
Siapa saja akan terkejut melihat sifat Jennixia saat ini, sangat bertolak belakang dengan sifat biasanya.
“Rupanya Nona kalau marah mengerikan juga,” ucap salah satu pelayan yang berada di situ.
“Shhttt diamlah awas Nona dengar,” sahut temannya lagi.
Setelah merasa puas, Jennixia membanting gunting dia pegang lalu menatap Liana dengan wajah datar. Jennixia meninggalkan Liana di tempat itu dan langsung menaiki anak tangga untuk kembali ke kamarnya.
Chester telah melihat rekaman cctv dari awal sehingga Liana berpura-pura menyamar menjadi Jennixia.
“Nekat sekali wanita mura**n ini cih,” gumam Chester sambil menatap tajam layar tabnya.
Ceklek..
Dummpp!
Jennixia masuk ke kamar dan menatap Chester yang juga menatapnya. Jennixia mengalihkan pemandangannya dan menuju ke ranjang mereka.
Jennixia membuka kain sprei, kain bantal dan selimut, dia memasukkannya ke dalam keranjang pakaian kotor lalu masuk ke walk in closet.
Jennixia membuka lemari khas untuk kain sprei, kain bantal dan selimut. Dia mengambil corak bunga-bunga berwarna merah putih lalu menentengnya keluar.
Dengan telaten Jennixia mengenakan sprei baru di atas ranjangnya. Tangannya berhenti bergerak ketika Chester menegurnya.
“Jen, biarkan pelayan yang menggantikan semua, biar mereka yang...” ucapan Chester berhenti apabila Jennixia menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam seperti elang.
__ADS_1
Chester memilih mengatupkan bibirnya dengan erat, lalu kembali menunduk dan menatap tab miliknya.
Jennixia melanjutkan pekerjaannya hingga selesai. Setelah selesai, Jennixia merebahkan tubuhnya di atas ranjang mereka. Pikirannya mulai tenang, karena mengingat Chester tidak membela Mary maupun Liana.
Chester baru teringat tentang Ibu Jennixia, dia bangun dari tempat duduknya lalu menuju ke arah Jennixia.
“Jen...” panggil Chester dengan nada lembut dan perlahan.
Jennixia menoleh ke arah Chester dengan tatapan yang redup.
“Hmm?”
“Maafkan aku, aku tidak tahu jika tadi itu bukan kamu, aku sudah mencuci tanganku dan bibirku juga sudah aku gosok dengan sabun steril.” Terang Chester dengan memajukan bibirnya ke depan.
Baru Jennixia sadar bibir Chester terlihat sedikit bengkak dan merah. Jennixia menjadi serba salah. Dia menarik Chester perlahan agar berbaring di sampingnya.
Chester merasa senang karena Jennixia tidak larut dalam amarahnya. Dia langsung saja menarik tubuh Jennixia untuk masuk ke dalam pelukannya.
“Kejadian ini takkan berlaku lagi aku janji,” ucap Chester sambil mengusap punggung Jennixia.
“Hmm,” sahut Jennixia.
Jennixia mencari-cari posisi yang nyaman di dalam pelukan Chester, tapi gerakan berhenti setelah Chester menjauhkan tubuhnya dari Jennixia.
Jennixia menatap bingung, dahinya mulai mengerut, karena tidak biasanya Chester menjauhinya saat sedang berpelukkan.
__ADS_1
“Aku ada kejutan untukmu sayang, ayo.” Chester menarik tangan Jennixia lembut.
“Ke mana?” tanya Jennixia bingung karena tiba-tiba dapat kejutan.
“Nanti kamu tahu, ikut saja ya,” sahut Chester sambil mengandeng tangan istri kecilnya.
Kini mereka keluar dan menuju ke kamar di sebelah, kamar yang pernah Jennixia tempati dulu. Chester dengan wajah sumringah membuka pintu kamar tapi tidak lupa dia mengetuknya dulu.
Jennixia menjadi semakin penasaran tapi tidak banyak bertanya, dia hanya mengikuti langkah Chester, sehingga mereka berada di depan ranjang kamar itu.
Mata Jennixia membulat dan mulai berkaca-kaca, dia kira ini adalah mimpi karena dia ingat tadi dia masih berada dalam pelukan Chester.
“Sayang...” panggil Jessi kepada Jennixia.
“Ini pasti mimpi,” gumam Jennixia.
Dan seperti biasa untuk memastikan ini mimpi atau tidak, Jennixia mencubit lengan Chester dengan kuat sehingga Chester meringgis kesakitan barilah Jennixia lepaskan.
“Bukan mimpi?” tanyanya pada Chester.
Chester hanya menggelengkan kepalanya, lalu Jennixia kembali menoleh ke arah Jessi, dia melompat menaiki ranjang Julie dan menghamburkan pelukan.
“Ibu-Ibu Jenni rindu Ibu, huuuuaaaa hisk hisk...” tangisan Jennixia pecah.
Jessi mengusap punggung Jennixia agar anaknya itu tenang. Sungguh dia menyesali pernah menikahi duda anak satu itu, keluarganya menjadi hancur. Mujur saja Jennixia bertemu dengan seseorang yang baik.
__ADS_1
***Bersambung...
Guyss maaf tidak panjang, author hari ini ada kesibukan maaf yaaa dan selamat membaca readerssku, teruskan mendukung 🌹🌹***