Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 78 Menjemput Jennixia


__ADS_3

Alex telah keluar terlebih dulu ke ruang tamu untuk menemui Chester. Dengan wajah yang tidak ramah Alex mendekati Chester yang masih saja berdiri.


Setelah Chester sadar kehadiran Alex dia langsung mengeluarkan glock dari saku dalam jasnya. Lalu mengacungkan kepada Alex.


“Serahkan istriku sebelum kau merasa kematian!” ucap Chester tegas.


Wajah Chester terlihat sangat merah dan emosi. Tapi tidak berhasil membuat Alex takut karena Alex yakin Jennixia nanti akan berpihak padanya.


“Jenni,” panggil Alex dengan wajah datar.


Jennixia keluar dari arah dapur dan agak kaget karena Chester mengacungkan glock pada sang Kakak. Jennixia mempercepatkan langkahnya menuju ke arah Alex.


Chester melihat kedatangan Jennixia, dia menilik penampilan Jennixia yang terlihat biasa saja tidak ada luka maupun memar seperti dalam pikirannya tadi.


“Jen,” panggil Chester lirih. Wajahnya berubah sendu melihat Jennixia.


Chester sedikit dibuat kaget setelah Jennixia bukan langsung mendekatinya tapi Jennixia berhenti dan berdiri tepat di depan Alex.


“Apa yang kamu buat Jen?” tanya Alex lirih karena benar pikirannya tadi bahwa Jennixia akan berpihak padanya walaupun tadi Alex sempat ragu.


“Aku tidak akan membiarkan dia melukaimu. Lagian kau harus menebus semua kesalahanmu seperti janjimu itu,” jawab Jennixia. Suara Jennixia mampu di dengar oleh Chester juga karena Jennixia tidak menggunakan suara berbisik.


“Terima kasih Jen,” sahut Alex tersenyum tipis.


“JENNIXIA! APA YANG KAU LAKUKAN? KENAPA KAU MENGHALANGI PRIA ITU DARI SENJATAKU?!” teriak Chester pada Jennixia.


Jennixia tersenyum sinis, entah kenapa hatinya makim merasa sakit setelah Chester meneriakinya.


“Tidak bisakah kau tidak berteriak?” tanya Jennixia.


Chester belum menurunkan tangannya. Malah wajahnya terlihat sangat marah dan sepertinya ingin meledak karena merah di wajahnya sangat kelihatan.


“Heh, kau istriku Jennixia tapi kau memihak pada penjahat yang telah menculikmu?” ucap Chester. “Jangan-jangan kau sudah jatuh cinta padanya dan mungkin saja kalian telah berhubungan lebih dari itu,” lanjut Chester dengan tuduhan.


Ucapan Chester membuat Jennixia mendekati Chester lalu melayangkan sebuah tamparan yang kuat.


PLAKK!!!


Bunyi tamparan itu mengema di rumah Alex.


“Aku tidak menyangka otakmu sekotor itu Chester!” ucap Jennixia emosi.

__ADS_1


“Apa kau tidak tahu dia siapa? Dia adalah Kakak kandungku!” lanjut Jennixia dengan menekan perkataan terkakhirnya.


Deg!!


Chester mengusap pipinya dan di buat kaget setelah mendengar ucapan Jennixia. Dia menatap wajah Jennixia seperti tidak percaya tapi tidak ada gurat kebohongan pada wajah Jennixia.


“Maaf aku tidak tahu,” ucap Chester.


Chester coba memegang tangan Jennixia tapi ditepis oleh Jennixia. Lalu dengan sengaja Jennixia mundur berapa langkah untuk menjauhi Chester.


“Duduklah di sofa itu, kita akan membicangkan hal ini,” ucap Alex yang berjalan menuju ke sofa ruang tamu itu.


Sebenarnya Alex bangga karena Jennixia mengakui dirinya sebagai Kakak kandungnya. Tidak bisa dihindari wajahnya terlihat sumringgah.


Jennixia menyusuli Alex tanpa berbicara pada Chester. Begitu juga dengan Chester dengan cepat melangkah menuju ke sofa ruang tamu itu.


Kini mereka duduk di ruang tamu itu dengan keadaan yang hening dan sepi. Suasana tiba-tiba terasa canggung. Chester saja sampai kehilangan kata-kata untuk diucapkan.


Hampir 10 menit mereka hanya duduk diam. Chester menatap ke arah Jennixia yanh terlihat tertunduk dan Alex terlihat senyum-senyum sendiri karena Jennixia memilih duduk di sebelahnya.


Pelayan datang membawa minuman dan juga cemilan untuk mereka. Setelah pelayan pergi barulah Jennixia membuka suaranya.


“Jen, maafkan aku. Aku tahu aku salah tapi aku sadar aku tidak sepatutnya melemparkan semuanya kepadamu. Aku tidak bisa hidup tanpamu Jennixia,” sahut Chester dengan suara sendu.


