Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 7 Pernikahan 2


__ADS_3

Chester keluar dari kamar Jennixia dengan wajah yang sumringgah karena dia berhasil membujuk Jennixia, kini Chester memasuki mobil yang telah disiapkan untuk menghantar mereka ke Gereja katedral di Kota A itu.


Pernikahan mereka diadakan secara tertutup hanya ada beberapa anak buah, orang penting Chester juga beberapa pelayan serta pengawal. Ini semua demi menjaga keselamatan Chester dan Jennixia selama berada di luar mansion.


Chester dan Jennixia menaiki mobil yang berbeda, Chester hanya di dampingi oleh seorang sopir dan asisten pribadinya Luis.


Luis menatap Chester dari kaca spion dalam mobil yang mereka naiki.


"Tuan nampak begitu bahagia, ya Tuhan engkau lancarkanlah pernikahan Chester Mc Cloud hari ini dan berkatilah dia dan Jennixia istrinya," batin Luis sambil tersenyum tipis.


Perjalanan tidak memakan waktu yang lama, sekitar 30 menit mereka telah sampai di perkarangan gereja.


Chester yang telah memasuki gereja itu di dampingi suami Nera yang menyopiri mobil mereka tadi.


Setelah sampai di depan Altar, Chester mulai merasa gugup, keringat dingin mengusai dirinya.


"Kenapa aku bisa jadi gugup huft," gumamnya dalam hati.


Luis yang melihat Chester tampak gugup langsung saja mendekati Chester lalu berbisik ke telinganya.


"Jangan gugup Tuan, awas malam pertamanya gagal, kasian juniornya nanti." Sengaja Luis meledek Chester agar kegugupannya bisa mereda.


Mata Chester melotot mendengar bisik dari Luis, dia ingin protes tapi Luis sudah dahulu meninggalkan dirinya lagi. Kini Luis jadi umpatan dalam pikiran Chester dan benar saja dia telah melupakan rasa gugupnya tadi.


..


Jennixia yang didampingi Nera dan Mei, kini sudah berada di depan gerbang gereja. Kegugupan juga terlihat di wajah Jennixia, dia menggenggam erat kedua tangan Mei dan Nera.


Nera tersenyum kepadanya lalu mengatakan pada Jennixia.


"Nona, semuanya akan baik-baik saja."


Jennixia nampak tersenyum dia coba menyakinkan dirinya semuanya bakal baik-baik saja. Dia percaya ini adalah pilihan yang baik untuk dirinya.


Mei melepaskan tangannya dari Jennixia secara perlahan lalu memberikan senyuman manis kepada Jennixia yang terlihat bingung.


"Nona, hanya kak Nera saja yang mendampingi Nona. Saya akan berada di belakang Nona."


"Tapi aku..." Ucapan Jennixia terhenti kala Mei menimpalinya.


"Nona semuanya baik-baik saja, besok kita akan pergi melihat kampus barumu dan belanja barang untuk keperluan kuliahmu, jadi tetaplah tenang Nona, saya akan menunggu Nona sehingga selesai."


Ucap Mei memberi semangat kepada Jennixia.

__ADS_1


Memang Jennixia terlalu bergantung kepada Mei, karena hanya Mei yang selalu bersama dengannya.


Jennixia tersenyum, dia tahu Mei sedang memberi semangat dan coba menghibur dirinya agar bisa kembali tenang.


Pintu gereja di buka dan kini Jennixia yang di dampingi Nera perlahan masuk dan menuju ke arah altar.


Chester menyambut Jennixia lalu mereka bersama-sama sujud di depan Altar. Pastor meletakkan tangannya di kepala Chester dan Jennixia dan mengucapkan pemberkatan pernikahan.


"Di hadapan Tuhan, Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus yang telah memanggil dan mempersatukan kamu, Chester Mc Cloud dan Jennixia Peter, Akan memberkati kamu dan memenuhi rumahtanggamu dengan kasih karunia Roh Kudus, supaya dalam iman pengharapan dan kasih, kamu hidup suci dan bahagia sampai selama-lamanya, karena apa yang dipersatukan oleh Allah tidak dapat diceraikan oleh manusia."


Mereka di minta berdiri lalu mengucapkan janji suci pernikahan.


....


Setelah selesai janji suci pernikahan, Chester mengambil inisiatif untuk menci** bibir Jennixia dengan cepat di hadapan semua yang hadir.


