Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 53 Ingin memperbaiki


__ADS_3

Bughh! Bughh!


“Akhh” pekik Anderson kesakitan.


Anderson mendapat bogem mentah dari anak buah Alex karena berani meninggikan suara pada bosnya.


Alex hanya membiarkan anak buahnya menghajar Anderson, dia saja merasa muak melihat wajah Anderson. Setelah merasa puas melihat Anderson menderita akibat menerima pukulan yang kuat dari beberapa anak buahnya.


Kini Alex memberi kode untuk mereka berhenti menghajarnya. Alex menatap wajah Anderson yang terlihat babak belur itu.


“Ck, itu balasan untuk kau meneriakiku dan balasan dariku sendiri akan kau terima karena menjual adikku!” ucap Alex dengan ketus.


“Sial, kau anak durhaka! Aku masih status Ayah tirimu!” sahut Anderson tegas.


Para anak buah Alex sedikit kaget mendengar ucapan Anderson. Kini merasa berasa bingung karena yang mereka pukul tadi adalah ayah tiri dari bos mereka.


“Sekarang baru mau sok jadi Ayah tiri? Humm sewaktu kau menjual Jenni, kau sadar kau Ayahnya?” tanya Alex dengan nada mengintimidasi.


Anderson menelan air liurnya, entah kenapa tatapan Alex membuatnya merinding tapi dia tetap coba mengontrol raut wajahnya.


“Itu semua demi Ibumu sial**, kalau Ibumu tidak sakit-sakitan mana mungkin aku menjualnya cih,” sahut Anderson.


Prok.. prok.. prok..


Alex menepuk tangannya dan bibirnya melengkung senyuman yang mengerikan.


“Hebat sekali, tapi yang aku dengar kau menerima uangnya untuk membahagiakan anak kandungmu bukan untuk merawat Ibuku,” ucap Alex.


“Jangan coba membalikkan keadaan lagian dari awal aku tahu kau tidak menyukai diriku dan adikku,” lanjut Alex lagi.


Anderson tersenyum miring.


“Kau sama sepertiku, pintar berakting. Apa kau lupa? Bagaimana kau meninggalkan Jennixia dan Ibumu dulu demi harta,” ujar Anderson.


Raut wajah Alex langsung berubah, ucapan Anderson berhasil memancing emosinya. Dia mengambil cambuk yang berada di atas meja sebelah kanannya lalu mengayunkan ke arah tubuh Anderson.


Cetas! Cetas!


Bunyi cambukan terdengar mengenai tubuh Anderson membuat para anak buah Alex ikut meringgis kesakitan.


Entah berapa kali Alex mengayunkan cambukannya, kini tubuh Anderson mulai mengeluarkan darah segar dan kesadaran Anderson sudah mulai menghilang.


Alex menghembus nafas kasar lalu membuang cambuknya ke sembarang arah.

__ADS_1


“Bersihkan lukanya,” perintah pada anak buahnya.


Alex meninggalkan ruang itu dan pergi meninggalkan markasnya. Alex melajukan mobilnya tapi dia tidak tahu tujuannya hendak ke mana.


Pikirannya sungguh berkecamuk, ucapan Anderson terus terngiang-ngiang di telinganya.


“Aaaaaarrrgghhh”


Alex coba melepaskan beban pikirannya dengan berteriak di dalam mobilnya sambil meremas kuat stir mobil.


Dia berhenti di pinggir jalan yang terlihat sangat senggang. Dia keluar dari mobilnya dan mulai meremas rambutnya, dia sangat menyesal.


Ucapan Anderson menyadarkannya, bahwa dia sama seperti Anderson yang lebih memilih harta ketimbang keluarga.


Tapi itu dulu, sekarang Alex sudah mulai menyesalinya dia masih ingat raut wajah Jennixia yang masih kecil menangis karena dia pergi waktu itu.


“Aku tidak sepertimu sialan! Aku akan menebus semua kesalahanku!” teriak Alex dengan nada frustrasi.


“Maafkan Kakak Jenni, Kakak tidak berguna tapi Kakak berjanji akan menyelamatkanmu dari hidupmu yang sekarang dan akan bawa kamu pergi jauh dari dunia yang keras ini,” lanjutnya lagi dengan bergumam.


Alex duduk di pinggiran jalan, dia merenungi perbuatannya pada masa lalu, air mata terus saja bercucuran jatuh ke pipinya.


Air hujan tiba-tiba turun membasahi bumi, Alex tidak peduli dengan tetesan hujan yang semakin lebat mengenai dirinya.


