Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 68 Mary menjebak Jennixia


__ADS_3

3 hari telah berlalu sejak kejadian di kamar Jennixia itu. Chester juga terus diabaikan oleh Jennixia dan sepertinya Jennixia sudah mulai ikut berakting di depan Chester.


Sewaktu Mary mengadu tentang Mei berbuat kasar padanya, Chester hampir memotong setengah gaji Mei dan memberi peringatan pertama.


Tetapi Jennixia membalikkan semua fakta dan Chester lebih mendengarkan Jennixia, lalu menarik semua ucapannya.


Sehingga membuat Mary berdecak kesal karena baginya Chester telah dibutakan oleh cintanya terhadap Jennixia.


Mary mencoba mencari rencana lain. Hingga dia terpikir suatu cara. Mary menemui Chester sebelum dia berangkat pergi ke kantor.


“Ches...” panggil Mary lembut.


“Ya Ma?” jawab Chester menatap wajah Mary dengan lekat.


“Ehm mama ingin sekali jalan-jalan di mall, sudah lama mama tidak keluar jalamn-jalan,”ucap Mary mulai berbasa basi.


Chester sempat berpikir untuk mengizinkan karena kondisi sekarang kurang menyakinkan dirnyanya uuntuk berkata aman.


“Bolehlah ya Ches,” bujuk Mary.


Akhirnya Chester menyetujuinya karena dia sudah berpikir-pikir akhir-akhirnya terlihat semua aman-aman saja.


“Baiklah Mama boleh pergi,” jawab Chester.


“Terima kasih sayang,” ucap mary dengan bahagianya hingga memeluk chester lalu mengecup pipi Chester.


‘Tapi boleh mama ajak Jenni?” tanya mary lagi dengan memancarkan binar bahagia di matanya.


Chester terdiam cukup lama sekitar 5 menit, karena tidakmungkin dia membiarkan Jennixia keluar tanpa dirinya.


Lagi-lagi Mary membujuk Chester, kali ini memerlukan beberapa jurus rayuan agar Chester mau menyetujui permintaannya.


“mama cuma ingin meluangkan waktu bersama menatu mama,” ucap Mary dengan suara yang terdengar sendu.


“Tapi kalau kamu tidak izinkan, tidak apa-apa. Mama akan mengajak Bu Jessi saja,” labjut Mary lagi.


Chester tidak ingin membuat Mary sedih apalagi dia sudah berusaha mendekati Jennixia. Walaupun jennixia masih memasang sekat untuk Mary mendekatinya.


Sebuah ide terlintas dibenak Chester setelah mendengar ucapan terakhir Mary.


“Mama mau ajak dengan Ibu Jessi?” tanya Chester.


“Rencananya begitu Ches, kami bertiga berjalan bersama meluangkan waktu,” sahut Mary dengan wajah yang mulai terlihat bahagia.

__ADS_1


Mary yakin alasan ini akan disetujui oleh Chester biarpun dia harus merubah sedikit rencanya, tapi sekurang-kurangnya dia berhasil membawa Jennixia keluar dari mansion ini.


“Kalau begitu baiklah, Chester izinkan. Tapi Ma, tolong jangan biarkan Jennixia sendiri,” sahut Chester dan sempat berpesan juga kepada Mary.


‘Tidak apa sekurang-kurangnya ada Ibu Jessi juga,’ batin Chester menyakin dirinya.


Chester memasuki kamarnya kembali setelah selesai bicara dengan Mary. Chester mendekati Jennixia yang duduk di pinggiran ranjang mereka.


Sebarnya Jennixia telah mendengar semua perbicaraan antara Chester dan Mary karena kebetulan dia hendak keluar dari kamarnya dan menyusul chester.


“Jen...” panggil Chester sambil mengusap kepala Jennixia.


“Hari ii kamu ikut Mama dan Ibu ke mall ya, tadi Mama mengajakmu dan aku sudah mengizinkannya,” lanjut Chester lagi.


Jennixia menolak tangan Chester yang mengelus kepalanya, dia menatap tajam ke arah Chester.


“Kenapa tidak tanya padaku dulu, aku mau pergi atau tidak,” sahut Jennixia kesal.


“Jen,maafkan aku jika tidak bertanya padamu dulu, tapi aku telah menyetujuinya Mama tadi, aku tidak ingin mengecewakan Mama apalagi mama sering mmendekatimu untuk bisa akrab denganmu tapi kamu malah memasang sekat antara kalian,” ucap Chester panjang lebar.


“Teruskan CHESTER! Teruskanlah memojokku, kau tidak mengetahu apa-apa dan kau sama sekali tidak ingin mencari tahu apa yang aku alami!” ucap Jennixia dengan meninggikan sedikit suaranya.