Jennixia hanya bisa mematung di perlalukan begitu oleh Chester, hendak protes tapi statusnya kini sudah menjadi istri sah Chester.


Para hadirin sempat bersorak sorai melihat kejadian yang cepat itu. Lalu mengucapkan kalimat 'Selamat Tuan dan Nona'.


"Akhirnya semua berjalan dengan lancar." Gumam Luis yang tampak bahagia.


Di sebelah Luis, Mei tampak mengusap air matanya, dia turut berbahagia atas pernikahan Nona kesayangannya itu.


...


Acara perjamuan di adakan di halaman belakang mansion Chester, banyak makanan dan minuman telah di siapkan oleh para pelayan yang bertugas di dapur.


Meja utama mereka di penuhi dengan berbagai pernak pernik karena meja itu akan di duduki oleh Chester dan Jennixia.


Walaupun pernikahannya tampak sederhana tetapi halaman perjamuannya nampak begitu mewah dan berkelas.


Jennixia kini berada di kamarnya bersama Mei, sejak pulang dari gereja Jennixia terus menangis dan mengatakan bahwa dia bahagia walaupun Ibunya tidak menghadiri pernikahannya.


Kata-kata itu hanyalah kata-kata penyemangat untuk dirinya yang sedang merasa sedih. Mei yang tidak tahu harus mengatakan apa dia hanya memeluk Jennixia dengan erat lalu mengusap punggung Jennixia.


Mei membiarkan Jennixia menangis sehingga Chester datang dengan terburu-buru karena mendapat laporan dari Nera bahwa Jennixia tidak ingin berhenti menangis.


Mei melepaskan pelukkannya lalu karena Chester sudah berdiri di samping mereka.


"Terima kasih Mei, turunlah dulu nanti aku akan turun bersamanya." Ucap Chester kepada Mei.


Mei meninggalkan kedua mempelai itu, dan menuju ke halaman belakang mansion dan berbaur bersama para pelayan yang lain.

__ADS_1


Chester menatap wajah Jennixia yang sudah kelihatan sembab karena menangis.


"Jen, jangan menangis dong." Ujar Chester sambil mengusap wajah istrinya.


"Om, Jenni rindu Ibu, hisk hisk." Ucapnya sambil terisak-isak.


"Ok, aku mengerti, besok kita kunjungi Ibu ya. Jadi berhentilah menangis sayang." Pujuk Chester lagi.


Jennixia berhenti menangis setelah mendenhar ucapan Chester.


"Janji?"


Chester menunjukkan dua jarinya yang menandakan dia berjanji akan membawa Jennixia mengunjungi Ibunya besok.


Jennixia menghambur pelukan dan berterima kasih karena Chester benar-benar menuruti kemauannya seperti yang dia katakan sebelum pernikahan mereka.


Chester mengusap punggung Jennixia dengan perlahan sambil tersenyum bahagia.


"Apa pun kemauanmu akan aku coba turuti." Gumamnya dalam hati.


Chester menyuruhnya membersihkan wajahnya lalu mengganti bajunya dan memakai pakaian yang telah di siapkan oleh Mei dan Nera. Lalu Chester menunggu Jennixia di luar kamarnya.


Sekitar setengah jam akhirnya Jennixia keluar dari kamarnya dengan mengenakan dress selutut berwarna kecoklatan dan bagian dadanya yang sedikit terbuka ditambah dengan makeup tipis yang digunakan oleh Jennixia.


Jennixia juga membiarkan rambutnya tergerai indah.


Chester terpana, dia menelan air liurnya dengan susah payahnya. Dia tidak menyangka bahwa istrinya bisa berubah menjadi lebih cantik lagi.


"Om...Om?" Panggil Jennixia yang melihat Chester hanya menatap dirinya.


Chester kembali sadar lalu berdehem.


"Ehem...Sebaiknya kita turun tapi tunggu dulu."


Jennixa mengernyitkan dahinya.


"Ada yang tinggal?"


Chester menghela nafas.


"Jen, jangan panggil aku Om lagi boleh? Sekarang aku sudah menjadi suamimu."


Jennixia bingung karena dia tidak tau harus memanggil Chester dengan panggilan apa, menurutnya hanya panggilan "Om" saja yang layak dan pantas untuk Chester karena perbedaan usia mereka terpaut 15 tahun dan itu sungguh jauh.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2