Baginya saat ini, dia harus bisa merenungi semuanya dan memperbetulkan kesilapannya. Alex sudah memantabkan dirinya, dia akan memanfaatkan kuasa yang dia ada.


Dia akan meminta bantuan dari ayah mertuanya untuk menyelamatkan adiknya, walaupun dia merasa akan mendapatkan hinaan dari mertuanya tapi hinaan itu tidak sebanding dengan derita yang Jennixia rasakan.


Alex kembali memasuki mobilnya menuju ke arah rumahnya, dia akan membicarakan hal ini dengan Renata agar Renata, istrinya bisa mendukungnya.


Alex telah tiba di perkarangan rumahnya, tubuhnya yang basah kuyup membuat lantai rumahnya menjadi basah.


Dia memasuki kamar miliknya bersama istrinya. Awalnya dia kira Renata sudah lebih dulu tidur karena sekarang sudah tepat jam 2 malam.


Tapi ternyata Renata duduk di atas ranjang sambil dan menatap dirinya yang baru saja memasuki kamar.


Renata sedikit terkejut karena kondisi suaminya yang basah. Dia bergegas bangun dan menarik handuk yang tersangkut di pintu kamar mandi lalu mendekati suaminya.


“Abang dari mana basah-basah begini? Cepatlah bersihkan diri, Nata ke bawah buatkan teh jahe untuk abang biar jangan masuk angin,” ucap Renata.


“Abang dari markas, kamu tidak tanya kenapa bisa begini?” tanya Alex lagi dengan wajah yang teduh.


Renata mengusap rahang tegas Alex dan memgukir senyumannya.

__ADS_1


“Setelah Abang selesai baru kita bicarakan, Nata mengerti Abang. Pergilah bersihkan diri dulu, Nata siapkan pakaian Abang dan setelah itu ke dapur buat teh jahe,” sahut Renata dengan tulusnya.


Alex mengangguk dia menuruti perkataan Renata.


Alex menyeruput teh jahe yang disiapkan oleh Renata, dia menatap Renata dengan tatapan sendu.


Renata mengusap tangan Alex dengan lembut.


“Katakanlah apa yang membebani pikiranmu,” ucap Renata.


Alex tersenyum, lalu dia memulaikan ceritanya hingga ucapan Anderson yang menjadi buah pikirannya saat ini.


Renata menjadi pendengar yang setia, dia tidak berkomentar sebelum Alex menanyakan pendapatnya. Dia juga merasa iba dengan suaminya, biasa hal yang sering dirasakan oleh manusia adalah menyesali perbuatan masa lalu.


“Menurut Sayang, Abang harus bagaimana?” tanya Alex meminta pendapat Renata.


“Hmm, menurut Nata. Abang memang harus perbaiki semuanya sebelum masih ada kesempatan,” sahut Renata.


“Tapi menurutku, mustahil Chester melakukan hal tidak baik pada Jenni karena waktu itu aku sendiri lihat bagaimana caranya melindungi Jennixia,” lanjut Renata lagi.


“Sayang kita tidak tahu di belakang bagaimana lagian sifat Chester semua orang sudah tahu, dia orangnya kejam berdarah dingin,” jelas Alex lagi.


Alex yakin karena di seluruh Kota A ini sungguh mengenali dirinya. Dia dijuluki mafia kejam karena tidak memandang bulu jika ada yang menganggu wilayahnya.


“Ya juga, baiklah Nata akan bantu Abang bicara dengan Ayah,” sahut Renata.


Alex mengusap kepala Renata dengan gemas, dia bersyukur istrinya sungguh memahami kondisinya saat ini.


Keesokan harinya di mansion Chester.


Jennixia bangun dari tidurnya dengan tubuh yang terasa begitu pegal. Setelah kejadian kemarin siang, Chester kembali mengulangnya pada malam hari.


Jennixia ingin menolak tapi itu adalah hak Chester. Walaupun bagian inti tubuhnya masih merasa perih, dia tetap melayani Chester semalam hingga Chester sendiri kelelahan.


Pagi ini Jennixia bangun tanpa ada Chester di sisinya, Jennixia menghembus nafas lega karena tidak perlu mengulangi pergumulan mereka.


Dengan langkah kaki yang tertatih-tatih karena menahan perih, Jennixia akhirnya berhasil masuk ke kamar mandi.


Matanya membulat sempurna apabila menatap dirinya di depan cermin kamar mandi.


“Iyaakkhh, ini perbuatan manusia atau binatang sih! Kenapa tubuhku dipenuhi tanda kebiruan ck,” ketus Jennixia.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2