
Setelah selesai kuliah, Jennixia sengaja langsung tidak pulang ke mansion. Dia meminta Edward untuk membawanya ke mall.
Jennixia ingin melancarkan aksi memanasi Liana dan menyadari siapa yang merupakan nyonya besar di mansion Chester.
Jennixia berbelanja banyak menggunaka uang jajan hariannya yang telah dia kumpulkan selama ini.
Sehingga sewaktu pulang dia melewati pintu utama mansion dengan sedikit gaya sombong. Ingin sekali dia menyombongkan diri di hadapan Liana tetapi nyalinya kembali menciut karena kedua orangtua Chester.
"Wah, berarti ini sifat asli kamu yah, ingin membuat anak saya bangkrut hah?!" Jennixia dibentak oleh Mary.
"Berani kamu menggunakan anak saya untuk menguras hartanya." Tambah Eild lagi yang terlihat murka.
Jennixia tidak berani mengangkat kepalanya karena rasa hormat untuk mertuanya lebih besar daripada rasa ingin menghapuskan Liana.
"Kasihan Chester dapat perempuan matre kayak kamu." Liana juga ikut memanasi kedua orangtua Chester.
Tidak segan-segan Mary menyerang Jennixia dengan menarik rambutnya, Mei coba meleraikannya tapi Eild mendorong kuat Mei hingga Mei tersungkur jatuh ke belakang.
Rasa amarah Mei mulai membeludak, dia menggunakan ilmu bela dirinya untuk meleraikan keributan yang di cipta oleh Eild dan Mary.
Mei mendorong sekuatnya tubuh Mary hingga terdorong ke belakang, mujur saja Eild sempat menyambutnya agar tidak jatuh.
Hal tersebut terjadi bersamaan dengan Chester memasuki mansionnya dengan wajah seketika menegang.
"Ches, tolong mama Ches" Seru Mary yang melihat kedatangan Chester dengan wajah tegang dan dingin.
Mei kaget dia segera menarik Jennixia ke dalam pelukannya dan menjauhi Chester, karena firasatnya pasti Jennixia yang akan menjadi tumbal dalam keadaan ini.
"Wanita yang kamu bawa itu, dia mendorong mama mujur saja papa sempat menarik mama sebelum terjatuh ke lantai," lanjutnya lagi dengan drama memegang dadanya dan nafas yang dibuat turun naik.
Chester menatap ke arah Mei dan Jennixia yang rambutnya terlihat berantakan, dia berharap Jennixia bisa membela dirinya tapi dia hanya menundukkan wajahnya.
"Maaf Tuan, saya yang lancang dan berani mendorong bu Mary, karena bu Mary menyerang Nona. " Mei segera mengaku kesalahannya.
"Itu tidak benar Ches, aku saksinya. Memang wanita itu sengaja mendorong tante karena tidak menerima nasihat dari tante." Liana mulai mengompori lagi agar Jennixia terlihat lebih bersalah.
"Tidak Tuan itu tidak benar." Sahut Mei yang merasa tidak puas.
"Cukup! Mei kamu bawa Jennixia masuk ke kamar, aku akan menyusul setelah memastikan keadaan mama baik-baik." Ucap Chester dengan mada tegas.
Jennixia sempat mendongak lalu menatap tajam ke arah Chester dengan wajahnya yang terlihat basah kerana air matanya.
"Aku makin membencimu!" Teriak Jennixia tiba-tiba dan langsung saja berlari menaiki tangga.
Mei tergopoh-gopoh mengejar Jennixia menaiki tangga karena takut Jennixia akan jatuh.
__ADS_1
Mata Chester menatap sendu ke arah Jennixia karena dia juga merasa kaget dengan teriakan Jennixia yang terlihat sangat marah padanya.
Orangtua Chester dan Liana turut kaget mendengar teriakan Jennixia yang kuat dan lantang itu, mereka kompak melihat ke arah Chester yang masih saja menatap tangga yang baru dinaiki oleh Jennixia.
Mary memecahkan lamunan Chester.
"Ches hush huhhh." Mary memanggil Chester dengan berpura-pura sakit dada.
Chester menoleh lalu mendekati Mary.
"Kita kembali ke kamar saja." Chester memapah Mary untuk berjalan.
Eild dan Liana kompak tersenyum menang karena Chester lebih memilih Mary ketimbang Jennixia.
Setelah sampai dikamar, Chester yang baru saja ingin pamit tapi ditahan oleh Mary.
"Tunggu Ches ada yang mama ingin sampaikan."
