
Di ruang tamu itu suasananya terlihat canggung, sehingga Jessi masuk ke ruang tamu membawa minuman untuk mereka.
“Eh kok pada diam?” tegur Jessi.
Mereka bertiga menjadi salah tingkah, Jennixia menyenggol lengan Mei tanda memberi kode untuk menjawab pertanyaan Jessi.
Mei malah menatap tajam ke Arviy, berharap Arviy yang menjawab pertanyaan Jessi.
“Huhh, nggak diam tante Cuma lagi mikirin tema apa yang harus kami buat,” kelit Arviy.
“Oh, gitu ya baiklah tante ke dalam dulu ya. Takut menganggu kalian,” sahut Jessi.
Mereka bertiga mengangguk mantab. Karena itu lebih baik daripada Jessi harus dengar perbicaraan mereka.
“Jadi kau buat apa di sini? Masih belum puas dicekik oleh Tuan Chester atau kau memang sudah bosan hidup!” ucap Mei dengan sinis.
“Santai, aku datang cuma mau minta maaf soal kemarin, mungkin Chester salah faham dengan maksud kedatanganku,” ucap Arviy.
“Aku Cuma ingin melihat keadaan kalian, kebetulan aku berada di rumah sakit mau ketemu Ibuku tapi malah jadinya seperti itu,” lanjut Arviy lagi.
“Ck terserah apa alasanmu. Terus sekarang kau mau apa datang ke sini?” tanya Mei kemudian.
“Cuma mau melihat keadaan kalian salahkah?” tanya Arviy kembali.
“Tidak dibutuhkan, silakan pergi sebelum nyawamu melayang di tanganku,” ancam Mei dengan raut wajah sinis.
“Ok baiklah aku akan pergi tapi sebelum itu...” Arviy mengeluarkan sesuatu dari tasnya lalu mendekati Jennixia.
Tas kertas kecil berwarna pink dan bercorak bunga-bungaan.
“Ini untukmu, semoga kau suka Jen,” Arviy meletakkan tas kertas tadi di tangan Jennixia lalu langsung saja menuju ke pintu utama.
“Sampai jumpa lagi,” ucap Arviy kemudian lalu meninggalkan kawasan rumah Jennixia.
Mei mengambil tas kertas itu dari tangan Jennixia lalu dibukanya. Ada kotak kecil di dalam yang diikat dengan pita satin berwarna ungu muda.
Mei menarik pita tersebut dan membuka penutup kotak itu, matanya membulat dan Jennixia langsung menutup mulutnya.
Mei berlari menuju ke pintu utama rumah lalu keluar untuk membuat kotak kecil itu. Sewaktu Mei masih berada kawasan depan rumah dia sempat melihat sosok Arviy yang masih ada tidak jauh dari rumah itu.
Arviy tersenyum miring dengan tatapan mata yang terlihat puas, Mei ingin mengejarnya tetapi Arviy sudah memasuki mobilnya dan pergi dari tempat itu.
“Sia*an!” maki Mei pada Arviy.
Mei mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi nomor Nera. Setelah Nera angkat panggilannya, Mei menceritakan semuanya dari awal dan meminta Nera untuk datang.
__ADS_1
Mei kembali memasuki rumah dan melihat Jennixia masih terpaku di tempat. Mei mendekatinya lalu memeluk Jennixia.
Air mata Jennixia sudah membasahi wajahnya tapi suara tangisan Jennixia tidak kedemgaran. Jessi baru saja keluar dari kamarnya karena Mei memanggil-manggil dirinya.
“Ada apa? Kenapa Jen?” tanya Jessi yang terlihat panik.
“Bu, teman yang tadi tu jahat dia beri Nona bangkai dalam kotak kado,” terang Mei yang masih betah memeluk Jennixia dan mengusap punggungnya.
“Apa?” Jessi ikut kaget mendengarnya.
Isi kotak tadi adalah bangkai kepala kucing yang telah mati, darah segar masih terlihat di dalam kotak kecil itu tadi dan aromanya sungguh amis.
“Iya Bu, Nona jadi syok Bu,” sahut Mei kemudian.
Jessi langsung berlari memasuki dapur untuk mengambil air dan handuk. Jessi menadah air keran di dalam wadah lalu membawa masuk ke ruang tamu.
“Awas, minggir kamu Mei,” perintah Jessi.
Mei tanpa banyak bertanya langsung saja melepaskan pelukannya, dia mundur tiga langkah dari Jennixia.
Byuuurrr..
Jessi menyiram Jennixia dengan air agar dia bisa kembali sadar. Dan benar saja Jennixia kini sudah menangis bersuara menatap sang Ibu.
