
Mei sadar dari komanya 2 hari setelah kejadian yang menimpanya. Saat ini dia masih berbaring di ranjang empuk ruang inap vip di rumah sakit.
Mei melihat ada tangan yang melingkar dipinggangnya, dia lantas menoleh ke sampingnya. Sudut bibirnya melengkung setelah mendapati Jennixia yang memeluknya dari sisi kirinya.
Rasa bersalah pun mulai membuncah didadanya karena telah membuat Jennixia harus tidur bersamanya di rumah sakit ini.
Mei menggerakkan tangannya yang tersambung dengan selang infus, dia mencoba untuk menggusap pelupuk mata Jennixia yang terlihat masih basah.
“Maafkan saya Nona, pasti saya telah merepotkan Nona.” Ucap Mei sambil menatap wajah polos Jennixia.
Jennixia membuka matanya setelah merasakan ada yang menyentuh kulit wajahnya, matanya membulat sempurna ketika netra matanya bertemu dengan Mei yang juga sedang menatapnya.
Jennixia segera mengambil posisi duduk, dia seperti tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Jennixia kira dia masih bermimpi karena sejak Mei dinyatakan koma dia terus memimpikan Mei.
Jennixia coba mengitari ruangan dengan bola matanya, dia menangkap sosok Chester sedang tertidur sambil duduk di sofa dalam ruangan itu.
Jennixia turun dari ranjang lalu mendekati Chester. Mei merasa sedikit bingung dengan tingkah Jennixia tapi dia mungkin bisa menebak pikiran Jennixia saat ini.
“Nona tidak bermimpi.” Ucap Mei dengan suara seraknya.
Tapi semuanya telah terlambat, Jennixia langsung melancarkan gerakan tangannya untuk mencubit Chester.
“Aaakkhhh... sayang kenapa?” tanya Chester sambil menahan perih dari cubitan Jennixia.
“Berarti ini bukan mimpi.” Jennixia menoleh ke arah Mei lalu berlari dengan kaki yang masih pincang.
Jennixia menghamburkan pelukan ke atas tubuh Mei, sehingga Mei sulit untuk mendapatkan oksigen.
“Nona aku tidak bisa bernafas.” Ucap Mei.
“Maaf-maaf aku tidak sengaja hehe.” Jawab Jennixia.
Jennixia langsung melepaskan pelukan dengan menyengir kuda. Chester hanya menggelengkan kepalanya, dia menekan tombol di samping ranjang itu untuk memanggil dokter.
Dokter datang memeriksa keadaan Mei, dan memberitahu kepada mereka bahwa Mei sudah semakin membaik dan hanya perlu istirehat untuk berapa hari lagi.
Jennixia mengangguk dengan antusias.
“Dengar itu Mei kamu harus beristirehat, jangan mikir kerjaan mulu.” Celoteh Jennixia seperti Ibu menasihati seorang anak.
Dokter tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Nona juga harus beristirehat biar pergelangan kaki dan lutut Nona cepat sembuh.” Timpal dokter itu.
Jennixia menyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya yang teratur dan cantik. Lalu dia mengangguk mantab dan menunjukkan jempolnya.
“Nona juga harus istirehat, mari mendekat ke sini saya bantu usap punggung Nona biar Nona tertidur.” Ujar Mei sambil menepuk ranjang di sampingnya.
Jennixia dengan antusias menaiki ranjang itu lalu membaringkan tubuhnya membelakangi Mei, agar memudahkan Mei mengusap punggungnya.
Chester melihat kelakuan istri kecilnya merasa gemas, Mei benar-benar memperlakukannya dengan hangat.
“Sayang, kau tidur dengan Mei dulu ya. Aku mau keluar sebentar.”
Jennixia menatap Chester dengan tatapan menelisik.
“Mau ke mana? Inikan sudah jam 9 malam,” tanya Jennixia karena merasa aneh suaminya ingin keluar malam-malam begini.
Chester mengumbarkan senyumanya.
“Mau bersihkan diri sayang, hanya sebentar saja.” Jawab Chester dengan lembut.
Jennixia akhirnya mengizinkan Chester untuk keluar sebentar, lagian dia juga tahu Chester hanya mandi pagi tadi saja dan sudah pasti saat ini dia merasa gerah walaupun hanya duduk dalam satu ruangan.
....
