Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 75 Jennixia pergi


__ADS_3

Setelah kepergian Chester. Jennixia berdiri.


“Mei aku ingin wc sedikit kamu tunggu di sini saja,” ucap Jennixia.


“Tidak, Nona tidak boleh pergi sendiri. Nanti kalau ada yang coba menyakiti Nona bagaimana?” jawab Mei.


“Kalau kau masih menganggapku Nonamu, jangan ikuti aku ke wc. Aku ingin sendiri sebentar saja,” Jennixia coba membujuk Mei dengan wajah datarnya.


“Huhh saya tunggu di luar wc saja ya Nona,” ucap Mei dengan wajah yang sedikit cemas dengan Jennixia saat ini.


“Tidak perlu, kau tunggu di sini. Aku tidak akan lama, aku hanya ingin mencuci mukaku saja,” jawab Jennixia.


Akhirnya Mei setuju tidak mengikuti Jennixia tapi entah kenapa perasaannya berat sekali untuk membiarkan Jennixia pergi sendiri.


Sudah 10 menit Jennixia belum kembali, Mei semakin tidak bisa duduk tenang. Akhirnya dia memutuskan untul pergi ke wc untuk mencari Jennixia dan memastikannya baik-baik saja.


Baru saja Mei hendak keluar dari lorong di depan kamar inap Mary. Dia sudah bertemu dengan Jennixia dengan wajah lega.


“Kau mau ke mana?” tanya Jennixia dengan tatapan datar.


“Huhh saya mengkhawatirkan Nona kenapa-kenapa jadi ingin menyusul,” jawab Mei dengan jujur.


“Aku tidak apa-apa, ini buktinya aku sudah kembali,” ujar Jennixia lalu melanjutkan langkah hingga kembali duduk di kursi lorong depan kamar inap Mary.


‘Kalau suatu saat aku pergi benar-benar apa Mei akan kecewa padaku hmm tapi untuk apa aku bertahan. Sedangkan Chester juga menyalahkan aku hehh semua janji itu palsu. Tapi aku harus ke mana? Kalau aku menyusul Ibu pasti Ibu akan curiga dan Chester bisa saja menemuiku itu pun kalau dia ingin mencari. Hahh pikiranku sungguh kacau!’ ucap Jennixia dalam hati.


Siapa tahu di balik wajah datar yang dia tampilkan sekarang rupanya memiliki pikirin yang cukup berserabut.


Jennixia memasuki kamar inap Mary untuk melihat kondisi Mary. Dia menatap wajah Mary yang masih terlihat pucat dan polos.


“Kalau aku bebanmu dan Chester maka aku akan mengundur diriku sendiri,” ucap Jennixia lirih.


Baru saja Jennixia mencoba untuk menyentuh tangan Mary tetapi bunyi pintu mengejutkan dirinya. Jennixia menoleh rupanya Chester telah kembali.


Jennixia berharap Chester akan mendekatinya tapi harapannya sirna karena wajah Chester masih terlihat datar dan mengabaikannya.


Chester duduk di sofa dalam kamar inap itu. Dengan mengacuhkan keberadaan Jennixia di kamar itu dan langsung membuka tabnya untuk memeriksa pekerjaannya.

__ADS_1


Jennixia menatap Chester sendu, hatinya sakit. Dengan berani dia mendekati Chester dan mengambil paksa tab yang ada di tangan Chester.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Chester dengan tatapan tajam melihat le arah Jennixia.


“Oh kau benar-benar menyalahkanku, ok kalau begitu aku terima! Memang setelah kehadiranku dalam hidup kau banyak membawa petaka dalam keluargamu tapi perlu kau ingat siapa yang memaksaku menikahimu!” Ketus Jennixia karena saking kesalnya.


“Perlahankan suaramu ini bukan di mansion ini di rumah sakit dan Mama masih dalam proses pemulihan!” jawab Chester dengan suara perlahan tapi tegas.


‘Aku membencimu!’ batin Jennixia.


Jennixia tidak menjawab dia melemparkan kembali tab milik Chester ke arah Chester lalu keluar dengan tergesa-gesa.


Chester menatap punggung Jennixia dengan tatapan serba salah.


