Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 40 Rencana Mary


__ADS_3

Para pria itu mengacuhkan Anderson dan salah satunya langsung saja menaikan Jennixia di pundaknya seperti karung beras lalu membawanya pergi dari tempat itu.


Edward yang baru saja tiba melihat kejadian itu langsung mengejar beberapa pria itu lalu menerjang punggung salah satu pria itu.


Brughhh!


Pria yang terkena terjangan Edward langsung terdorong ke depan, lalu Edward memasang kuda-kudanya karena 4 orang pria tadi mengelilinginya.


"Nona, Nona! Nona sadarlah!" Teriak Edward.


Pria yang membawa Jennixia langsung saja meneruskan langkahnya dan membiarkan teman-temanya untuk menyelesaikan masalahnya dengan Edward.


Bughh!!


Edward mengeram karena pipinya terkena tinju dari pria yang berada di sebelah kanannya. Edward tidak mengalah dia terus-terusan melayangkan bogem mentah dan tendangannya.


Tiba-tiba pria yang membawa Jennixia berjalan mundur. Arviy muncul dengan wajah bengisnya lalu menodongkan senjata tepat pada pria yang membawa Jennixia.


"Letakkan wanita itu atau kau yang akan mati!" Bentak Arviy.


Pria yang mengendong Jennixia tadi pun meletakkan Jennixia di kursi lalu melarikan diri bersama teman-temannya.


Arviy mendekati Jennixia, baru saja dia ingin menyentuh Jennixia, Edward datang menepis tangannya. Dengan telaten dia membopong tubuh Jennixia dan di bawanya pergi ke ruang UGD


"Sungguh aneh, kenapa bisa Arviy berada di sini." Gumam Edward dalam hati sambil menatap Arviy sekilas yang berada di luar ruang UGD tadi.


Chester dengan raut wajah cemas dan langkah yang besar memasuki ruang rawat Jennixia, dia menatap tajam ke arah Edward yang berdiri tidak jauh dari branker Jennixia.


"Apa yang terjadi Ed?" tanya Chester dengan wajah dingin.


Edward pun menceritakan tentang apa yang dia lalui bersama Jennixia dan mata Chester semakin menajam apabila mendengar Jennixia di selamatkan oleh Arviy.


"Tuan kami sudah memeriksa cctv rumah sakit tapi jejak Anderson tidak di temui." Ucap salah satu anak buah Chester.


"Cari pria brengsek itu sampai dapat!" Perintah Chester.


Chester mengendong Jennixia ala bride style karena dokter mengatakan tidak ada yang serius dan Jennixia hanya pingsan saja mungkin karena syok dipukul dibagian tengkuknya.


Chester membawa Jennixia pulang ke mansion, raut wajah dingin Chester belum berubah dan rahang Chester yang terlihat menengang menambahkan aura kejamnya.


Sepanjang perjalanan pulang ke mansion Chester terus menatap Jennixia yang belum siuman juga. Sehingga mobil memasuki kawasan mansion tetap saja Jennixia belum sadarkan diri.

__ADS_1


Chester membawanya masuk dengan langkah yang tergesa-gesa. Nera dan Mei yang sudah menunggu di depan pintu utama itu langsung mengikuti langkah Chester menuju ke lift.


"Aku yang salah, sepatutnya aku tidak membiarkan Jennixia sendiri pergi ke kampusnya, Edward cuma seorang diri." Ucap Chester dengan wajah datar setelah Jennixia sudah berada di atas ranjang kamar mereka.


"Saya akan mengatur ulang jadwal Mei. Biar kejadian begini tidak berulang lagi." Sahut Nera.


"Bagaimana menurutmu Mei?" tanya Chester yang melihat Mei hanya berdiam saja sedari tadi.


"Tuan, izinkan saya terus bersama Nona dan saya akan melindungi Nona menggunakan nyawa saya sendiri." Jawab Mei dengan mantab.


"Saya juga sanggup menganti nyawa saua demi melindungi wanita yang paling saya cintai." Ujar Chester sambil menatap wajah Jennixia.


Chester menyuruh Mei menyiapkan makan siang untuk Jennixia dan hantar ke kamarnya setelah selesai. Nera pula diberi perintah untuk merawat luka yanh terdapat di wajah Edward setelah itu barulah dia mengurus pencarian Anderson bersama anak-anak buah yang lain.


Chester membelai pipi mulus Jennixia sehingga Jennixia mulai menggerakkan matanya.


"Jen, kau sudah tidak apa-apa?" tanya Chester apabila Jennixia sudah menatap ke arahnya.