“Apa mungkin temannya yang bernama Mei itu merupakan asisten pribadinya?” tanya Alex menerka-nerka kepada Renata.
“Bisa jadi bang, lagian waktu pertama kali bertemu dengan mereka, pandangan mata Mei terlihat begitu berwaspada dan penuh kecurigaan.” Terang Renata kembali mengingat sewaktu kali pertama pertemuan mereka.
“Ehm tapi apa yang terjadi? Abang curiga ada hal yang buruk berlaku di dalam mansion Chester.”
Alex terdiam dia coba merenung kembali laporan-laporan dari anak buahnya dan mencari kesimpulan yang tepat. Tapi Renata memecahkan keterdiamannya dengan mengatakan mungkin memang murni sebuah kecelakaan.
Tapi bagi Alex tidak mungkin, karena setiap anak buah Chester sudah terlatih khusus kecuali hal tanpa yang tanpa mereka duga tiba-tiba terjadi.
“Kalau hal ini ada berkaitan dengan Jennixia, aku akan menjauhkan Jenni dari Chester.” Batin Alex.
Alex memilih untuk mencari tahu sendiri, dia menambahkan pekerjaan kepada anak buahnya agar dia bisa mengorek apa yang terjadi di dalam mansion Chester.
Bisa saja Chester berlaku buruk terhadap Jennixia dan berpura-pura menyesalinya ketika berada di luar mansion.
Lamunan Alex membuyar setelah mendengar bunyi ponselnya.
__ADS_1
Triingg
Alex mengapai ponselnya yang berada di atas meja, lalu menatap layar ponselnya untuk melihat siapa pemanggil yang tengah-tengah malam mengganggu waktu dia bersama istrinya.
“Arviy”
Alex mendengus, mau tidak mau dia terpaksa menjawab panggilan itu karena kalau diabaikan pasti Arviy akan membuat panggilan sebanyak mungkin.
“Hei Alex, apa anak buahmu ada mengabar berita tentang wanita incaranku?” tanya Arviy dari seberang sana.
“Ehm itu bukan urusanku.” Jawab Alex singkat padahal dia sudah mengepalkan tangannya.
“Hahaha wanita itu masuk rumah sakit dan sekarang Chester meninggalkannya sendiri bersama para pengawal bod*hnya.” Ucap Arviy lagi dengan tertawa jahat.
“Sudahku bilang bukan urusanku.” Sahut Alex lagi tapi dia sudah mengarahkan anak buahnya untuk berjaga-jaga mungkin Arviy bisa saja mengambil kesempatan ini.
“Come on lah Lex, bantu aku buat Chester terjebak di jalanan dan aku ingin melihat kondisi wanita itu saja lagian belum saatnya aku mau mengambilnya dark Chester. Aku Cuma tidak mau terjadi sesuatu dengan wanita incaranku.” Ujar Arviy lagi.
“Ehm nanti aku carikan cara biar, lanjutkan saja apa yang kau inginkan.” Alex mulai berpikir-pikir bagaimana untuk menjebak Chester agar tidak segera kembali ke rumah sakit.
Setelah selesai perbicaraan itu, Alex menatap ke langit-langit kamar untuk mencari cara sehingga dia terpikir satu cara yang mungkin ampuh.
Alex kembali mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang untuk dia ajak bekerjasama. Sebelum itu Alex juga mencari tahu kemana arah tujuan mobil Chester.
....
Dalam perjalanan kembali ke rumah sakit.
Chester yang hanya membersihkan di kantor perusahaannya membuatnya cepat untuk kembali ke rumah sakit. Karena jarak kantor dengan rumah sakit hanya memerlukan 15 menit sewaktu jalanan berada dalam keadaan senggang.
Ciiiitttt...
Tiba-tiba Edward memijak rem mendadak karena seorang wanita melompat ke tengah jalanan yang mereka lalui.
Chester yang duduk cantik dikursi penumpang terdorong ke depan, mujur saja tangannya cepat menahan dengan memegang belakang kursi sopir.
“Ada apa Ed?” tanya Chester yang turut merasa kaget.
“Maaf Tuan, ada wanita tiba-tiba muncul di depan itu.” Jawab Edward sambil menujuk ke arah wanita yang berada di depan mobil mereka.
“Ck, selesaikan cepat. Aku tidak mau Jennixia menunggu lama.” Perintah Chester lagi.
__ADS_1
Bersambung...