
Chester terus membuat Jennixia hanyut dalam gerakannya. Karena ketakutan dalam dirinya muncul di saat dia memikirkan tentang kedua orangtuanya yang akan datang.
Chester sudah mulai merema* gunung berkembar Jennixia.
"Jen, izinkan aku meminta hakku sebagai suamimu."
Deg!!
Jennixia langsung mundur selangkah, ini adalah hal yang belum bisa dia bayangkan apalagi umurnya yang baru saja 18 tahun.
"Tapi...bukankah ini terlalu cepat?" Jennixia mulai gugup.
"Aku tidak bisa menunggu terlalu lama." Jawab Chester dengan tatapan yang buas.
"Kita sudah sah Jen dan aku berhak." Lanjut Chester.
Chester perlahan melangkah menuju ke arah Jennixia. Pikirannya dia harus berhasil atau Jennixia akan meninggalkannya setelah masalah baru berdatangan.
Jennixia terus mundur sehingga kakinya menyentuh ranjang. Dia harus mencari cara untuk mengelak dari Chester. Tanpa sadar Chester sudah menolaknya jatuh di atas ranjang.
Bugh!!
Mata Jennixia melotot karena Chester berada di atasnya saat ini.
"Tolong aku belum siap, aku...jangan lakukannya." Jennixia mulai merayu. Air matanya telah mengalir.
Chester mengacuhkan rayuan Jennixia, dia terus memaksa melepaskan baju Jennixia hingga terdengan bunyi robek. Chester tersenyum miring karena pakaian atasan Jennixia sudah terlepas dari tubuhnya.
Dia langsung menyambar gunung Jennixia dan tangan kanannya mencoba melepaskan kancing celana Jennixia.
"Hisk hisk.. Tolong jangan lakukan." Jennixia mulai terisak karena ketakutan.
Chester bukan seperti dirinya yang selalu lembut terhadap Jennixia. Dia berusaha menarik paksa celana Jennixia hingga lagi-lagi terdengar bunyi robekan.
Chester berpindah ke bagian leher Jennixia agar dia bisa tenang, tapi tangisan Jennixia semakin kuat dan menyakitkan telinga Chester.
"Berhenti Chester!" Jerit Jennixia sambil terisak.
Chester terdiam dia memberhentikan pergerakannya, lalu bangun dari posisinya. Chester melihat Jennixia dengan tatapan sedih dan kecewa.
"Maaf." Chester meninggalkan Jennixia dikamar itu.
Jennixia masih terisak, dia takut hingga seluruh tubuhnya gementar. Dia tidak menyangka Chester mempunyai sisi seperti itu.
....
Chester melepaskan rasa yang berkecamuk dalam kepalanya di luar Villa. Dia kembali mengingat wajah Jennixia yang ketakutan.
"Sia* apa yang sudahku perbuat!" Geramnya. "Semua ini gara-gara Mama dan Papa, ck awas saja kalian jika Jennixia memilih meninggalkanku." Lanjutnya lagi dengan tatapan nyalangnya.
Flashback On..
__ADS_1
Setelah selesai membersihkan diri, ponsel Chester berdering dan dia segera mengambilnya karena takut Jennixia akan terbangun.
Chester membawa ponselnya keluar dari kamar lalu dilihatnya siapa yang meneleponnya.
Tertulis dilayar ponselnya "Eild Mc Cloud", Chester berdecih lalu mengangkat panggilan teleponnya.
"Hmm."
"Tidak bisakah kau menyapa Papa dengan menanyakan kabar." Sahut Eild dari seberang sana.
Chester mengindahkan ucapan Eild, dia malas ingin berbasa basi.
"Untuk apa meneleponku?" tanya Chester dengan suara dingin.
Dari seberang sana Eild tampak menggelengkan saja kepalanya menghadapi anak laki-lakinya ini.
"Kau tidak berubah sama sekali, kenapa kau bisa menjadi sedingin ini, salahkah jika Papa meneleponmu." Sahut Eild.
"Kalau tidak ada yang penting, aku matikan saja lagian aku sibuk."
"Cih, Papa dan Mama akan pulang ke sana lusa. Oh ya persiapkan dirimu karena Liana calon tunanganmu akan ikut kami pulang bersama kami untuk meresmikan pertunangan kalian."
"Ck! Jangan mengaturku sesuka kalian! Aku tidak akan bertunang dengan pilihan kalian."
"Ingat Chester kalau kau menolak pertunangan ini kondisi kesehatan Mama akan terancam lagi!" Tegas Eild memancing nyali Chester.
