Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 37 Kantor Chester


__ADS_3

Chester tidak menghabiskan sarapannya, dia langsung mengejar Jennixia yang telah keluar dari mansion.


Tapi dia terlambat, Edward sudah melaju keluar dari kawasan mansionnya. Chester dengan cepat memasuki mobilnya dan melaju mengejar mobil yang dikenderai oleh Edward.


Mujur saja dia masih sempat mengejarnya dan berhasil memotong jalan Edward sehingga pria itu terpaksa berhenti karena klakson yang dibuat oleh Chester.


Edward memarkir mobilnya dipinggir jalan, begitu juga dengan Chester. Jennixia langsung saja menghapus air matanya yang telah berjatuhan membasahi wajahnya.


Chester memasuki mobil yang dinaiki Jennixia.


"Jen..." panggil Chester merasa bersalah karena telah membuat Jennixia menangis.


Jennixia mengacuhkan Chester yang semakin lama semakin mendekatinya. Hatinya terasa perih, pikirannya masih memikirkan ucapan Mary.


Jennixia belum siap jika Chester harus meninggalkannya. Setiap kali bayangan Chester bersama Liana, hati Jennixia ikut sakit dan rasanya hancur.


Tanpa Jennixia sadar, air matanya terus meluncur di atas pipi mulusnya itu. Chester semakin merasa tidak enak hati, dia harus meluruskan keadaan ini sebelum Jennixia membuat suatu keputusan yang membuatnya menyesal.


"Jen, dengarkan aku ini tidak seperti yang kau pikir, tolonglah dengarkan aku." Rayu Chester sambil memegang lembut tangan Jennixia.


Jennixia kali ini tidak menepis tangan Chester, pikirannya mungkin sebelum Chester meninggalkannya dia masih merasa sentuhan hangat dari Chester.


Jennixia beralih menatap wajah Chester.


"Aku akan mendengarkanmu tapi untuk saat ini aku rasa aku belum kuat, aku...hisk hiskk" Sahut Jennixia yang mulai terisak.


Chester menarik Jennixia ke dalam pelukannya, setelah dia merasa tidak ada penolakan dari Jennixia, dia makin mengeratkan pelukkannya sambil mengusap punggung Jennixia.


"Mungkin aku harus beritahu kau sesuatu ini tentang orangtuaku." Ucap Chester.


Jennixia yang merasa tidak enak hati langsung saja makin kuat tangisannya sehingga Chester mengucup dahinya barulah dia berhenti dan menatap ke mata Chester.


"Dengarkan aku baik-baik, Mama tidak punya penyakit dan alasannya sedang berpura-pura aku belum pasti tapi tolong aku Jen, jangan berpikir aku membela mereka dan akan menuruti mereka" Ucap Chester dengan sungguh-sungguh.


Jennixia membulatkan matanya mendengar ucapan Chester. Dia tidak tahu hendak berkomentar apa tentang kenyataan Mary yang sedang berpura-pura.


"Selama ni mereka membohongiku Jen, tapi aku belum dapat alasannya," lanjut Chester lagi.


"Kau tidak tipukan?" tanya Jennixia ingin memastikan.


Chester menggelengkan kepalanya.


"Tidak sayang."


Jennixia tersenyum tetapi wajahnya kembali berubah saat mengingat kejadian kemarin. Jennixia melepaskan diri dari pelukan Chester secara mengagetkan.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Chester yang mulai khawatir lagi.


"Ck, kau bilang kau tidak membela mereka tapi kemarin kau memojokku seakan aku yang salah padahal kata Mei mansionmu itu ada cctv mustahil kau tidak melihat siapa yang salah." Ucap Jennixia dingin.


Chester lupa prihal kemarin, memang semalam dia sudah memeriksa cctv dan memanggil Mei untuk meminta keterangan lebih lanjut karena cctv mansion tidak mempunyai tangkapan suara.


"Maaf, aku salah dan semalam aku sudah memeriksanya." Ucap Chester.


"Sama saja kau tetap membela mereka, mungkin di saat cctv tidak ada pasti aku yang akan salah." Ketus Jennixia.


"Tidak sayang, aku tidak pernah menyalahkanmu aku cuma mau beritahu semalam walaubagaimanapun orangtuaku adalah mertuamu." Sahut Chester.


"Karena mereka mertuaku kau memojokku, aku membencimu Tuan Chester!" Suara Jennixia yang dingin tadi menaik satu oktaf lagi membuat Chester mulai khawatir lagi.


Pelbagai jurus yang Chester keluarkan sehingga Jennixia memaksa untuk menghantarnya ke kampus karena sudah tidak mampu mau berdebat dengan Chester lagi.


