
Vivian dengan cepat berdiri dan mendekati Jennixia, niat untuk mendorong Jennixia terlintas dipikiran Vivian.
Baru saja hendak mencapai tubuh Jennixia untuk dia dorong, dengan cepat Mei menangkap tangan Vivian lalu menariknya ke belakang.
Wajah Mei terlihat dingin dan tatapan matanya tajam menatap ke arah Vivian. Selama ini Mei sudah memperhatikan gerak-gerik Vivian yang mencurigakan dan benar saja tebakannya. Mujur saja dia disuruh oleh Chester untuk menemani Jennixia sehingga Chester pulang.
“Kak! Apa kau tidak lihat pembantu rendahan mu ini berbuat kasar padaku hah!” teriak Vivian merasa tidak puas hati karena Jennixia terlihat diam saja.
Jennixia tidak menyalahkan Mei karena memang dia sudah tahu apa yang akan dilakukan Vivian tadi. Makanya dia tidak bertindak memarahi Mei.
“Sudahlah kalau kau hanya datang untuk membuat ribut lebih baik kau turun dan tidur saja di kamarmu,” ucap Jennixia.
“Apa? Oh jadi begini. Setelah menjadi istri orang kaya sifat Kakak berubah jadi sombong. Hebat sekali,” sindir Vivian dengan wajah yang sangat kesal.
“Apa maksudmu Vi? Kakak Cuma menyuruhmu berhenti membuat keributan saja,” ujar Jennixia lagi.
“Nona sebaiknya Nona istirehat, jangan terlalu dipikirkan. Kalau Tuan melihat Nona berdebat di depan pasti Tuan akan khawatir karena Nona dari tadi berdiri,” timpal Mei yang turut merasa khawatir dengan Jennixia.
Jennixia langsung saja mengangguk karena dia tahu sifat Chester sejak akhir-akhir ini lebih posesif seperti hari-hari lain.
Jennixia masuk kembali ke kamarnya tapi dengan cepat Vivian ingin menarik baju gaun hamil Jennixia dan benar saja dia berhasil.
Mei mencoba melepaskan tangan Vivian tapi Vivian mengancam untuk menarik Jennixia jikalau Mei mendekat.
Wajah Mei terlihat sangat marah, dia coba mencari cara agar Vivian tidak bertindak seenak saja.
__ADS_1
“Kak semua ini salahmu! Aku akan membuat kau menderita seperti aku hahaha,” ucap Vivian sambil tertawa seperti orang gila.
Sedang asyik mengancam-ancam Jennixia dan Mei, Vivian tidak sadar dengan kehadiran Nera di belakangnya.
Nera memberi kode pada Mei dan Jennixia untuk tetap diam, dia akan melepaskan tangan Vivian yang menarik hujung baju gaun Jennixia itu.
Nera mengejutkan Vivian dengan pukulan di bahunya, otomatis pegangnya pada hujung gaun Jennixia terlepas karena merasa ngilu.
“Sial,” maki Vivian setelah melihat kehadiran Nera.
Nera mengeluarkan senjatanya yang berupa glock lalu menodongkan ke arah Vivian.
“Kau coba mencelaki Nyonya mansion ini?” tanya Nera dengan nada mengintimidasi.
Tubuh Vivian tiba-tiba bergetar hebat karena melihat senjata yang terarah padanya. Dia segera menggelengkan kepalanya. Keringan dingin mulai membasahi dahinya.
Jennixia menatap Vivian, ada rasa kasihan karena air mata Vivian telah membasahi wajahnya. Tetapi Jennixia tiba-tiba penasaran tentang Vivian yang disuruh untuk merusakkan rumahtangganya.
“Siapa yang menyuruhmu Vi?” tanya Jennixia ingin tahu.
Vivian tampak semakin gementar dan lututnya mulai terasa lemas, setelah Nera menurun senjatanya barulah dia terduduk lemas.
“Cepat jawab!” ucap Nera dingin.
“I-ya. Huh sebenarnya sebelum Arviy menghilang dia yang menyuruhku,” jawab Vivian sambil menundukkan wajahnya.
__ADS_1
“Arviy? Bagaimana kau kenal Arviy? Apa jangan-jangan kau yang mengirim bangkai waktu itu kan,” ucap Jennixia lagi.
Sebenarnya sudah lama Jennixia tahu Vivian yanh sering menerornya menggunakan bangkai-bangkai binatang tetapi selama ini dia tidak berani bersuara karena dia tidak ingin dituduh memfitnah Vivian.
Vivian mengangguk dan tidak berani menatap Jennixia. Dia takut Jennixia akan berubah pikiran menyuruh pembamtunya untuk menembak mati dirinya.
“Untuk pengetahuan Nona, Vivian sedang hamil anak Arviy dan usianya sedikit lebih minggu daripada Nona,” terang Nera membocorkan apa yang disembunyikan oleh Vivian selama hampir sebulan ini.
Deg!!
Vivian kaget dengar ucapan Nera. Dia tidak tahu dari mana Nera bisa mengetahui hal itu dan sudah pasti Chester juga mengetahui hal itu.
Betapa Vivian merasa dirinya bodoh karena berpura-pura padahal mereka telah mengetahui kebusukannya. Ingin sekali Vivian menghilangkan diri karena takut akan kemarahan Chester setelah ini.
‘Nera saja punya senjata apalagi Chester, bisa-bisa aku jadi bubur dibuatnya,’ batin Vivian yang mulai ketakutan lagi.
“Apa? Benarkah itu Vivian?” tanya Jennixia tidak kalah terkejut mendengarnya.
Mau tidak mau sekali lagi Vivian terpaksa mengakuinya dan mengangguk saja sebagai jawaban dari pertanyaan Jennixia.
“Terus apa yang akan lalukan sekarang?” tanya Jennixia lagi.
“Izinkan aku hidup bersama anakku Kak hisk hisk hantar aku kepada Ibu saja,” jawab Vivian sambil terisak karena menangis.
“Huhh baiklah tapi jangan pernah menyusahkan Ibu. Kamu mengerti? Untuk yang lain-lainnya Kakak akan membantumu, sekarang pergilah ke kamarmu dan beristirehat,” ujar Jennixia lalu memasuki kamarnya sendiri karena tiba-tiba merasa ingin mual lagi.
__ADS_1
"Terima kasih Kak," jawab Vivian lali dengan perlahan berdiri dan menuju ke arah tangga untuk turun ke lantai dasar.
Bersambung...