
Sepanjang perjalanan Chester tidak berbicara dengan Jennixia, walaupun Jennixia sudah memberi kode-kode agar Chester menegurnya tapi nihil.
Perjalanan mereka menaiki helikopter hingga mendarat di halaman belakangan mansion masih saja terlihat begitu hening.
Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Jennixia di sambut oleh Mei setelah turun dari helikopter itu dan Chester turun lewat pintu disebelahnya.
Chester langsung saja melewati Jennixia yang masih berdiri memperhatikan langkahnya. Jennixia kira Chester akan berbicara padanya setelah sampai tapi dia tidak mengatakan apa-apa.
"Mei, Tuanmu benaran marah padaku." rengek Jennixia pada Mei yanh terlihat bingung dengan kedua majikannya itu.
Padahal mereka kemarin baik-baik saja, malah bermesraan di dekat tangga tapi sekarang mereka tidak bertegur sapa. Tapi Mei tidak ada hak untuk mencampuri urusan majikannya.
"Tuan mungkin sedang terburu-buru dengan urusan pentingnya." Sahut Mei menenangkan Jennixia.
"Urusan penting apanya kalau dari tadi pagi dia tidak berbicara padaku." Ketus Jennixia mulai berjalan menuju ke arah kamarnya.
"Mungkin Nona harus menanyakannya sendiri."
Jennixia berhenti lalu menoleh ke arah Mei. Senyumnya mengembang karena terpikir ide untuk membuat Chester tidak marah padanya.
"Mei kau tunggu di bawah saja, aku akan naik sendiri hehh." Ucapnya sambl terkekeh.
Mei tahu Jennixia sudah mendapatkan sesuatu ide makanya dia mengangguk menuruti perintah Jennixia.
Jennixia naik ke lantai tiga mengikuti lift.
"Tenang Jenni, tenang pasti dia bisa luluh." Jennixia memberi semangat pada dirinya sendiri.
Di balik itu, Chester tertawa geli sendiri melihat gelagat Jennixia di dalam lift dia memperhatikan dari tab yang tersambung dengan Cctv di dalam lift itu.
"Kira-kira apa yang dia mau lakukan ya." Gumam Chester sambil memperhatikan gerak Jennixia menuju ke kamar miliknya.
Chester segera cepat menuju ke pintu kamar miliknya, sebelum Jennixia sempat mengetuk pintu kamarnya, Chester lebih dulu membuka pintu.
"Eh!" Jennixia kaget dan menjadi salah tingkah.
Chester sengaja tidak menyapanya, dia pura-pura hendak melangkah keluar tapi seperti dugaannya Jennixia akan menghadang jalannya.
"Tidak boleh pergi, ikut aku." Ucap Jennixia sedikit tegas.
Jennixia menarik Chester kembali masuk ke dalam kamarnya lalu ditutupnya pintu.
"Sekarang aku minta maaf tentang kejadian semalam, memang aku yang salah tapi bukan bermaksudku menolakmu tapi aku masih belum siapkan diriku."
__ADS_1
Chester mendengar penjelasan Jennixia dengan wajah yang serius tanpa menyela perbicaraannya sedikit pun.
"Jadi tolonglah maafkan aku." Jennixia menyatukan kedua tangannya untuk meminta maaf kepada Chester.
Malah Chester menjadi semakin ingin menggemas Jennixia tapi ide untuk menggoda Jennixia sering saja lewat dipikirannya.
"Kalau begitu sekarang kau sudah siap?" Chester semakin mendekatkan dirinya kepada Jennixia.
Jennixia hendak mundur tetapi tubuhnya sudah menyandar dipintu.
"Belum sayang, tapi aku ada hadiah untukmu biar kau tenang.
Chester menaikkan alisnya karena dia rasa penasaran apa hadiah yang dikatakan oleh Jennixia.
Jennixia pun melakukan ide yang terlintas dipikirannya tadi. Dia menolak tubuh Chester agar terdapat ruang untuk dirinya bergerak.
Jennixia menarik tangan Chester lalu membawanya ke ranjang Chester. Jennixia menyuruh Chester duduk. Lalu dia mendekatkan bibirnya ke telinga Chester.
"Aku tahu selama ini kamu nen** cuma modusmu saja tapi aku tidak permasalahkannya. Karna aku juga suka." Ucapnya lirih. "Kau bisa bermain dengan gunung berkembarku tapi tidak boleh lebih, aku belum siap." Lanjutnya lagi.