“Sadar? Sudah berapa kali kau melontarkan perkataan itu, aku sampai bosan dengarnya. Sudahlah lagian ada Mama yang harus kau temani saat ini. Untuk diriku, tidak usah peduli aku aman bersama Kakak dan Kakak iparku,” ucap Jennixia dengan wajah datar.


Chester menggelengkan kepalanya. Dia berdiri dan kembali berlutut di hadapan Jennixia.


“Beri aku kesempatan Jen, jangan begini. Aku tahu sudah banyak janji aku lontarkan, sudah banyak kali aku meminta maaf dengan hal yang sama, sudah banyak ucapan aku sadar tapi tolong jangan tinggalkan aku,” ucap Chester menangis sambil berlutut memohon kepada Jennixia.


Jennixia tidak tega melihat Chester yang berlutut di kakinya. Memang dia telah berdosa telah membuat suaminya berlutut sambil memegang kakinya saat ini. Tapi hatinya sudah terlanjur sakit.


Jennixia memegang tangan Alex dan mengenggem kuat. Air matanya tidak bisa dibendung lagi dan akhirnya meluncur membasahi pipi mulusnya.


“Maaf Jen, maafkan aku. Tolong maafkan aku,” rayu Chester.


“Bangunlah Ches, kau tidak boleh berlutut seperti ini. Kau itu suami dan aku istri, aku akan berdosa kalau begini Ches,” ujar Jennixia dengan suara seraknya.


Alex mengusap kepala Jennixia lalu mengangguk kepada Jennixia dan tersenyum. Dia terpaksa merelakan adiknya itu kembali kepada suaminya karena jika dia menghalangi dia akan membuat Jennixia semakin berdosa padahal Chester telah memohon padanya.


“Bangunlah Ches! Aku tahu mungkin aku tidak berhak untuk masuk campur karena aku tidak tahu masalah utamanya. Tapi tolong jika kau serius menyesali semua perbuatanmu, maka bawalah adikku pergi bersamamu karena aku tahu di lubuk hati kecil adikku masih membutuhkanmu,” ucap Alex pada Chester.

__ADS_1


“Se-sehingga Jenni mema-afkanku barulah ak-ku berdiri,” jawab Chester masih menangis.


Jennixia tidak bisa menahan lagi, dia langsung memeluk suaminya itu dengan erat. Dia Cuma bisa pasrah untuk kesempatan kali ini. Tapi dia yakin ada Alex selalu membantunya.


Mereka saling berpelukan dan menangis. Chester tidak henti-henti melontarkan kata maaf dan Jennixia terus saja mengangguk sehingga Alex memecahkan suasana dengan memeluk mereka juga.


Serempak Jennixia dan Chester menjauhkan diri dan mundur agar tidak dipeluk Alex.


“Lah kenapa menjauh?” tanya Alex bingung.


Chester dan Jennixia tidak menjawab mereka malah berdiri lalu kembali duduk di sofa.


“Ehem maaf Lex,” ucap Chester lirih tapi masih bisa di dengar Alex.


Baru kali ini Chester meminta maaf pada Alex yang merupakan musuhnya yang sering mengincar wilayahnya.


“Heh baru kali ini aku mendengar seorang pemimpin Black Swan meminta maaf padaku,” ucap Alex dengan sinis dan menyindir.


“Ck, mungkin telingamu bermasalah,” ketus Chester berkelit.


“Anda yakin di rumahku ada cctv dan pembesar suara jadi sekecil apapun suaramu pasti bisa ditangkap oleh pembesar suara di rumahku,” sindir Alex lagi.


Chester memutarkan bola mata malas melayani Alex. Lagian kedatangannya untuk menjemput Jennixia dan dia malas untuk berdebat panjang.


“Jen, kita pulang ya,” ajak Chester pada Jennixia.


Jennixia mengangguk tapi tiba-tiba Alex menolak untuk membawa Jennixia pergi.


“Mungkin saat ini biarkan saja Jenni di rumahku, hmm keadaan di luar sana berbahaya baginya,” ucap Alex dengan memberi kode pada Chester untuk berbicara empat mata.


“Tapi aku sudah banyak menyusahkan kalian di sini,” protes Jennixia.


“Jen, bentar ya. Aku akan berbincang dengan Alex sedikit,” ucap Chester.


“Di ruang kerjaku saja,” Alex berdiri lalu berjalan menuju ke lantai 2 di mana ruang kerjanya berada.


“Mau bincang apa?” tanya Jennixia bingung karena tiba-tiba Chester ingin berbincang dengan Alex.


“Jangan khawatir hal kecil saja, kamu tunggu ya,” jawab Chester lembut. Lalu menyusuli Alex.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2