Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 51 Unboxing


__ADS_3

Setelah asyik menghilangkan rasa rindu kepada sang Ibu, tanpa sadar Jennixia tertidur di samping ibu, karena rasa kantuk mulai menyerangnya apalagi tangan lembut ibunya setia mengusap-usap kepalanya.


“Chester, bawalah Jenni kembali ke kamar kalian biar dia merasa nyaman tidurnya,” ucap Jessi kepada Chester yang duduk disofa ruang kamar itu sambil sibuk menatap layar tabnya.


“Baiklah Ibu,” jawab Chester segera mendekati Jennixia lalu mengendongnya perlahan.


Wajah Jennixia begitu menggemaskan, Chester menelan air liurnya berulang-ulang karena bibir Jennixia benar-benar memggodanya.


Chester membaringkan Jennixia di atas ranjang kamar mereka, dia menyelimuti tubuh Jennixia. Baru saja hendak berganjak pergi tiba-tiba tangannya ditarik.


“Mau ke mana?” tanya Jennixia sambil menarik tangan Chester.


Chester menghentikan gerakannya lalu menatap wajah Jennixia yang baru bangun.


“Maaf membuatmu terbangun,” sahut Chester. “Nggak ke mana-mana mau duduk di sofa aja sementara menunggu kamu bangun,” lanjut Chester lagi.


Jennixia menganggukan tapi tidak melepaskan tangannya yang sedang memegang tangan Chester.


“Tapi aku sudah bangun,” sahut Jennixia.


Sebenarnya Jennixia sudah berpikir tentang hak yang diminta oleh Chester, dia ingin menyerahkan dirinya kepada Chester agar Chester tidak tergoda dengan wanita-wanita bergunung gede di luar sana.


Tapi entahlah saat ini lidahnya terasa kelu untuk berbicara mengenai hal itu, dia hanya berharap Chester akan meminta kepadanya lagi.


Chester sempat bingung melihat wajah Jennixia yang tampak melamun dan sedang kepikiran sesuatu.


“Kamu masih ingin bersama Ibu?” tanya Chester tiba-tiba.

__ADS_1


Lamunan Jennixia membuyar, dia kembali menatap Chester.


“Mungkin Ibu sedang istirehat, sudah nanti saja,” jawab Jennixia.


Chester mengangguk kecil tapi tatapan Jennixia kepada seperti ingin mengatakan sesuatu dan membuat dahinya mengerut.


“Kamu kenapa melihatku seperti itu?” tanya Chester untuk memastikan dan mendengar jawaban Jennixia.


“Ah tidak, huhh sudahlah aku mau sambunh istirehat saja,” sahut Jennixia tapi dia tidak sadar tangannya masih menggenggam tangan Chester.


“Pffft”


Chester tertawa kecil, dia naik kembali ke atas ranjang dan mengelus puncak kepala Jennixia.


“Mau aku temanin?” tawar Chester.


“Nggak!” sahut Jennixia.


“Tapi tanganmu yang menggenggam tanganku mengatakan bahwa kamu minta aku temaninkan.” Chester mulai menggoda Jennixia.


Jennixia baru sadar dan berasa malu, dia cepat-cepat melepaskan tangannya tapi gerakannya kalah cepat dengan Chester yang menarik hingga bergeser naik ke atas tubuh Chester.


Chester menatap manik mata Jennixia yang terlihat sungguh menawan, bibir merah milik Jennixia sungguh membuatnya tertarik.


Tanpa mengucapkan banyak kata, Chester langung saja menempelkan bibirnya pada bibir Jennixia. Terjadilah adegan ciu*an hangat hingga seperti biasa, Jennixia mengangkat bajunya ke atas agar Chester bisa melu**t puncak gunung berkembarnya.


Jennixia coba mengambil kesempatan ini untuk memberitahu Chester, bahwa dirinya telah siap untuk memberikan hak Chester yang sempat dia tolak berapa minggu yang lalu.

__ADS_1


Jennixia menarik wajah Chester untuk berhadapan dengan wajahnya.


“Kamu bisa memilikiku seutuhnya Chester...” ucap Jennixia perlahan.


Wajahnya terlihat merona setelah mengucapkan kata seutuhnya tadi, Jennixia mulai merasa malu.


Tapi tidak dengan Chester, wajahnya terlihat sungguh berbinar dan penuh ghai**h.


“Benaran aku bisa melakukannya?” tanya Chester untuk mendapat konfirmasi lagi.


Jennixia mengangguk dan mulai menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya karena malu.


Chester yang mendapat lampu hijau dari Jennixia langsung saja melancarkan aksinya. Awalnya dia mengecup bibir Jennixia dan menyedot semua rasa yang ada di dalam mulut Jennixia.


Semakin lama suasana semakin menjadi panas, diikuti dengan gerakan yang dilakukan oleh Chester, semakin memancing ghai**h sensu** Jennixia.


Chester mengeluarkan juniornya yang telah berdiri gagah dan bersiap untuk menjebol sangkar milik Jennixia.


Jennixia menutup mulut dan matanya setelah melihat junior Chester yang terlihat mengembang dengan gagahnya.


“A..apa itu menyakitkan?” tanya Jennixia.


Chester tersenyum senang.


“Awalnya mungkin sedikit sakit tapi setelah beberapa menit kemudian pasti kamu merasa nikmat luar biasa,” sahut Chester mantab.


Akhirnya adengan berbagi peluh dan cinta pun berlaku setelah Chester berhasil menerobos pertahanan Jennixia dengan beberapa kali gerakan. Kini hubungan suami istri mereka sudah sempurna.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2