Chester pun menuruti perkataan Mary lalu duduk di sebelah kanan Mary. Eild dan Liana berdiri tidak jauh dari mereka.
"Liana kemarilah nak." Panggil Mary.
Liana dengan wajah sumringgah langsung mendekat ke arah Mary dan duduk di sebelah kirinya.
Mary mengambil tangan Liana dan tangan Chester lalu disatukannya. Chester yang kaget langsung saja ingin menarik tangannya tapi Mary menggenggam erat tangannya.
"Tapi aku sudah menikah ma, Jennixia itu istriku." Jawab Chester.
"Hush huhh hushh huhh, kamu tega lihat mama mati? Kamu bisa ceraikan Jennixia dan menikah dengan Liana Ches, anggap saja ini permintaan terakhir mama sebelum mama menutup mata karena penyakit mama ini."
Chester menarik paksa tangannya agar bisa terlepas dari menyentuh tangan Liana.
"Mama tidak akan mati." tegas Chester lalu keluar dari kamar itu tanpa pamit.
Eild mendekati Mary lalu menenangkannya.
"Jangan khawatir ma, hati Chester pasti akan lunak dan permintaan mama pasti dia tepati."
Liana tersenyum tipis mendengar ucapan kedua orangtua Chester, setelah ini dia yakin Jennixia akan diceraikan oleh Chester.
....
Anderson telah mendapat alamat mansion Chester, dia sudah coba untuk meminta izin untuk masuk ke dalam tapi pengawal yang berjaga dipintu gerbang tidak mengizinkannya masuk.
Anderson malah didorong untuk menjauh kawasan mansion itu karena bisa menganggu ketenteraman mereka yang berada dalam mansion itu.
__ADS_1
Dia merasa kesal karena tidak ada cara untuk menghubungi Chester ataupun Jennixia karena ponselnya sudah pecah hasil kekesalannya kemarin.
"Awas saja anak itu, kalau aku ketemu langsungku seretnya ke hadapan Arviy." Gerutunya Anderson yang masih berada tidak jauh kawasan mansion Chester.
Anderson berlalu dan dia akan coba mendapatkan info tentang Jennixia dari Arviy lagi walaupun terpaksa karena hanya itu saja petunjuknya saat ini.
Anderson memasuki bangunan megah perusahaan Arviy, dia cukup katakan pada resepsionis wanita itu bahwa dirinya adalah Anderson, wanita itu membawanya langsung bertemu Arviy.
Pada waktu yang sama Alex berada di dalam ruangan Arviy, sedang berbincang-bincang mengenai Jennixia.
"Maaf Pak, ada tuan Anderson ingin bertemu." Ucap wanita tadi.
"Suruh masuk." Sahut Arviy.
Alex menoleh ke arah pintu, sehingga seorang pria masuk. Seketika menegang karena dia sangat mengenal pria ini. Dia mulai menggeretakkan giginya.
"Anderson." Gumam Alex dalam hati.
Tapi mujur saja Anderson telah lupa padanya, walaupun dia merasa pernah bertemu dengan pria yang bersama Arviy tapi dia tidak bisa mengingatnya.
Anderson kembali ke tujuan utamanya.
"Maaf Tuan Arviy saya datang kosong, saya masih belum berkesempatan menemui Jennixia." Ucap Anderson dengan rasa gementar.
"Cih, ok aku bagi info tentangnya, ketemui Jennixia di kampusnya besok." Sahut Arviy dengan wajah dinginnya.
"Kampus? Sejak kapan Jennixia mulai kuliah?" tanya Anderson cukup bingung.
"Ayah seperti apa kamu tidak mengetahui anaknya masih kuliah." Jawab Arviy dengan nada penuh sindiran.
Alex yang hanya jadi penonton telah mengepalkan kedua tangannya, rasa marahnya terhadap Anderson semakin membuak.
"Kami punya masalah ekonomi bagaimana dia bisa berkuliah Tuan, anda mungkin salah orang." Anderson lupa bahwa bisa saja Chester yang mengongkos biaya kuliah Jennixia.
Bruughhh...
Arviy menghempaskan kedua tangannya di atas meja.
"Kau tinggal cukup cari saja dia dikampusnya brengse*."
"Ba...aik Tuan, tapi kalau boleh tahu di mana alamat kampusnya biar besok aku mampir." Anderson makin gugup karena kemurkaan Arviy.
Arviy berdecak kesal tapi dia tetap menulis alamat kampus Jennixia di kertas lalu menyerahkannya pada Anderson.
"Terima kasih Tuan..."
__ADS_1
Bersambung..