
"Kalian yuk ke mall."
Sebelum berangkat pulang Arviy menawarkan Jennixia dan Mei untuk jalan-jalan di mall. Sebenarnya dia bukan benar ingin jalan-jalan tapi dia tidak sengaja mendengar obrolan Mei dan Jennixia saat di koridor.
Makanya Arviy ingin mengambil kesempatan itu untuk lebih mendekati Jennixia, tapi hal pertama dia harus menjauhkan Mei daru Jennixia karena dia tahu dari cara Mei menatapnya.
"Pergi aja sendiri." Ketus Mei menolak karena rasa aneh saja dengan Arviy.
"Mei, tidak boleh bicara kasar begitu." Ucap Jennixia lembut.
Awalnya Mei menolak tapi dengan kepolosan Jennixia membawa kepada keputusan yang akhir. Jennixia mudah simpati pada seseorang apalagi Mei seperti tidak mau Jennixia berteman dengan para pria.
"Yuk kebetulan kami juga pengen ke mall." Ajaknya.
Mei mendengus kesal, apalagi dia sudah tau siapa Arviy cuma Luis berpesan untuk tidak memberitahu kepada Jennixia, biar Chester yang nanti beritahu kepadanya.
"Ok, naik mobilku atau mobil masing-masing?" ucap Arviy lagi yang sudah mulai sumringgah.
"Mobil masing-masing aja." Jawab Jennixia.
Jennixia dan Mei menuju ke mobil yang telah menunggu mereka. Jennixia menyapa Edward dengan cerianya. Edward tersenyum melihat tingkah Jennixia yang sudah mulai ceria dan tidak seperti tadi pagi.
Jennixia kembali menelepon Chester, dia harus izin sekali lagi kepada Chester tapi itu hanyalah alasan saja, Jennixia sebenarnya rindu kepada Chester.
Di tempat Chester.
Chester masih dalam ruang rapat, dia masih fokus dengan presentasi karyawannya. Tapi deringan ponselnya membuat fokusnya terganggu.
Chester melihat ke layarnya, senyumnya mengembang, dia lantas menaikan tangannya untuk memberhentikan presentasi karena dia ingin menjawab panggilan telepon dari istrinya.
"Helo, Jen..." Ucap Chester setelah mengangkat ponselnya.
"Sayang... Izinkan aku ke mall bersama Mei dan tadi ada teman pria sekelas denganku ingin ikut." Sahut Jennixia dengan nada manjanya.
"Baiklah, hati-hati jalannya bilang dengan Edward jangan ngebut dan jangan pulang terlalu malam." Pesan Chester yang merasa gemas dengan Jennixia apalagi panggilan sayang tadi berhasil membuat wajah Chester berubah merah.
"Baiklah bos, ehm lagi ngapain?" tanya Jennixia ingin basa basi agar obrolan mereka terus berlangsung.
"Aku sedang rapat sayang." Jawab Chester jujur.
"Oh maaf menganggu, hehe nanti sampai mansion aku hubungi lagi ok." Sahut Jennixia malu-malu karena di panggil sayang oleh Chester.
"Ok, aku tunggu."
Jennixia mematikan ponsel setelah berpamitan dengan Chester, entah kenapa hatinya merasa berbunga-bunga.
__ADS_1
Begitu juga dengan Chester dia tidak habis pikir Jennixia akhirnya bisa menerimanya dirinya. Hal itu membuat dia bahagia dan tanpa sadar tersenyum-senyum menatap ponselnya.
Para karyawan lain saling menatap keheranan karena selama ini Chester tidak pernah tersenyum dengan siapapun yang berada di kantor ini, hanya Luis saja yang sering menyapa dan mengumbar senyumannya kepada para karyawan.
Luis berdehem membuat lamunan Chester membuyar, wajahnya kembali terlihat dingin dan datar, dia menyuruh karyawannya untuk meneruskan presentasi tadi.
....
Jennixia bergandeng tangan dengan Mei, Arviy berjalan di samping Jennixia tapi Mei tidak memberi celah kepada Arviy untuk berbicara kepada Jennixia. Arviy merasa sangat kesal dia harus mencari cara agar Jennixia mau berbicara dengannya.
Di restoran jepang, mereka duduk semeja termasuk dengan Edward itu semua permintaan dari Jennixia. Edward awalnya menolak karena merasa sedikit kurang sopan tapi Jennixia terus merengek seperti anak kecil.
