
“Jenni tidak bohong Ibu,” sahut Jennixia dengan air mata yang telah membanjiri wajahnya.
Jessi terdiam beberapa detik, dia kembali bersuara setelah sesuatu terlintas di dalam pikirannya.
“Siapa yang membelimu?” tanya Jessi dengan tatapan menelisik ke arah Chester.
Jennixia menarik perlahan tangan Jessi lalu digenggamnya.
“Bu... Memang Chester yang membeliku tapi semua itu berlaku secara kebetulan dan nasib saja Chester ada, kalau tidak mungkin saat ini Jenni pasti tersiksa,” ucap Jennixia.
Jessi menatap Jennixia dengan tatapan yang bingung. Dia tidak mengerti ucapan Jennixia.
“Maksud kamu apa Jen, Ibu tidak mengerti?” tanya Jessi.
Jennixia akhirnya menceritakan bagaimana kejadian itu berlaku dan bagaimana Chester bisa membelinya.
Tatapan mata Jessi terlihat teduh, dia merasa bersalah. Kali ini dia tidak ada alasan untuk membenci Chester yang ada dia merasa berhutang budi dengan perlakuan Chester.
Jennixia mengusap lembut tangan Jessi.
“Ibu... “ panggil Jennixia.
Mata Jessi berkaca-kaca, dia tidak tahu harus bagaimana. Dia kembali menggenggam tangan Jennixia.
“Jen, maafkan Ibu. Ibu tidak tahu, nak Chester Ibu-Ibu minta maaf, “ ucap Jessi dengan suara gementar.
Chester mendekati Jessi dan berlutut di hadapan Jessi.
“Ibu tidak pantas untuk meminta maaf, yang salah di sini Chester, aku tidak membela Jenni istriku tapi Bu, aku janji aku akan melindungi Jennixia lebih baik lagi,” ucap Chester menyakinkan Jessi.
“Chester janji tidak akan mengulangi kesalahan Chester,” lanjut Chester lagi.
Jessi mengangguk kepalanya dan mengusap puncak kepala Chester.
“Ibu serahkan Jenni padamu tapi sebelum itu Ibu minta kamu selesaikan dulu masalah dengan Ibumu,” ucap Jessi.
Jennixia tersenyum, dia tidak menyangka Jessi akan memaafkan Chester. Awalnya dia pikir Jessi akan mempertahankan amarahnya pada Chester.
Chester telah berjanji, walaupun saat ini dia tidak bisa membawa Jennixia kembali ke mansion sekurang-kurangnya dia telah mendapatkan kembali kepercayaan dan restu dari Jessi.
...
Malam ini Jessi mengizinkan Chester untuk menginap di rumahnya karena Chester memberi alasan agar dia bisa tidur bersama Jennixia.
Wajah Chester kembali cerah, kini dia berada dalam kamar Jennixia. Kamar yang terlihat rapi dan terdapat banyak boneka beruang.
Chester senyum sendiri hingga Jennixia datang menyapanya.
“Kamu kenapa senyum-senyum begitu?” tanya Jennixia menatap Chester dengan aneh.
__ADS_1
Chester tidak menjawab, dia malah menarik Jennixia masuk ke dalam pelukannya. Lalu diusap-usapnya kepala Jennixia.
“Maafkan aku, mungkin setelah kondisi Mama membaik kamu akan kembali ke mansion lagi,” ucap Chester.
“Kondisi? Bu Mary kenapa?” Jennixia tiba-tiba penasaran.
“Humm Mama jatuh dan kepalanya terbentur penjuru meja ruang tengah dan sampai saat ini Mama tidak mengatakan sepatah kata pun,” jawab Chester.
“Oh, humm tapi pasti kau akan tinggal dengan Liana dan pasti gunung gede itu mulai nakal lagi cih,” Jennixia kembali kesal mengingat masih ada kehadiran Liana di dalam mansion.
“Liana dan Papa sudah aku usir sayang, hanya tinggal Mama di rumah,” jawab Chester jujur.
Jennixia langsung menegakkan punggungnya dan menatap Chester dengan tatapan penasaran.
Chester tertawa kecil menatap wajah Jennixia yang terlihat sangat penasaran. Tapi Chester tetap mengatakan semuanya dengan jujur, dia tidak mau menyembunyikan hal apa pun itu dari Jennixia.
“Ehm, Papa dan Liana ada hubungan...” ucap Chester.
“Selingkuh,” lanjut Chester lagi.
