
Chester mengikuti Alex kembali ke rumah Alex setelah eksekusi Arviy dan Sean telah selesai.
Setelah masuk perkarangan rumah Alex, Chester bisa melihat Jennixia sedang duduk di taman bersama Jessi dan Renata yang berada di samping rumah Alex.
Chester mengulas senyumannya, dia keluar dari mobil lalu menuju ke arah taman. Netra matanya tidak berhenti menatap Jennixia.
Hingga Jennixia sadar, dia langsung berdiri.
“Chester,” ucap Jennixia lirih.
Chester merentangkan tangannya lalu Jennixia berlari masuk ke dalam pelukan Chester.
“Kau pulang, terima kasih,” ucap Jennixia lirih setelah berada di dalam pelukan Chester.
“Aku pulang Sayang,” jawab Chester lalu mengusap perlahan pungung Jennixia.
Jessi dan Renata menatap haru, karena mereka tahu betapa Jennixia mengkhawatirkan suaminya itu.
.
.
.
.
.
Chester membawa Jennixia kembali ke mansion miliknya tapi sebelum kembali ke mansion, Chester sempat mengatakan bahwa Mary ingin sekali bertemu dengannya.
“Sayang, kalau kamu tidak mau aku tidak akan paksa. Kebahagiaanmu itu penting Sayang,” ucap Chester sambil mengusap puncak kepala Jennixia.
“Aku cuma takut Mama salahkan aku atas kejadian ini, “ jawab Jennixia.
“Tidak apa-apa kamu jangan terlalu pikirkan hal itu lagi, sekarang kamu aku hantar ke mansion dan aku harus kembali ke rumah sakit karena Nera tadi telepon Mama kembali mengamuk lagi ingin bertemu denganmu,” terang Chester.
“Mama mengamuk lagi? Apa Mama sering mengamuk?” tanya Jennixia merasa bingung.
“Akhir-akhir ini sudah seminggu lebih dia mengamuk mencari kamu dan dokter hanya bisa menyuntik obat penenang,” jawab Chester.
“Kalau begitu aku harus ketemu Mama,” ucap Jennixia mantab.
“Tidak sebaiknya jangan, aku tidak mau kamu terluka,” jawab Chester.
“Lah tadi kamu yang ajak sekarang kamu melarangku. Pokoknya tidak ada alasan aku akan ketemu Mama,” ucap Jennixia penuh keyakinan.
....
__ADS_1
Di rumah sakit.
“Lepaskan aku! Tolong Jennixia tolong mama, mereka hendak menyuntik mama lagi!” teriak Mary yang coba memberontak tapi sayangnya kakinya tidak bisa digerakkan.
“Bu, tenanglah dan tidur,” ucap dokter yang menangani Mary.
“Jenni mama minta maaf,” ucap Mary lirih dan perlahan menutup matanya.
Mary kembali tertidur setelah keributan yang dia buat. Mujur saja ruangannya kedap suara dan pasien di kamar lain tidak terganggu.
Setelah Mary tampak tertidur pulas, barulah dokter mendekati Nera dan Mei.
“Saya rasa Nona Jennixia perlu ... ,” ucapan terhenti karena pintu dibuka dan Chester bersama Jennixia masuk bersamaan.
“Bagaimana keadaan Mama?” tanya Chester pada sang Dokter yang menangani Mary.
“Kondisinya sudah membaik tapi kakinya tidak ada perubahan,” jawab Dokter itu. “Dan syukurlah kalau Nona Jenni ada di sini, setidaknya ketika Mary bangun dia bisa melihat Nona di sini,” lanjut Dokter itu lagi.
“Apakah tidak apa-apa Dok? Maksud aku, Mama tidak akan berbuat kasar kan?” tanya Chester untuk memastikan.
“Saya tidak menjamin hal itu Tuan, tapi Bu Mary terus saja mencari Nona. Lebih baik kita tunggu saja Bu Mary sadar dan lihat apa yang ingin dia lakukan,” jawab Dokter itu.
“Baiklah terima kasih Dok,” ucap Chester.
Dokter tadi pamit meninggalkan mereka di ruangan itu menunggu Mary sadar.
‘Semoga Mama cepat sehat,’ ucap Jennixia dalam hati.
