Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 65 Mary berulah


__ADS_3

Jennixia dan Chester dikejutkan dengan ketukan pintu yang kuat, baru saja hendak melelapkan mata dan terjun kembali ke alam mimpi malah dibuat kaget.


“Tunggu sini, biar aku lihat,” ucap Chester dan diangguki oleh Jennixia.


Chester menuju ke arah pintu kamar dengan wajah yang masih mengantuk. Setelah dia membuka pintu kamar ternyata Mary yang mengetuk pintu kamarnya.


“Ma, ini masih pagi loh kenapa ketuk-ketuk kayak begini?” tanya Chester lembut.


“Masih pagi dari mana? Mana istri kamu ini sudah pagi-pagi begini masa belum bangun,” seloroh Mary dan memaksa masuk ke dalam kamar itu.


Mary menuju ke arah ranjang, karena terlihat Jennixia masih berada di balik selimut tebal milik mereka. Mary dengan gerak cepat menarik selimut itu dan terpampanglah Jennixia yang sedang tertidur pulas tanpa pakaian atasan.


Mary berdecak lalu menatap tajam ke arah bagian dada Jennixia yang terdapat banyak tanda cinta.


“Ck, bangun Jenni kamu harus bangun!” pekik Mary membuat Jennixia kaget lalu segera membuka mata.


Jennixia kaget karena Mary telah berada di dalam kamarnya, dia segera menutup gunung berkembarnya menggunakan dengan menyilangkan kedua tangannya.


“Bagaimana mau jadi istri teladan kalau bangun pagi saja kamu legit, ayo cepat bangun Mama akan ajar kamu menjadi istri yang berguna untuk Chester,” ucap Mary lagi dengan wajah sinisnya.


Chester berlari ke arah Jennixia dan membungkus kembali tubuh Jennixia.


“Ma, ini masih jam 6 loh masih sangat pagi nanti saja jam 9 baru ajar Jenni,” sahut Chester.


Mary bercekak pinggang dan menatap tajam ke arah Chester.


“Kamu tu mama ingin mengajari istri kamu sudah kamu jangan ikut campur ini urus wanita. Biar suatu saat istri kamu becus mengurus rumah tangga kalian, jangan hanya bermalas-malasan,” ujar Mary.


Baru saja Chester hendak memprotes lagi, Jennixia langsung mengusap bahu Chester lalu menggelengkan kepalanya.


“Benar kata Mama, aku bersiap dulu. Kamu lanjut tidur saja lagian kamu belum tidurkan,” ucap Jennixia lembut.


Chester menghela nafas panjang.


“Tapi aku tidak butuh itu semua, kamu sudah menjadi istri aku sudah cukup aku tidak perlu hal lain, kamu sudah cukup sempurna Jen, aku hanya mau kamu temani aku tidur,” sahut Chester dengan nada merajuk.


Mary memutar bola matanya malas mendengar ucapan romantis Chester. Serasa telinganya tiba-tiba memanas.


“Cepat mama tunggu di bawah!” ketus Mary lalu beranjak keluar dari kamar itu.


Jennixia mengangguk lalu berusaha turun dari atas ranjang tapi dicekat oleh Chester.

__ADS_1


“Jangan begini nanti Mama marah loh,” ucap Jennixia.


Chester memanyunkan bibirnya.


“Tapi aku mau tidurnya sama kamu,” rengek Chester.


“Setelah selesai aku akan naik kembali ya,” bujuk Jennixia.


Mau tidak mau Chester terpaksa melepaskan Jennixia dan membiarkan dia menyusul Mary. Chester merebah dirinya di atas ranjang empuk merek setelah Jennixia keluar dari kamar itu.


Dia mencoba melelapkan matanya tapi sangat sulit walaupun dia sudah sangat mengantuk. Chester mengambil tabnya lalu membaca email yang dikirim oleh Nera beberapa jam yang lalu. Tanpa sadar Chester telah terlelap dan terbuai ke alam mimpi.


....


Jennixia di ajari untuk membuat sarapan pagi, hari ini semua koki di dapur merasa sedikit bersalah karena membiarkan Jennixia mengerjai semuanya.


Dari memotong sayur, bawang, daging, memasak dan mencuci piring. Semuanya adalah arahan dari Mary dan diikuti oleh Jennixia yang terlihat polos.


