
“Nata! Nata sayang!”panggil Alex dengan panik.
Renata mendengar suara suaminya yang memanggil dirinya langsung saja menuju ke ruang tamu rumah mereka.
“Abang, kenapa Abang terlihat panik?” tanya Renata setelah sampai di ruang tamu.
“Nanti abang jelaskan, sekarang kamu bergantilah kita akan keluar,” jawab Alex yang masih terlihat panik.
“Baiklah,” Renata masih menatap bingung suaminya. Mungkin ada hal yang penting sehingga membuat Alex terlihat begitu panik itulah pikiran Renata sebelum melangkah menuju ke tangga yang terhubung dengan lantai dua di mana kamar mereka berada.
“Jangan lama-lama, kita harus cepat,” pesan Alex lagi sebelum Renata pergi.
Renata mengangguk dan mempercepatkan langkahnya.
Kini mereka telah berada di dalam mobil dan menuju ke mall. Alex telah menceritakan semuanya kepada Renata, dia tahu ini sedikit berbahaya tapi dia harus bisa mengelabui mata orang yang mengincar Jennixia.
Alex dan Renata memasuki mall besar itu lewat lift parkiran yang menuju ke dalam mall itu.
Anak buahnya saja yang masuk melalui pintu utama mall. Mereka tugaskan untuk memerhatikan anak buah kedua mafia yang sedang mengincar Jennixia.
Alex mengenakan masker agar tidak ada yang mengenalinya. Sewaktu mereka melewati sebuah toko pakaian Renata menangkap sosok Jennixia di dalam sana.
“Abang itu Jenni,” ucap Renata lirih sambil menunjuk ke arah Jennixia.
Alex mengikut arah tangan Renata dan benar saja dia juga bisa melihat Jennixia sedang memilih beberapa pakaian.
“Sayang kita masuk saja, kamu lihat ke sekitar. Biar aku yang membawanya ke belakang toko tempat yang sepi,” sahut Alex.
Matanya terus mengitari sekeliling, dan dia menangkap beberapa pria yang sedang berjalan menuju ke arah toko pakaian tersebut.
“Sayang kita masuk sekarang,”lanjut Alex lagi.
Alex danRenata segera memasuki toko pakaian tersebut. Lalu Alex langsung menarik tangan Jennixia dan membawanya ke belakang toko.
Jennixia sempat memberobtak tapi setelah Alex membuka maskernya, dia terdiam dan menatap datar wajah Jennixia.
“Tolong kerjasama Jen, kau dalam bahaya,” ucap Alex lirih.
Jennixia tidak menjawab dia ikut mengintip seperti yang dilakukan oleh Alex.
Benar dugaan Alex, beberapa pria tadi memasuki toko tersebut lalu mengitari setiap penjuru toko itu.
Di tempat Renata sedang berdiri, seseorang pria berhoodie mendekatinya. Baru saja pria itu hendak menarik bahu Renata seorang pria berwajah garang tiba-tiba datang berdiri di belakang Renata.
“Kau mau apa?” tanya pria berwajah garang tadi.
__ADS_1
“Oh orang kaya rupanya,” sahut pria berhoodie itu.
Renata langsung menoleh ke araah suara tersebut dan menaikkan alisnya sebelah kiri, lalu melihat ke arah pengawalnya.
“Temanmu?” tanya Renata pada pengawalnya.
“Bukan Nyonya, tadi pria ini hendak menyentuh Nona,” sahut pria berwajah garang tadi yang merupakan pengawal Renata.
Renata mengangguk lalu menatap tajam ke arah pria berhoodie itu.
“Kau cari siapa?” tanya Renata dengan tegas.
“Kebeulan sekali Nona bertanya, aku mencari wanita ini. Apa Nona melihatnya tadi dia berada di sini,” jawab pria berhoodie itu sambil menunjukkan foto Jennixia.
Renarta mengepalkan tangannya tanpa ddisedari oleh pria itu. Dia cobaa menahan emosi dan amarahnya.
“Dia siapanya kamu?” tanya Renata lagi dengan wajah menelisik.
“Err-errr, dia-dia ahh dia merupakan adikku, tadi aku meninggalkannya di sini tapi dia sudah tidak terlihat lagi,” jawab pria itu berkelit.
“Oh, tadi wanita ini sudah keluar dia menuju ke arah lift sana,” ujar Renata ikut berkelit karena dia tahu pria di depan ini sedang mengincar Jennixia.
