
Chester bertemu dengan Nera.
"Arahkan pada pelayan untuk pindahkan semua barang2 Jennixia ke kamarku, sore Mama dan Papa akan sampai di sini."
"Baik Tuan."
....
Hari ini Jennixia sudah kembali dengan aktivitasnya, dia ke kampusnya menaiki motor yang dibawa oleh Mei tapi mereka tidak sendiri karena kiri kanan depan belakangnya adalah mobil pengawal.
Awalnya Jennixia tidak mau dikawal oleh pengawal tapi Jennixia akhirnya setuju karena Chester memberinya dua pilihan.
dikawal atau tidak pergi sama sekali.
Perdebatan itu terjadi awal pagi sebelum Jennixia berangkat ke kampusnya. Mujur saja Mei bisa mengenderai motor jadi dia tidak terlalu canggung nanti.
Jennixia sudah berada di kawasan kampus dia dan Mei berjalan beriringan menuju ke kelasnya. Setelah sampai di kelas mereka barulah Jennixia teringat sesuatu, dia belum minta maaf kepada Mei.
"Mei...aku minta maaf ya." Ucap Jennixia.
Mei menoleh lalu mengernyitkan dahinya.
"Ih jangan sembarang minta maaf Jen, kamu itu majikanku nggak seharusnya kamu minta maaf, lagian nggak ada salah kok." Sahut Mei.
"Aku sudah tahu tentang Arviy." Jennixia berbisik ditelinga Mei.
"Oh tentang itu, Tuan sudah bilang?"
"Ya, semalam aku cerita padanya, mulanya aku nggak percaya tapi Chester memperlihatkan aku buktinya." Terang Jennixia dengan suara perlahan karena takut tiba-tiba Arviy muncul.
....
Chester berjalan dilorong yang lampunya samar-samar. Dia bersama Nera dan beberapa anak buahnya.
Anak buahnya membukakan pintu di mana terlihat 5 orang pria yang sedang terikat ditiang khusus untuk Chester mengeksekusi mereka.
Chester mendekati salah satunya lalu menampar wajahnya. Pria itu kembali sadar, wajahnya terlihat begitu berantakan dan lembam dipipinya terlihat bengkak.
"Katakan padaku siapa yang menyuruh kalian mencelakiku? hahh!" Bentak Chester.
"Sa...ya tidak tahu Tuan, tolong lepaskan saya kasihan anak istri saya." Ucap pria itu gugup sambil merayu belas kasih kepada Chester.
"Lepaskan? Kau sudah membuat istriku trauma menaiki mobil bagaimana aku harus melepaskanmu hah?"
"Maaf Tuan tapi saya juga punya istri."
"Nera ambilkan aku gunting dan sarung tangan." Perintah Chester kepada Nera.
Nera dengan gerak yang cepat mengambilnya. Karena dia sudah terbiasa, disaat Luis berada di luar negara dia akan mendampingi Tuannya untuk melakukan eksekusi.
"Ini Tuan." Ucap Nera sambil memberikan sarung tangan.
__ADS_1
Chester mengenakan sarung tangan lalu menerima gunting dari Nera.
"Aku akan lepaskan kau tapi tidak semudah itu."
Chester mengarahkan anak buahnya untuk membuka mulut pria itu, dia menarik lidah pria itu dan diguntingnya seperti menggunting kertas, darahnya berpercikan tapi Chester tidak peduli.
Lalu dibuangnya ke lantai dan dipijak oleh Nera. Nera sudah tahu kalau seperti ini dia harus membuang prikemanusiaannya karena dia sadar dia bekerja dengan mafia kejam dan psikopat.
"aaaaarrrgghhhh." pria itu mengeram kesakitan.
"Beri dia minum air yang mendidih." perintah Chester lagi dengan anak buahnya.
Kejadian itu di saksikan oleh ke empat pria yang lain, tubuh mereka mulai gementar dan berkeringat dingin. Mereka masing-masing mengatupkan bibir mereka karena takut terjadi seperti itu.
Chester beralih lagi ke pria yang lain. Dia tersenyum seperti seorang psikopat gila.
"Kau! Siapa yang menyuruhmu!" Bentaknya lagi pada pria itu.
"Aku hanya disuruh lewat telepon Tuan." Jawab pria itu cepat.
"Ck, Nera gergaji mesin."
Nera mengambil dan memberinya kepada Chester. Bunyi bising dalam ruangan itu dibuat oleh bunyi mesin gergaji itu dan teriakan ke empat pria itu.
Chester memotong tubuh pria itu, lalu setengah tubuhnya terlepas. Darah semakin banyak membasahi ruangan itu.
Chester memberikan gergeji mesin itu kepada Nera untuk dia lanjutkan menghancurkan setengah tubuh yang terlepas itu.
