
Jennixia panik dia langsung melepaskan tangannya yang di genggam oleh Chester dan mendekati Mary untuk membantunya, tapi kejadian tidak terduga terjadi.
Bughh..
Mary mendorong tubuh Jennixia hingga Jennixia terjatuh terjerembab dilantai marmar itu.
"Akhh." Jennixia meringgis karena bokongnya terhempas kuat.
"Nona!" Mei dan Nera yang dari tadi menyaksikan keributan di ruang tengah itu langsung kaget dan kompak berteriak dan menuju ke arah Jennixia.
Chester terpaku melihat istrinya diperlakukan seperti itu. Dia ingin membantu istri kecilnya itu tapi Eild memanggilnya dengan suara yang tegas.
"CHESTER" panggil Eild.
"Lebih baik bantu Mamamu ketimbang wanita itu yang berpura-pura jatuh," lanjutnya lagi.
Chester menghela nafas kasar apabila mendengar tuduhan Eild terhadap Jennixia. Padahal jelas-jelas dia melihat Mary mendorong Jennixia tadi.
Mary yang sadar wajah Chester berubah kesal pun mulai bersuara.
"Chester, kamu sudah tidak peduli dengan Mama ya? huhh." Mary mulai sesak nafas karena Chester.
"Aku akan bawa mama istirehat di kamar." Hati Chester luluh apabila melihat raut wajah Mary yang terlihat sungguh miris.
Chester mengendong mamanya lalu dibawanya ke kamar tamu yang telah disiapkan. Dia juga tidak memperdulikan raut wajah Jennixia yang berubah sedih.
Setelah kepergian Chester dan Mary, kini tinggallah Eild dan Liana di ruang tengah itu. Eild menatap sinis ke arah Jennixia.
"Hei jala** kau pasti menggoda Chester untuk mendapatkan hartanyakan!" Eild mulai mengintimidasi Jennixia dengan kata-kata kasar.
Jennixia menggelengkan kepalanya dan tertunduk, matanya mulai berkaca-kaca. Dia mencoba menahan air matanya.
Eild merasa geram karena Jennixia tidak menjawab pertanyaannya, dia mulai mendekati Jennixia dan ingin mendorongnya lagi.
Tapi Nera telah berdiri di hadapan Jennixia untuk menghalang Eild menyentuhnya.
"Minggir kamu pelayan!" Bentak Eild kepada Nera.
"Tidak." Sahut Nera dengan nada datarnya.
"Huh kamu ya, aku akan memecatmu sekarang juga. Pergi!" Ucap Eild lagi dengan percaya diri.
"Anda kira anda bisa memecat saya? Anda salah, anda bukan majikan saja dan yang berhak memecat saya ada Tuan dan Nona Jennixia." Jawab Nera sambil tersenyum miring.
Eild merasa geram mendengar pelayan yang statusnya rendah ini meremehkannya, dia lantas berteriak memanggil pengawal dan pengawal pun berdatangan.
"Pengawal seret mereka bertiga ini keluar dari mansion ini." Perintah Eild kepada pengawal yang telah memenuhi ruang tengah itu.
Para pengawal itu menatap kebingungan karena mereka disuruh menyeret Nera, Mei dan Jennixia. Padahal mereka tau status ketiga wanita ini terutamanya Jennixia adalah Nyonya besar mansion ini.
"Apa lagi yang kalian tunggu hah?" tanya Eild semakin murka.
__ADS_1
"Maaf Tuan Eild, selagi ini bukan perintah Tuan Chester atau Nona Jennixia kami tidak bisa bertindak sesuka hati." Jawab salah satu pengawal itu.
"Kalian pergilah." Perintah Nera kepada para pengawal itu.
Eild yang merasa semakin geram mulai mendekati Nera tapi sudah di dahului dengan Liana.
Plakk
Liana melayangkan tamparan dipipi Nera, dia sudah muak dengan keributan yang terjadi dan kehadirannya sebagai calon istri Chester sama sekali tidak dihargai.
Jennixia dan Mei kaget karena Liana berani menampar Nera.
"Hei apa-apaan kamu hahh?" Ucap Jennixia menarik Nera agar jauh dari Liana.
"Kau tanya? Gara-gara kau aku tidak dihargai di sini padahal aku adalah calon istri Chester." Jawab Liana dengan percaya diri.
"Hah?"
Sekali lagi Jennixia dibuat kaget dengan kenyataan yang harus dia dengar. Dia baru tahu kenapa Chester mengucapkan sesuatu yang begitu membuatnya berpikir tidak diterima oleh kedua orangtuanya.
Rupanya karena Chester telah memilik tunangan lebih dahulu sebelum kedatangannya.
Eild tersenyum senang karena wajah Jennixia terlihat begitu kaget dan dengan kenyataan ini dia akan mengusir Jennixia dari mansion ini.
