Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 71 Rasa sakit


__ADS_3

Chester menatap tajam ke arah Eild dan Liana. Dia memang membenci kedua orang tersebut tapi tetap saja Eild masih Papa kandungnya.


“Kalian silakan pergi!” ucap Chester dengan dingin.


Eild menarik tangan Liana lalu meninggalkan tempat itu. Wajah Eild memang terlihat sinis tapi siapa tahu di dalam hatinya dia ingin meminta maaf dengan putranya itu.


“Ches, mengapa kamu biarkan mereka pergi. Wanita itu sudah merusakkan keluarga kita dan rumahtangga mama,” ucap Mary dengan nada tidak puas hati.


Chester menatap kepergian Eild dan Liana. Memang ada rasa kecewa terhadap Eild dan asa benci kepada Liana. Karena membuat keluarganya hancur tapi kalau dia mengingat kembali keluarganya memang telah hancur sejak kematian Kakaknya.


Chester menoleh ke arah Mary dengan tatapam datar. Rasa sakit hatinya masih tersisa tapi dia tidak bisa mempercayai omongan Eild begitu saja dan dia memerlukan bukti.


Kali ini Chester tidak membantu Mary untuk berdiri dari jatuhnya tadi. Dia hanya mengarahkan pengawalnya untuk membantu Mary dan menghantar Mary pulang lebih dulu.


“Ches, lebih baik kita pulang saja,” ucap Jennixia turut merasa sedih dengan kejadian yang terjadi.


Jennixia juga tidak menyangka bahwa Mary akan menjebaknya tapi dia teringat ucapan Alex tadi.


“Mereka adalah musuh Chester”


Jennixia kembali menatap iba pada Mary. Walaupun dia tahu Mary begitu tidak menyukainya tapi wanita mana yang tidak sakit dikala suaminya memilih wanita lain padahal telah mengarungi pahit manis rumahtangga bersama sejak berpuluhan tahun.


“Aku sudah berjanji membawamu mengelilingi mall hari ini jadi kita nikmati saja ok,” sahut Chester dengan wajah yanh dipaksakan tersenyum.


“Aku sudah tidak ingin lelah, aku ingin pulang,” ucap Jennixia sambil tertunduk.


“Hmm Jen, aku tahu mungkin ini sulit tapi kita belum punya bukti. Kalau ada benar apa yang dikatakan Papa, aku akan menjauhkan Mama dari kamu,” ujar Chester. Dia tahu Jennixia masih memikirkan ucapan Eild tidak dipungkiri dia juga begitu.


Jennixia teringat kembali perdebatannya dengan Chester tadi pagi. Ya tadi pagi dia sempat berdebat dengam Chester gara-gara menyetujui kemahuan Mary dan sekarang apa? Mary coba mencelakai Jennixia tapi Chester belum percaya sepenuhnya.


Walaupun Jennixia juga tidak begitu percaya tapi dia yakin Mary sudah merencanakan sesuatu untuknya agar dia pergi meninggalkan Chester


‘Aku sebenarnya tidak terlalu memikirkan hal itu tapi tidak bisakah kau mencari tahu apa yang berlaku sebelumnya, kenapa semakin hari aku semakin kecewa padamu Ches. Kau tidak pernah mempercayai kata-kataku jika itu berkaitan dengan Mama kamu. Kamu anggap aku sebenarnya apa Ches? Kau melayaniku dengan penuh kelembutan dan kasih sayang tapi tidak jika aku protes mengenai hal Mama, aku ingin tahu kenapa? Apa memang kita tidak pantas bersama Ches, makanya Mama kamu coba memisahkan kita terus menerus. Aku tahu kau tidak ingin menjadi anak yang durhaka tapi bagaimana dengan perasaanku? Aku lelah setiap kali berhadapan dengan Mama, setiap ucapan Mama selalu menusuk ke dalam sanubariku, aku juga manusia. Apa mungkin aku patut menyerah dan agar kau tidak menjadi anak yang durhaka. Aku sangat lelah,’ batin Jennixia.


Chester menggoyangkan tubuh Jennixia karena Jennixia diam begitu lama dan air matanya tiba-tiba saja mengalir. Hal itu membuat Chester sedikit panik.

__ADS_1


“Jen, Jen kau kenapa? Ada yang sakit?” tanya Chester sambil menggoyangkan perlahan tubuh Jennixia.


Jennixia menatap Chester dengan tatapan datar.


‘Hatiku yang sakit,’ batin Jennixia.


“Tidak ada yang sakit aku cuma sedikit lelah, kita pulang saja, aku ingin istirehat,” ucap Jennixia.


Chester masih menatap wajah datar Jennixia, dia tidak bisa membaca raut wajah Jennixia tapi dia yakin ada sesuatu yang Jennixia pikirnya.


“Kamu yakin?” tanya Chester.


