
Chester memasuki mansion dengan mendorong kursi roda milik Ibu Jennixia. Wajahnya tidak luput dari senyuman.
Para pelayan dan pengawal menunduk hormat setelah kedatangan Chester dan Ibu Jennixia. Mary yang kebetulan berada di ruang tengah itu merasa aneh dan menatap sinis ke arah wanita paruh baya itu.
“Dia pasti Ibu dari wanita itu. Sudahku duga wanita sia*an itu benar-benar ingin menguasai harta anakku ck,” gumamnya dalam hati.
Mary sengaja mendekati Chester dan Ibu Jennixia dengan gaya yang sok angkuh.
“Siapa dia Chester?” tanya Mary yang mulai melipat tangannya didadanya.
Ibu Jennixia tersenyum lalu mengulurkan tangannya.
“Salam kenal, saya Jessi, Ibu dari Jennixia,” ucap Ibu Jessi.
Mary menatap sinis ke arah Jessi, dia tidak menyambut uluran tangan Jessi, dia malah memutarkan bola mata.
“Ehem, Ches kenapa tidak menjawab pertanyaan mama?”
Jessi malah menarik kembali setelah melihat reaksi Mary terhadap dirinya, dia tidak tau siapa wanita ini tapi kalau mendengarnya menyebut dirinya sebagai mama, Jessi yakin wanita di depannya ini adalah ibu dari Chester.
Chester tidak mengindahkan pertanyaan Mary, dia malah mendorong Jessi masuk le dalam lift dengan wajah yang datar.
Jessi tidak ingin bertanya apa-apa, dia akan menunggu Chester yang memberitahunya sendiri karena dia sadar strata sosial mereka cukup berbeda.
Chester membawa Ibu mertuanya memasuki kamar yang pernah di tempati oleh Jennixia, istimewa sekali padahal Mary saja tidur di kamar tamu.
“Ibu istirehatlah, nanti Chester bawa Jenni ke sini, “ ucap Chester lembut.
“Baiklah, terima kasih nak Chester,” jawab Jessi.
Chester mengangguk lalu meninggalkan Jessi di dalam kamar itu sendirian. Chester menuji ke kamarnya dengan wajah yang nakal.
Chester ingin menggoda Jennixia karena sejak kepergiannya tadi Jennixia masih belum bangun dari tidur.
Setelah memasuki kamar, dengan langkah yang perlahan Chester menuju ke arah ranjang. Terlihat Jennixia sedang menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut.
“Hehh, “ Chester mulai berpikiran nakal.
CHester masuk ke dalam selimut lewat kaki Jennixia, dia merayap dan kini berada di atas tubuh Jennixia.
“Oh, tadi kau sempat ganti pakaian menjadi pakaian terbuka.” Ucap Chester lalu mengecup lembut bagian gunung berkembar Jennixia.
Chester mulai menyentuh gunung berkembar Jennixia tapi dia merasa aneh karena gunungnya terasa penuh ditangannya.
“Sejak kapan gunung ini membesar padahal tadi di mobil...” Ucapan Chester terhenti lalu dia menjauhkan dirinya secara kaget.
Chester menarik selimut yang dikenakan Jennixia tapi seperti yang dia tebak, bahwa dia telah dijebak.
__ADS_1
“SIA**N KAU BUAT APA DI KAMAR INI HAHH?!” Chester mulai membentak Liana.
Ya Liana yang menyamar sebagai Jennixia tadi dan berani berbaring di atas ranjang milik Jennixia dan Chester.
“Kau menodaiku, hisk hisk...” Liana menangis bukan karena bentakan Chester tetapi ingin mendramatiskan keadaan.
“Cuih!” Chester meludah ke arah Liana.
Sebenarnya Liana kaget karena perlakuan Chester terhadap tapi dia harus bertahan agar Chester bisa lunak dan bertanggungjawab terhadapnya, walaupun bukan begini yang dia harapkan tapi kesempatan ini tidak bisa dia sia-siakan.
“Kau harus bertanggungjawab Ches, kau mencium gunung berkembarku dan kau menyentuhnya, hisk hisk huaaa...” tangisan Liana makin kuat.
Plakk!
Sebuah tamparan tiba-tiba mendarat dipipi Liana. Chester kaget dan matanya membulat sempurna karena Jennixia tiba-tiba muncul dan melepaskan satu tamparan yang kuat.
“Hei gunung gede! Kamu dengar ya, jadi perempuan itu jangan jual murah apalagi main sembunyiin Istri sah dibalik lemari.” Ketus Jennixia dengan raut wajah yang memerah.
Masih tidak merasa puas, Jennixia menarik rambut Liana dengan kuat lalu di seretnya Liana untuk turun dari ranjang itu hingga terdengar bunyi jatuh yang kuat.
