
Chester keluar dari mansion diikuti oleh Nera. Bukan untuk ke kantor tetapi menuju ke markas eksekusi. Beberapa pengawal yang mengizinkan Arviy masuk ke ruang inap Mei kemarin di tahan untuk diinterogasi.
Liana yang kebetulan baru saja hendak keluar dari kamar Mary, melihat Chester keluar tanpa Jennixia.
“Cih berarti wanita itu di atas.” Gumam Liana sambil menatap kepergian Chester dari balik pintu.
Lian kembali memasuki kamar Mary untuk memberitahu Mary.
“Tante, Chester sudah keluar dan wanita itu ada dikamarnya,” ucapnya dengan wajah sumringgah.
“Terus mau ngapain?” sahut Mary.
“Kita ke kamarnya saja langsung tante,” jawab Liana.
“Tapi pelayannya masih ada, mungkin dia juga punya senjata,” inbuh Mary lagi.
Liana terdiam, benar juga mungkin Mei juga memiliki senjata tapi Liana tidak ingin menyerah dan kesempatan ini harus dia gunakan. Liana coba berpikir caranya untuk naik ke kamar Jennixia.
Sebuah ide terlintas di pikiran Liana, dia tampak tersenyum.
“Tante aku punya sebuah ide, nanti tante yang naik aku akan menghalang pelayan itu untuk sampai ke atas.”
Liana memberitahu semua rencana kepada Mary. Setelah itu mereka mulai keluar dari kamar dan menuju ke dapur.
Liana melihat beberapa koki sedang sibuk memasak, tidak ada seorang pun yang sadar kehadiran Liana sehingga Liana menuangkan bubuk obat botol kecil ke dalam masakan yang telah di masak untuk para pelayan dan pengawal.
Setelah selesai, Liana menuju ke arah Mary.
“Bagaimana sapu tangannya? Sudah diletakkan obat?” tanya Liana.
“Sudah, kalau begitu tante naik dan pindahkan wanita itu. Kamu tetap berjaga sekitar sini,” sahut Mary.
Dengan langkah yang cepat Mary naik ke lantai 3 dan memasuki kamar di mana Jennixia berada.
“Pintunya tidak terkunci memang takdir berpihak padaku dan Liana.” Ucapnya perlahan sambil membuka pintu kamar itu.
Mary melihat Jennixia masih tertidur pulas, bibirnya langsung melengkung menyeringgai.
Mary menutup hidung dan mulut Jennixia menggunakan sapu tangan itu, awalnya Jennixia menunjukkan perlawanan saat dia sadar hidungnya dibengkam tapi akhirnya Jennixia kehilangan kesadarannya karena obat yang dia hirup.
Mary dengan perlahan memapah Jennixia masuk ke ruang walk in closet yang tersambung dengan kamar itu. Mary menyembunyikan Jennixia di balik lemari besar dan menggunakan lakban untuk menutup mulut Jennixia.
Tangan dan kaki Jennixia turut diikat agar tidak memudahkan Jennixia untuk lari keluar dari ruang itu. Setelah semuanya merasa aman Mary keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Liana melihat pergerakan pengawal dan pelayan yang menunjukkan rasa kantuk dengan menguap berkali-kali setelah makan.
Liana menangkap sosok Mei yang berjalan menuju ke belakang, Liana mengulas senyuman dia tidak sangka Mei tidak lihat keberadaannya.
“Kali ini pasti berhasil.” Gumam Liana sambil bersedekap dada.
Dari arah belakang, Mary memegang pundak Liana dan membuat Liana sedikit kaget.
“Ah, tante mengagetkan saja,” ucapnya
Mary tersenyum penuh arti.
“Kamu bersiap ganti pakaian yang lebih wow, pastikan Chester menyentuhmu,” Sahut Mary dengan penuh percaya diri.
Liana menganggukkan kepalanya dan berlari kecil menuju ke kamarnya untuk bersiap-siap untuk menggantikan posisi Jennixia.
....
Di tempat Chester berada.
“Katakan apa alasan bajingan itu sehingga dia bisa masuk?” tanya Chester dengan nada membentak.
4 orang anak buahnya yang berdiri di hadapannya saat ini tertunduk. Salah satu dari mereka menjawab pertanyaan Chester.
