatir kedatangan Anderson yang tiba-tiba.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Jennixia mempersilakan Anderson duduk lalu memesan beberapa makanan dan minuman untuknya.


"Ck, hidupmu sekarang sudah mewah. Tau begitu aku akan terus menguras Chester biar hidupku dan putriku juga mewah." Gumam Anderson dalam hati.


Jennixia menatap Anderson yang tidak habis-habis melihat ke sekitar kafe itu.


"Ayah, bagaimana dengan Ibu?" tanya Jennixia dengan raut khawatir.


Anderson menoleh ke arah Jennixia yang sedang menatapnya.


"Ibumu sempat kritis setelah operasi dan itu akibat dari operasi dadakan yang dilakukan."


Jennixia membulatkan matanya setelah mendengar ucapan Anderson.


"Tidak mungkin Yah, kemarin Tuan Chester sudah mengurus semuanya dengan baik."


Anderson menghela nafasnya.


"Memang dia telah mengurusnya dan apa kau sudah melihat keadaan Ibumu? Ibumu sedang sekarat Jen." Anderson masih coba menyakinkan Jennixia.


Mata Jennixia mulai berkaca-kaca mendengarnya. Memang dia belum pernah menjengguk Ibunya walaupun Chester sudah berjanji kepadanya untuk setiap minggu menjengguk Ibunya.


"Kemarin Ibumu memanggil-manggil namamu makanya Ayah datang ke sini untuk membawamu melihat Ibumu."Ucap Anderson sungguh-sungguh.


"Baiklah kita akan pergi sekarang tapi aku akan meminta izin dari Tuan Chester dulu." Sahut Jennixia lalu merogoh tasnya untuk mencari ponselnya.


"Tunggu sampai di rumah sakit saja baru beritahunya, mungkin dia tidak akan mengizinku jika kamu pergi denganku." Ujar Anderson lagi agar Jennixia tidak melibat Chester.


Karena keadaan Ibu Jennixia baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan hanya saja Anderson ingin menjebak Jennixia untuk ikut dengannya.


"Baiklah kalau begitu kita akan ke sana dan aku akan memberitahu pak Edward untuk menghantar kita ke sana." Ucap Jennixia bergegas menemui Edward yang berada di luar kafe.


Anderson menyeringgai. Dia berpikir bagaimana cara dia menjebak Jennixia masuk ke dalam rencana yang telah dia susun serapi-rapinya.


Perjalanan ke rumah sakit membutuhkan 40 menit dari kampus Jennixia. Setelah sampai di rumah sakit Jennixia dan Anderson masuk dahulu sementara Edward memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit itu.


Edward sempat mengirim pesan kepada Chester karena dari tadi dia coba menelepon Chester maupun Nera tidak ada satu pun yang mengangkat panggilannya.


Jennixia mengikuti langkah Anderson dan mereka melalui lorong yang sepi, di situlah Anderson melancarkan serangnya dengan sengaja memukul tengkuk Jennixia sewaktu mereka berjalan beriringan.


Jennixia jatuh pingsan dan beberapa pria yang berpakaian hitam mendekatinya.


"Maaf aku tidak berbuat apa-apa, dia anakku mungkin dia mengalami syok makanya dia pingsan." Anderson ketakutan karena dia pikir mereka adalah orang-orang Chester.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2