Bibir Chester tersenyum tipis. Dengan cepat dia menarik Jennixia lalu menyambar bibirnya sekilas.
"Kau yang meminta, jadi aku akan penuhi dan untuk bagian bawahnya aku hanya akan menggunakan jariku saja boleh ya."
"Ok setuju."
"Setiap saat kalau aku ingin." Tambah Chester lagi.
"Nggak bisalah kalau setiap saat kau inginkan aku perlu kuliah dan belajar." Sahut Jennixia dengan polos.
"Maksudku, setiap setelah pulang kuliah, sebelum pergi kuliah, setiap malam dan setiap hari liburmu." Chester menjelaskan secara terperinci.
"Bisa cepat gede kalau begitu, ehmm baiklah setuju." Jennixia menyetujuinya karena tidak mau membuat Chester marah dan kesal padanya lagi.
....
Alex sudah mendapat laporan tentang Jennixia yang sudah kembali ke mansion Chester menaiki helikopter bersama Chester.
Perasaannya sudah kembali tenang, dia sempat berpikir Chester akan mengjantar Jennixia ke suatu tempat yang tidak dia ketahui.
Tapi pikirannya itu hanya ketakutannya. Dia terus menyuruh anak buahnya untuk tetap memperhatikan pergerakan mereka dan perintah Arviy.
Alex mencari Renata dikamar mereka.
__ADS_1
"Nata sayang kamu di mana?" panggilnya karena tidak melihat istrinya itu di atas ranjang.
"Di sini abang." Sahut Renata dari walkin closet mereka. Renata sedang menata pakaian yang terlihat berantakan.
"Sayang, Jenni sudah pulang. Mungkin besok dia akan masuk kuliah, kamu siapkan untuk bertemu dengannya." Ucap Alex setelah menemui istrinya.
Renata menghentikan pekerjaannya lalu dia tersenyum melihat wajah Alex begitu berharap dan berbinar.
"Aku siap kok bang, jangan terlalu dipikirkan lagi, tapi aku butuh seorang anak buah abang untuk membantu rencanaku." Sahut Renata.
Entah apa yang direncanakan Renata hanya dia saja yang tahu, Alex saja sudah membujuknya berkali-kali tapi dia tidak memberitahunya karena kemungkinan Alex tidak akan setuju dengan rencananya.
Alex akhirnya mengalah dan akan menunggu saja bagaimana hasil dari rencana Renata, dia yakin istrinya telah menyusun rencana dengan baik.
....
Kembali ke kamar Chester..
Jennixia terlihat mengeliat karena merasa sedikit geli dengan pergerakan jari jemari Chester di dalam intinya.
Dia ingin menyesali karena dia telah mengangguk setuju dengan permintaan Chester tadi. Jari Chester bergerak dengan lihainya sehingga harus berapa kali Jennixia mengalami kejang tapi nikm**
Hampir 2 jam Chester tidak memberhentikan aktivitas mereka, sehingga Jennixia terlihat begitu lelahdan tidak bertenaga barulah dia berhenti.
Chester menatap Jennixia dengan penuh cinta, dia mengambil tisu dan mengusap keringat didahi Jennixia.
"Jen, besok Mama dan Papaku datang, aku harap kamu bisa bersiap dan berdadan secantiknya."
Jennixia yang baru saja ingin melelapkan matanya, kembali terbangun dan membalas tatapan Chester.
"Kapan?" tanya Jennixia, dia pikir dia salah mendengarnya.
Chester mengusap lembut pipi Jennixia.
"Besok sore mereka sudah sampai di mansion jadi kamu jangan ke mana-mana setelah pulang kuliah langsung pulang ya."
Jennixia melongo lalu mengangguk.
"Bagaimana ini, ini pertama kali aku harus menghadapi Mama dan Papa suamiku." ucapnya dalam hati.
Jennixia mulai khawatir. Dia takut kehadirannya tidak diterima oleh Keluarga Chester, tapi dia berharap itu hanya pikiran negatifnya saja.
Jennixia kembali melelapkan matanya karena Chester menyuruhnya beristirehat saja karena tenaganya sudah banyak yang terkuras dan sebentar malam lagi dia harus melakukannya lagi bersama Chester. Sesuai dengan persetujuannya.
__ADS_1
Bersambung...