“Katanya dia adalah teman akrab Nona dan Nona yang menyuruhnya datang.”
“Jadi kalian percaya? Hahh!”
Mereka kompak mengangguk membuat Chester semakin berang, dia melempar buku-buku di atas mejanya ke arah ke empat anak buahnya itu.
“Mungkin kalian maunya mati saja ya? Sudah berapa kali aku berpesan, istriku tidak akan bertemu dengan orang sembarangan apalagi di saat seperti itu,” ucap Chester.
“Tapi kalian punya otak kenapa bod*h hahh? Sekarang kalian pilih potong lidah atau potong salah satu jari?” lanjut Chester lagi.
Setelah mendengar pilihan yang diberikan oleh Chester ke empat pria itu langsung bersujud meminta maaf dan bersumpah tidak akan melakukan kesalahan lagi dan mereka meminta kesempatan sekali lagi.
Chester berdiri dari tempat duduknya lalu meninggalkan mereka tapi sebelum benar-benar keluar dari ruangan itu Chester sempat berpesan.
“Huhh kali ini aku akan beri kalian peluang dan hanya gaji kalian aku potong setengah selama 2 bulan.” Ucap Chester lalu berganjak dari depan pintu itu.
Chester dan Nera lanjut untuk pergi ke kantor karena ada masalah di bagian devisi keuangan. Nera telah mendapatkan bukti penggelapan uang perusahaan oleh seorang manager keuangan.
Setelah sampai ke ruang kantornya dan duduk dikursi kebesarannya, Chester mengarahkan Nera untuk memanggil manager keuangan untuk membicarakan soal uang yang keluar tanpa kenyataannya.
__ADS_1
Sementara menunggu manager keuangan datang menghadapinya, tidak lupa Chester memeriksa tabnya dan membuka bagian cctv yang tersambung di mansionnya.
Chester melihat keadaan istrinya yang masih pulas tertidur di balik selimut tebal. Amarah Chester seketika mereda, dia mengusap layar tabnya.
“Sebentar lagi aku pulang sayang,” gumam Chester.
Tok..tok..tok..
Bunyi ketukan pintu membuatnya kembali menyimpan tabnya lalu merubah raut wajahnya.
“Masuk.”
Nera masuk disusuli dengan manager keuangan perusahaan. Tatapan mata Chester sungguh tajam sehingga manager keuangan itu menundukkan wajahnya.
“Kamu manager keuangan ya?” tanya Chester dengan dingin.
“Iya Pak,” jawab manager keuangan itu.
“Tahu kenapa kamu dipanggil?” tanya Chester lagi.
“Tidak Pak,” jawabnya lagi.
Chester melemparkan beberapa laporan dan kegiatan manager itu ke arah wajahnya.
“Jelaskan pada saya tentang hal ini!” Seru Chester.
Manager itu memungut kertas yang berjatuhan di lantai dan dibacanya. Setelah membacanya, dia mulai merasa gementar dan keringat dingin mulai bermunculan didahinya.
Dia hanya diam dan tidak menjelaskan apa-apa membuat Chester semakin murka.
Chester berdiri dari tempat duduknya lalu memberi perintah pada Nera sebelum dia keluar dari ruang kantornya.
“Bawa dia ke markas dan tahan keluarganya.” Ucapnya pada Nera yang masih setia berdiri tidak jauh darinya.
Manager itu mendengar perkataan keluarga langsung saja mengejar Chester tapi gerakannya sedikit lambat karena Nera telah menyerang dengan memukul tengkuknya.
Manager itu jatuh pingsan di atas lantai dan beberapa anak buah Chester masuk dan membawanya pergi.
Chester yang telah sampai di parkiran langsung menaiki mobil yang telah disediakan untuknya yang disopiri oleh sopir pribadinya.
“Kita singgah di rumah sakit xxx,” perintah Chester.
Sebelum pulang dia akan pergi ke rumah sakit untuk menjemput Ibu Jennixia yang dikabarkan oleh beberapa anak buahnya yang berjaga bahwa Ibu Jennixia sudah bisa kembali ke rumah.
__ADS_1
Chester merasa bertanggungjawab sebagai suami dari Jennixia. Oleh itu dia lebih memilih untuk datang menjemputnya sendiri dan akan dia bawa kembali ke mansion demi keselamatannya.
Bersambung...