
Jennixia menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa sehingga kaki kirinya mengalami keseleo dan Jennixia terjatuh langsung ke lantai dasar.
Bughhh.
Mei yang sedari tadi menunggu Jennixia di lantai dasar melihat Jennixia hampir berlari menuruni tangga. Mei segera mempercepatkan langkahnya menuju ke tangga.
Dan tanpa di duga, Jennixia jatuh dan Mei sempat menyambutnya tapi karena tubuh mereka yang hampir sama akhirnya Jennixia jatuh menindis tubuh Mei.
Mei meringgis kesakitan membuat Jennixia sadar akan kelakuannya yang mengakibat seseorang bisa cedera karena melindunginya.
"JEN!!" teriak Chester setelah keluar dari lift dan tergopoh-gopoh menuju ke arah Jennixia.
Rupanya setelah dia berteriak memberi peringatan tadi, Chester cepat-cepat memasuki lift agar bisa sampai ke lantai dasar sebelum Jennixia.
Tapi rupanya Jennixia mengalami kecelakaan sewaktu menuruni tangga, Chester sungguh menyesal tidak menyusul istri kecilnya menuruni tangga.
Chester membantu Jennixia bergerak agar tidak menindis tubuh Mei lagi. Dengan perlahan Chester memapah Jennixia tapi Jennixia meringgis ke sakitan membuatnya kembali duduk ke lantai.
"Mei...Mei maafkan aku Mei." Ucap Jennixia sambil mengoyangkan tangan Mei.
"Ssstt, saya tidak apa-apa Nona." Jawab Mei yang berusaha untuk duduk.
Dua pelayan membantu Mei untuk duduk, walaupun di saat Mei berhasil duduk dia merasakan ngilu di bagian bokong dan punggungnya.
"Mei, kita ke rumah sakit aku tau kamu sedang menahan sakitnya." Ujar Jennixia yang terlihat sangat khawatir.
"Kau juga harus ke rumah sakit sayang." Imbuh Chester.
Jennixia menatap tajam ke arah Chester, wajah kembali terlihat marah.
"Ini semua gara-gara kamu." Ucap Jennixia dengan marah yang mengebu-gebu.
Mary, Eild dan Liana mendengar keributan itu langsung keluar untuk melihat apa yang terjadi. Setelah Jennixia menyalahkan Chester, Mary langsung maju dan mengambil kesempatan.
Plakk...
"Ini yang dinamakan istri? Kau terlalu kurang ajar dengan Chester, sekarang lebih baik kau pergi aku tidak sudi mendapat menantu sepertimu." Mary menampak wajah Jennixia dan membentaknya.
Jennixia merasa pipinya sungguh panas akibat tamparan mama mertuanya itu, membuat kemarahan semakin membuak-buak.
__ADS_1
"Hei! Kau kira aku mau jadi menantumu hahh NGGAK SUDI! Lansia kayak bu Mary ni yang taunya berpura-pura sakit seharusnya berada di rumah sakit jiwa saja." Sahut Jennixia tidak kalah sinisnya.
Mary terkejut mendengar kata berpura-pura sakit. Tapi dia berusaha menutupinya dengan memarahi Chester.
"Ches, apa ini jenis wanita yang kamu suka hahh? Jauh beda dengan Liana yang bersifat sopan santun, wanita ini tidak lebih seperti wanita bar-bar dan jal**g di luar sana." Ucap Mary kepada Chester sambil menyindir sifat Jennixia.
Chester menarik nafas geram, baru saja dia mau berbicara. Jennixia lagi-lagi menjawab ucapan Mary.
"Wahh dasar eee memang lansia sudah tidak bisa bedakan sifat sopan santun itu bagaimana, ckckck." Seru Jennixia.
"Kalau wanita sifat sopan santun, berarti dia tidak akan berani menggangu rumahtangga orang apalagi masuk ke ruang kerja suami orang dengan pakaian yang kurang kain. Sama saja wanita begitu kurang lebih seperti pela*ur," lanjut Jennixia dengan wajah sinisnya.
Eild yang tidak tahan dengan mulut Jennixia pun mencari sesuatu untuk dilemparkan ke arah Jennixia. Sehingga dia mendapatkan pot bunga kaca yang ada di dekat pintu lift.