Nera memotong-motong tubuh bagian perut hingga ke kaki itu menjadi potongan kecil.
Dia tersenyum melihat ketiga pria itu tapi dia ingin menyimpannya untuk besok saja karena dia ada rapat bersama anak cabangnya.
"Bereskan tempat ini, aku datang harus bersih." Chester membersihkan dirinya di ruang khusus untuknya begitu juga dengan Nera yang mempunyai ruang khusus sendiri.
Setelah selesai, Chester menuju ke kantornya dengan wajah yang kembali bersinar walaupun terlihat dingin dan cuek.
....
Jennixia berpura-pura tidak mengetahui apa-apa sewaktu sedang mengerjakan tugas kelompok mereka bersama Arviy. Karena Chester menyuruhnya untuk pura-pura saja dan jangan terlalu dilihatkan.
Jennixia dan Mei menolak untuk pergi makan ketika Arviy menawarkannya. Sewaktu mereka ingin keluar makan dijam istirehat.
Jennixia melihat seorang wanita dilanggar oleh seorang pria yang berlari. Jennixia lantas melepaskan lengannya dari Mei lalu berlari ke arah wanita itu.
"Jenni...Jenni.." Mei memanggil dann mengejar Jennixia.
"Mbakk tidak apa-apa?" Ucapnya mendekati wanita tadi yang tersungkur jatuh di aspal depan gerbang.
"Tidak, cuma tergores sedikit." Jawab wanita itu sambil melihat siku tangannya.
"Mari mbak saya bantu." Mei bergerak dulu karena dia tidak mau Nonanya bersentuhan dengan sembarang orang.
__ADS_1
Mei membantu memapah wanita itu untuk berdiri.
Jennixia merasa kasihan pada wanita itu.
"Mbak itu tadi siapa?"
"Saya juga nggak kenal tiba-tiba saja dia menabrak saja." Jawab wanitu.
"Terima kasih ya sudah bantu saya, saya pergi dulu." Wanita itu tunduk pamit, dia hendak pergi tapi dengan cepat Jennixia menarik tangannya.
"Mbak sudah makan? Ikut kita makan ya?" Pinta Jennixia dengan raut wajah berharap.
Entah kenapa dia merasa wanita ini seperti akan dekat dengannya nanti, walaupun keadaan wanita ini terlihat biasa-biasa saja dan terlihat sangat pucat.
Mei melotot mendengar ucapan Jennixia tapi kalau Jennixia sudah menawarkan dia tidak bisa menolak.
"Harap wanita ini orang baik-baik." Ucapnya dalam hati.
"Eh tidak usah saja saya bisa makan di rumah nanti." Ucap wanita itu menolak ajakan Jennixia.
Jennixia yang tidak suka ditolak pun langsung melihat ke arah Mei dengan mata yang berkaca-kaca. Agar Mei mau membantunya untuk membujuk wanita itu.
"Baiklah, baiklah tapi jangan menangis." Ucap Mei yang mengerti maksud tatapan Jennixia. "Mbak, Nona saya ini kalau orang menolak permintaannya dia akan menangis seharian jadi mbak mau ya makan bersama kami."
Wanita itu mengulas senyuman menatap Jennixia yang wajahnya terlihat begitu berharap.
"Baiklah."
Mereka pun makan di kafe seberang kampus, memang kafenya tidak mewah karna Jennixia lebih suka makan di tempat sederhana.
"Oh ya mbak, saya Jennixia panggil saja saya Jenni, dan ini Mei." Jennixia memperkenalkan dirinya sambil tersenyum.
"Selamat berkenalan Jenni, Mei. Saya Renata, bisa panggil Nata saja." Jawab Renata.
Wanita tadi ialah Renata, dia sanggup mengorbankan sikunya demi bertemu dengan adik iparnya ini.
"Dia lebih cantik dan menggemaskan kalau dilihat secara langsung." Ucap Renata dalam hati.
Sedang mereka asyik mengobrol, Renata mengambil sempatan berbalas pesan bersama suaminya Alex.
[Abang, Nata lagi bersama Jennixia.]
[Oh ya? kamu tolong foto dia bisa sayang?]
[Aku akan coba ya bang.]
Renata pamit ke wc, karena dia akan mengambil foto Jennixia sewaktu keluar dari kamar wc itu.
"Maaf Jenni, Mei saya ke wc dulu ya." Renata membuat wajah tidak menahan untuk membuang air kecil.
"Silakan mbak Nata, hati-hati." Sahut Jennixia.
__ADS_1
Renata pun pergi seperti rencananya, sekitar 5 menit dia telah kembali dan dia berhasil mengambil foto Jennixia dari jarak sedikit jauh tanpa pengetahuan Jennixia dan Mei.
Bersambung...