Dan akhirnya mereka semua makan di meja yang sama, mujur saja seja itu berbentuk bulat yamg besar jadi jarak antara mereka juga sedikit jauh.
"Jen, aku ke toilet dulu, kamu mau ikut?" tanya Mei kepada Jennixia.
Jennixia hanya menggeleng sambil menyeruput minuman capucinonya. Mei memainkan kode mata kepada Edward agar terus bersama Jennixia.
"Aku pergi dulu, kamu jangan ke mana-mana yah tunggu makanan sampai dan duduk diam di sini." Seperti seorang ibu memberi arahan pada anaknya begitulah Mei kepada Jennixia.
"Ok aku tunggu jangan lama-lama, awas makananmu aku habisi nanti." Jennixia tertawa kecil.
Setelah Mei pergi barulah Arviy membuka topik untuk berbicara kepada Jennixia.
"Kamu kelihatan sangat akrab Jen?" ucap Arviy tiba-tiba.
Arviy menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Oh, dia asisten pribadiku." Jennixia berkata jujur kepada Arviy. "Maaf kalau dia membuatmu tidak selesa dia hanya ingin melindungiku." Lanjutnya lagi dengan wajah tersenyum.
"Ck sudahku duga hubungan mereka bukan sembarangan." batin Arviy.
"Oh tidak apa-apa wajar saja, lagian kita juga baru kenalan."
Kini Arviy sengaja mencari topik yang agak lucu agar Jennixia bisa merasa nyaman bersamanya dan suasana tidak canggung.
Mei kembali dengan dahi mengerut karena Jennixia tertawa renyah bersama Arviy.
"Ada yang lucu ya?" ucapnya menyadarkan Jennixia akan kehadirannya.
"Oh Mei kau sudah datang. Marilah duduk, aku dengan Arviy membahas sesuatu yanh lucu." Sahut Jennixia sambil menarik tangan Mei.
Mei menatap ke arah Arviy yang tersenyum sambil menaikkan alisnya. Mei segera membuang muka lalu duduk cantik di samping Jennixia.
Makanan telah sampai dan mereka menyantapnya dalam keadaan hening, tapi setelah selesai Jennixia kembali bertanya kepada Arviy tentang kelanjutan ceritanya tadi.
__ADS_1
Sudah tentu Jennixia kembali tertawa, Mei merasa sedikit kesal karena tidak memperkirakan hal ini. Dia lebih memilih diam dan menyimak cerita Arviy.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Jennixia kini sudah berada di dalam mobil dan tertidur setelah mulai perjalanannya.
Mei mengusap-usap kepalanya agar Jennixia semakin lelap.
"Pak Ed, apa ada yang aneh tadi?" tanya Mei kepada Edward yang sedang fokus menyetir mobil itu.
"Nampaknya benar, Arviy ingin mendekati Nona. Dari cara dia berbicara dan raut wajahnya." Ucap Edward mengingat kembali kejadian tadi.
"Dia licik sekali, tapi apa maunya? Saya tidak mengerti kenapa Tuan tidak bertindak."
"Mungkin Tuan ingin mencari alasan yang kuat kenapa dia mau mendekati Nona."
"Ehm..."
.
.
.
.
.
.
Mei membangunkan Jennixia setelah sampai di mansion, dengan muka melas Jennixia masuk ke dalam mansion dan langsung saja menuju ke kamarnya.
Jennixia membersihkan dirinya setelah itu merebahkan dirinya di ranjang yang empul miliknya, dia lupa bahwa dia akan menelepon sang suami di Itali.
Baru saja hendak terjun ke alam mimpi Jennixia di buat kaget dengan bunyi ponselnya. Dia cepat-cepat mengapai ponselnya yang dia letakkan di atas nakas sebelah ranjangnya.
Jennixia baru ingat setelah melihat layar ponselnya ada panggilan masuk daru Chester. Tanpa menunggu lama dia menjawab panggilan itu.
"Sudah tidur Jen?" ucap Chester dari sebarang sana.
"Hehe tadi baru mau tertidur." Sahut Jennixia dengan jujur.
"Oh tidurlah, aku akan menemanimu."
"Maaf, aku benar-benar rasa lelah dan mataku teramat berat."
"Aku mengerti sayang, tidurlah."
__ADS_1
Jennixia kembali melanjutkan tidurnya yang tadi terganggu dan ponselnya masih tersambung dengan Chester.
Bersambung....