“Sudah jangan menangis semuanya sudah hilang,” ucap Jessi mengusap wajah Jennixia dengan handuk.
“Mei, kamu bantu papah Jenni masuk ke kamar dan ganti pakaiannya ya, tante mau rapikan ruang tamu ini lagi,” ucap Jessi lagi.
“Baiklah mari Nona.” Mei menggandeng lengan Jennixia untuk membawanya masuk ke dalam kamar.
Setelah berganti pakaian, Mei membawa Jennixia beristirehat saja, dia mengusap punggung Jennixia hingga Jennixia tertidur dengan tenang.
Mei mendengar suara Nera, dia lantas bangun dan keluar dari kamar Jennixia.
“Kak Nera,” panggil Mei.
“Hei, bagaimana dengan Nona?” tanya Nera yang terlihat panik dan khawatir.
“Nona sudah tidur,” jawab Mei sambil melihat ke dalam kamar Jennixia.
“Syukurlah, jadi bagaimana kotak itu?” tanya Nera lagi kini wajahnya terlihat sedikit lega setelah melihat Jennixia tidur dengan tenang.
“Saya menguburkannya Kak di depan sana,” jawab Mei.
“Tapi saya rasa Nona ada trauma dengan barang seperti itu,” lanjut Mei lagi.
__ADS_1
“Mari kita tanyakan pada Ibu Jessi,” sahut Nera sedikit terkejut mendengar ucapan Mei.
Mereka menemui Jessk dan bertanya tentang keadaan Jennixia tadi dan benar saja Jennixia mempunyai trauma.
Jessi menceritakan tentang Jennixia sering mendapatkan teror berupa bangkai sewaktu umurnya 9 tahun dan 14 tahun.
Orang yang sering menerornya sampai hari ini belum dia ketahui, hingga hari ini Jennixia menerima barang seperti itu lagi.
“Apa mungkin ini orang yang sama? Mungkin pria yang tadi,” ucap Jessi dengan wajah serius.
“Bisa jadi tapi bisa juga bukan atau mungkin ini ada kaitan dengan orang itu,” sahut Nera coba menganalisis permasalahan ini.
“Apa mungkin Arviy berkomplot sama orang itu?” tanya Mei dengan pikiran menebak-nebak.
“Mungkin Mei, sudahlah hal ini saya akan sampaikan kepada Tuan Chester setelah dia pulang nanti,” ucap Nera.
“Oh nak Chester di mana?” tanya Jessi kemudian.
“Tuan ada di kantor sedang rapat Bu,” jawab Nera dengan tersenyum.
“Ibu istirehatlah biar Nona Jenni kami yang jaga,” lanjut Nera lagi.
Setelah Jessi kembali beristirehat, Nera mengobrol serius bersama Mei tentang keselamatan Jennixia.
Nera meminta Mei untuk tetap waspada karena Arviy telah sampai ke rumah ibu Jessi. Nera yakin pasti ada sesuatu yang direncanakan oleh Arviy
Tidak lupa Nera juga memberitahu tentang penyerangan tiba-tiba wilayah sebelah barat Chester. Oleh itu Nera menegaskan agar tidak boleh membiarkan Jennixia sendirian.
Mei menggangguk faham, dia akan lebih protektif lagi mulai sekarang. Dia berharap bisa melindungi Jennixia dan menjauhkan dari ancaman seperti tadi.
“Mungkin kita semua akan pulang ke mansion jadi kamu siap-siaplah berkemas semua barang penting jangan di tinggalkan,” ucap Nera.
“Baiklah saya akan kemas-kemas sekarang,” sahut Mei.
“Tapi Kak Nera akan berada di sinikan?” tanya Mei kemudian.
“Iya, saya akan berada di sini hingga Tuan datang, kamu tidak usah khawatir di sekeliling rumah ini sudah ada yang jaga,” sahut Nera.
“Baiklah Kak.” Mei pamit dan menuju ke arah kamar Jennixia.
Mei mengemas barang-barang penting Jennixia dan dia memastikan tidak ada yang tertinggal. Setelah selesai dia memasuki kamar Jessi dan mengabari Jessi tentang hal pindah ke mansion.
Mei membantu Jessi berkemas semua keperluannya, kini tinggal menunggu kedatangan Chester, karena Chester tidak ingin mereka pulang sendiri ke mansion walaupun ada pengawal yang banyak.
Chester takut sesuatu akan terjadi jika dirinya tidak ada bersama Jennixia.
__ADS_1
Bersambung...