Eild mengambilnya dan langsung saja meleparnya ke arah Jennixia.
"Aaaaaaa." Teriak Jennixia histeris apabila melihat darah mengalir di atas lantai.
"Mei, Meeeii."
Rupanya Mei sadar dengan pergerakan Eild tadi, setelah Eild mengambil pot bunga itu dan melemparnya Mei langsung saja mendekat ke arah Jennixia dan menjadikan kepala dan tubuhnya untuk melindungi Jennixia.
"Anda ingin membunuh istriku?" tanya Chester dengan wajah yang memerah.
"Aaaaaa." Mary berteriak karena melihat Chester menodongkan senjata ke arah Eild.
"Kamu gila ya Ches, gara-gara wanita ini kamu mau menodongkan senjata ke arah Papamu, sadarlah jangan diperbodohkan wanita ini." Ucap Mary yang terlihat panik.
Liana yang tadinya merasa marah kini nyalinya kembali menciut karena wajah Chester sudah tidak biasa-biasa lagi. Kemarahan dan kebencian terpancar pada raut wajahnya.
Liana berjalan mendekati Mary dan mengenggam tangan Mary agar bisa tenang.
Chester mengacuhkan ucapan Mary tapi dia terusik dengan tangisan Jennixia yang terdengar sungguh menyedihkan.
"Pengawal tahan pria ini, jangan sampai terlepas." Seru Chester. "Dan kalian silakan pergi dari hadapanku sekarang," lanjutnya menatap Mary dan Liana.
"Tidak! Aku ini mamamu Ches, kau tidak berhak mengusir mama, kau bisa jadi anak durhaka hush hush." Sahut Mary dengan dada yang turun naik.
"Lebih baik kalian pergi! Sebelum aku jadi benar-benar durhaka." Ancam Chester.
__ADS_1
Liana terpaksa menarik Mary dan memaksanya masuk ke dalam kamar mereka. Dan Eild di bawa pergi oleh pengawal Chester.
Chester mendekati Mei dan Jennixia yang sedang berpelukan. Tangisan Jennixia tidak berhenti karena Mei sudah mulai hilang kesadarannya.
"To...long...baw..wa Mei ke..rumah sakit hisk hisk." Ucap Jennixia pada Chester apabila melihat Chester berada di dekatnya.
Chester langsung saja memanggil pengawalnya yang berada di situ untuk mengendong Mei masuk ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit.
Lalu Jennixia dia gendong oleh Chester, juga di bawa ke dalam mobil untuk melakukan pemeriksaan kakinya di rumah sakit.
Jennixia yang terus melihat ke arah mobil yang dinaiki oleh Mei, air matanya tidak berhenti mengalir. Chester terus mengusap puncak kepalanya.
....
Alex kaget mendengar laporan yang di sampaikan oleh anak buahnya. Dia bergegas memanggil Renata.
"Nata sayang..." Panggilnya setelah memasuki dapur dan mendapat istrinya sedang membakar roti.
"Ya? Kenapa Abang terlihat cemas." Renata ikut panik setelah melihat suaminya begitu cemas.
"Jenni, dia masuk rumah sakit." Jelasnya kepada Renata.
"Hahh?" respon Renata yang terlihat begitu kaget.
Wajah mereka kini terlihat panik dan cemas. Renata menyarankan kepada Alex untuk menyusul ke rumah sakit agar mereka bisa memastikan kondisi Jennixia.
Alex setuju, dia membawa 4 orang untuk menemaninya dan untuk mencari tahu tentang kondisi Jennixia.
Setelah sampai di rumah sakit, Alex mengenakan masker wajah dan kaca mata hitam, Renata hanya menggunakan topi hitam. Para pengawal mengenakan pakaian biasa dan ada yang sudah berhasil memakai pakaian cleaning service.
Renata duduk di kursi panjang di dalam rumah sakit dan Alex duduk di dalam mobil agar tidak menimbulkan kecurigaan anak buah Chester.
Dia serahkan semuanya kepada istri dan anak buahnya untuk memastikan kondisi Jennixia.
"Jen, kakak harap kamu baik-baik saja." Gumam Alex dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
Alex meremas stir mobil, rasa sakit hati kepada Chester makin membuncah di dalam dadanya.
Bersambung...
__ADS_1