Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam

Gadis Kecil Kesayangan Mafia Kejam
Bab 70 Keributan


__ADS_3

Alex menatap wajah cuek Jennixia yang masih saja mengacuhkan keberadaannya tapi tidak dengan Renata. Jennixia bisa berbagi cerita kepada Renata.


“Kak, sebenarnya mereka siapa?” tanya Jennixia pada Renata.


“Mereka musuh Chester Jen, hmm soal masalahnya aku kurang mengerti. Kau bisa menanyakan pada Kakakmu sendiri,” jawab Renata lalu menunjuk ke arah Alex yang tidak pernah berhenti menatap Jennixia.


“Hmm tidak perlu, kalau itu musuh Chester berarti bukan urusanku, nanti aku akan tanyakan pada Chester saja,” ucap Jennixia sama sekali tidak memandang ke arah Alex.


“Lalu bagaimana kau menjelaskan pada Chester nanti sedangkan tadi kau hanya bilang merindui dirinya dan memintanya untuk datang menjemputmu karena kau telah lelah,” ucap Renata yang sengaja memancing Jennixia untuk berbicara pada Alex.


‘Ck, bisa-bisanya aku lupa tentang itu. Bagaimana ini, masa harus tanya sama Kakak umm,’ ucapnya dalam hati.


Jennixia tidak lagi berbicara dia hanya menunduk dan coba berbalas pesan bersama Chester.


Setelah hampir 30 menit, Chester telah sampai di mall. Dia menangkap sosok mertua sedang meminum kopi di sebuah kafe di dalam mall tapi dia tidak mendekatinya hanya melambaikan tangannya saja.


Chester berjalan menelusuri tangga untuk sampai ke lantai 2. Matanya mengitari sekitar mall untuk mencari toko pakaian yang dimaksudkan oleh sang istri.


Akan tetapi instingnya sebagai seorang mafia tiba-tiba muncul. Chester merasakan ada mata-mata yang sedang memperhatikan dirinya tapi Chester tidak bertindak gegabah.


Dia mengirim pesan pada Nera untuk merentas cctv mall untuk mencari tahu siapa yang sedang berada di sekitarnya.


‘Apa mereka mengincar Jennixia?’ batin Chester sambil menuju ke arah toko yang dimaksudkan Jennixia.


Chester menelepon Jennixia karena dia telah berada di depan toko dan ada beberapa pengawal yang berjaga membuat Chester semakin curiga.


Jennixia keluar dengan senyuman yang mengembang di wajahnya. Dia mendekati Chester lalu bergayut mesra di lengan Chester.


Entah kenapa Jennixia terlihat begitu manja saat ini tapi Chester tidak mempermasalahkan semua itu. Pikirnya mungkin Jennixia pasti menginginkan sesuatu darinya.


“Sayang, apa kau benar merindukan diriku atau ada sesuatu yang kamu inginkan?” tanya Chester.


“Hmm aku Cuma berpikir sudah lama kita tidak jalan-jalan di mall bersama, aku jadi merinduimu,” sahut Jennixia tidak berbohong sepenuhnya. Karena memang dia tiba-tiba mengingat Chester tadi setelah memasuki mall.


“Kalau begitu mari kita belanja sepuasnya mau?” tawar Chester pada Jennixia sambil mengusap puncak kepala Jennixia.


“Ayo!” sahut Jennixia dengan kegirangan.

__ADS_1


“Eh tunggu Mama di mana?” tanya Chester karena baru teringat pada Mary karena tidak melihatnya sedari tadi.


“Humm oh ya, hampir 2 jam yang lalu Mama tadi pamit ke wc ingin buang air kecil tapi sampai sekarang tidak kembali,” jawab Jennixia yang baru teringat juga tentang mertuanya.


“Kita cari Mama dulu ya, aku khawatir,” ucap Chester meminta izin pada Jennixia.


Jennixia mengangguk setuju, dia mengikuti langkah Chester sambil menggandengkan tangannya pada lengan Chestar.


Di depan sebuah toko baju bayi yang berdekatan dengan lorong menuju ke kamar wc. Terjadi sebuah keributan antara dua wanita dan seorang pria yang hanya diam menyaksikan kejadian itu hingga sesuatu hal terjadi.


“Sia*an kamu benar-benar pelakor Liana!” teriak Mary yang sedag berhadapan dengan Liana dan Eild.


