
Untuk sementara Jennixia dilarang untuk memasuki kampus karena teror dari Arviy dan penyerangan tiba-tiba.
Sudah seminggu sejak kejadian itu berlaku, Jennixia semakin tidak betah duduk di mansion karena ada-ada saja alasan Mary untuk menyuruhnya bekerja di dalam mansion.
Apalagi Jennixia telah sadar Mary sebenarnya ingin menjadikannya pembantu dan hanya berpura-pura baik ketika di depan yang lain.
Jennixia coba menjauh dari Mary dengan memaksa Chester untuk tidak pergi ke mana-mana agar dirinya tidak menjadi sasaran Mary.
“Maaf Jen, tapi aku harus ke kantor hari ini karena ada rapat bersama investor luar negeri,” ucap Chester dengan nada lembut.
“Tapi aku tidak mau tinggal sendiri,” jawab Jennixia sedih dan tertunduk.
“Mama dan Ibu adakan, lagian Mei akan menemanimu,” ujar Chester membujuk Jennixia.
“Ches, kau tidak akan mengerti. Sudahlah pergi saja,” jawab Jennixia lagi kini dia berjalan menuju ke ranjang dan berbaring lalu menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut.
Chester sebenarnya tidak tega dan juga bingung karena ucapan Jennixia tadi. Tapi mau bagaimana dia tidak bisa menemani Jennixia untuk hari ini karena telah mengambil libur hampir seminggu lebih ini.
“Aku pergi ya sayang,” Chester pamit dengan Jennixia lalu meninggalkannya sendirian di kamar.
Jennixia belum beritahu tentang Mary dia takut Chester tidak mempercayainya. Karena di depan wajah Chester Mary sering berpura-pura baik melayaninya.
Mei saja sudah mengetahui sifat Mary tapi Jennixia melarangnya untuk memberitahu Chester dan Nera. Dia tidak ingin dianggap memburukkan mertuanya sendiri.
Tapi tanpa sepengetahuan Jennixia, Mei telah melaporkan semuanya kepada Nera dan beberapa bukti yg terekam jelas di cctv. Hanya saja mereka menunggu waktu yang tepat untuk memergoki Mary.
Jennixia berkurung di dalam kamarnya, dia mengunci pintu kamarnya agar tidak ada siapa pun bisa masuk ke kamar. Jennixia tidak mau berhadapan dengan Mary.
Bunyi ketukan pintu kamarnya saja dia abaikan.
Tok..tok..tok..
“Nona ini Mei, saya membawakan makan siang untuk Nona,” ucap Mei dari balik pintu.
Awalnya Jennixia memang tidak mau membukanya tapi setelah perutnya meronta-ronta minta diisi, Jennixia terpaksa membuka pintu kamarnya.
“Masuklah,” ucap Jennixia dengan wajah teduh.
Mei mengikuti langkah Jennixia menuju ke arah sofa kamar. Tiba-tiba ada suara lain muncul dari pintu kamar.
__ADS_1
“Wahh, mentang-mentang anakku sudah pergi ke kantor sekarang kamu malas-malasan dan makan di kamar,” sinis Mary dari arah pintu.
Rupanya Mary juga menunggu waktu yang tepat untuk memasuki kamar Jennixia.
Jennixia menoleh ke arah Mary lalu menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
“Oh sekarang kamu berani menatap aku seperti itu,” ketus Mary.
“Bu, kalau anda ingin membuat keributan di sini lebih baik Ibu keluar,” ujar Mei menatap tidak suka kepada Mary.
“Hei pelayan rendahan! Jangan masuk campur, ini urusanku dengan menantu yang tidak berguna ini,” sahut Mary dengan ketus.
“Saya tahu saya rendahan tapi cara Ibu juga rendahan! Tuan tidak ada di sini, Ibu datang menyerang Nona,” balas Mei tidak kalah sinis.
Mary merasa geram langsung saja mendekati Mei dan ingin menampar Mei tapi Mei dengan cepat menangkap tangan Mary. Mujur saja Mei sudah menyimpan nampan makanan tadi di atas meja.
“Berani kamu yah!” pekik Mary karena tangannya di genggam dengan kuat.
“Ibu salah orang kalau ingin menyentuhku,” sahut Mei dengan wajah dinginnya.