Walaupun terasa berat Chester terpaksa melepaskan Jennixia untuk pergi ke kampusnya, tapi kebetulan hari ini Jennixia hanya mempunyai satu kelas saja dia berencana akan membujuk Jennixia dengan membawanya berjalan-jalan.


....


Sampai di kampus, Jennixiq.hampir saja terlambat gara-gara Chester mujur saja setelah dia masuk ke kelas baru dosennya masuk.


"Huhh mujur saja sempat kalau tidak bisa malukan, cih semua ni gara-gara Chester." Gerutu Jennixia dengan wajah kesal.


Setelah selesai kelasnya, Jennixia bergegas untuk keluar dari kelasnya tetapi Arviy memanggilnya.


"Jenni.."


Jennixia menoleh lalu merasa aneh dengan tatapan Arviy yang terlihat berbeda.


"Ya?"


"Kau sudah mau pulang?" tanya Arviy berbasa basi.


"Iya Ar, aku duluan ya." Jennixia tidak ingin berlama-lama berbicara dengan Arviy karena Chester telah memberitahunya siapa sebenarnya Arviy dan tujuannya.


"Mungkin hari ini aku lepaskan saja tapi tidak untuk akan datang, kau bakal jadi milikku." Ucap Arviy dalam hatinya.


Jennixia berlari kecil menuju ke mobil yang menjemputnya.


"Pak Edward, kita pulang saja." Ucapnya setelah masuk ke dalam mobil.


Edward merasa sedikit aneh.


"Nona tidak ingin berjalan-jalan dulu?" tanya Edward karena biasanya Jennixia akan minta bawa ke kafe

__ADS_1


"Aku ingin bertemu Mei." Sahut Jennixia dengan wajah yang ditundukkan.


Edward mengangguk dia melajukan mobilnya keluar dari kawasan kampus Jennixia. Sewaktu dalam perjalanan ponsel Edward berbunyi.


Triiingg...triingg.


Edward tanpa melihat siapa yang meneleponnya langsung saja menjawab panggilan itu.


"Halo ini siapa ya?" tanya Edward karena jarang sekali mendapat panggilan telepon kecuali dari istrinya Nera.


"Ini saya Ed." Sahut Chester dari seberang sana.


Edward langsung gelagapan dia melihat ke layarnya, memang nama Tuan Chester yang tertulis.


"Maaf Tuan maaf, saya tidak fokus karena sedang menyetir Tuan." Terangnya dengan gugup.


Chester lanjut menanyakan tentang Jennixia dan dia menyuruh Edward membawa Jennixia ke kantornya saja, supaya nanti mereka bisa pulang barengan dan Jennixia tidak perlu berhadapan dengan kedua orangtuanya dan Liana.


Jennixia tidak mendengar obrolan Edward karena dia sedang menggunakan earphone sambil mendengar lagu. Jennixia melelapkan matanya karena rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya apalagi jalan berada dalam keadaan macet.


"Pak Ed, nanti kejutkan Jenni kalau sudah sampai ya." Ucap Jennixia tanpa membuka earphonenya untuk mendengar jawaban Edward.


Jennixia hanyut di dalam alam tidurnya sehingga dia tidak sadar, Chester telah menggendongnya memasuki kamar khusus istirehat di dalam ruang kantornya.


Chester membaringkan Jennixia di atas ranjang kamar itu lalu mengucup dahi Jennixia.


"Istirehatlah dulu, nanti kita jalan-jalan." Bisik Chester perlahan.


Setelah merasa terlalu lama tidur, Jennixia bangun lalu mengeliat. Dia menggosok kedua matanya lalu meilhat sekitarnya.


"Masih mimpi rupanya ah tapi tempat ini agak dingin." Jennixia menarik selimut lalu membungkus tubuhnya dan kembali berbaring melelapkan mata.


Tapi matanya kembali terbuka karena merasa aneh, mimpinya seperti nyata. Sekali lagi Jennixia duduk lalu mengitari seluruh ruangan yang terlihat seperti ruang tidur.


"Dimana ini kalau bukan dalam mimpi." Jennixia coba mencubit pahanya dan dia berteriak kesakitan.


"Akkhh sakit, berarti bukan mimpi tapi ini di mana?" Jennixia merasa bingung.


Jennixia mulai berjalan mendekati pintu lalu menariknya agar terbuka. Penglihatan pertamanya adalah ruang kantor. Jennixia semakin mengerutkan dahinya.


"Aku diculik? tidak mungkin...tapi ini di mana dan kantor siapa ini?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Dia tidak melihat siapapun berada di dalam kantor itu, Jennixia tidak berani melangkah keluar dari kamar itu karena dia takut seperti di dalam film-film yang pernah dia nonton yang terdapat banyak laser disekelilingnya dan banyak jebakan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2