
Jessi sadar dari pingsannya, dia coba melihat ke sekitarnya yang terlihat begitu gelap. Tidak ada cahaya sedikit pun.
Jessi mulai panik dia ingin berteriak dan meminta tolong tetapi mulutnya dilakban. Air mata mulai membasah pipinya. Rasa takut mulai berdatangan.
Pikiran Jessi mulai memikirkan hal-hal yang tragis.
‘Apa semua ini karena Alex, apa Alex membuat hal sehingga mereka menjadikanku korban untuk menangkap Alex. Huhh Alex, Ibu sudah berapa kali bilang padamu untuk berhenti dari dunia gelap ini. Semua orang akan terlibat jika kamu berbuat masalah,’ batin Jessi.
Masalah Jessi kaget melihat kehadiran Alex adalah karena Alex sudah berjanji akan menjauhi mereka dan tidak melibatkan mereka tapi akhirnya Alex memungkiri janjinya karena ada masalah yang Jessi tidak tahu.
Jessi juga tidak tahu bahwa Chester juga seorang pria yang bekerja dengan dunia gelap. Dan semua ancaman yang dia dapat ini bukan datang dari Alex tapi datang dari Chester.
Jessi coba menarik nafasnya untuk lebih tenang. Dia tidak mau sesuatu buruk terjadi pada kesehatannya karena tubuhnya masih saja lemah setelah operasi apalagi dia tidak pernah melakukan kemotrapi.
Walaupun setelah ini dia tidak tahu apa yang akan mereka lakukan pada dirinya.
‘Lex Ibu di sini, apa kamu tahu Ibu diculik,’ batin Jessi lagi. Jessi benar-benar berharap agar Alex menemuinya.
....
“Ibu!” teriak Jennixia yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya.
Chester ikut terbangun karena mendengar teriakan Jennixia.
“Kamu kenapa Jen?” tanya Chester terlihat panik dan cemas.
“Aku mimpi Ibu, Ibu seperti minta tolong Ches,” jawab Jennixia.
Chester langsung tertegun begini kuat hubungan darah antara Ibu dan anak. Tapi Alex sudah memberitahunya untuk jangan memberitahu Jennixia takutnya rencana mereka akan gagal karena Jennixia bisa saja bertindak di luar nalar mereka.
“Tidurlah, itu Cuma mainan tidur,” ucap Chester mencoba untuk menenangkan Jennixia.
“Tapi dadaku berdebar-debar mungkin sesuatu telah terjadi dengan Ibu,” ujar Jennixia dengan raut wajah khawatirnya.
“Atau kita telepon Ibu sekarang?” lanjut Jennixia lagi.
“Jangan sekarang sudah jam 2 pagi, kalau kamu telepon sekarang kamu akan menganggu Ibu yang masih enakkan tidur, kamu mau Ibu nanti tidak bisa tidur lagi setelah kamu gangguin?” jawab Chester kembali bertanya pada Jennixia.
“Tidak, hmm baiklah besok saja,” sahut Jennixia sedih.
Chester coba mengubah topik mereka agar Jennixia tidak terlalu memikirkan tentang Jessi. Tiba-tiba Chester melihat ke tubuh polos Jennixia, dia kembali teringat sebelum mereka tertidur tadi mereka sempat bertempur.
__ADS_1
‘Mungkin bisa jadikan cara agar Jenni tidak memikirkan Ibu. Maaf Jen, tapi aku dan Alex akan membawa Ibu kembali,’batin Chester.
Chester mulai memainkan tangannya di gunung berkembar Jennixia sehingga membuat Jennixia kembali ingin merasakan kehangatan dari suaminya.
Akhirnya fokus Jennixia teralihkan karena Chester tidak henti-henti mengulangi kegiatannya hingga 5 ronde.
Jennixia mulai tertidur kembali setelah jam 4 lewat. Tapi tidak dengan Chester. Dia menjaga Jennixia agar Jennixia tidak mengalami mimpi seperti tadi.
“Selamat tidur Sayang, semoga bibit unggul bisa tumbuh secepatnya di dalam sini,” ucap Chester lirih sambil mengusap bagian perut Jennixia.
‘Maaf Sayang tapi aku tidak ingin berjanji lagi. Aku takut saat aku janji aku tidak bisa menepatinya tapi aku yakin Ibu tidak kenapa-kenapa di sana, percayalah padaku dan Alex,’ batin Chester sambil mengecup dahi Jennixia.