Jennixia mengangguk. Ya memang dia sangat lelah menghadapi mertuanya. Dia tidak tahu apa yang membuat mertuanya begitu membencinya.


Chester akhirnya membawa Jennixia pulang, lagian memang dia juga harus beristirehat dan memikirkan masalah Mary.


....


Alex dan Renata keluar dari tempat persembunyian tadi. Wajah Alex terlihay sangat sendu. Dia sendiri tidak bisa menyalahkan Jennixia jika Jennixia benar-benar membencinya, dia hanya mampu menyalahkan dirinya dan menyesali perbuatannya masa lalunya.


“Aku yakin, suatu saat nanti pasti Jenni bisa memaafkan Abang,” ucap Renata kepada Alex.


Alex terlihat tersenyum dia ingin percaya kepada ucapan Renata istrinya tapi dia takut ucapan itu tidak akan pernah berlaku.


Untuk hari ini Alex merasa puas karena bisa menggagalkan rencana para musuh Chester yang mengincar Jennixia tapi tidak tahu untuk kedepannya.


Sewaktu mereka melewati tempat yang dipenuhi dengan orang-orang berkerumunan. Renata menjadi sedikit penasaran dan mengajak Alex untuk berhenti berjalan agar dia bisa mencari tau. Karena jiwa kepo Renata meronta-ronta.


“Tapi ini terlalu ramai Sayang,” ucap Alex yanh sedikit tidak nyaman dengan keramaian.


“Sebentar saja ya Bang,” sahut Renata sambil mencari celah untuk melihat apa yang terjadi.


‘Jenni,’ batin Alex setelah melihat kedatangan Jennixia bersama Chester ke tempat itu juga.


Alex langsung bersembunyi di balik kerumunan orang-orang itu dan terus menatap ke arah Jennixia.

__ADS_1


‘Jen, maafkan Kakak. Seandainya kau bisa memberi Kakak peluang untuk menebus kesalahan Kakak, Kakak akan melakukan apa pun itu yang penting kau memaafkan Kakak. Hehh aku Kakakmu Jen tapi aku tidak pantas dipanggil Kakak olehmu. Kenapa rasa ini sungguh sakit ketika melihatmu mengabaikan kehadiranku,’ batin Alex menatap sendu ke arah Jennixia.


“Ayo Abang kita pergi, ini tentang rumahtangga orang tidak baik untuk cari tahu,” ucap Renata yang terlihat kesal.


“Baiklah,” sahut Alex lalu menatap ke arah Jennixia sekilas dan tersenyum walaupun Jennixia tidak menyadari kehadirannya di situ.


Alex membawa Renata keluar mengikuti lift untuk menuju ke parkiran mall.


....


Anak buah dari Dragon Eyes melaporkan kepada ketua mereka dan Sean, bahwa mereka tidak menemukan wanita yang mereka sedang incar padahal melihat wanita itu memasuki sebuah toko pakaian.


“Apa ada yang membantunya? Atau dia telah mengetahui keberadaan orang-orang kita?” tanya Sean kepada Arviy yang terlihat duduk santai di dalam ruangan Sean.


Mereka turut bingung ke mana perginya Jennixia.


“Cek saja cctv toko pakaian itu, kita bisa tahu siapa yang telah membantunya bersembunyi di tempat itu sebelum Chester sampai,” sahut Arviy memberi ide.


“Benar,” ucap Sean.


Sean segera menelepon anak buah dari Dragon Eyes untuk menyuruh mereka memeriksa cctv di dalam toko tersebut. Tapi Sean masih berpikir-pikir bagaimana Jennixia bisa tahu dia sedang di mata-matai.


“Jangan terlalu dipikirkan bisa jadi, Chester menghantar beberapa pengawal bayangannya untuk menjaga Jennixia karena kejadian beberapa minggu lalu,” ucap Arviy mencoba menenangkan Sean yang terlihat pikiran.


“Huhh kau benar Ar, pasti itu semua sudah direncanakan oleh Chester dalam diam,” sahut Sean membenarkan ucapan Arviy.


“Aku pergi bersenang-senang dulu Sean, selagi masih di sini,” ucap Arviy lalu keluar dari ruangan Sean.


Sean melihat pungung Arviy yang keluar begitu saja. Tiba-tiba rasa curiga terhadap Arviy muncul dibenak Sean, karena sikap Arviy terlihat begitu santai sekali.


“Apa mungkin itu kau? Karena kau menginginkan wanita itu sendiri,” ucap Sean lirih sambil tersenyum miring.


Sean kembali menelepon beberapa anak buah Bad Devils untuk mencari tahu tentang pergerakan Arviy belakangan ini.


“Kalau itu kau, berarti kau harus bayar konsekuensinya,” ucap Sean lagi setelah mematikan panggilan teleponnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2