
“Selamat malam, mimpi indah ya sayang,” Chester mengucup dahi Jennixia lembut.
Setelah memastikan Jennixia telah tertidur pulas barulah Chester keluar dari kamar dan menuju ke ruang kerjanya.
Luis dan Nera telah menunggunya di dalam ruang kerjanya. Chester memasukinya untuk membahas sedikit masalah di wilayah barat.
Setelah sedikit pembahasan selesai, Chester dan Luis langsung saja keluar untuk menuju ke kawasan wilayah barat.
“Nera jangan sampai putus koneksi,” pesan Chester sebelum pergi.
“Baik Tuan,” sahut Nera.
Nera akan memantau mereka lewat rekaman cctv yang tersembunyi dekat kawasan gudang wilayah barat tersebut.
Chester membawa setengah dari anak buahnya untuk melakukan misi penyerangan balik. Perjalanan mengambil waktu 1 jam 30 menit untuk sampai di kawasan tersebut.
Chester dan anak buahnya berhenti 300 meter dari kawasan gudang mereka. Mereka melewati hutan dengan cahaya penerang dari senter kepala yang tidak begitu terang.
Chester membagikan mereka kepada 4 kelompok untuk menyerang setiap sisi. Chester sendiri akan menyerang dari arah belakang gudang.
“Semua tetap berada diposisi masing-masing dan tunggu sinyal dari untuk menyerang serentak ok,” pesan Chester.
Setelah sampai di kawasan gudang mereka berpecah dan berada di posisi masing-masing. Chester mencoba untuk menyelinap masuk ke dalam gudang.
__ADS_1
Bughh!
Seseorang telah jatuh karena dipukul mengejut.
....
“Tidak!” Jennixia berteriak dan terbangun dari tidurnya.
Jennixia mengambil posisi duduk lalu mengusap dadanya sendiri agar dia kembali tenang. Keringat terlihat bercucuran di dahinya.
Jennixia meraba-raba di sampingnya, dia tidak mendapati Chester. Jennixia mulai mengerutkan alisnya dia coba mencari ponselnya untuk melihat jam.
Jam sudah menunjukkan jam 3:40 pagi, tapi Chester tidak berada di dalam kamar. Jennixia sudah mengelilingi seluruh kamar tapi dia tidak menemukan Chester.
Dia coba keluar dan menuju ke ruang kerja Chester tapi hasilnya tetap sama. Ruang kerja Chester terlihat kosong, Jennixia telah mengelilinginya.
“Kamu di mana? Jam-jam begini menghilang,” gumam Jennixia.
Mata Jennixia semakin merasa berat lalu dia merebahkan tubuhnya disofa panjang, berharap Chester datang sebentar lagi.
Jam telah menunjukkan jam 5 pagi, Chester memasuki kamarnya untuk menyapa Jennixia tapi dia buat panik setelah tidak mendapatkan Jennixia dikamar mereka.
Chester coba mengetuk pintu Jessi untuk menanyakan Jennixia tapi dia merasa tidak enak karena takut dianggap suami tidak becus.
__ADS_1
Chester coba menenangkan pikirannya, pikirnya Jennixia pasti tidak pergi jauh. Chester menuju ke ruang kerjanya untuk memeriksa cctv.
Baru saja dia duduk di kursi kerjanya dia menangkap sosok wanita sedang tertidur di kursi sofa yang berada tidak jauh dari meja kerjanya.
“Jen...” Chester langsung menuju ke arah Jennixia.
Chester menggoyangkan tubuh Jennixia perlahan agar Jennixia bangun sambil memanggil namanya.
“Jen bangun,” ucap Chester.
Tetapi Jennixia tidak kunjung bangun karena saking mengantuknya dia. Chester langsung saja menggendong Jennixia dan membawanya kembali ke kamar.
Setelah sampai di dalam kamar, Jennixia terbangun. Dia mengucek matanya lalu menatap Chester.
“Kapan kamu pulang? Kamu pergi mana? Pasti kamu ketemu wanita di luarkan karena aku lagi tamu bulanan ck tega kamu Ches,” Jennixia menyerang Chester dengan banyak pertanyaan.
Chester bingung mau jawab yang mana dulu. Karena dia tidak mungkin juga berkata jujur, dia tidak mau Jennixia mengkhawatirkan keselamatannya.
“Sayang, tadi aku ada pekerjaan darurat jadi aku harus turun langsung lihat ke lapangan dan tempatnya memakan hampir 2 jam makanya aku agak lambat pulangnya,” jawab Chester hati-hati.
“Benar? Tidak ada wanita lain?” tanya Jennixia lagi dengan tatapan menelisik.
“Benar sayang Cuma kamu saja wanitaku,” jawab Chester kemudian.
__ADS_1
Senyum Jennixia mengembang setelah mendengar ucapan Chester, seperti biasa Jennixia masuk ke dalam pelukan Chester dan mengendus aroma dada Chester.
Bersambung...