Jennixia tidak menutup rasa kagetnya, dia membulatkan kedua matanya dan menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.
Jennixia hampir saja tidak percaya dengan ucapan Chester, dia mengerutkan kedua alisnya dan menggelengkan kepalanya.
Tapi Chester mengangguk mantab membuat tatapan mata Jennixia berubah sendu.
“Maaf jika aku bertanya hal yang bukan-bukan,” ucap Jennixia merasa tidak enak dengan Chester.
“Kenapa harus minta maaf, kamukan istriku kamu juga berhak tahu dan sudah tentu aku alan memberitahumu,” sahut Chester.
Jennixia mengangguk, dia terharu mendengar ucapan Chester.
“Terima kasih,” ucap Jennixia.
“Tapi bagaimana keadaan Bu Mary?” lanjut Jennixia lagi.
“Mama yang seperti aku cerita tadi, dia syok dan kejadian sore tadi sungguh cepat. Padahal awalnya aku ingin mereka semua meninggalkan mansion itu tapi setelah Mama jatuh tadi, aku jadi tidak tega hmm,” jawab Chester.
“Tapi aku takut kalau Mama terus-terusan ada di mansion, kamu tidak akan kembali padaku. Jadi mungkin setelah Mama sudah bicara barulah aku menghantar Mama kembali ke NY,” lanjut Chester lagi.
Jennixia mengangguk, pikirannya mulai berkecamuk. Rasa tidak tega mulai tumbuh di dalam hatinya. Ingin sekali dia memberi saran tapi dia masih harus memikirkan perasaan Ibunya Jessi dan lagi Chester telah berjanji.
Sungguh pikiran Jennixia jatuh dalam dilema.
“Semoga Bu Mary cepat sembuh ya, kamu jangan terlalu khawatir,” ucap Jennixia sambil mengusap lembut tangan Chester.
“Yang aku khawatirkan kamu, Jenni” sahut Chester.
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu,” ujar Jennixia.
__ADS_1
Chester tersenyum melihat wajah Jennixia yang menyakinkan. Dia mendekatkan wajahnya untuk mencapai bibir Jennixia.
Dengan cepat Jennixia mundur dan menutup mulutnya. Dia menggelengkan kepalanya membuat Chester merasa aneh.
“Kenapa?” tanya Chester bingung karena tumben saja Jennixia menolak untuk berciu*an.
“Aku lagi bendera merah Ches,” ujar Jennixia malu-malu.
“Bendera merah?” Chester semakin tidak faham.
“Ih masa mau sebut,” sahut Jennixia lagi.
“Sebut apa sayang?” Chester benar-benar tidak mengerti.
Hal itu membuat Jennixia semakin kesal karena Chester masih banyak tanya.
“Menstruasi!” ketus Jennixia.
“Oh ya...” Chester hanya ber oh iya.
“Eh tapi perutmu nggak sakit kayak bulan kemarin?”tanya Chester kemudian setelah ingat Jennixia pernah melalui dismenore bulan lalu.
“Tidak, perutku biasa-biasa saja. Makanya aku juga sedikit kaget karena tidak biasanya begini,” jawab Jennixia.
Chester tersenyum miring.
“Itu karena aku sudah mengeksekusinya,” imbuh Chester.
Wajah Jennixia langsung memerah karena dia mengerti maksud dari ucapan Chester.
Niat Chester terpaksa diundurkan dan dia akan bersabar untuk satu minggu lagi.
....
“APA CJESTER ADA DI SANA!” bentak Arviy setelah mendengar laporan anak buah Alex.
“Iya Tuan, dan sampai saat ini tidak ada tanda-tanda Chester akan pulang,” tambah anak buah itu lagi.
“Ck! Teruskan memantau!” ucap Arviy dengan nada marah.
Arviy mengepalkan kedua tangannya, dia kira sesuatu terjadi di dalam mansion Chester tapi rupanya tebakannya salah.
Kini dia harus mencari tahu apa yang berlaku dan agar dia bisa mengambil kesempatan dicelah-celah masalah Chester.
“Humm apa aku patut buat penyerangan lagi?” gumam Arviy.
“Tapi si Alex pasti menolak karna anak buahnya sudah banyak yang tewas cih, aku harus bagaimana,” lanjutnya lagi.
Arviy coba memikirkan rencana yang lain untuk backup rencananya yang ada. Tiba-tiba sebuah ide terlintas dipikirannya.
__ADS_1
“Pasti dia masih punya musuh lain,” ucap Arviy sambil tersenyum miring.
Bersambung...