
Chester tidak mengikut Alex untuk memasuki tempat itu tapi dia berjaga di bagian luar, sehingga dia mendengar bunyi tembakan.
Dor..dor..dor..
Chester langsung berlari ke arah bunyi tembakan tersebut hingga terdengar namanya dipanggil.
“Chester! Bawa Ibu pergi cepat!” ucap Alex yang tampak membalas tembakan mereka.
Jessi kaget karena Chester bisa berada di tempat itu tapi dia tidak ingin mengecohkan pikirannya dengan pertanyaan.
Jessi berlari dengan cepat menuju ke arah Chester yang telah membuka pintu mobil mereka dan berusaha melindungi Jessi.
“Ibu cepat masuk,” seru Chester dengan wajah khawatir.
Setelah Jessi sudah masuk ke dalam mobil, Chester segera menutup pintu mobil tersebut. Karena mobil tersebut merupakan kalis peluru.
Chester mendekat ke arah Alex yang masih saja melepaskan tembakannya bersama para anak buahnya.
Dor..dor..dor..
“Akkhhh” jerit Alex karena terkena tembakan yang datang dari arah sebelah kiri dan tidak disadari oleh anak buahnya.
Chester yang mempunyai mata yang tajam langsung saja melepaskan tembakannya ke arah pria yang menembak Alex tadi.
Alex telah terbaring disemak-semak itu. Chester berlari mendekatinya.
“Bertahan sialan! Pikirkan istri dan anak-anakmu!” ucap Chester dengan nada panik dan tegas.
“Diam saja kau bajingan aku juga belum mau mati tapi ini sungguh menyakitkan isttt,” ucap Alex menahan rasa sakit dari peluru yang menembusi ke dalam isinya.
“Lindungi kami! Setelah itu kita langsung bubar! Keadaan Alex tidak bisa dibiarkan!” teriak Chester memberi perintah kepada para anak buahnya dan anak buah Alex.
....
Prang!!
Gelas yang dipegang oleh Renata tiba-tiba meluncur jatuh ke atas lantai dan membuat Renata terkejut begitu juga dengan Jennixia yang berada di sampingnya.
‘Abang....’ batin Renata.
Renata tiba-tiba teringat dengan Alex, senyuman dan gelak tawa Alex terlintas dipikirannya. Hal ini membuatnya sedikit takut karena dia juga merasakan hal buruk akan berlaku.
“Kak, Kak baik-baik saja?” tanya Jennixia memecahkan lamunan Renata.
__ADS_1
Renata lantas menoleh ke arah Jennixia. Jantungnya makin berdebar tapi dia tidak ingin memperlihatkan kecemasannya pada Jennixia. Dia masih memasang wajah biasa saja.
“Ah tangan Kakak basah, maaf jika membuatmu kaget Jen, Kakak bersihkan dulu ya,” ucap Renata lalu ingin berdiri dari duduknya.
“Tunggu Kak, biar aku yang bersihkan, Kakak duduk saja.” Jennixia langsung berganjak untuk mengambil sapu dan dustpan.
Sebenarnya Jennixia juga merasa firasat buruk sama seperti Renata tapi dia mengalihkan pikirannya dengan membantu Renata membersihkan pecahan tadi.
‘Mudah-mudahan semua baik-baik saja,’ batin Renata dan Jennixia.
....
Chester, Alex dan anak buah mereka berhasil melepaskan diri dari kawasan itu tapi sesudah sampai dipertengahan jalan menuju ke rumah sakit, tiba-tiba mobil mereka dipalang.
Salah satu pria menembak ke arah ban mobil yang dinaiki Chester melepaskannya lagi pada ban mobil yang dinaiki Jessi dan Alex.
“Sial mereka Dragon Eyes dan Black Devils,” ucap Chester memerhatikan lambang pada jaket yang mereka kenakan.
Chester menelepon anak buahnya yang lain termasuk orang-orang bayangan miliknya. Setelah anak buah dan orang bayangannya telah mengambil posisi mereka barulah Chester keluar dari mobil dengan menunjukkan wajah datar.
“Sudah siap untuk kematian?” sindir ketua Dragon Eyes dengan penuh percaya diri.
“Ck ternyata Alex bersekutu denganmu cuih pengecut!” sinis ketua Bad Devils kemudian.
“Bunuh mereka semua dan biarkan ketuanya saja yang hidup tapi buat dia sekarat!” perintah ketua Dragon Eyes kepada anak buahnya.
“Cari Alex si pengkhianat itu bawa ke hadapanku biar aku yang menghukumnya,” ucap ketua dari Bad Devils pula.
Baru saja mereka hendak lepaskan tembakan pada tapi mereka telah tumbang duluan. Semua anak buah dari kedua mafia itu tidak ada yang tersisa.