"Ibuku?" Jennixia kembali bertanya dengan raut wajah sedih.


"Ibumu masih berada di rumah sakit dan beberapa hari kemarin dia sudah mulai bangun dan makan." Jelas Chester pada Jennixia.


"Benarkah? Kau tidak sedang menghiburkukan." Jennixia memastikan adakah benar ucapan Chester.


Jennixia kembali gembira dia mengamburkan pelukan ke arah Chester. Tiba-tiba Jennixia teringat tentang Anderson.


"Ayah tiriku bagaimana?" tanya Jennixia.


"Tuan Anderson berhasil kabur." Sahut Chester yang masih setia mengelus rambut Jennixia.


Jennixia tidak ingin memperpanjangkan pikirannya tentang Anderson, menurutnya pasti Anderson berniat untuk menjualnya lagi makanya dia berani menipu Jennixia dengan menggunakan Ibunya.


...


Mary masih berada di dalam kamar Liana, sudah hampir 6 jam Liana terus menangis sehingga wajahnya berubah sembab. Mary yang tidak tega melihat keadaan Liana seperti itu langsung saja terus membujuknya.


Mary mendapat ide untuk menjebak Chester biar bisa menikahi Liana. Mary mendekati Liana dan berbisik kepadanya. Liana langsung saja mengusap air matanya karena menurutnya ide ini pasti akan berhasil.


Mary keluar dari kamar Liana dan kembali ke kamarnya untuk mencari obat yang akan dia gunakan untuk Chester.


Setelah mendapat obatnya, Mary sengaja menuju ke dapur dan meminta pelayan yang berada di dapur untuk menyiapkan dua minuman untuk Chester dan Jennixia lalu dia akan menghantarnya ke tempat Chester.

__ADS_1


"Harap-harap Chester tidak curiga." Ucap Mary.


Mary berjalan ke ruang kerja Chester, yang kebetulan Chester baru saja memasukinya.


tok..tok..tok..


Mary mengetuk pintu ruang kerja Chester sambil membawa nampan. Wajahnya menyeringgai dan Liana telah bersiap menunggunya di dekat tangga.


"Masuk." Seru Chester dari dalam.


Mary masuk dengan wajah yang dibuat-buat rasa bersalah.


"Maaf mama mengganggumu, tapi mama bawakan teh jahe untukmu biar tubuhmu jangan terlalu kecapean." Ucap Mary setelah masuk ke ruangan Chester.


Chester mengangguk, tidak lupa dia menekan tombol yang berada di bawah mejanya.


"Terima kasih ma, tapi yang satu itu untuk siapa?" tanya Chester yang melihat satu cangkir lagi berisi coklat hangat.


"Mama ingin memberikannya pada Jennixia, tapi mungkin kamu mencurigai mama ingin meracuninya." Ucap Mary lagi sambil menundukkan kepala.


"Justeru ucapan Mama tambah membuatku curiga." Sahut Chester dengan wajah datarnya.


"Ini mama akan buktikan kepadamu." Mary langsung meneguk minuman coklat hangat itu hingga tandas agar Chester percaya kepadanya.


"Mama hanya ingin berbaik dengan Jennixia biar mama bisa mengenalinya dengan lebih lagi dan menilai adakah dia pantas berada di sisimu," lanjut Mary lagi.


"Siapa yang pantas berada di sisiku itu tergantung dengan pilihanku ma, dan pilihanku tetap Jennixia biar mama memaksa sekali pun." Chester sengaja berucap dengan lembut.


Mary mulai memegang dadanya dan nafasnya yang sudah tidak beraturan.


"Kamu kejam Chester, kamu sanggup lihat mama matikan?! Mama hanya ingin permintaan terakhir mama dikabulkan." Ucap Mary dengan emosi lalu langsung berlari keluar dari ruang kerjanya.


Berharap Chester mengejarnya tapi rupanya tidak. Hal itu membuat Mary semakin kesal dan dia berharap Chester segera meminum teh jahenya itu dan Liana akan melancarkan aksinya.


Liana yang telah menunggu di tangga bawah terlihat antusias melihat kedatangan Mary.


"Bagaimana tan?" tanya Liana yang sudah tidak sabar.


"Santai saja setelah satu jam kamu naik dan jangan lupa bawa dengan gincumu pakai pakaian yang agak terbuka lalu berfotolah dengan Chester." Sahut Mary sambil menepuk perlahan pundak Liana.


"Kali ini pasti berhasil." Ucap Eild yang sedari tadi berada di belakang Liana.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2