
Mei menatap sinis ke arah Mary sambil membantu Jennixia untuk berdiri.
“Nona buat apa sih?” tanya Mei sambil melihat penampilan Jennixia yang terlihat kotor dari atas hingga bawah.
“Hehh, aku lagi belajar dengan Mama untuk jadi istri...” ucapan Jennixia terhenti saat Mary tiba-tiba berbicara.
“Kan sudah mama bilang jangan bersihin kolam, kamu sih keras kepala. Lihat penampilanmu saat ini tidak kurang seperti pelayan rendahan,” ucap Mary lalu pura-pura membersihkan pakaian Jennixia.
Mei menyipitkan matanya, seperti dia telah mengerti situasi Jennixia.
“Nona ayo,” Mei segera menarik tangan Jennixia .
“Eh tunggu tapi ini bagaimana?” Jennixia menunjuk dirinya yang basah dan kotor.
Sebenarnya Jennixia turut kesal dengan Mary karena menyalahkan dirinya padahal awalnya tadi Mary yang menyuruhnya dengan alasan menjadi istri berguna.
Entah kenapa perasaan Jennixia tiba-tiba merasa aneh terhadap sikap Mary. Seperti Mary sedang merencanakan sesuatu tapi dia sendiri tidak tahu apa itu.
“Tidak apa, kita ke kamar Nona aja dan Nona langsung ganti,” jawab Mei.
“Tapi Chester sedang tidur,” ucap Jennixia lagi.
“Oh saya kira Tuan sudah berangkat kerja, maaf Nona. Kalau begitu Nona bersih-bersih di kamar dulu nanti saya tunggu di luar saja,” kata Mei.
“Baiklah,” sahut Jennixia.
Mei menghantar Jennixia kembali ke kamarnya dan dia berjaga di depan pintu kamar agar Mary tidak ada alasan untuk menganggu Jennixia.
‘Pasti ini rencananya lagi’ ucap Mei dalam hati.
__ADS_1
Mary melihat kepergian Jennixia dan Mei, dia mengepalkan tangannya karena rencananya gagal untuk membuat Jennixia menjadi pembantu.
“Tunggu saja aku akan buat kau keluar dari sini,” ucap Mary lirih.
....
DI tempat lain.
Jasad anak buah dari kelompok mafia Bad Devils sudah dikirim oleh beberapa anak buah Chester dalam satu kotak kayu besar.
Awalnya mereka kaget karena muncul kotak kayu berukuran besar tiba-tiba berada di depan pintu markas mereka.
Setelah mereka membukanya keluarlah mayat anak buah Bad Devils yang berjaga di wilayah barat milik Chester kemarin.
Ketua Bad Devils merasa sangat murka, dia mengepalkan kedua tangannya hingga jari kukunya memutih.
Ketua Bad Devils langsung saja menghubungi Sean dan Arviy untuk mengadakan pertemuan lagi. Kali ini mereka harus merubah rencana mereka untuk menjebak Chester.
Setelah selesai bertelepon dengan Sean, ketua Bad Devils itu menyuruh anak buahnya yang lain untuk mengubur mayat-mayat anak buahnya yang telah mati dan mereka akan melakukan acara pengebumian secara tertutup.
Sean dan Arviy datang ke markas Bad Devils. Sean masuk dengan wajah tenang dan tidak merasa takut sama sekali karena dia percaya Bad Devils tidak akan mengkhianati mereka.
Arviy pula mulai keringat dingin karena baru kali ini dia mendatangi markas mafia. Biarpun dia telah berkerjasana dengan Alex tapi tetap saja dia tidak pernah masuk ke markasnya.
Mereka ditunjukkan jalan oleh asisten ketua Bad Devils.
“Masuklah Tuan sudah menunggu di dalam,” ucap asisten itu.
“Terima kasih,” sahut Sean.
__ADS_1
Sean menjadi yang pertama masuk ke ruangan itu dan di susuli oleh Arviy. Walaupun terlihat ragu Arviy tetap saja memberanikan diri.
“Hei Sean selamat datang,” ucap sang ketua Bad Devils yang dipanggil Troy.
“Hai Troy lama tidak bertemu,” ucap Sean lalu duduk kursi yang telah di sediakan.
“Hahaha, oh ini pasti Arviy ya?” tanya Troy sambil melihat Arviy.
“Selamat berkenalan Tuan Troy,” ucap Arviy sambil mengulur tangannya.
“Salam kenal juga, panggil Troy saja,” sahut Troy menerima uluran tangan Arviy.
Setelah berbasa basi akhirnya Troy langsung saja ke inti perbicaraan. Rupanya Troy sangat marah karena Chester telah menumpaskan anak buahnya dan ada beberapa yang telah ditangkap.
“Jadi seterusnya bagaimana?” tanya Troy.
“Tidak ada cara lain, kita akan menculik wanitanya,” sahut Sean dengan tersenyum miring.
“Wow sejak kapan Chester punya wanita? Aku baru mendengar ini,” tanya Troy yang terlihat kaget karena Chester sudah mempunyai wanita padahal dulunya dia dikatakan dingin terhadap wanita.
Sean menceritakan tentang Jennixia kepada Troy dan terlihat sekali Troy sangat berminat untuk mengenali wanita Chester.
Senyuman Troy membuat Arviy bergidik ngeri apalagi bekas luka di wajah Troy menambah kesan jahat pada wajahnya.
“Kabarkan aku jika kalian ingin melancarkan rencannya,” ucap Troy sambil tersenyum miring.
“Ok, jangan khawatir kita menunggu sehingga wanita itu keluar dari rumah tanpa Chester,” sahut Sean.
Bersambung...
__ADS_1