
Sudah seminggu sejak Vivian kembali ke rumah Jessi, masalahnya bersama Chester dan Jennixia telah diselesaikan baik. Chester tidak menghukum Vivian seperti Arviy dan Sean. Dia hanya memberi peringatan tegas kepada Vivian dan semua gerak gerik Vivian akan dipantau.
Setelah usia kandungan Jennixia genap sebulan barulah Chester mengizinkannya untuk keluar dari kamar mereka.
Hari ini Jennixia bangun kesiangan karena semalam dia sulit untuk memejamkan matanya. Tetapi sedikit pum Chester tidak mempermasalahkannya.
Chester telah berangkat ke kantor dan kini Jennixia tinggal bersama Mei di dalam kamarnya. Mei diberi tugas tambahan sejak kehamilan Jennixia.
"Mei, kita ke halaman belakang, aku mau lihat bunga-bunga yang aku tanam kemarin," ucap Jennixia dengan gembira.
"Baiklah tapi Nona tidak boleh menggunakan tangga dan berlari ok," jawab Mei tersenyum.
"Kau sudah seperti Chester. Tidak boleh itu tidak boleh ini, hmmm tidak seru sekali," ujar Jennixia sedikit kesal karena Mei terlalu mematuhi perintah Chester.
"Nona ini demi baby yang di dalam perut. Biar nanti dia sehat-sehat saja," terang Mei mengingatkan Jennixia bahwa dia sedang hamil.
Jennixia mengerucutkan bibirnya karena sejak dia hamil dia tidak diberi kebebasan seperti dulu. Sekarang Jennixia merasa seperti berada di dalam pengawasan karena ke mana pun dia ingin pergi harus meminta izin.
Mau protes juga tidak akan bisa karena Chester fokus menjaga kesehatan dirinya dan calon anak mereka.
'Sepertinya aku harus cari ide untuk keluar dari mansion,' batin Jennixia.
.
.
.
.
.
Jennixia merasa aneh karena tidak ada pelayan di dalam mansion yang menyapanya setelah dia turun ke lantai satu. Malah pelayan mansion sepertinya menghindarinya, hal itu membuat dirinya merasa sedikit kesal dan sedih.
Jennixia yang bergandeng tangan dengan Mei pun mengeratkan gandengannya. Wajahnya yang tadi ceria telah berubah sedih.
Mei sadar perubahan wajah Jennixia lalu mulai tersenyum tipis. Mei segera memasang wajah serius setelah Jennixia memandangnya.
"Mei, apa mereka semua sudah tidak ingin berteman dengan aku? Apa karena aku sudah lama tidak menyapa mereka seperti dulu atau karena aku hanya duduk di kamar saja?" tanya Jennixia dengan mata yang berkaca-kaca.
Kini mereka telah berada di taman halaman belakang mansion. Bunga-bunga yang terlihat segar dan mekar itu tidak lagi jadi perhatian Jennixia. Walaupun niat awalnya ingin memeriksa bunga yang dia tanam.
__ADS_1
"Kenapa Nona tiba-tiba berkata begitu?" bukan menjawab Mei malah balik bertanya.
Jennixia tertunduk lalu memainkan kedua tangannya, dia tidak tahu di mana salahnya hingga pelayan mansionnya menjauhi dirinya.
"Mereka terlihat sangat menghindariku Mei," ucap Jennixia dengan wajah sendu.
'Hehh bagaimana tidak menghindar Nona, semua ini rencana Tuan dan aku sendiri yakin mereka serba salah sekarang,' jawab Mei dalam hati.
Mei mengusap tangan Jennixia lalu tersenyum.
"Pasti itu cuma perasaan Nona," jawab Mei.
Jennixia tau Mei sedang menghiburnya karena dia yakin Mei tahu kenapa para pelayan lain menghindari dirinya.
'Pasti karena aku menyusahkan mereka,' batin Jennixia.
Hisk.. Hisk..
Tiba-tiba Jennixia menangis, Mei mulai panik karena dia takut akan mempengaruhi janin Jennixia.
'Tuan, aku harus bagaimana,' batin Jennixia.
Para pelayan yang mengintip Jennixia turut merasa bersalah karena mereka juga dipaksa oleh Chester untuk membuat rencana Chester berhasil.
Mei mengirim pesan kepada Nera sekalian melaporkan alasan Jennixia menangis. Kepanikan Mei membuat kepala art akhirnya terpaksa keluar untuk meredakan emosi ibu hamil ini.