“Nona yakin?’ tanya pria berhoodie itu lagi.
“Oh terima kasih Nona cantik,” ujar pria berhhodieitu lalu meninggalkan Renata bersama pengawalnya.
Renata melihat pria itu memanggil teman-temannya dan keluar dari toko itu menuju ke arah tadi yang dia tunjuk.
“Kamu pastikan mereka tidak memasuki tempat ini lagi, kalau mereka kembali ke sini cepat telepon diriku,” perintah Renata pada pengawalnya.
Setelah pengawalnya pergi barulah Renata bergegas menuju ke belakang toko untuk menemui Alex dan Jennixia.
Setelah dia masuk ke belakang toko, Renata langsung memeluk Jennixia dengan erat, lalu melepaskannya.
“Kamu tidak apa-apa Jenni?” tanya Renata melihat Jennixia hanya diam dan berdiri kaku.
“Kamukan wanita waktu itu?” bukan menjawab Jennixia malah kembali bertanya karena dia masih mengingat wanita yang berada di hadapannya ini.
Renata tersenyum lalu menarik tangan Jennixia.
“Maafkan aku,”ucap Renata lirih dengan tatapan yang sendu.
“Bagaimana Kak Renata bisa mengenal pria ini?” tanya Jennixia lagi, dia mulai curiga Renata ada hubungan bersama Alex.
“Ini bukan wakrtunya berbincang hal itu Jen, maaf tapi kau harus menelepon Chester sekarang, suruh dia menjemputmu sekarang, karena kau dalam bahaya saat ini,”ucap Alex menyela percakapan antara Renata dan Jennixia.
__ADS_1
“Dari mana anda tahu tentang Chester?” tanya Jennixia dengan nada sinis.
“Tolonglah Jennixia jangan banyak bertanya, telepon saja Chester sekarang,” jawab Alex.
Alex sempat mengintip di luar dan terdapat beberapa pria berjas memasuki toko pakaian ini dan kebetulan ponsel yang dia pegang bergetar.
Alex menjawab panggilan dari pengawalnya.
“Kodenya 8 hitam, 6 bertaburan dan 2 depan mematung,” ucap pengawalnya menggunakan kata-kata ode yang hanya mereka saja yang mengerti.
“Baiklah,” sahut Alex lantas mematikan ponselnya.
“Shhhttt jangan bising mereka ada di luar,” ucap Alex dengan nada berbisik.
“bagaimana ni Bang?” bisik Renata sambil bergantian menatap Alex dan Jennixia.
Alex coba memikirkan cara untuk menyembunyikan Jennixia, karena tidak ada jalan lagi untuk mereka keluar dari toko ini.
Salah satu pria mendekati gorden belakang toko, dia menyibak gordeng tersebut lalu melihat sepasangan kekasih sedang berciu*an.
“Aaakkkhhh” teriak wanita yang tadi sedang dici*m kekasihnya itu.
“Maaf-maaf menganggu,” ucap pria tadi yang membuka gorden itu.
“Kan sudah aku bilang jangan di sini, kamu malah keras kepala,” omel wanita itu pada pasangannya yang terlihat kaget.
Pria yang membuka gorden tadi menutup kembali gordennya lalu meninggalkan pasangan itu.
“Ck, untung pria itu mana wanita itu cantik,” ucap pria itu lirih setelah meninggalkan belakang tokoh itu an kembali ke depan.
Alex kembali mengintip ke luar, pria itu sudah pergi jauh dan tidak terlihat lagi. Alex mengganggukkan kepalanya lalu Renata membuka tumpukan kain dan keluarlah Jennixia dari dalam tumpukan itu.
“Maaf kau pasti kepanasan,” ucap Renata.
“Tidak apa-apa. Hmm apa mereka sudah pergi?” tanya Jennixia pada Alex dan Renata.
“Mereka masih berjaga di luar,” sahut Alex yang masih betah mengintip ke luar.
“Aku akan menelepon Chester,” ucap Jennixia lalu mengelurkan ponselnya.
Jennixia sendiri tidak menyangka Alex tiba-tiba saja mau melindunginya. Hatinya menghangat tapi apabila mengingat kejadian dulu hatinya kembali terasa perih.
‘Kenapa kau kembali disaat aku benar-benar membencimu Kak!’ ucap Jennixia dalam hati.
Bersambung....
__ADS_1