Salah satu koki di dapur berbisik pada koki lain.


“Eh, saya rasa ini bukan mengajarkan Nona tapi ini membuli,”


“Iya laporkan saja, kasihan lihat Nona harus bersusah payah kayak begitu,”


“Kalau begitu saya pergi ketemu Nera dulu,”


Mary tidak mendengar bisikan mereka karena sibuk memberi instruksi pada Jennixia. Tapi setelah salah satu koki keluar dari ruang dapur Mary langsung bertanya.


“Kau! Mau pergi mana?” tanya Mary.


Koki tadi yang hendak keluar langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Saya mau ke wc dulu Buk,” sahutnya dengan berkelit.


“Bu, bu! Panggil saya Nyonya!” ketus Mary tidak suka dipanggil Ibuk.


“Ma-af Nyo-nya,” sahut koki itu.


Mary tersenyum miring dia merasa puas karena dirinya bisa berkuasa di dalam mansion Chester dan dia akan membuat Jennixia juga bertekuk lutut padanya.


“Pergi sana,” usir Mary pada koki tadi.

__ADS_1


Dengan cepat koki tadi keluar dari ruang dapur basah dan menuju ke ruang kerja Nera. Dia berharap Nera telah berada di ruang kerja tersebut.


Setelah berapa kali ketukan tidak ada sahutan, akhirnya koki itu kembali masuk ke dapur dengan wajah yang sedikit khawatir melihat Jennixia yang terlihat sangat kewalahan.


“Ok sekarang kita akan pergi ke halaman belakang,” ucap Mary pada Jennixia.


“Ma, tidak bisakah kita istirehat sarapan dulu baru lanjutan hal ini,” sahut Jennixia.


“Ck, istri itu sarapan belakangan setelah semua kerja rumah selesai, masa kamu mau dikatakan istri tidak becus mengurus rumah tangga,” sinis Mary.


Jennixia mulai merasa sedikit aneh dengan ajaran Mary tapi dia tidak berani protes baginya cukup Mary menerima dia sebagai istri Chester itu sudah menyenangakan dan dia akan coba segala cara untuk mengambil hati Mary.


“Baiklah Ma,” sahut Jennixia dan mengikut langkah kaki Mary menuju ke halaman belakang.


Sampai di halaman belakang Mary celingak celinguk melihat sekitarnya, lalu tersenyum sungging.


“Kamu bersihkan kolam itu, sikat hingga bersih biasakan hal ini kamu buat biar kawasan rumah terlihat bersih, jangan lupa cabut rumput liar yang berada di sana,” perintah Mary dengan membusungkan dadanya.


“Tapi Ma, inikan ada pelayan yang akan membersihkan kolam ini dan ada tukang kebun yang membersih kawasan itu,” sahut Jennixia dengan dahi yang mengkerut.


“Kamu sih banyak protes. Sekarang pilih jadi menantuku atau kamu pergi dari sini,” ucap Mary dengan ketus.


Deg!!


‘Apa-apaan ini Mama kenapa menyuruh aku membuat pilih, huhh tidak ada jalan lain aku harus menuruti semuanya. Aku tidak mau kehilangan Chester,’ gumam Jennixia dalam hati.


“Hei kenapa melamun? Cepat kerjakan,” ucap Mary lagi.


Jennixia mengangguk lalu dengan perlahan memasuki kolam itu dan menguras airnya biar bisa di sikatnya.


Mei menyusul Jennixia setelah ada pelayan yang melaporkan bahwa Jennixia telah dibuli oleh Mary. Dengan cepat langkah kakinya menuju ke halaman belakang.


Pemandangan pertama adalah melihat Jennixia telah basah dan sedang menyikat kolam hias di halaman belakang itu.


“NONA!” teriak Mei dan berlari ke arah Jennixia.


Jennixia dan Mary menoleh karena kaget mendengar suara teriakan Mei. Jennixia tersenyum melihat kedatangan Mei. Tapi Mary menatap tidak suka karena sebentar lagi rencananya pasti akan hancur.


“Apa yang Nona lakukan? Mari kita ganti baju sebelum Nona masuk angin,” ucap Mei.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2