"Teruskanlah membuatku dibawah perintah kalian!" Ucap Chester dengan nada tinggi.
Jika saja Chester menolak Mamanya akan diserang sakit jantung. Dari situlah Chester terpaksa mengikuti semua kemauan mereka.
Chester membanting ponselnya ke arah sofa ruang tamu, dia merasa geram karena sampai hal pribadinya mereka yang aturkan.
Chester kembali teringat Jennixia.
"Bagaimana dengan Jenni? Kalau Mama tidak setuju dan Mama drop lagi!" Ucapannya sendiri.
Chester di buat mondar mandir, mencari solusinya agar Jennixia bisa terus bersamanya, dia pasti Papa dan Liana akan menggunakan penyakit Mamanya untuk membuat Jennixia pergi.
Flashback End...
....
Sudah semalaman Arviy menunggu laporan tentang Jennixia tapi anak buah yang di sewa itu belum memberikan laporan yang jelas.
Arviy menggapai ponselnya dan menekan panggilan keluar ke nomor Alex. Cukup lama berdering tapi Alex tidak menjawabnya.
"Baji**an ini pergi mana lagi." Gerutunya lalu menelepon kembali nomor Alex.
Panggilan yang ke 3 barulah Alex menjawab. Arviy langsung menyemburkan emosinya.
"Hei, baji**an tidak bisakah kau mengangkat cepat ponselmu!" Teriaknya.
__ADS_1
"Sudah aku katakan sia**n aku sibuk 2 hari ini, kenapa kau terus mengangguku!" Sahut Alex tidak kalah dengan emosi Arviy.
"Huft, aku cuma mau kau peringatkan anak buahmu kalau kerja itu yang benar jangan sampai sisa 5 milliar itu aku batalkan!" Ancam Arviy langsung mematikan ponselnya secara sepihak.
"Cih majikan dan anak buah sama-sama tidak berguna, hanya tau makan uangku saja." Geramnya.
Di tempat Alex.
Alex mendengus kasar, rahangnya menegang mendengar ancaman Arviy.
"Lakukan itu Arviy atau mungkin kau yang akan aku hancurkan!"
Alex masih saja sibuk dengan perusahaan kecilnya, dia sedang mengurus kerjasama dengan perusahaan cabang Chester agar bisa mengorek semua rahasia Chester lewat karyawannya.
Tujuan Alex saat ini sudah tidak tertumpu kepada Chester tetapi sudah beralih kepada Jennixia, dia harus bertemu dengan adiknya itu dan membawanya pergi demi keselamatan adiknya.
"Jen, tunggu kakak ya." Gumamnya lirih.
...
Kembali ke Villa.
Pagi menerpa, Jennixia masih pulas dalam tidurnya dan Chester masih berada di kamar yang berbeda.
Chester telah lama bangun dari tidur yang tidak senyenyak Jennixia, pikirannya masih saja berkecamuk. Chester keluar dari kamarnya untuk berpesan pada pelayan untuk membantu Jennixia bersiap karena siang ini mereka akan pulang.
Chester terpaksa mempercepatkan kepulangan mereka, semuanya karena kedua orangtuanya. Chester kembali menunggu di kamarnya setelah selesai bersarapan tanpa menunggu Jennixia.
Jennixia terbangun setelah merasa perutnya mulai bernyanyi kelaparan karena sudah jam 11 pagi .Dia bangun lalu menuju ke kamar mandi.
Jennixia melihat wajahnya di cermin, matanya terlihat sembab karena dia menangis semalaman.
"Bengkak mataku sangat terlihat. Aku harus minta maaf padanya, jangan sampai dia tinggalin aku." Ucapnya.
Awalnya dia menangis karena takut akan Chester tapi setelah menunggu sehingga jam 10 malam, Chester tidak kembali ke kamar Jennixia mulai merasa bersalah. Tangisan yang sudah mereda kembali bertambah kuat.
"Chester di mana?" tanya Jennixia kepada pelayan yang terlihat berdiri di dekat meja makan.
"Tuan ada dikamar Nona." Jawab salah satu pelayan itu.
"Dia sudah makan? atau dia ada pesan sesuatu kepada kalian?" tanya Jennixia lagi sambil mulai menyendok makanan masuk ke dalam mulutnya.
"Sudah Nona, dan kata Tuan sebentar Nona harus bersiap karena akan pulang hari ini."
"Bukan besok?"
"Bukan Nona tapi hari ini."
"Ehm apa dia begitu marah karena semalam." Gumam Jennixia tapi masih bisa di dengar oleh kedua pelayan itu.
Bersambung...
__ADS_1