Rupanya yang membuat keributan itu adalah Mary dan Liana yang tidak sengaja bertemu di depan toko baju bayi.


Liana dan Eild baru saja keluar dari toko itu dan dikagetkan dengan teriakan Mary.


“Ck, kau saja yang tidak pandai menjaga suamimu,” jawab Liana tidak kalah tinggi suaranya.


“Ah sia*an kau,” Mary mendekati Liana lalu menarik rambutnya dengan kuat.


“Akkkhhh sakit sia*an lepaskan!” pekik Liana sambil memegang kepalanya.


“Akhhh sakit bokongku,” rintih Mary memegang bokongnya.


Liana mendekati Mary lalu menarik rambut Mary hingga wajahnya mendongak ke atas.


“Kau tahu kenapa Eild berpaling kepadamu? Hehh cermin dirimu, yang hanya mementingkan harta dan tidak memperdulikan kematian dan perasaan anaknya,” ucap Liana dengan sinis lalu melepaskan tangannya dengan menyentak kepala Mary ke belakang.


Mary berteriak karena kesakitan. Liana sudah mulai menjauhinya tapi Mary tidak berputus asa, dia kembali berdiri dan mendorong Liana hingga berhasil jatuh tersungkur ke depan.


Eild yang sedari tadi hanya menyaksikan keributan antara Mary dan Liana kini mulai bergerak setelah melihat Liana jatuh tersungkur.


“Sia*an kau!” Eild mendorong Mary dengan kuat lalu menendang tubuh Mary yang telah tergeletak jatuh dilantai mall itu.


Setelah merasa puas barulah dia membantu Liana untuk duduk. Eild menatap tajam ke arah Mary.


“Apa yang dikatakan Liana benar! Kau hanya mementingkan dirimu, kau sungguh egois Mary!” ucap Eild dengan tegas.

__ADS_1


“Kau kira sekarang kau tinggal di mansion Chester kau bebas? Hehh aku dengar semuanya tadi Mary! Kau membayar orang untuk mencelakai istri Chester, menantu kau sendiri dan ingin mengusirnya dari mansion? Aku mau lihat kau sampai di mana Mary,” lanjut Eild lagi.


Semua orang yang ada di sana terdengar berbisik-bisik.


“Eh itu mantan suaminya? Pasti karena istri sahnya matre makanya selingkuh”


“Woah dasar mertua jahat”


“Aku penasaran dengan keadaan menantunya, kasihan nasibnya jika hal iti terjadi”


“Pantasan suami tidak betah, sifat kayak setan saja”


“Aku tidak mendukung perselingkuhan tapi mungkin suaminya ada sebab untuk selingkuh”


“Mertua yang tega pada anak menantunya, seharusnya dia memikirkan usianya yang telah lanjut”


Masih banyak lagi bisik-bisik yang jelas terdengar di telinga mereka. Dan ternyata Chester dan Jennixia juga telah berada di antara keramaian itu.


Awalnya Chester ingin menghentikan Eild karena berani membentak Mary tapi setelah mendengar ucapan Eild, Chester mematikan langkahnya dan menggenggam erat tangan Jennixia.


Rasa mendidih di hatinya kembali meluap, tidak menyangka Mary masih melakukan trik licik untuk menyingkirkan Jennixia.


Mary tidak berani melihat ke sekitarnya karena bisik-bisik tadi membuatnya malu, sehingga pengunjung lain telah bubar dan hanya tinggal mereka berlima saja yang berada di sana.


Mata Mary kembali melotot setelah melihat kehadiran Chester dengan wajah yang dipenuh dengan gurat kemarahan.


Mary yakin Chester telah mendengar ucapan Eild makanya Chester menatap tajam ke arahnya. Mary mengerutkan dahinya menjadi salah tingkah, dia terus berpikir alasan apa yang bisa dia gunakan untuk menutupi kesalahannya.


“Ches, tolong mama. Papa kamu mendorong mama dan lebih memilih wanita jal*ng itu,” ucap Mary sendu dan meminta belas kasih pada Chester.


Chester tidak menjawabnya, dia hanya diam dan masih menatap tajam ke arah Mary.


Eild tersenyum sinis.


“Dia mendorong Liana lebih dulu,” Eild membela Liana membuat Liana tersenyum kemenangan.


“Cukup!” ucap Chester dengan tegas.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2