"Kau dengar itu? Ini adalah anak menantu aku dan calon istri Chester" Ucapnya. "Kau boleh pergi dari sini dan bawa kedua wanita ini," lanjutnya lagi sambil bersedekap dada.
Jennixia menggenggam kedua tangannya, dia tidak menyangka Chester telah menipunya selama sebulan ini. Perlakuan manis Chester hanya tipuan saja, air mata yang coba dia tahan akhirnya mengalir deras dipipi mulusnya itu.
"Tidak ada yang boleh keluar dari mansion ini!" Ucap Chester dengan suara lantang.
Jennixia menoleh ke arah Chester, dia menatap Chester dengan tatapan sedih dan terluka. Wajahnya telah basah oleh air mata.
Deg!!
"Jen..." lirih Chester.
Chester berlari menuju ke arah Jennixia untuk mendapatkannya. Tapi Jennixia mundur berapa langkah ke belakang agar makin menjauh dari Chester.
"Jangan dekati aku, kau penipu kau dari awal menipuku hisk hisk." Jennixia tidak ingin berdekatan dengan Chester dan tangisannya menjadi semakin kuat.
Eild dan Liana menatap tidak suka ke arah Jennixia. Eild menyenggol lengan Liana untuk mendekati Chester.
Liana mendekati Chester lalu memegang lengannya.
"Ches, biarkan mereka pergi lagian dia telah buat penyakit jantung tante kambuh." Ucapnya dengan suara lembut.
Chester menoleh ke arah Liana lalu dihempaskannya kasar tangan Liana yang bergelayut dilengannya.
"Jangan sentuh aku." Sahut Chester dengan nada dingin.
Nyali Liana menciut karena tatapan mata Chester begitu menunjukkan kemarahannya dan kebencian terhadap dirinya. Liana kini hanya mematung di tempat.
__ADS_1
Sedangkan Chester terus mendekati Jennixia yang masih menangis. Dia perlahan-lahan mendekati Jennixia dan menarik Jennixia masuk ke dalam dekapannya.
"Hei kenapa kau menangis, bukankah aku telah memberitahumu tadi pagi dan aku bukan penipu tolong percaya padaku Jenni." Ucapnya lembut di telinga Jennixia.
Memang tempat yang paling nyaman adalah di dalam dekapan Chester, tangisan Jennixia mulai berhenti hanya terdengar bunyi isakan saja.
"Kalian pergi hantar tamu kita ke kamar yang di sediakan dan Nera, Mei marilah ikut denganku ke atas." Perintah Chester pada pelayannya.
Chester membawa Jennixia yang masih dalam dekapannya melewati Liana dan Eild, diikuti dengan Nera dan Mei dari belakang.
Eild menghentikan langkah Chester.
"Papa tidak setuju kau bersama wanita ini, tinggalkan dia atau kondisi Mama semakin memburuk." Ancam Eild kepada Chester.
Chester menatap Eild dengan wajah datar lalu melewatinya, dia mengacuhkan ucapan Eild karena dalam pikiran Chester saat ini adalah tentang Jennixia.
Liana mendekati Eild dengan wajah sedihnya melihat pungung Chester menghilang di balik lift yang mereka naiki.
"Paman, mungkin Chester tidak menginginkanku, sebaiknya aku pulang saja daripada hatiku makin tersakiti." Ucap Liana sendu.
"Lia, kamu masih punya paman dan tante. Percayalah pada paman, Chester akan menikahimu dan kami akan terus mendukungmu" Eild mencoba menenangkan Liana.
"Kita lihat tante yuk," lanjut Eild lagi.
Liana dan Eild membiarkan pelayan membawa barang mereka ke kamar yang akan mereka tempati dan mereka menuju ke kamar di mana Mary berada.
....
Alex mendengar cerita dari Renata dengan wajah sumringgah membuatnya ingin sekali bertemu Jennixia.
"Sayang apa kamu ada bertukar nomor dengan Jenni?" tanya Alex dengan antusiasnya.
"Ya, aku lupa bang maaf ya." Jawab Renata yang benar-benar lupa untuk meminta nomor ponsel Jennixia.
"Tidak apa-apa sayang nanti kamukan bisa bertemu dengannya lagi," Jawab Alex sambil mengusap kepala Renata.
"Tapi sikumu kenapa?" tanya Alex sambil melihat ke arah siku Renata.
"Hehe." Renata tersenyum cengiran.
Renata tidak bisa menyimpan rahasia dia punya menceritakan bagaimana bisa mendapat luka disikunya ini.
Awalnya Alex ingin bertemu dengan anak buahnya yang tadi pergi bersama Renata untuk menghajarnya tapi Renata memaksa untuk tidak menghajarnya karena ini adalah permintaannya.
"Ck, lain kali kamu jangan buat rencana seperti itu, inikan sikumu terluka." Alex meniup perlahan luka Renata.
"Tapikan Renata berhasil bang." Jawab Renata dengan tersenyum.
"Huhh jangan kek begini lagi sayang."
Bersambung...
__ADS_1