“Apa maksudmu Jen? Aku sama sekali tidak mengerti, kalau kau ada masalah ceritakan padaku, jangan bersikap begini, aku masih suamiku Jennixia,” jawab Chester dengan suara yang terdengar tegas.


“Makin lama aku makin membencimu Chester!” ketus Jennixia.


Chester tidak menjawab ucapan Jennixia, karena Jennixia sudah lebih dulu keluar dari kamar mereka.


Chester menghela nafas panjang, dia tidak habis pikir kenapa Jennixia berubah menjadi seorang yang keras kepala.


Tidak ingin terlalu larut dalam pemikirannya, chester mengambil jasnya lalu keluar dari kamar untuk melanjutkan aktiifitasnya pergi ke kantor.


Sehingga sampai dipintu utama batang hidung Jennixia masih tidak terlihat membuat Chester semakin bingung.


‘Pasti dia benar-benar marah lagi, huhh’ ucap Chester dalam hati lagi.


.....


Walaubagaimana pun, Jennixia tetap mengikuti ucapan suaminya. Biarpun hatinya terasa sakit karena Chester tidak peka dengan tujuan dan niat Mary.


Saat ini mereka telah berada di mall. Mary mengitari seluruh mall membuat Jessi terasa kelelahan dan akhirnya memilih untuk menunggu mereka di kafe berdekatan pintu utama mall.


Jessi di temani oleh beberapa pengawal atas perintah Jennixia, karena dia tidak mau sesuatu terjadi dengan Ibunya saat dia tidak berada di sisi Ibunya.

__ADS_1


Ary mengambil kesempatan ini untuk mengajak Jennixia berjalan-jalan dan memulaikan rencananya.


Mary pamit untuk ke wc sebentar dan menyuruh Jennixia menunggunya di sebuah toko pakaian.


“Sebentar lagi rencanaku pasti akan berhasil,” ucap Mary lirih setelah meninggalkan Jennixia.


Mary mengitari mall dengan tujuan mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk melancarkan rencananya.


Sehingga dia bertemu dengan beberapa pria yang sedang duduk berkumpul sambil menggodan para pengunjung wanita yang lewat.


Mary mendekati mereka dengan senyuman licik yang tercetak jelas diwajahnya.


“Hai, apa kalian butuh uang?” tanya Mary tanpa basa basi.


“Wow wanita berumur ingin menawarkan pinjaman kredit,” sahut pria yang memakai kaos biru dengan gambar black metal.


“Atau jual saja dirimu kepada kami baru kami memikirkannyalagi untuk mengambil pinjaman kredit denganmu,’ sahut pria yang satunya lagi yang mengenakan hoodie coklat.


Pria yang lain hanya diam dan tersenyum sinis memandang wajah Mary.


Mary menataap malas ke arah mereka karena pikiran para pria ini sunggh kotor. Tapi ini merupakan kesempatannya untuk mempergunakan mereka.


“Tidak aku bukan mau menawarkan pinjaman tapi aku mau menawarkan pekerjaan pada kalian,” ucap Mary tersenyum licik.


“Pekerjaan apa?” tanya pria yang mengenakan hoodie tadi.


“Aku mau kamu melakukan sesuatu dengan wanita yang ada dallam foto ini, kalau bolehh hancurkan saja harga dirinya,” ucap Mary sambil menunjukkan foto Jennixia kepada para pria itu.


“Tapi kami mahal loh tante,” ucap pria itu kemudian.


“Aku akan memberikan kalian 500 juta tetapi awalnya aku hanya akan memberikan 250 juta dan sisanya setelah pekerjaan kalian selesai, baggaimana?”tawar Mary.


“Ok deal,” sahut pria berhoodie itu.


Mary memberitahu di mana keberadaan Jennixia saat ini. Dan para pria itu lanngsung saja menuju ke toko pakaian yang dimaksudkan oleh Mary.


Di tempat Jennixia berada. Jennixia sedang memilih beberapa baju yang menurutnya menarik, dia sengaja mengambil banyak untuk melepaskan kekesalannya pada Cheste.


Walaupun Chester tidak pernah mempermasalahkan tentang belanjaan Jennixia, yang ada Chester merasa aneh saja Jennixia tidak hobi membeli pakaian berlebihan.


Sedang asyik memilih-milih pakaian tiba-tiba ada pria yang menarik tangan Jennixia dan membawanya menuju ke belakang toko yang terlihat sepi karena tempatnya tertutup.


Baru saja hendak menjerit tapi pria tadi menutup mulut jennixia dengan menggunakan tangannya.

__ADS_1


“Jangan memberontak,” ucap pria itu.


Bersambung...


__ADS_2