Bughh!
“Akhh, sakit tau!” Pekik Liana.
“Belum lagi selesai,” sahut Jennixia yang menarik kembali rambut Liana dan berjalan menuju ke luar kamar.
Mary langsung berlari ingin menyerang Jennixia tetapi Nera sudah berada di samping Jennixia membuat Mary tidak bisa bergerak karena mengingat bahwa Nera mempunyai senjata berbahaya.
“Tante tolong, Chester tolong aku.” Ucap Liana yang memegang rambutnya yang masih digenggam Jennixia.
“Kamu lepaskan Liana!” Teriak Mary di tempatnya.
Jennixia tersenyum miring lalu melepaskan dengan kasar rambut Liana, sehingga membuat Liana tersungkur di lantai.
Jennixia mendekati Mary dengan wajah yang menyeramkan. Lalu berbisik ke telinga Mary.
“Aku tahu kau hanya berpura-pura dan tadi kau yang mengurungku, ck aku akan buka kebobrokanmu Bu,” ucap Jennixia dengan penuh penekanan.
Chester hanya menjadi penonton, dia tidak menyangka sisi Jennixia di saat marah sungguh menyeramkan dan membuatnya merinding. Dia tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi padanya setelah selesai dengan urusan Liana dan Mary.
Lamunan Chester membuyar saat Liana memanggilnya dan mengatakan hal yang telah dia lakukan tadi.
“Chester! Kau pria tidak berguna, kau sudah mencium buah dadaku dan merema*nya lalu kenapa kau tidak membelaku dari wanita jalan* ini.” Teriak Liana dengan air mata yang mengalir sederas air sungai.
Jennixia menoleh ke arah Chester setelah mendengar ucapan Liana, dia menatap Chester dengan tatapan tajam. Mary mengambil kesempatan ini untuk memprovokasi Jennixia.
“Lihat, anakku telah memilih Liana ketimbang dirimu haha siap angkat kaki dan pergilah menjauh,” bisik Mary dari arah belakang.
__ADS_1
Jennixia tahu Chester bukan seperti itu tapi dia masih tetap tidak menerima jika Chester telah menyentuh Liana atau wanita lain selain dirinya.
Jennixia berjalan menuju ke arah Chester yang terlihat tegang.
“Sayang dengarkan aku, aku tidak tahu dia yang berbaring di tempat tidur kita tadi, jadi tolong dengarkan aku ya,” ucap Chester agak gugup lalu menatap ke arah Liana dengan tatapan tajam.
“Aku pastikan kau mati setelah ini,” kata Chester lagi mengancam Liana.
Kini Jennixia berhadapan dengan Chester, tatapan Jennixia seperti ingin menerkam Chester dan menghabisinya. Jennixia mengambil tangan kanan Chester lalu digigit sekuat-kuatnya.
“Aaaaarrrgghhhh” teriak Chester karena kesakitan.
Chester tidak banyak berkata apa-apa karena dia tahu Jennixia masih dalam mode marahnya. Setelah melepaskan tangan Chester dari gigitannya kini Jennixia menuju ke arah Liana.
Jennixia menyeringai, lalu berteriak.
“Kalian cepat bawakan gunting!”
Para pelayan yang berada berdekatan langsung berlari masuk ke ruang dapur basah untuk mengambil gunting.
“Ini Nona.” Ucap salah satu pelayan mansion dan memberikan Jennixia gunting.
Jennixia berjongkok lalu berkata pada Liana, “Kau tidak malu berpakaian seperti ini? Huhh biar sekalian telan**ng saja.”
Jennixia menggunting baju Liana hingga bagian dadanya terbuka dan gunung berkembarnya menyembul keluar.
“Opss, sengaja biar sekalian kalau mau menggoda.” Celetuk Jennixia.
“Chester kembalilah ke kamar atau masih mau aku tambah?” Seru Jennixia kepada Chester yang berada di belakangnya.
Dia tidak mau Chester merusakkan matanya dengan melihat gunung berkembar Liana.
Chester mengerti maksud Jennixia dia langsung cepat menaiki anak tangga dan menuju ke kamarnya.
“Lebih baik aku tunggu di kamar saja.” Gumam Chester.
“Wanita gila kau mempermalukanku!” Bentak Liana yang berusaha menutupi buah dadanya.
“Eitss, aku hanya memenuhi keinginanmu,” sahut Jennixia.
Masih tersisa rasa emosinya, kini Jennixia mulai menarik rambut Liana dan mengguntingnya secara acak-acakan lalu tertawa.
“HAHAHA!”
“Lihatlah dirimu sudah seperti wanita murah**,” lanjut Jennixia lagi.
Bersambung...
__ADS_1