“Kenapa kau mengungkit soal pernikahan kita Jen, aku cuma bingung saat ini kalau bukan karena melihat rekaman cctv itu pasti Mama tidak di sini. Walau bagaimanapun, Mama itu surgaku Jen,” ucap Chester lirih.


Chester melupakan status Jennixia saat ini. Jennixia yang merupakan istrinya yang sudah menjadi korban penindasan Mary. Mungkin di saat terjadi sesuatu barulah Chester menyesali kelakuannya ini.


Jennixia keluar dan langsung saja melangkah melewati Mei dan Nera. Dia tidak ingin berada di tempat itu, dia tidak ingin terus merasakan kesakitan ini.


“Nona tunggu Nona mau ke mana?” tanya Mei yang menyusuli Jennixia.


“BERHENTI MEMANGGIL AKU NONA! DAN JANGAN PERNAH MENGIKUTI AKU!” teriak Jennixia di depan wajah Mei.


Mei terkejut karena teriakan dan ucapan Jennixia begitu juga Nera yang berada di belakang Mei.


Jennixia kembali melangkah meninggalkan tempat itu dengan air mata yang tidak bisa dia bendung lagi.


Jennixia keluar dari rumah sakit itu tanpa diikuti oleh siapa pun. Mei dan Nera seperti mematung di tempat. Mereka begitu kaget mendengar teriakan Jennixia.


Sewaktu mereka tersadar Jennixia sudah pergi dari tempat itu. Nera segera melaporkan pada Chester.


Setelah mendengar laporan Nera tentang Jennixia. Chester langsung bergegas keluar.


....


Malam yang sungguh terasa dingin, Jennixia mematikan ponselnya. Dia mulai berjalan entah kenapa ke mana tujuannya. Sehingga matanya menangkap sebuah pondok yang tidak jauh dari tempatnya.

__ADS_1


Dengan langkah yang gontai Jennixia menuju ke pondok itu. Kegelapan malam membuat hatinya semakin terasa perih dan dingin.


Setelah sampai di pondok itu, Jennixia melihat ada dua orang yang sedang duduk beralaskan karton.


“Permisi bisa tumpang duduk di sini,” sapa Jennixia.


Kedua orang itu langsung serempak menoleh ke arah Jennixia. Mereka langsung kaget.


“Kau Jennixia,” ucap wanita itu.


Mata Jennixia yang tadinya sedikit buram karena air mata kini dia coba mengusap matanya untuk melihat siapa yang menyebut namanya.


Setelah bisa melihat dengan jelas, Jennixia juga ikut kaget dengan kedua orang yang rupanya dia kenal.


“Om Eild, Liana kalian buat apa di sini?” tanya Jennixia.


“Ck, jangan tanyakan tentang kami, sedangkan kamu juga buat apa di sini?” tanya Liana dengan ketus.


“Maaf aku Cuma mau menumpang duduk,” jawab Jennixia tertunduk.


“Tumben kau di luar malam-malam begini, apa kau sudah di usir oleh Chester?” tanya Eild dengan sinis.


“Mungkin sudah,” jawab Jennixia lalu kembali meneteskan air matanya.


“Memang kamu tidak cocok pun, lagian kamu tidak akan pernah menang bersama wanita itu,” ucap Eild lagi.


“Berarti kau lagi cari tempat berteduh? Heh tapi maaf di sini tempat kami, kau boleh cari tempat lain,” ujar Liana dengan nada mengejek.


“Tapi aku sudah capek berjalan dari rumah sakit,” jawab Jennixia. “Biarkan aku istirehat sedikit di sini,” lanjutnya lagi.


“Ck, tid-“


“Di sini tidak gratis kau harus bayar,” ucap Eild memotong ucapan Liana.


Sebenarnya Eild mulai rasa iba terhadap Jennixia. Karena dia tahu sekali sifat Mary dan Chester. Walaupum Chester merasa kehilangan seorang kakak kandung karena ulah Mary itu tidak membuatnya berdendam pada Mary.


Itulah kesetiaan Chester terhadap Mary yang tidak bisa dirubah sejak dulu. Eild telah resmi bercerai dengan Mary dan akhirnya dia sadar semua keburukan Mary. Oleh itu dia lebih memilih menemani Liana daripada kembali kepada Mary.

__ADS_1


“Baiklah aku akan membayarnya,”


Bersambung...


__ADS_2