“Sayang kamu istirehat dulu ya di sebelah ada kamar khas untuk istirehat, kamu pergilah bersama Mei dan Nera biar aku dan Luis berjaga di sini,” ujar Chester sambil mengusap perlahan rambut Jennixia.
“Aku di sini saja menunggu Mama bangun, kalian pergilah istirehat,” jawab Jennixia masih menatap wajah Mary.
“Sayang,” panggil Chester.
“Please Ches,” rayu Jennixia.
Akhirnya Chester mengalah dan mengizinkan Jennixia menunggu Mary sehingga sadar. Mei dan Luis diarahkan untuk kembali ke mansion untuk mengambil baju dan barang-barang kebutuhan Jennixia.
“Nera kamu pergilah istirehat, kata Luis kamu dari semalam berjaga,” ucap Chester yang begitu perhatian dengan sang sekretaris itu.
“Tapi Tuan ... “ ucap Nera tergantung.
“Ada aku di sini. Pergilah,” perintah Chester kemudian.
Setelah Nera keluar barulah Chester membawa Jennixia duduk di sofa yang tidak jauh dari ranjang yang ditiduri oleh Mary.
Chester mengusap punggung Jennixia hingga dia terlelap karena kelelahan. Chester tersenyum.
__ADS_1
“Padahal kau saja lelah,” ucap Chester lirih.
Chester membaringkan Jennixia di atas sofa itu dan pahanya sebagai bantal Jennixia. Wajah Jennixia yang tertidur terlihat begitu tenang.
Tepat jam 7 malam, Mary kembali sadar tapi kali ini dia tidak memberontak karena ada Chester berada di sampingnya.
“Mama,” panggil Chester.
“Ches, mana Jennixia? Mama mau ketemu Jennixia,” ucap Mary dengan wajah merayu.
“Shhttt, itu Jenni Ma. Dia tertidur menunggu Mama sadar,” jawab Chester lalu menunjuk ke arah sofa di mana Jennixia masih tertidur dengan pulasnya.
Mary ikut menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Chester. Matanya berbinar karena Jennixia berada di ruangan itu.
“Jennixia anak menantuku,” ucap Mary riang.
“Ma, biarkan dulu Jenni tidur ya. Sekarang Mama makan ya, biar Chester suapkan,” ucap Chester yang mulai menyediakan makanan untuk Mary.
“Mama mau disuap oleh Jennixia,” jawab Mary.
“Tapi Ma.....” ucapan Chester terpotong.
“Ma, Mama sudah bangun,” ucap Jennixia lalu dengan cepat duduk dan mengambil tisu basah lalu mengelap wajahnya sambil menuju ke arah Mary.
Mata Mary terlihat berkaca-kaca, dia merentangkan tangannya meminta Jennixia memelukannya dan tanpa berpikir panjang Jennixia langsung memeluk mertuanya itu.
“Benar kata Chelsie kamu wanita baik,” ucap Mary.
Ucapan Mary membuat Jennixia bingung tapi tidak dengan Chester, matanya meredup mendengar sang Mama menyebut nama mendiang Kakaknya.
“Ma,” panggil Chester.
“Ches benar kata Chelsie, istrimu wanita baik-baik hanya Mama saja dibutakan oleh harta,” ujar Mary lagi.
“Kak Chelsie tidak mengenal Jennixia Ma. Bagaimana dia bisa mengatakan hal itu,” jawab Chester.
“Tapi Chelsie bilang pada mama saat mama berada di sebuah tempat kayak taman yang indah. Chelsie menyuruh mama pulang dan sambut Jennixia dengan baik karena dia yang akan merawat mama sampai mama tua nanti,” ucap Mary lagi.
Chester semakin merasa sedih mendengar ucapan Mary, berarti saat Mary kritis dia sudah berjumpa dengan sang Kakak dan sang Kakak berhasil memujuk Mary untuk berubah.
‘Terima kasih karena masih memperhatikan kami Kak,’ ucap Chester dalam hati.
Chester melihat Jennixia masih betah berpelukan bersama Mary, dia berdoa dan berharap agar kali ini Mary tidak lagi berpura-pura baik kepada Jennixia dengan maksud tersendiri.
Walaupun dihati kecilnya masih merasa takut akan kejadian yang pernah berlaku tapi sesungguhnya dia ingin mama dan istrinya bisa akur dan saling sayang menyayangi.
Bersambung....
__ADS_1