.
.
.
.
.
Chester telah keluar dari kamar bersama dengan Jennixia sekitar jam 9 pagi. Tidak biasanya Jennixia terlambat bangun semuanya gara-gara Chester.
“Apa maksud kamu?” tanya Jennixia kepada Alex.
Jennixia belum terbiasa memanggil Alex dengan sebutan Kakak walaupun Alex memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Kakak jika berbicara pada Jennixia.
“Di luar sana banyak yang mengincarmu terutamanya Arviy karena dia dalang dari semua masalah ini,” jawab Alex.
“Arviy ingin menjebakmu dan setelah berhasil mendapatkan kamu, dia yakin Chester akan menjadi lemah karena keberadaanmu sudah berada di tangannya. Saat itulah dia akan menghancurkan Chester. Apa kamu sanggup kehilangan Chester?” lanjut Alex dengan akhirnya kembali bertanya kepada Jennixia.
Jennixia menatap ke arah Chester lalu menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak mau kehilangan Chester tapi aku takut jika Chester pergi mereka akan menyerang Chester lagi,” ucap Jennixia terlihat khawatir.
“Aku akan baik-baik saja Sayang, kamu harus ikut saran Alex di tempat persembunyiannya kamu akan aman. Nanti kamu akan di temani dengan Kak Renata dan keponakan kamu,” ucap Chester lembut sambil mengusap puncak kepala Jennixia.
“Kamu janji akan menjemputku nanti?” tanya Jennixia.
Chester terdiam dia menatap ke dalam mata Jennixia. Dia sudah tidak berani berjanji karena dia takuti tidak bisa menepatinya.
__ADS_1
“Sayang, maaf tapi aku tidak bisa berjanji. Aku takut saat aku berjanji aku tidak menepatinya lagi dan kamu akan membenciku, aku tidak mau itu. Tapi aku yakin aku akan datang menjemputmu lagi,” ungkap Chester dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Aku pegang ucapanmu,” sahut Jennixia lalu menghamburkan pelukannya ke arah Chester.
Chester mengusap perlahan punggung Jennixia agar Jennixia bisa tenang.
“Sudah ya, aku harus pergi sekarang takutnya mereka mengincar rumah Alex lagi,” ucap Chester lirih.
Jennixia terpaksa melepaskan pelukkannya lalu mengecup singkat pipi dan bibir Chester. Hal itu membuat Chester bersemangat lagi.
“Kita akan pergi sekarang,” ucap Chester pada Alex dan beberapa anak buah Alex.
Chester sudah menyuruh anak buahnya pulang dan kembali berjaga di kawasan mansion dan rumah sakit. Hal ini supaya tidak memancing para anak buaj musuhnya untuk mengetahui keberadaannya.
Alex akan menaiki mobil yang berbeda tapi mereka akan pergi bersama-sama ke tempat di mana Ibu Jessi berada.
Sebelum pergi Alex sempat menghantar Renata dan anak-anaknya masuk ke dalam ruang bawah tanah tempat persembunyian yang di maksudkan oleh Alex semalam.
Begitu pun dengan Jennixia ikut memasuki tempat itu lewat dinding kamar mandi di kamar Alex.
Alex berpamitan dengan sang istri dan anak-anak. Tidak lupa juga dengan Jennixia.
“Jen, Kakak selalu menyayangimu,” ucap Alex lalu mengecup dahi Jennixia.
Baru saja hendak menutup pintu Jennixia menarik baju Alex.
“Tunggu,” ucap Jennixia perlahan.
Alex menoleh ke arah Jennixia.
“Kenapa?” tanya Alex bingung.
Jennixia langsung menghamburkan pelukannya ke arah Alex.
“Cepat pulang Kak, aku dan Kakak ipar juga keponakanku selalu menunggu Kakak,” ucap Jennixia lirih tapi mampu di dengar oleh Alex dan Renata.
Renata tersenyum bahagia melihat pemandangan ini. Hal ini sering di nanti-nantikan oleh Alex dengan sabarnya dan akhirnya terjadi juga.
Alex meneteskan air mata bahagianya, senyumannya mengembang tidak tahu hendak berkata apa. Dia hanya mengangguk dan mengusap punggung perlahan punggung Jennixia.
‘Terima kasih karena beri Kakak kesempatan. Kakak janji akan pulang bersama Ibu dan suamimu. Kita semua akan hidup bahagia,’ batin Alex.
__ADS_1
Bersambung...