Kini hanya tinggal ketua Bad Devils dan Dragon Eyes. Tercetak jelas di wajah mereka bahwa mereka sedang ketakutan.
Mereka telah salah cari lawan dan rumor buruk tentang Chester merupakan mafia gadungan tapi ternyata mereka salah besar.
“Bawa mereka ke ruang eksekusi,” ucap Chester datar. “Cari jejak Sean dan Arviy,” lanjut Chester lagi.
Chester yakin Sean dan Arviy telah melarikan diri karena rencana mereka telah berhasil menjebak keluar para kedua mafia tersebut.
“Cepat kita harus hantar Alex ke rumah sakit!” perintah Chester pada kedua sopir mobil yang mereka ikuti.
Di dalam mobil Alex dan Jessi.
Jessi tidak berhenti menangis karena Alex sudah tidak sadarkan dirinya dan tubuhnya terasa dingin.
__ADS_1
“Alex kamu jangan mati! Ibu tahu Ibu salah, Ibu telah membuangmu tolong jangan tinggalkan Ibu Lex, Jennixia juga harus dengar penjelasan kamu kenapa saat itu kita bertengkar besar. Tolong kamu bertahan nak, pikirkan istri dan anakmu. Sayang jangan bawa anak kita pergi bersamamu tolong jangan izinkan Alex berada di tempatmu hisk hisk,” ucap Jessi dengan bunyi tangisan yang pecah.
Sopir pribadi Alex turut merasa sedih dan dalam hatinya berdoa agar majikan yang telah bersamanya 10 tahun kebelakangan ini selamat juga bisa kembali ke sisi istri dan anak-anaknya.
Sampai di rumah sakit, Chester langsung membantu Jessi berdiri karena tangisan Jessi membuat Jessi tidak bisa berdiri dengan tegak.
Para dokter dan perawat berlari membawa branker untuk menyambut Alex. Lalu mereka membawanya ke ruang IGD untuk penanganan pertama.
Selang 20 menit, salah satu perawat keluar dari ruang IGD .
“Keluarga pasien?” tanya perawat tadi.
Chester dan Jessi langsung berdiri dan mengangguk.
“Iya kami,” sahut Chester mewakili Ibu mertuanya.
“Maaf pasien sedang kritis karena kekurang darah dan terdapat peluru yang tertanam dalam ususnya. Pasien juga sangat membutuhkan transfer darah agar operasi berjalan lancar dan golongan darah pasien ada O rhesus negatif . Ada yang bisa transfer? Karena di rumah sakit ini stok darah ini terbatas,” terang perawat itu.
Jessi langsung histeri karena tahu golongan darah Alex sama seperti mendiang suaminya yang merupakan Ayah kandung dari Alex dan Jennixia.
“Saya O rhesus negatif,” ucap Chester.
Jessi langsung menoleh dia tidak menyangka Tuhan memberinya jalan. Langsung saja Jessi memohon lada Chester untuk mendonorkan darahnya pada Alex.
Chester mengangguk lalu mengikuti perawat tadi ke ruang periksa darah dan setelah hasil golongan darahnya keluar barulah Chester mengikuti perawat tadi memasuki ruang operasi untuk mentransferkan darahnya untuk menyelamatkan Alex.
Jessi mondar mandir di depan ruang operasi sehingga 1 jam telah berlalu barulah lampu di atas pintu operasi itu padam dan keluarlah Chester dengan wajah yang lemas dan sedikit pucat.
Luis datang tepat waktu setelah menerima laporan dari Edward sopir yang membawa mobil Chester tadi. Lusi menenteng dengan beberapa botol susu dan roti untuk diberikan kepada sang majikan.
Jessi membawa Chester duduk dikursi tunggu.
“Terima kasih Ches, sini biar Ibu membantumu meminum susu,” ucap Jessi sembari menerima botol yang berisi susu dari tangan Luis.
Chester mengangguk lemas, tidak banyak tenaga untuk dia hendak berbicara. Apalagi kepalanya terasa sangat berat dan pusing.
“Tuan saya sudah memesan kamar inap untukmu istirehat. Mari saya bantu memapah Tuan ke kamar inap,” ucap Luis sambil membantu Chester berdiri.
Ya Chester juga butuh istirehat karena bukan sedikit jumlah darah yang ditransferkan kepada Alex tadi.
“Ibu juga bisa mengikuti saya, ada ruangan untuk istirehat juga. Soal Tuan Alex sebentar lagi dia akan dipindahkan nanti setelah dipindahkan Ibu baru bisa menjengguknya. Tapi saat ini beristirehatlah dulu,” ucap Luis lagi dengan nada sopan.
Bersambung...
__ADS_1