"Permisi Nona? Apa Nona ingin sesuatu?" tanya kepala art coba berbasa basi.
Jennixia mengangkat wajahnya dan menatap ke arah kepala art mansionnya. Wajah Jennixia terlihat basah oleh air mata dan keringatnya yang membasahi dahinya.
"Hisk hisk ... Om mereka yang lain menghindariku," adu Jennixia pada kepala art yang dia panggil Om karena terlihat paling tua di antara pelayan-pelayan lain.
"Mereka sedang sibuk mungkin Nona. Apalagi nantikan keluarga Nona mau datang terus teman-teman Tuan, makanya mereka terlihat seperti menghindari Nona," jawab kepala art dengan tersenyum.
'Rencana Tuan bisa mempengaruhi emosi ibu hamil huhh mudah-mudahan Nona baik-baik saja dan tidak terlalu memikirkannya,' batin kepala art.
Jennixia terdiam karena dia memang tidak tahu keluarganya akan datang ke mansion apalagi teman-teman Chester.
"Ada acara?" tanya Jennixia tiba-tiba.
Deg!
__ADS_1
Mei memberi kode dengan menggeleng kecil, dia takut kepala art akan keceplosan apalagi kondisi Jennixia yang sungguh membuat mereka merasa bersalah.
"Acara makan-makan saja Nona, kayaknya Tuan ingin memperkenalkan Nona dengan teman-teman yang bekerjasama dengan perusahaannya," jawab kepala art yang terlihat santai walaupun jantungnya sudah seperti jedag jedug mencari alasan.
Mei menghela nafas lega mendengar alasan yang diucapkan oleh kepala art. Bagaimana tidak Chester sudah menegaskan pada mereka untuk tidak membocorkan soal rencananya.
"Begitu ya hmm," walaupun sudah mendengar alasan dari kepala art Jennixia masih terlihat sedih.
"Nona jangan sedih, saya yakin kalau mereka lihat Nona sedih begini pasti mereka akan lebih sedih dan merasa bersalah," ucap kepala art tadi.
Padahal Mei telah mengatakan hal itu berkali-kali pada Jennixia tapi Jennixia masih lagi merasa sedih begitu pun setelah dikatakan oleh kepala art.
"Mei, Chester pulang jam berapa?" tanya Jennixia dengan tidak bersemangat.
"Agak sore Nona, apa Nona ingin sesuatu?" jawab Mei dan kembali bertanya.
"Aku menginginkan nasi goreng terus campur dengan apel dan jeruk nipis, kalau boleh jeruknya peraskan saja terus hiaskan dengan buah anggur," sahut Jennixia kini mulai sedikit bersemangat.
"Hahh?" ucap Mei dan kepala art kompak.
"Saya suruh koki saja yang buat Nona kalau begitu," ucap kepala art dengan wajah bingung.
"Tapikan mereka sibul persiapkan acara makan-makan nah lebih baik cari di luar saja," timpal Jennixia.
"Tidak Nona, kalau Nona minta pasti mereka akan siap, biar saya segera beritahu pada koki kita," ucap kepala art lagi.
"Boleh, tapi tunggu Chester saja datang baru hantar kepadaku karena aku ingin Chester yang memakannya. Kalau untuk aku buatkan saja steak medium well dengan nasi dan susu coklat hangat," ucap Jennixia sambil menyunggingkan senyum manisnya.
"Baik Nona, kalau begitu saya pamit untuk bertemu koki," jawab kepala art lalu meninggalkan Jennixia bersama Mei.
Kepala art merasa sedikit lega karena Jennixia sudah mulai tersenyum lagi, tapi dia masih tidak habis pikir tentang permintaan Jennixia.
'Harap perut Tuan baik-baik saja,' batinnya lalu menggelengkan kepala karena rasa lucu.
Sedangkan Jennixia sudah membayangkan Chester sedang memakan makanan yang dia minta tadi. Dalam pikirannya pasti menu makanan tadi begitu enak hingga membuat Chester akan meminta lagi.
Akhirnya Jennixia terlihat senyum-senyum tidak jelas. Mei menatap aneh tapi dia turut bersyukur karena Jennixia sudah melupakan prihal pelayan tadi.
'Yang penting Nona senang, mudah-mudahan Tuan tidak sakit perut supaya rencananya malam ni bisa berjalan mulus,' batin Mei.
Bersambung....
__ADS_1