Mary menarik tangannya dari genggaman Mei dengan kuat tapi tidak bisa dia lepaskan, ketika dia mencoba untuk menarik lagi, Mei tiba-tiba melepaskan genggamannya hingga membuat Mary terjatuh ke belakang.
Raut wajah Jennixia terlihat datar dan tidak merasa kasihan sedikit pun. Biar pun Mary mengancamnya.
Mary meninggalkan Jennixia dan Mei dalam keadaan emosi karena perlakuan Mei terhadapnya. Jennixia juga tidak sedikit pun membelanya.
“Ck, akan aku pastikan kalian berdua angkat kaki dari sini,” gerutu Mary.
Di dalam kamar Jennixia, Mei terus membujuk Jennixia untuk makan. Gara-gara kedatangan Mary tadi membuat selera makan Jennixia menghilang.
“Ayolah Nona harus makan, kalau Nona tidak makan nanti Nona akan sakit,” bujuk Mei.
“Seleraku sudah hilang Mei, bagaimana aku mau makan,: jawab Jennixia dengan suara sendu.
“Nona kalau Nona sakit yang ada nanti Bu Mary berasa menang, Nona harus kelihatan sehat biar dia makin merasa panas gitu,” ide Mei tidak habis-habis untuk membujuk Jennixia.
“Mei, aku rasa Bu Mary masih tidak menyukaiku, dia hanya berpura-pura saja, biar Chester tidak meengusirnya dari rumah ini.” Jennixia mengungkapkan isi hatinya yang selama seminggu ini dia pendam.
Mei sebenarnya sadar Mary hanya berpura-pura saja tapi mana mungkin dia memberitahu Jennixia, bisa-bisa dia dianggap lancang.
__ADS_1
“Kenapa Nona bilang begitu?” tanya Mei untuk memastikan lagi.
“Aku yang melaluinya Mei, sepertinya Bu Mary ingin menjadikanku pelayan di mansion ini,” sahut Jennixia.
“Terus Nona mau buat apa sekarang?” tanya Mei lagi.
Mei sebenarnya ingin Jennixia bangkit seperti sebelumnya. Walaupun Jennixia lebih menyeramkan ketika marah tapi Mei akan coba membantu Jennixia, karena dia juga tidak ingin majikannya ini ditindas.
“Aku masiih bingung Mei, apalagi Chester percaya dengan semua akting Bu Mary.
Jennixia benar-benar bingung harus melakukan apa. Dia tidak mau Chester kecewa dengan kelakuannya.
Mei menghela nafas panjang.
“Jadilah diri sendiri Nona, kalau begini terus Nona sendiri akan merasa sakit,” Mei hanya memberi sarann saja.
“Sekarang Nona makan ya, sebenatr kita cari solusinya bersama-sama ok,” lanjut Mei lagi.
Jennixia menggangguk dan mulai melahap semua makanan yang dibawa oleh Mei tadi.
....
Alex berada di ruang kantornya, dia melihat ke arah foto Jennixia yang telah dia bingkaikan. Bibirnya melengkung tersenyum tapi tanpa sadar air matanya telah mengalir membasahi pipinya.
“Kakak akan menyelamatkanmu Jenni,” ucap Alex lirih.
Alex telah mengetahui seluruh rencana Sean dan teman kerjasamanya. Alex mengambil kesempatan ini untuk berpatisipasi hanya demi mencari tahu rencana mereka bagaimana dan memudahkannya untuk mencari celah menyelamatkan Jennixia.
Baru tadi Alex menerima laporan bahwa Chester keluar dari mansionnya menuu ke kantornya dengan diiringi beberapa mobil anak buahnya.
Pikirnya mungkin Chester telah mengetatkan penjagaannya karena biasanya Chester tidak membutuhkan banyak anak buahnya.
Alex mulai khawatir tentang keadaan Jennixia yang ditinggal di mansion. Tapi menurut rencana para musuh Chester mereka tidak akan menyerang mansion Chester karena mungkinchester sudah menyiapkan banyak jebakan di sekitarnya.
Walaupun Alex kurang yakin tetapi dia coba untuk berpikir positif dan berharap Jennixia tidak akan keluar dari mansionnya.
“Tapi kalau Jenni tidak eluar dari mansion bagaimana aku bisa bertemu dengannya,” Alex tampak berpikir-pikir.
“Apa patut aku menemui Chester? Ck, tapi berandal itu terlalu sombong dan aku sangat membencinya," gerutu Alex sendiri.
__ADS_1
Bersambung....